Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Perkara masuk toilet.


__ADS_3

"Pfffft..." Rania membuang napas dari mulutnya. Seolah lega melihat Zein pindah dari sisinya dan beralih pada sofa besar di sampingnya.


Rania sudah bersiap untuk memejamkan matanya dan beristirahat. Namun, baru saja beberapa detik ia menutup matanya. Tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut mendarat di keningnya.


Eh... Apa ini? Kenapa keningku terasa hangat? Apa mungkin seekor cicak membuang kotorannya di atas keningku? Batin Rania mencoba menerka, lalu membuka matanya.


Begitu Rania membuka kedua matanya, betapa terkejutnya ketika wajah Zein menutupi pandangannya, ia melihat wajah Zein yang tampak bergeser begitu melihatnya membuka mata.


Ah... Ternyata bukan kotoran cicak, barusan... Apa dia baru saja mencium keningku? Batin Rania yang mulai terkejut dan menyadari sentuhan hangat itu rupanya berasal dari bibir suaminya yang mencoba mengecup keningnya.


"Aku baru menyentuhmu seperti itu saja kau sudah terbangun dan terkejut, itu belum ada apa-apanya, Rania...!" ucap Zein, begitu melihat wajah terkejut Rania dan bola matanya yang hampir keluar. Seolah memperingati Rania agar bersiap di lain waktu ketika ia melancarkan aksinya.


"Kau yang mengagetkanku, Zein...! Untuk apa tiba-tiba datang mendekatiku dan mencium keningku? Aku bahkan berpikir, itu adalah kotoran cicak." enteng saja Rania mengucapkannya.


"Wah... Yang benar saja, bagaimana mungkin kau berpikir yang barusan aku lakukan padamu adalah kotoran cicak yang jatuh? Apa kau tidak merasakan sentuhan lembut itu? Bagaimana mungkin kau menyamakan kecupanku dengan kotoran cicak? Rania... Kau benar-benar...!!" belum sempat Zein meneruskan kalimatnya. "Apa...? Aku benar-benar cantik? Tentu saja, aku memang makhluk tercantik di dunia ini." Rania menyela sambil menjulurkan lidahnya, seolah sedang meledek.


Sialnya, ketika Rania menjulurkan lidahnya, dengan cepat Zein mendaratkan kecupan singkatnya di bibir lembut Rania. Dan dengan segera ia bangkit seraya berkata "Jangan bicara lagi, jika kau tak ingin aku melakukannya lebih buruk dari yang tadi..! tidurlah dan mimpi indah, wanita tercantik-ku...!" sontak membuat Rania tercengang, tubuhnya membatu dan tak ada suara yang keluar dari mulutnya lagi. Ia baru saja merasakan kecupan singkat dengan lidah yang saling beradu.


Kecupan itu masih sangat terasa di bibirnya, ia terus memegang bibirnya dengan jarinya, sampai akhirnya rasa kantuk datang menyerangnya hingga membuatnya tertidur.


Zein berlalu dari pandangannya dan berjalan menuju sofa lalu merebahkan dirinya di atas sofa.


Suasana menjadi hening. Sampai keduanya larut dalam malam yang hening di kamar rumah sakit.


Sementara itu, beberapa pasukan pengaman tampak sedang berjaga dengan mata awas di depan pintu kamar mereka.


*keesokan harinya.


Rania tampak sedang kerepotan, dengan jarum infus yang masih menempel di atas punggung telapak tangan kanannya. Ia berjalan pelan sambil tangan kirinya menuntun tiang infus yang menghubungkan selang dengan tangannya. Ia berjalan pelan menuju toilet dan hendak buang air kecil.


Sementara itu Zein mulai bangun dari tidurnya. Begitu ia membuka matanya, dilihatnya Rania yang sedang kerepotan berjalan pelan menuju toilet. Seketika ia bergegas bangun dan mendekati Rania.


Dengan cekatan ia langsung memegang punggung Rania dan mencoba mengambil alih tiang infus yang di pegang tangan kiri Rania.

__ADS_1


"Kenapa tidak membangunkan-ku...?" kata Zein tergesa.


"Aku tak ingin membangunkan tidurmu. Kelihatannya kau begitu pulas." jawab Rania dengan bibir manyunnya.


"Lalu... Apa gunanya aku di sini? Jika kau melakukannya sendiri? Bukankah keberadaan ku di sini selain karena aku adalah suamimu. Juga karena untuk membantumu di sini?" ucap Zein sedikit kesal.


"Hmmm... Iya, maaf." Rania meminta maaf.


"Tidak apa-apa... Lain kali tidak perlu sungkan padaku! Bersikaplah selayaknya seorang istri pada suaminya." timpal Zein. Sembari menuntun Rania berjalan menuju toilet. Rania hanya menjawab. "Iya." lalu menganggukan kepalanya.


Begitu mereka sudah sampai di depan pintu toilet. Tiba-tiba Rania menghentikan langkahnya.


"Sampai sini saja, Zein!" ucap Rania.


"Lalu siapa yang akan membantumu membuka pakaianmu di dalam dengan tanganmu yang sedang terpasang infus begini?" Zein bertanya sambil melirik bagian bawah Rania.


Apa yang dia lihat? Apa dia berpikir aku akan meminta bantuannya untuk membuka celanaku? Dasar mesum. Batinnya menerka.


Jelas saja Rania berpikir ke arah itu, dengan tatapan mata suaminya yang tampak melirik bagian celananya.


"Tentu saja tidak... Tenang saja, aku akan menutup mataku dan tidak akan melihatnya...!" Zein mengangkat jari kelingkingnya ke atas, tanda sebuah janji.


"Kau pikir aku anak kecil dan percaya begitu saja...?" Rania tidak percaya dengan ucapan suaminya barusan.


Astaga... Kenapa perkara membantu melepaskan celana dalam saja begitu bertele-tele sih...? Hal yang seharusnya mudah, malah dipersulit. Zein menggerutu kesal.


Pasalnya meski sudah beberapa bulan menikah, Zein memang belum pernah menyentuh seluruh bagian tubuh Rania, kecuali mencium bibirnya. terlebih bagian yang tersembunyi. Bisa di bilang suami yang haus akan cumbuan.


"Haishhh... Kenapa susah sekali sih? Lalu siapa yang akan membantumu melepaskannya? Jika bukan aku...?" balas Zein sambil menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana mungkin aku membiarkanmu berada di dalam dan melepaskan celanaku? Zein... Jangan berpikir mesum ya...!!" ucap Rania sambil mengangkat jari telunjuknya seolah mengancam.


"Ya sudah... Lalu aku harus bagaimana?"

__ADS_1


"Em... Bisakah kau panggilkan perawat untuk datang membantuku?" Rania meminta tolong dengan wajah mengiba di depan Zein.


Aku yakin, jika perawat itu datang dan melihatku, ia akan meragukan kesetiaanku sebagai suami... Apa yang akan dipikirkannya jika tahu suaminya tampak di depan mata, tapi istrinya malah meminta bantuan perawat...? Astaga... Rania kau akan menghancurkan harga diriku. Batinnya kesal dengan segala prasangkanya.


"Baiklah... Tunggu sebentar" Zein berjalan mendekati tombol merah yang berada di sisi pintu, lalu menekannya sambil berkata. Aku butuh bantuan perawat...!!


Lalu ia berjalan kembali mendekati Rania dan memegangi tiang infusnya lagi.


"Tunggu saja, mereka akan dateng sebentar lagi...!" ucap Zein datar, Rania mengangguk.


Hanya satu menit setelah Zein memanggilnya lewat pesan audio. Terdengar suara bel berbunyi.


Zein mendekati kembali pintu berlapis besi itu lalu menempelkan telapak tangannya tepat di depan alat deteksi jari. Kemudian pintu itupun terbuka.


Seorang perawat masuk dan menyapa Zein. "Selamat pagi, tuan?" sapanya dengan ramah.


"Ya." jawab Zein singkat.


"Apa yang bisa saya bantu, tuan?" tanya perawat itu.


"Bantu istriku ke toilet...!" lagi-lagi Zein menjawabnya dengan singkat.


"Baik, tuan." tanpa bertanya lagi, perawat itu. Sudah paham maksudnya. Kemudian ia mendekati Rania dan mencoba membawakan tiang infus lalu menuntunnya berjalan masuk ke dalam toilet dan menutup pintu itu. Pikirnya: Biasanya kebanyakan suami istri akan membantu istri atau suaminya di dalam toilet ketika tangannya masih terpasang jarum infus.


Sementara itu, Zein menunggu di sofa, duduk menyilangkan kakinya, melipat kedua tangannya di bagian dada.


Tuan, ini aku Ronald...! Terdengar bunyi suara dari dalam alat deteksi.


Zein mengangkat pergelangan tangan kirinya, dan dilihatnya jarum jam yang mulai menunjuk angka delapan lewat lima belas menit waktu pagi. Ia tahu suara di balik alat deteksi itu adalah suara Ronald.


Untuk apa Ronald datang sepagi ini? Batin Zein menerka.


*Bersambung.

__ADS_1


LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


Terimakasih readers setiaku. 🤗❤️


__ADS_2