
Setelah mendengar ucapan Ronald barusan, ada rasa kesal, kecewa dan perasaan lainnya yang kini di rasakan Tania. Setelah mereka tidak bertemu cukup lama, pada akhirnya Ronald masih sama dan tidak pernah mengungkapkan perasaannya padanya. Membuat benar-benar harus melupakan Ronald selamanya.
Bagaimana pun, ia tak ingin menyiksa dirinya lagi.
"Syukurlah, sepertinya kalian memang cocok." celetuk Tania dengan wajah yang tidak bisa di artikan makanya.
Apa dia menganggap aku dan Evelin berpacaran? Batin Ronald menerka dari apa yang terkandung dalam pernyataan Tania barusan.
"Kau sendiri, bagaimana hubunganmu dengan pacarmu?" tanya Ronald menebak.
Jika kali ini Tania menjawabnya, itu artinya ia memang sudah memiliki kekasih. Pikir Ronald.
"Berhentilah bertanya tentang omong kosong...!!" Tania seketika berdiri dari duduknya, lalu dengan nada yang cukup keras ia kembali melempar sebuah kalimat. "Tidak bisakah kau melihat atau merasakan apa yang aku rasa...?" ungkapnya dengan tegas.
Setelah mengatakan kalimat itu, Tania berjalan cepat meninggalkan Ronald yang masih terkejut karena sikapnya barusan.
Mendengar ucapan Tania barusan serta meninggalkannya begitu saja, membuat Ronald merasa bersalah karena telah menyiksa perasaan Tania seperti ini, padahal ia sendiri tahu, bahwa Tania menyukainya sama halnya dengannya. Tidakkah ini terlalu kejam bagi Tania? Meski Tania pernah melihatnya berciuman dengan Evelin bahkan tak ada penjelasan apapun, dan perasaannya tetap sama padanya.
Tania berjalan cepat melewati area trotoar dengan membawa emosi di hatinya, berharap setelah ini Ronald menyadari perasaannya dan memberikan sebuah kepastian padanya. Menahan dan mengabaikan, nyatanya hanya membuat hatinya terluka.
Sampai-sampai Tania berjanji dalam hati, jika malam ini ada laki-laki yang menyatakan cinta padanya? Siapa pun itu? Ia akan menerimanya. Sebagai bentuk rasa kecewanya terhadap seseorang.
Kemudian Ronald masuk ke dalam mobil, mulai memacu mobilnya dan mengejar Tania yang sudah semakin jauh meninggalkannya.
Tinnn... Ronald menekan tombol klakson pada mobilnya seraya mendongakkan kepalanya menatap Tania dari dalam mobil dengan jendela kaca yang sudah terbuka.
Tinnn... Tinnn...
Ronald kembali membunyikan klakson nya, meminta untuk masuk ke dalam mobil.
Namun sayangnya Tania tak memperdulikannya dan tetap berjalan di area trotoar.
Akhirnya Ronald meninggalkannya dan memacu mobilnya.
Melihat Ronald meninggalkannya begitu saja, cukup membuat Tania kesal dan hanya berdecak. Cih... Sudah ku duga. Dia memang laki-laki seperti itu. Batinnya kecewa.
Sudahlah, Tania... Kau hanya membuang energimu saja atas perasaanmu yang sia-sia dan menyedihkan...! Saat ini, buanglah perasaan itu jauh-jauh...!! Batin Tania menyemangati dirinya sendiri.
Setelah berjalan cukup jauh dan kini kakinya mulai terasa lelah, dengan berjalan lemas, Tania tetap menyusuri jalan panjang itu. Sesekali ia menengok ke belakang, berharap ada taksi yang lewat. Namun ia tak mendapatkan taksi sampai detik itu juga, karena kakinya terasa perih, Tania pun duduk di atas trotoar lalu membuka sepatunya.
Ah... Sial, kakiku jadi lecet seperti ini. Tania membatin.
Ia menekuk kedua kakinya, menyandarkan dagunya tepat di atas lututnya sambil merenung untuk beberapa saat.
__ADS_1
Dalam renungan itu, ia membayangkan semua kenangannya bersama Ronald. Sesekali ia tersenyum saat membayangkan kenangan itu, namun tiba-tiba senyumnya berubah menjadi sinis saat membayangkan dirinya saat ini, keadaan yang menurutnya sangat mengenaskan.
Dalam lamunannya, tiba-tiba seorang duduk tepat di sampingnya. Tania pun memalingkan wajahnya ke samping untuk melihat wajah orang yang duduk di sampingnya.
Saat ia memalingkan wajahnya, hal yang tidak di sangka pun terjadi.
Dengan gerakan yang begitu cepat, Ronald langsung mendaratkan ciuman di bibir Tania. Meksi terkejut dengan aksi Ronald saat itu. Namun Tania hanya diam tercengang sambil menikmati sentuhan bibir Ronald yang begitu lembut hingga membuatnya melayang dan tak bisa menolaknya.
Setelah merasa puas mencium Tania, Ronald pun melepaskan ciuman yang berlangsung selama beberapa menit itu.
Dengan wajah yang masih tercengang, Tania menutup bibirnya dengan telapak tangannya, ia menatap penuh tanya ke arah wajah Ronald. Apa arti dari ciuman ini? Pikirnya.
"Aku mencintaimu, Tania..." ucap Ronald dengan wajah serius.
pengakuan cinta Ronald yang begitu mengejutkannya sekaligus membuat Tania senang.
Untuk beberapa saat Tania tertegun dalam keterkejutannya.
Tanpa mengatakan apapun, Tania langsung memeluk tubuh Ronald sembari menangis dan memukul dada Ronald.
Hiks...hiks...
Kenapa dia malah menangis? Apa dia tidak suka dengan pengakuanku? Atau dia marah padaku...? Ronald memberondong pertanyaan dalam hatinya.
Astaga... Aku pikir kenapa? Rupanya hanya karena aku menyatakan cinta di sini? Batin Ronald tercengang mendengar alasannya menangis.
Kemudian ia menyapu pandangannya di area sekitar. Ronald tiba-tiba tersenyum.
Ah... Dia benar, tidak seharusnya aku menyatakan cinta di tepi jalan sambil duduk di atas trotoar seperti ini...! Batin Ronald tertawa.
"Hahaha... Maafkan aku, Tania. Mungkin inilah caraku, aku sendiri tidak sadar." ucap Ronald sembari tertawa kecil.
Tania melepaskan pelukannya begitu mendengar tawa Ronald.
Masih terlihat jelas di mata Ronald, pipi Tania yang basah akibat air matanya yang jatuh.
Kini keduanya saling bertatap wajah satu sama lain. Tatapan yang tidak bisa di artikan maknanya.
Ronald kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Tania, menyadari apa yang akan di lakukan Ronald padanya, Tania hanya tertegun sambil menunggu sensasi ciuman yang baru sekali ia rasakan, yaitu dengan Ronald, laki-laki pertama yang menciumnya dengan tiba-tiba.
Sama halnya dengan Tania, Ronald pun merasakan sensasi pertamanya dalam berciuman, terasa begitu nikmat hingga membuatnya ingin melakukannya sekali lagi.
Dan akhirnya, Ronald kembali mendaratkan bibirnya tepat pada bibir mungil Tania, melumattnya dengan sangat bergairah hingga membuatnya tak hilang kesadaran dan tak memperdulikan tempat.
__ADS_1
Tania yang juga menikmati sentuhan lembut biarin Ronald, tak menepis ciuman itu, justru sangat menikmatinya. Kemudian ia melingkarkan tangannya pada pinggang Ronald, hingga membuat Ronald semakin antusias dan tak melepaskan ciumann itu untuk beberapa menit.
Setelah keduanya sudah benar-benar puas menikmati ciuman pertama mereka. Dengan napas yang tersengal, Ronald akhirnya melepaskan tangannya pada leher Tania lalu melepaskan ciumannnya dengan Tania.
Tania yang masih memejamkan matanya kini membuka matanya setelah Ronald melepaskan ciumann itu.
Dengan rasa malu yang menggelayuti wajahnya, Tania tampak memalingkan wajahnya untuk sejenak.
Sama halnya dengan Tania, Ronald pun merasakan malu yang luar biasa setelah ungkapan cintanya hingga ciuman maut yang ia layangkan pada Tania.
Keduanya terlihat salah tingkah. Sampai mata Ronald melihat jari kaki Tania lecet dan berdarah sedikit.
Melihat kaki Tania yang lecet dan berdarah, Ronald berjalan menuju mobil lalu membuka pintu mobil untuk mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di dalam mobilnya.
Tania tampak bingung namun ia hanya diam duduk di atas trotoar.
Ronald duduk kembali di samping Tania sambil membuka kotak P3K dan membersihkan luka di jari kaki Tania dengan kain kapan yang sudah di olesi alkohol, setelah itu Ronald mengoleskan obat pereda sakit berwarna merah pada luka di kaki Tania dengan kapan hingga membuat Tania merintih karena rasa perih di jari kakinya.
"tahan sedikit, meski terasa perih." ucap Ronald menenangkan.
Tania lalu mengangguk sambil menggigit bibirnya menahan perih.
Setelah selesai, Ronald menaruh kembali kotak itu ke dalam mobilnya lalu kembali pada Tania yang masih duduk di atas trotoar.
Ronald membungkukkan tubuhnya lalu menggendong tubuh mungil Tania hingga membuat Tania terkejut.
"Eh... Kenapa menggendongku?" tanya Tania dengan wajah terkejut.
"Kakimu pasti masih sakit untuk berjalan, diam saja dan jangan bicara...!" jelas Ronald.
Lalu meletakkan dengan hati-hati tubuh Tania pada kursi mobil. Ronald berlari kecil menuju kuris mobilnya dan mulai memacu mobilnya meninggalkan tempat itu.
Bersambung\=\=\=>
Yang mau berlalu-halu dengan wajah para pemain NYT, bisa liat di IG yah. Jangan lupa Like IG author juga yah. ( @senja3295 ).
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Terimakasih. 🙏🏻
__ADS_1