
๐Di rumah Zein๐
Begitu sampai rumah dan segera ke kamar, Zein mendapati istrinya sedang berdiri di depan dinding kaca berukuran besar, di sudut kamar, melipat kedua tangannya dan menatap langit malam kala itu.
Pukul 02:00 malam
Zein yang masuk dengan membuka pintu pelan sekali agar tidak menimbulkan suara hingga membangunkan istrinya, namun nyatanya Rania telah terbangun dan menunggu suaminya di sudut kamar.
"Sayang... Kenapa tidak tidur?" tanya Zein.
Begitu mendengar suara suaminya, Rania langsung menolehkan wajahnya dan dilihat suaminya dengan wajah yang sudah lelah.
Baru saja Rania ingin melangkah mendekati suaminya, namun Zein sudah lebih dulu berjalan mendekatinya dan memeluk tubuhnya dengan hangat.
"Sayang... Kau tidak boleh bergadang seperti ini. Kau harus istirahat cukup." ucap Zein sembari mengelus rambut istrinya dalam pelukan hangatnya.
"Hem... Kau sendiri, malam-malam begini baru datang? Memangnya pergi kemana tadi?" tanya Rania penasaran.
"Tidak apa-apa sayang... Tadi ada urusan sedikit dengan David." balas Zein meyakinkan.
"Hmmm gitu... Oh ya, aku baru ingat kalau temanmu yang bernama David itu adalah orang yang pernah menolongku di Resort waktu itu kan? Apa kalian pergi semalam ini ada hubungannya dengan penyelidikan kasus itu?" Rania bertanya dengan tatapan penuh selidik.
"Iya sayang..." jawab Zein singkat.
Ia merasa tidak perlu menyembunyikan apapun dari istrinya termasuk tentang penyelidikan itu. Rania berhak tahu segalanya.
"Lalu... Apa sudah ketemu pelakunya?" Rania bertanya lagi.
"Hem... Belum sayang." Zein menggelengkan kepalanya.
Mendengar jawaban dari suaminya tidak membuat raut wajah Rania tampak kecewa atau pun senang. Ia hanya menghela napas beberapa kali dengan wajah datar.
"Ini masih terlalu malam sayang, lanjutkan tidurmu." bujuk Zein.
Tiba-tiba Zein menggendong tubuh Rania hingga membuat Rania terkejut lalu meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas kasur. Kemudian merapikan selimut di tubuh istrinya, setelah itu Zein merebahkan tubuhnya di atas kasur bersama istrinya dengan tangan memeluk pinggang istrinya selama mereka tidur.
Malam itu terlalu melelahkan baginya, hingga ia tidak menyentuh istrinya sama sekali. Hanya memeluk tubuhnya dengan hangat.
Sementara itu Ronald dan David masih berada dalam perjalanan yang hampir sampai. Ronald menduga Yina di culik oleh orang suruhan Rey, karena Rey sudah mengetahui kasus yang terjadi pada Rania, sudah pasti Rey pun dengan segera menyelediki kasus itu juga. sebab itulah malam itu juga Ronald dan David beserta yang lainnya mendatangi rumah Rey.
"Apa kau yakin, Yina berada di sana saat ini?" tanya David pada Ronald yang tengah fokus mengendarai mobil.
"Ya." jawab Ronald singkat. Masih dengan tatapan fokus menghadap jalan.
Perjalanan malam memang membutuhkan tingkat fokus yang lebih ekstra ketika berkendara dibanding saat pagi dan siang hari.
Mendengar jawaban singkat dari Ronald tidak membuat David menyerah untuk bertanya lagi atas rasa penasarannya.
__ADS_1
"Apa sebelumnya kau pernah ke tempat itu?" tanya David sembari menatap wajah Ronald penuh harap.
"Ya." lagi-lagi Ronald menjawabnya dengan jawaban singkat.
Cih... Apa Zein tidak salah mempekerjakan orang seperti dia? Jelas sangat kaku dan tidak menarik. Batin David kesal.
"Kira-kira, siapa orang yang menculik Yina? Apa kau mengenalnya?" tanya David sembari menyilangkan kedua tangannya.
"Yang jelas, aku mengenalnya." jawab Ronald tanpa ekspresi.
Sial... Dia ini manusia atau bukan sih? Bicaranya selalu datar dan tanpa ekspresi? Batin David semakin kesal.
"Apa kau ada kesulitan dalam berbicara?" tanya David asal.
Ronald menoleh wajahnya ke arah David dan menatap dalam-dalam.
"Aku tidak suka banyak bicara, kalau kau ingin bicara. Bicara saja pada yang lain." balas Ronald tegas.
Di dalam mobil ini hanya ada kau dan aku, brengsek... Kalau bukan bicara padamu, aku harus bicara dengan siapa lagi? Batin David memaki.
Lebih baik besok aku mengusulkan pada Zein untuk memecatnya. Bagaimana mungkin Zein bisa tahan dengan manusia kaku seperti dia? Zein saja sudah kaku ditambah dia yang lebih kaku dari Zein. Astaga... Apa mereka benar-benar cocok untuk hubungan pekerjaan? David membatin penuh heran.
"Sebentar lagi kita akan sampai, sebaiknya kau diam dan menutup mulutmu rapat-rapat di sana...! Kalau tidak, kau akan menemui kematian lebih cepat." ucap Ronald memperingati.
"Ma... Maksudmu apa? Aku tidak mengerti? Apa kita akan memasuki kandang macan?" David bertanya dengan wajah penasaran.
"Bisa dibilang begitu." jawab Ronald santai.
Begitu sampai di depan gerbang, Ronald segera keluar dari dalam mobil, begitupun dengan David yang mengikutinya dari belakang.
Seperti biasa, ketika segerombolan orang datang, maka dengan cepat penjaga gerbang mendekati mereka dengan pertanyaan yang sama.
"Malam-malam begini ada perlu apa datang ke sini?" tanya penjaga gerbang tersebut dengan garang.
"Aku ingin bertemu dengan tuan Rey." jawab Ronald santai.
Penjaga tersebut memperhatikan penampilan Ronald dati atas sampai bawah termasuk yang lainnya.
"Tunggu sebentar. Siapa namamu?" tanya penjaga tersebut.
"Namaku Ronald, katakan saja aku diperintahkan oleh tuan, Zein." jawab Ronald sembari mengangguk sopan.
Penjaga tersebut langsung menghubungi Jeremi.
"Ya, ada apa?" tanya Jeremi.
"Tuan, ada segerombolan orang datang dan ingin bertemu dengan tuan, Rey." ucapnya tegas.
__ADS_1
"Malam-malam begini? Apa kau tidak salah?" tanya Jeremi heran.
"Iya, tuan. Katanya namanya Ronald dan diperintahkan oleh tuan, Zein." jelas penjaga tersebut.
Mendengar penjelasan dari penjaga gerbang sudah membuat Jeremi paham.
"Tunggu sebentar." ucap Jeremi sembari berjalan menemui Rey yang saat itu sedang beristirahat di dalam kamarnya dengan mata yang masih terjaga.
Tok tok tok
Jeremi mengetuk pintu.
"Masuk." jawab Rey dari dalam kamar.
"Tuan, maaf mengganggu. Diluar sedang ada orang suruhan dari tuan, Zein. Katanya ingin bertemu dengan tuan." jelas Jeremi.
Zein...? Ada apa lagi dia? Belum cukup membuat keonaran di rumahku? Apa ini ada hubungannya dengan Yina? Batin Rey kesal karena mengganggu waktu Istirahatnya.
"Baiklah, suruh mereka masuk dan." jawab Rey singkat.
"Baik, tuan." Jeremi mengangguk sopan lalu bergegas pergi dan memberitahukan pada penjaga untuk membukakan pintu gerbang.
"Silahkan masuk." ucap penjaga gerbang tersebut mempersilahkan Ronald beserta yang lainnya masuk ke dalam.
Mereka akhirnya memasuki rumah Rey. Dengan di ikuti para pengawal Rey di belakang.
Mungkin ini maksud ucapannya tadi, di area ini benar-benar di penuh orang-orang bersenjata. Ya Tuhan... Lindungi aku. Batin David mengingat ucapan Ronald di dalam mobil sembari merapal doa.
"Hey... Apa kau tidak takut?" tanya David pada Ronald sembari merangkul lengan Ronald saat mereka sedang berjalan menuju pintu rumah.
"Cih... Jika aku penakut sepertimu, aku tidak akan datang ke tempat ini." jawab Ronald berdecak.
"Ah... Iya, kau benar... Tapi, apa kau bisa berkelahi?" tanya David lagi di sela-sela aktifitas berjalan mereka sembari menyapu matanya memutari area rumah milik Rey.
"Bisakah kau menutup mulutmu? Atau aku akan meninggalkanmu di sini...!" ucap Ronald dengan nada mengancam.
Mendengar ucapan Ronald, cukup membuat David bergidik ngeri.
"Baiklah aku akan diam, tapi pastikan aku aman dalam pengamananmu ya. Aku belum menikah soalnya." pinta David dengan nada merengek.
"Kau pikir hanya kau yang belum menikah? Dan jangan memerintahku seolah-olah aku adalah pengawalmu...! ucap Ronald penuh penekanan. "Lagi pula... Di sini hanya diri sendirilah yang mampu melindungi diri masing-masing." lanjutnya sembari menatap wajah David yang tampak semakin pucat.
David diam tanpa sepatah kata pun begitu melihat Jeremi keluar. Dan tampak beberapa pengawal berjaga di depan rumah Rey.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Mohon bersabar yah, author akan berusaha memberikan cerita yang menarik buat kalian. Dan up sesering mungkin.๐ค
__ADS_1
Jangan bosan membaca novel NYT.๐ค
Terimakasih.