
Sementara itu di kantor Zein.
Zein tampak sibuk dengan berbagai berkas yang ada di depan meja kerjanya, ada beberapa berkas yang perlu di tinjau dan di tandatangani. Tiba-tiba Ronald mengetuk pintu dari luar pintu.
"Ya... Masuklah...!" perintah Zein sembari fokus membuka lembaran berkas yang ada di tangannya.
Ronald membuka pintu, berjalan mendekati Zein lalu menyodorkan berkas yang dia bawa.
"Tuan, ini ada beberapa berkas penting yang harus segera di lihat dan di tindak dalam waktu dekat." jelas Ronald sembari tetap berdiri di depan meja kerja Zein.
"Baiklah." Zein meraih berkas tersebut, lalu membuka satu per satu dan melihatnya dengan detail.
Ronald masih menunggu keputusan Zein dengan tetap berdiri.
Setelah selesai membaca isi dari berkas tersebut, Zein terkejut ketika dirinya di haruskah untuk ke luar negeri besok pagi, tepatnya ke Singapura, dalam rangka peninjauan beberapa perusahaannya yang berada di sana yang perlu di kunjungi. Terutama hotel miliknya yang saat ini sedang mengalami peningkatan, baik dalam pendapatan maupun popularitas yang mendekati sebagai hotel terbaik.
Tentu tidak hanya sekedar meninjau beberapa perusahaan miliknya, sebagai pengusaha yang cukup terkenal dengan beberapa perusahaan yang dimilikinya yang tersebar di sana, alasan utama yang mengharuskannya untuk pergi ke singapura juga karena ada beberapa pertemuan penting dengan rekan bisnisnya di Singapura.
"Singapura...? Apa tidak bisa di undur?" tanya Zein pada Ronald dengan wajah serius.
Pasalnya, kali ini Zein sedikit berat meninggalkan istrinya sendirian di rumah dalam kondisi sedang hamil muda. Meskipun di rumahnya tidak kekurangan orang untuk menjaga istrinya, terlebih ia memiliki dokter pribadi yang sewaktu-waktu bisa dengan cepat menangani istrinya kalau-kalau terjadi sesuatu pada istrinya.
Namun di satu sisi, Zein tahu bahwa ini menyangkut masa depan perusahaan yang telah di bangunnya di sana selama beberapa tahun terakhir. Ia harus tetap menjaga hubungan baik dengan para rekan bisnisnya di sana demi kelangsungan bisnisnya di negeri orang.
"Tidak bisa, Tuan." jawab Ronald tegas, "Ada beberapa pertemuan penting antara Tuan dan beberapa pemilik saham lainnya di sana." lanjutnya.
Meski berat meninggalkan Rania saat ini walaupun hanya untuk beberapa hari saja terkait bisnisnya. Namun Zein harus tetap pergi.
"Baiklah, atur saja semuanya...! Aku akan pergi besok." ucap Zein tegas meski terasa berat.
"Baik, Tuan." balas Ronald sembari mengangguk sopan.
Zein menyerahkan kembali berkas tersebut pada Ronald.
Ronald pun meraihnya lalu bergegas kembali untuk bekerja, mempersiapkan beberapa berkas yang perlu di bawa besok.
"Jika sudah selesai, saya permisi, Tuan." ucap Ronald sebelum pergi dari ruangan Zein.
"Ya, silahkan lanjutkan pekerjaanmu." balas Zein.
__ADS_1
Ronald pergi meninggalkan ruangan Zein dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Begitupun sebaliknya, Zein memeriksa kembali berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya, berusaha menyelesaikan lebih cepat lalu segera pulang menemui istrinya di rumah.
Sejak Rania hamil, pikiran Zein selalu saja memikirkan Rania, takut terjadi sesuatu pada istrinya yang selalu bertindak ceroboh dan sesuka hatinya. Selain itu, Zein juga semakin merindukan istrinya semenjak Rania hamil. Tidak sedetikpun pikirannya luput dari memikirkan istrinya.
Di sela-sela waktu kerjanya yang padat, Zein pun meluangkan waktunya untuk sekedar mendengar suara Rania di dalam ponsel, ia meraih ponsel yang ada di atas meja kerjanya lalu meneken tombol dan mencoba menghubungi istrinya.
Sayangnya Rania saat itu sedang berada di toilet karena mual, hingga melewatkan panggilan dari suaminya.
Kenapa tidak di angkat? Apa terjadi sesuatu padanya? Batin Zein sedikit cemas begitu panggilan terabaikan.
Dengan perasaan panik, lalu Zein menghubungi Rania kembali.
Lagi-lagi Rania melewatkan panggilan dari suaminya karena masih berada di dalam toilet, ia tidak mendengar dengan jelas akan adanya bunyi telepon dari ponselnya karena merasakan mual pada bagian perutnya.
Ada apa sebenarnya? Sayang... Angkat teleponnya...!! Jangan membuatku cemas seperti ini...!! Batin Zein semakin cemas.
Dua kali menghubungi ponsel Rania dan tidak ada jawaban. Akhirnya Zein memutuskan untuk beralih menghubungi nomor rumahnya.
Tanpa menunggu waktu lama untuk di jawab, hanya beberapa detik saja, dengan segera sambungan teleponnya langsung tersambung dan di jawab oleh Bibi Ros.
"Bi... Tolong cek ke kamar Nyonya...! Apa terjadi sesuatu padanya? Beberapa kali aku menghubunginya, namun tak ada jawaban." ucap Zein dari dalam telepon.
"Oh... Iya, Tuan. Tunggu sebentar, akan Bibi segera Bibi cek." jawab Bibi Ros.
Zein pun langsung mengakhiri panggilannya sembari menunggu kabar dari Bibi Ros.
Dengan segera, Bibi Ros menuju kamar Rania untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Tok tok tok
Mendengar suara ketukan pintu di balik pintu, Rania pun bergegas keluar dari toilet untuk membuka pintu.
"Ada apa Bi?" tanya Rania begitu pintu sudah di buka.
"Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Bibi Ros dengan wajah panik.
Ada rasa panik di mata Bibi Ros begitu melihat wajah Rania terlihat pucat dan matanya sedikit memerah akibat mengeluarkan tenaga saat muntah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bi... Aku hanya merasa mual dan pusing." jawab Rania dengan wajah pucat.
"Tapi wajah Nyonya terlihat tidak baik-baik saja, apa perlu Bibi panggilkan dokter?" sekali lagi Bibi Ros bertanya untuk memastikan keadaan Rania.
"Tidak perlu Bi, aku hanya perlu istirahat sebentar." Rania menolak, "Tapi bagaimana Bibi bisa datang ke kamar dan menanyakan keadaanku?" tanyanya.
"Itu... Tadi Tuan menghubungi nomor rumah dan menanyakan keadaan Nyonya." Jelas Bi ros.
Hem... Pantas tiba-tiba Bibi datang ke kamar. Padahal bukan jam makan. Rania membatin.
"Oh begitu... Aku tidak apa-apa Bi, aku mau istirahat lagi." ucap Rania sembari memegang kepalanya yang kadang masih terasa sedikit pusing.
"Baik, Nyonya." jawab Bi Ros sembari menunduk sopan.
Kemudian Rania menutup pintu, berjalan menuju kasur untuk merebahkan tubuhnya lagi.
Bibi Ros pun kembali turun untuk menghubungi Zein soal keadaan Rania.
Drtttt... Drttt...
Ponsel milik Zein pun berbunyi, terlihat sebuah panggilan dari nomor rumahnya, dengan segera ia pun menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Bi... Bagaimana keadaan Nyonya?" tanya Zein dari dalam ponselnya.
"Nyonya bilang baik-baik saja, Tuan" jawab Bibi Ros, "Tapi sepertinya Bibi lihat, Nyonya sedikit pucat, mungkin karena Nyonya terlalu banyak muntah hari ini." jelasnya lagi.
Astaga... Bagaimana jika sudah seperti ini? Rasanya aku tidak sanggup meninggalkannya sendirian besok. Zein membatin penuh cemas.
"Ya sudah... Tolong awasi terus ya Bi. Tolong Kabari segera padaku, jika terjadi sesuatu dengan Nyonya...!!" perintah Zein.
"Baik, Tuan." sahut Bi Ros dari dalam telepon.
Bersambung\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
TERIMAKASIH. 🙏🏻
__ADS_1