
Sementara para perawat sedang mengurus Rania untuk dipindahkan ke ruang rawat. Zein menunggunya di luar, duduk bersama Ronald yang masih menunggu perintah Zein.
"Ron, sebaiknya kau pergi ke kantor dan urus semua urusan kantor! Jika ada yang perlu aku tandatangani, bawa saja berkas itu ke sini. Aku akan tetap di sini menunggu istriku, dan bermalam di sini." Kata Zein.
"Baik, tuan...!" Ronald mengangguk sopan.
"Oh ya... Tolong tingkatkan lagi pengamanan di rumah sakit ini, terutama di depan ruangan istriku. Jangan biarkan sedikitpun celah bagi mereka masuk ke dalam! Meski aku tidak tahu apa rencananya saat ini. Yang jelas, aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi...!" Zein memperingati.
"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi sekarang." Kata Ronald dan berlalu meninggalkan Zein.
Sementara itu para perawat tampak mendorong kereta itu keluar dan memindahkan Rania ke kamar VIP. Zein mengikuti mereka mendorong dan berada di samping tubuh Rania yang masih dalam posisi meluruskan tubuhnya, sepanjang langkah kaki mereka berjalan sambil mendorong tubuh Rania. Zein tidak melepaskan sama sekali genggaman tangannya yang terus memegangi tangan Rania. Membuat para perawat itu tampak malu dan menahan senyum.
"Zein... Lepaskan tanganku!" pinta Rania.
"Kenapa memangnya?" tanya Zein.
"Aku malu, Zein... Mereka memandangi kita, dan ini tempat umum." Rania berbisik.
"Aku tidak perduli... Ini rumah sakit milikku. Aku berhak melakukan segalanya di sini. Dan mereka tidak akan menertawakanku! Benar kan? jawab Zein seolah tidak memperdulikan ucapan Rania sambil menatap wajah salah seorang perawat. Hingga membuat perawat itu tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya.
Hah... Kini dia mulai tampak menyebalkan. Rania menggerutu.
Tidak butuh waktu yang lama untuk bisa sampai di kamar perawatan kelas VIP. Akhirnya mereka sampai dan memindahkan Rania ke kasur yang lebih luas dan nyaman. Ruangan VIP itu memang khusus di peruntukan untuk keluarga Arka. Tidak seorang pun bisa menempatinya selain keluarga Arka, ruangan yang di desain dengan gaya klasik dan memiliki ukuran yang sangat luas untuk ukuran sebuah kamar rawat di rumah sakit. Ruangan itu juga tidak seperti rumah sakit pada umumnya. Nuansanya benar-benar menampakkan seperti sedang berada di kamar sendiri. Yang membedakan hanya ada beberapa alat-alat medis yang mendukung perawatan.
Mata Rania memutari setiap sudut ruangan itu, seolah tidak percaya, di rumah sakit ada ruangan seperti ini. Layaknya kamar pribadi.
Wah... Kalau kamar rawatnya seperti ini, tidak masalah jika harus bermalam di sini. Apa lagi ada Zein yang menemaniku. Batinnya tenang.
__ADS_1
Setelah Rania sudah diletakkan dengan benar, para perawat itu segera pergi.
"Tuan, kami sudah selesai... Apa ada yang tuan dan Nyonya butuhkan lagi?" tanya salah seorang perawat.
"Tidak ada, kau boleh pergi sekarang!" jawab Zein singkat, seolah ingin mereka segera pergi dan meninggalkannya berduaan di ruangan itu bersama istrinya.
"Baik, tuan." Kata perawat itu dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
Setelah para perawat itu pergi meninggalkan ruangan itu, dengan cepat, Zein mengambil sebuah remot kontrol dan menekan tombol (key) hingga akhirnya ruangan itu terkunci. Pintu otomatis yang terbuat dari besi sehingga tidak satupun orang yang bisa mendobraknya ataupun mencoba membukanya kecuali jika diledakkan dengan bom. Hanya bisa di buka dengan menggunakan remot dan telapak tangan Zein beserta ayah, ibu dan adiknya saja. Telapak tangan mereka sudah di setting dengan mesin kecil yang berada di sisi pintu besi itu sehingga dapat terhubung dan terbuka secara otomatis hanya dengan menempelkan telapak tangannya saja. Sebuah alat yang bisa mendeteksi telapak tangan mereka.
Setelah itu, Zein mendekati Rania dan merebahkan dirinya di samping tubuh Rania yang tampak meluruskan tubuhnya di atas kasur.
"Kau mau apa, Zein?" tanya Rania heran. Matanya melirik ke wajah Zein yang perlahan bergeser miring dan tampak senyum-senyum memandangi wajahnya.
Orang ini semakin aneh saja kelakuannya. Rania membatin.
"Siapa bilang? Dokter bilang, jangan terlalu banyak bergerak!" Rania meluruskan kesalahan Zein dalam mendengar.
"Yah... Sama saja. Bicara juga menimbulkan efek gerakan mulut, bukan? Lalu, apa bedanya?" Zein tak ingin kalah ucapan dari Rania dan selalu melakukan pembenaran.
Zein terus menatap wajah Rania semakin dekat dan sangat menggoda. Ia merasakan jantungnya mulai berdebar. Tanpa mengubah posisi dan masih dengan posisi tubuh yang miring dan menatap wajah Rania yang juga sedang meluruskan tubuhnya di atas kasur yang sama. Tiba-tiba, Zein melingkarkan tangan kanannya di atas bagian bawah perut Rania, di bawah bagian luka operasinya, sehingga tidak akan membuat Rania kesakitan ketika di sentuh.
Arrghh... Dia mau apa sih? Aku tidak bisa menggeser tubuhku darinya, itu akan membuat lukaku terasa nyeri. Dia ini, bisa-bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Gerutunya kesal.
"Mulai sekarang, jangan pernah pergi diam-diam dariku dan melakukan hal konyol lagi!!" Zein menegaskan.
"hmmm... Jika aku melakukannya lagi. Apa yang akan kau lakukan, Zein?" Rania mencoba menebak perasaan Zein padanya.
__ADS_1
"Jika kau sampai melakukan itu lagi, dan kau tertangkap lagi olehnya, aku tidak akan membiarkan laki-laki brengsek itu hidup! Aku akan menghabisinya di depan matamu. Setelah itu, aku akan memangsamu hidup-hidup...!" kata Zein sembari memperagakan mulut harimau yang akan memangsa lawannya.
"hahahah... Itu terdengar sangat mengerikan Zein, aku tidak percaya kau bisa melakukan hal seperti itu!" Rania meragukan perkataannya.
Jelas saja perkataan Zein sangat mengada ngada, Rania tahu benar siapa suaminya. Suaminya tidak sampai hati berbuat kasar apa lagi sampai menyakiti orang lain. Sangat jauh berbeda dengan mantan kekasihnya yang bahkan karena perbuatannya, ia bisa berada di rumah sakit seperti sekarang.
"Jadi kau tidak percaya? Apa itu artinya, kau juga tidak takut denganku, Rania?" balas Zein menggoda, lalu meremas paha kanan Rania hingga membuat tubuhnya bergidik dan hatinya berdesir.
Zein... Beraninya kau meremas pahaku di saat seperti ini? Di saat aku tidak bisa melakukan perlawanan apapun. Awas saja kau nanti..!!Rania menggerutu.
"Sekarang, apa kau sudah merasa takut padaku?" Bisik Zein menggoda di telinga Rania.
"Tidak... Aku tidak takut denganmu." Rania mendongakkan wajahnya seolah menantang.
"Apa kau sedang berusaha menggodaku, Rania?" ucap Zein.
"Meski aku menggodamu, kau tetap tidak akan bisa menyentuhku di sini, Zein." jawab Rania menggoda dan menjulurkan ujung lidahnya seolah meledek.
Sial... Jika saja selang-selang yang mengganggu ini tidak menempel di tubuhnya, rasanya ingin sekali aku menerkamnya habis-habisan sampai lemas tak berdaya dan menunjukkan seberapa kuatnya diriku. Zein membatin dengan hasratnya yang tiba-tiba bergejolak.
"Hah... Sebaiknya aku pindah saja, berada di dekatmu seperti ini, bisa membuatku gila memikirkannya." Zein beranjak dari tidurnya dan beralih pada sebuah sofa besar dan panjang di samping tempat tidur Rania, lalu merebahkan tubuhnya. "Pffft... Ini jauh lebih baik dari sebelumnya."
Rania hanya tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
***Bersambung.
LIKE➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
__ADS_1
Terimakasih**. 🤗❤️