Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Berpapasan dengan Evelin di kampus


__ADS_3

Setelah mengakhiri panggilannya dengan Melly. Rania pun kembali menekan layar ponselnya, kali ini ia ingin menghubungi suaminya dan meminta izin untuk pergi ke butik sebentar.


Rania tak ingin kejadian dulu terulang lagi padanya saat ia sembunyi-sembunyi pergi tanpa izin suaminya. Setelahnya ia justru mengalami kejadian yang tak di inginkan dan menyebabkan keributan antara suaminya dengan mantan kekasihnya hingga membuatnya terluka di bagian perutnya, sebuah tembakan melesat menembus bagian perutnya. Kejadian itu dan banyak lagi kejadian-kejadian lainnya yang membuatnya trauma. Kejadian yang selalu berawal atas sikap keras kepalanya dulu terhadap suaminya.


Setelah menunggu beberapa detik, sambungannya terhubung pada suaminya.


Zein yang saat itu sedang berada di ruang meeting bersama para karyawannya tampak meminta waktu sebentar untuk menunggunya melihat ponselnya.


Begitu ia melihat ponselnya, ternyata ia mendapati Rania menghubunginya. Saat itu masih cukup pagi, sekitar pukul 09:30. Dengan wajah penasaran karena Rania tidak biasanya menghubunginya sepagi itu. Saat dirinya baru saja memulai pekerjaannya.


Lalu Zein keluar sebentar dari ruangan meeting. Karena tak ingin membuat para karyawannya tidak nyaman atas pembicaraannya dengan Rania di telepon, sebab ia selalu memanggil istrinya dengan sebutan sayang.


Setelah Zein sudah berada di luar, ia pun dengan segera menekan tombol berwarna hijau di layar ponselnya.


Zein : iya sayang... Ada apa? Tumben menghubungiku sepagi ini, apa kau merindukanku? Tanya Zein menggoda.


Rania : bukan itu, sayang... Aku hanya ingin meminta izin untuk pergi ke butik sebentar saja...! Aku ingin bertemu temanku di sana.


Teman... Siapa? Batin Zein heran.


Zein : Teman? Siapa? Laki-laki atau perempuan?


Zein memberondong pertanyaan begitu mendengar temannya ada di butik.


Rania : tentu saja seorang wanita, mana mungkin juga aku meminta izin untuk bertemu dengan teman laki-laki...! Sudah pasti kau tidak akan mengizinkannya.


Benar juga. Zein membenarkan ucapan Rania barusan.


Zein memang sangat cemburuan pada Rania semenjak Rania jatuh cinta padanya di pertengahan pernikahan mereka.


Sikap posesif Zein itu cukup berasalan, karena dulu mantan kekasih Rania dengan terang-terangan ingin mengambil Rania dari tangannya. Dan sejak saat itulah Zein menjadi sangat posesif dengan segala aturannya pada Rania, bahkan melarang Rania berada di luar rumah, meski hanya untuk mengelola butiknya. Ya meskipun pada akhirnya sesekali Zein mengizinkan Rania pergi ke butik karena tidak tahan dengan rayuannya.


Rania : jadi bagaimana? Apa kau mengizinkanku? Boleh ya... Please...!


Zein : tidak boleh sayang, ingat... Saat ini perutmu sudah membesar, dokter Gea sudah melarang-mu untuk pergi keluar rumah jika bukan hal yang penting.


Rania : hem...


Zein : jangan marah ya...! Aku hanya mencemaskanmu. Memangnya siapa temanmu itu?


Rania : Merry.


Merry...? Siapa Merry...? Batin Zein penasaran.


Zein : siapa itu Merry? Suruh saja ia datang ke rumah...!


Rania : ya sudah kalau tidak boleh keluar.


Dengan terpaksa Rania menuruti perintah suaminya yang melarangnya untuk pergi ke butik.


Zein : iya... Jangan marah yah sayang...! Kau mau aku bawakan apa nanti?


Zein berusaha merayu dengan menawarkan makanan.


Rania : huuuh... Tidak perlu.


Rania langsung mengakhiri panggilannya bersama Zein.


Ada raut kesal di wajahnya saat itu karena tidak di izinkan untuk pergi.


Haiiish... Sensitif sekali dia. Zein bergumam saat Rania mengakhiri panggilan begitu saja dengan penuh kekesalan.


Setelah menerima panggilan dari Rania, Zein kembali ke ruang meeting untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu di tempat Rania.


Rania mencoba menghubungi Melly, tidak lama panggilannya tersambung.


Melly : Iya, Bu.


Rania : Mel, apa temanku masih menungguku di sana?


Melly : benar, bu... Beliau masih menunggu ibu datang begitu tahu ibu akan datang ke sini.


Rania : Sedang apa dia sekarang?


Melly : saat ini dia sedang melihat - lihat gaun Bu. Sepertinya ia berniat untuk membeli gaun.


Rania : Mel, tolong sampaikan maaf padanya bahwa aku tidak bisa datang ke butik, jelaskan saja perihal kondisi kehamilanku yang sudah membesar.


Melly : Oh... Baik, Bu.


Rania : dan berikan alamatku ya Mel, katakan padanya untuk datang ke rumah jika ada waktu.


Melly : Baik, Bu.


Panggilan antara Rania dan Melly pun berakhir.


Begitu selesai menerima panggilan dari Rania, Melly pun langsung menjelaskan apa yang di perintahkan Rania padanya.


"Nona... Maaf harus mengatakan ini dan membuat anda menunggu." ucap Melly dengan sopan.


"Ada apa... Katakan saja, kau tidak perlu sungkan." jawab Merry sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bu Rania bilang tidak bisa datang ke butik saat ini, karena kondisinya saat ini sedang hamil dan perutnya sudah membesar mendekati lahir. Beliau memintaku untuk menyampaikan permintaan maaf pada Nona." jelas Melly.


Wah... Ternyata dia sedang hamil. Batin Merry terkejut mendengar berita kehamilan Rania.


"Hem... Begitu, sayang sekali... Padahal aku ingin bertemu dengannya." timpal Merry dengan wajah sedikit kecewa.


"Oh iya... Ini alamat lengkap rumah Bu Rania, anda bisa datang ke rumahnya jika sempat, Bu Rania memintaku memberikan alamat ini pada anda." Melly menyodorkan selembar kertas bertuliskan alamat rumah Zein.


Merry menerima kertas tersebut sembari tersenyum.


"Baiklah... Terima kasih." jawab Merry tersenyum.


"Sama-sama Nona." sahut Melly dengan sopan.


Setelah menerima penjelasan dari Melly, Merry akhirnya bergegas pergi menuju mobilnya. Di sana sudah ada supir pribadinya yang menunggunya dari tadi. Namun sebelum Merry keluar dari butik, ia menatap foto pernikahan Rania dengan suaminya yang terpampang jelas di dinding sambil melempar senyum.


Pasangan yang serasi. Batin Merry memuji


Setelah itu Merry keluar dari dalam butik dan pergi bersama supir pribadinya.


Di kantor Zein.


Setelah meeting selesai dan berjalan lancar sampai pukul dua belas siang. Tepat pada jam istirahat.


Masih di ruangan yang sama, Zein dan Ronald sedang merapikan berkas. Sementara itu, para karyawan lainnya sudah keluar dari ruangan untuk istirahat.


"Ron... Ayo kita makan siang bersama..!" ajak Zein dengan antusias.


Mendengar ajakan Zein yang jarang-jarang mengajaknya untuk makan siang bersama, ada kebingungan di wajah Ronald.


Lama menunggu jawaban dari Ronald, Zein pun menatap wajah Ronald.


"Ada apa? Apa kau sudah ada janji makan siang dengan orang lain?" tanya Zein dengan wajah penasaran.


Ronald tersenyum malu seraya berkata. "Benar, Tuan... Maaf aku tidak bisa menemanimu makan siang bersama." jelas Ronald.


"Hahaha... Tidak apa-apa Ron, pergilah... Kasian nanti temanmu menunggu lama." balas Zein sambil tertawa.


Mendengar jawaban Zein, Ronald pun segera pergi begitu selesai merapikan berkas.


Apa dia sudah memiliki kekasih ya? Batin Zein penasaran. Yah... Semoga saja benar, berbahagialah Ron. Batinnya mendukung.


Ronald pun segera pergi dengan membawa mobilnya untuk menjemput Tania di kampus.


Walaupun saat menjemput Tania di kampus, Ronald memiliki kekhawatiran akan bertemu dengan Evelin juga di Sana. Mengingat ternyata mereka kuliah di kampus yang sama.


Meski Tania dan Evelin kuliah di kampus yang sama, keduanya sama-sama tidak menyadarinya. Evelin yang jarang di kampus dan lebih banyak mengerjakan tugasnya di luar kampus, sementara Tania yang baru kuliah selama enam bulan di kampus begitu antusias dengan kegiatan-kegiatan sosial di kampusnya. Membuat keduanya tidak pernah bertemu meskipun belajar di kampus yang sama.


Tania sedang duduk di kelas sambil menunggu Ronald, ia terus memandangi ponselnya, kalau-kalau Ronald mengiriminya pesan singkat maupun menghubunginya perihal janjinya untuk makan siang bersama.


Plaaaak


Salah satu teman dekatnya menepuk bahunya.


"Ayo ke kantin kita cari makan...!" ajak Vina sambil duduk di samping Rania yang sedang fokus pada layar ponsel miliknya.


Vina adalah salah satu teman dekatnya, ia termasuk anak yang cerdas. Sama halnya dengan Tania, vina suka membawa buku dan juga ikut dalam kegiatan-kegiatan kampus yang bersifat sosial.


"Kau saja yang pergi, aku belum lapar." jawab Tania dengan suara lemas.


"Ah... Gak seru lah gak ada kamu." timpal Vina.


"Di bikin seru aja...!" jawab Tania dengan ekspresi datar.


"Huuuh... Garing, gak lucu, ya udahlah... Aku ke kantin dulu." jawab Vina.


Sampai Vina meninggalkannya sendirian di dalam kelas. Tania masih menatap layar ponselnya. Ia masih menunggu panggilan ataupun pesan singkat dari Ronald.


Setelah hampir sepuluh menit ia memandangi ponselnya sampai rasa kantuk mulai menyerangnya, Tania masih belum beranjak dari duduknya. Ia masih menunggu kabar dari Ronald.


Sebenernya bisa saja ia menghubungi Ronald, dari pada harus menunggunya seperti ini tanpa kejelasan. Namun ego nya yang cukup tinggi membuatnya enggan untuk menghubungi Ronald lebih dulu, padahal ia sudah resmi menjalin hubungan dengan Ronald, tapi tetap saja egonya masih sangat tinggi.


Sama halnya dengan Tania, Ronald pun sengaja tidak menghubungi Tania dari pagi untuk sekedar memberi kepastian, selain itu Ronald memang sengaja membuat Tania menunggu demi membuat kejutan. Ia ingin Tania terkejut dengan kedatangannya ke kampus saat menjemputnya untuk makan siang bersama.


Cih... Sebenernya dia datang atau tidak sih? Batin Tania yang sudah mulai kesal menunggu.


Lalu ia pun menggebrak meja dengan telapak tangannya demi meluapkan emosinya pada Ronald karena membuatnya lama menunggu.


Karena kebutuhan di kelasnya sedang tidak ada orang dan hanya dia sendirian di dalam kelas, jadi tidak ada yang mendengarnya menggebrak meja.


Tidak lama setelah ia menggebrak meja, ponselnya berdering.


Dengan segera Tania melihat ponselnya.


Wajahnya berubah drastis, dari yang tadinya kesal, kini wajahnya berubah menjadi sumringah tersenyum sendiri melihat panggilan itu dari kekasihnya.


Ehem... Ehem..


Ia mencoba mengetes pita suaranya, kalau-kalau terdengar jelek.


Lalu Tania langsung menggeser tombol berwarna hijau pada ponselnya seraya berkata.


Tania : Ya, ada apa?

__ADS_1


Jawabnya dengan nada ketus.


Ronald : keluarlah, aku menunggumu di depan gerbang.


Tania :Ya... Ok.


Singkat saja jawabnya, lalu mengakhiri panggilan itu.


Dengan wajah berbunga, Tania pun segera keluar dari kelasnya menuju gerbang.


Ah... Sial... Kenapa aku tidak memintanya untuk masuk saja...? Inikan lumayan jauh. Batin Tania memaki dirinya sendiri.


Di tengah perjalanannya menuju pintu gerbang demi menemui Ronald, tiba-tiba Evelin yang sedang berjalan terburu-buru sambil menerima panggilan dari arah yang berlawanan menabrak Tania yang juga sedang berjalan terburu-buru.


"Eh maaf. " ucap Evelin.


Buku-buku Tania pun terjatuh ke lantai.


" Tidak apa-apa." jawab Tania sambil menunduk dan merapikan Buku-bukunya yang berceceran di lantai.


Keduanya masih belum menyadari, karena tidak saling melihat.


Setelah berjalan melewati Tania dan sibuk dengan panggilannya di telepon.


Evelin menghentikan panggilannya untuk sejenak.


Lalu berbalik badan dan mendekati Tania yang saat itu sedang menunduk merapikan Buku-bukunya.


Lalu Evelin ikut membantunya merapikan Buku-bukunya.


"Terima kasih." ucap Tania saat Evelin membantunya.


"Sama-sama." jawab Evelin tersenyum.


Begitu keduanya saling bertatap wajah, keduanya sama-sama terkejut sembari menyebut nama mereka masing-masing.


"Tania...!"


"Evelin...!"


Keduanya pun tertawa begitu menyadari bahwa ternyata mereka selama ini satu kampus, dan selama ini tidak pernah bertemu sama sekali.


"Wah.. Aku gak nyangka ternyata kamu kuliah di sini juga." ucap Evelin dengan wajah antusias.


"Heheheh... Iya, aku juga gak nyangka, aku baru semester satu soalnya. Mungkin karena masih baru, jadi kita gak pernah ketemu." balas Tania sambil tertawa kecil.


"Hahah... Iya benar. Kau mau ke mana? Sepertinya buru-buru sekali...!" tanya Evelin penasaran.


Mendengar pertanyaan dari Evelin, Tania pun baru sadar dan hampir saja melupakan Ronald yang saat ini sedang menunggunya di luar kampus.


Sempat ada perasaan takut di benak Tania begitu tahu bahwa ternyata Evelin dan dirinya kuliah di kampus yang sama. Tentu saja itu akan menjadi masalah bagi Tania, ia akan lebih berhati-hati saat jalan bersama Ronald, takut akan hubungannya di ketahui oleh Evelin.


Pasalnya untuk saat ini, Ronald memintanya menyembunyikan hubungan mereka, meski entah sampai kapan? Namun Tania percaya bahwa tidak ada maksud lain dari Ronald atas permintaannya itu. Sejauh ini, Tania percaya bahwa Ronald benar-benar mencintainya.


Astaga... Hampir saja aku lupa. Batin Tania terkejut.


"Oh... Iya, aku ada urusan dan harus pergi. Sampai jumpa." ucap Tania sambil berlari.


"Hahahah... Ya, sampai jumpa di lain waktu." sahut Evelin sambil tertawa melihat Tania berlari dengan cepat.


Mau kemana dia? Sampai harus berlari-lari seperti itu...? Batin Evelin penasaran.


Setelah Tania pergi meninggalkannya, Evelin pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelasnya.


Dengan napas yang masih tersengal, akhirnya Tania sampai di tempat Ronald menunggu dan berdiri tepat di depan Ronald duduk.


"Hey... Siapa yang menyuruhmu berlari? Apa kau sedang di hukum?" tanya Ronald dengan wajah penasaran.


Tania berdiri tegak setelah tadi berjongkok karena kelelahan berlari demi menemui Ronald.


"Tentu saja untuk menemui kakak... Aku hanya takut kakak menungguku terlalu lama." jelas Tania.


"Cih... Kenapa aku tidak suka kau memanggilku dengan sebutan kakak ya?" ucap Ronald dengan wajah heran.


Padahal sebelumnya dia memang selalu memanggilku dengan sebutan itu. Batin Ronald bingung.


"Memangnya kenapa? Bukankah biasanya juga aku memanggil seperti itu." jawab Tania heran.


"Ya... Kau benar, sudahlah... Ayo kita pergi...! Soal panggilan untukku, biar ku pikirkan nanti." ucap Ronald sambil menarik lengan Tania dan membukakan pintu untuk Tania masuk ke dalam mobilnya.


Keduanya pun langsung berangkat menuju kafe terdekat untuk menikmati makan siang mereka.


Bersambung\=\=\=>


Yang mau berlalu-halu dengan wajah para pemain NYT, bisa liat di IG yah. Jangan lupa Like IG author juga yah. ( @senja3295 ).


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Terimakasih. 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2