
"Pfffft... Berkuda cukup melelahkan." Ucap Zein pelan, kemudian merebahkan tubuhnya dengan melebarkan kedua tangannya.
Masih dengan posisi berdiri di depan lemari kaca, membuat Rania menjadi salah tingkah ketika Zein masuk kamar tanpa mengetuk pintu.
"Duduklah..! Apa kau akan terus berdiri di situ?" Perintah Zein.
Tidak lama, Rania duduk di samping kasur. Namun matanya tetap tertuju pada lemari kaca. Ya, jepit rambut berukuran kecil berwarna merah muda itu cukup menarik mata Rania hingga membuatnya penasaran.
"Zein, jepit rambut itu... Kenapa hanya ada satu dan terbungkus dengan rapih di sebuah kotak kaca?" Tanya Rania penasaran sambil menunjuk ke arah jepit rambut yang menarik perhatiannya.
"Kenapa? Apa kau mengingat sesuatu?" Tanya Zein tergesa.
"Hmmm... Kenapa kau balik bertanya? Aku bertanya, karena aku tidak tahu!" Jawab rania bingung.
"Oh, aku pikir kamu tahu sesuatu. Jadi benar-benar tidak ingat yah?" Ucap Zein pelan.
"Apa maksudmu?" Rania bingung.
"Tidak apa-apa, itu hanya benda lama yang ingin ku simpan." Suara Zein lirih.
"Untuk apa menyimpan jepit rambut yang hanya tinggal satu?" Tanya Rania penasaran.
"Entahlah, saat itu, aku hanya ingin menyimpannya. Kau boleh memakainya jika mau! Sepertinya itu sangat cocok untukmu!" Jawab Zein sambil beranjak dari posisi tidurnya dan melangkahkan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya setelah berkuda, sambil memperingatkan Rania tentang liburan ke paris. " Oh ya, lusa kita berangkat ke paris! Persiapkan dirimu!!"
Apa yang perlu dipersiapkan? Hanya pergi bukan? Tidak untuk menetap di sana? Gerutu Rania dalam hati.
Tiba-tiba hujan datang tanpa permisi. Rania berjalan mendekati kaca besar diseberang kasur. Ada bulir-bulir hujan yang mengalir, ia menempelkan tangannya pada kaca dan menatap langit yang saat itu sudah gelap. Perlahan Rania memejamkan matanya, ada ingatan lalu yang kembali mengusiknya. Tak ingin terus terusik, ia pun membuka matanya.
Hmmm... Memikirkannya di waktu hujan membuatku lapar. Lebih baik aku turun dan masak semangkuk mie instan saja. Dengan tergesa Rania menuruni tangga.
Gubraaaak...
Aaaaaa...
Karena terlalu bersemangat, Rania menuruni tangga dengan sangat tergesa hingga akhirnya kakinya tergelincir dan jatuh dari tangga yang hanya tersisa beberapa anak tangga saja.
Teriakan Rania membuat pelayan yang berada di dekatnya berlarian dan berusaha membangunkannya dengan rasa panik.
Zein yang juga mendengar teriakan Rania, bergegas keluar dengan hanya memakai handuk yang menutupi bagian perut sampai lutut kaki, Segera melihat dan menuruni tangga dengan cepat.
Melihat Rania yang sedang dibantu oleh Bibi Ros dan pelayan laki-laki membuat Zein berteriak. "Jangan sentuh...!!" Matanya menatap ke arah pelayan laki-laki yang mencoba ingin mengangkat Rania.
Seketika teriakan Zein membuat mereka terdiam termasuk Rania.
Dengan segera Zein menuruni tangga, lalu mengangkat dan menggendong tubuh Rania dengan tubuhnya yang masih basah kuyup dan berceceran air yang belum sempat dikeringkan dengan handuk.
__ADS_1
Para pelayan yang hanya menundukkan kepala ikut heran. Untuk pertama kalinya mereka Mendengar tuannya berteriak sekencang itu dengan wajah cemas.
"Bi, panggil dokter viona sekarang!!" perintah Zein tegas.
Dokter viona adalah dokter pribadi yang biasa memeriksa ibu dan adik Zein. Sementara itu Zein dan ayahnya juga memiliki dokter pribadi yang berbeda.
"Iya Tuan." Bibi ros mengangguk cepat.
Rania yang sedang merasa kesakitan karena kakinya terkilir dan tubuhnya serasa remuk, hanya bisa pasrah dalam gendongan Zein.
"Kenapa tidak hati-hati? Sebenarnya untuk apa kau turun?" Tanya Zein dengan wajah merah padam menunjukkan kemarahan.
"A...aku hanya ingin memasak mie instan di dapur." Jawabnya lirih menahan sakit.
"Jika kau harus memasak sendiri? Lalu apa gunanya para pelayan itu?" Ucap Zein kesal.
Rania hanya diam di pelukan Zein tanpa membalas ucapan Zein.
Ada bulir-bulir air yang keluar dari ujung rambut Zein yang basah hingga menetes tepat di pipi Rania yang halus.
Untuk kali ini, aku tidak akan marah meski air di rambumu jatuh menetes di pipiku, Zein. Terimakasih. Batin Rania tersentuh melihat wajah panik Zein saat dirinya jatuh. Seolah hatinya yang mengeras mulai meluluh.
Begitu sampai di Kamar, Zein meletakkan Rania di kasur, tangannya mengangkat kedua kaki Rania dan mencoba meluruskannya.
"Dimana yang sakit? Bertahanlah!! Sebentar lagi dokter akan datang..!" Ucap Zein tergesa disertai kepanikan.
Kemudian Zein menyelimuti Rania dan duduk di samping Rania seolah ingin memastikan Rania tetap baik-baik saja dan dalam perlindungannya, Zein yang terus menatap wajah Rania membuat Rania tampak malu, dan hanya bisa terdiam di kasur dengan kondisi kakinya yang sakit.
Ah... Kenapa dia terus menatapku? Batin Rania tersipu malu.
"Zein, apa tidak sebaiknya kau pakai bajumu dulu? Aku tidak nyaman melihatmu seperti itu...!" Perintah Rania dengan wajah merah, tersipu malu.
"Tidak apa-apa, aku kan suamimu!" Tegas Zein.
"Bukan begitu Zein. Aku takut kamu masuk angin." Ucap Rania mencari alasan.
"Baiklah."
Tok.. Tok.. To..
Suara ketukan pintu terdengar dibalik pintu.
Zein tahu, itu pasti Viona yang datang.
"Masuklah!" Zein mempersilahkan masuk.
__ADS_1
Kemudian dokter Viona masuk dan menyapa Zein seraya menundukkan kepala.
"Silahkan..! Viona, Tolong lakukan yang terbaik..!" perintah Zein cemas.
"Baik Tuan." viona menjawab pelan.
Rania yang masih tampak kesakitan hanya terdiam, menunggu dokter memeriksanya dengan segera.
"Beruntung kakinya hanya terkilir Tuan, dan tangannya juga terkilir sedikit." Ucap Viona sambil menggulung perban di kaki dan pergelangan tangan rania.
"fyuuuh... Syukurlah dia tidak apa-apa." Ucap Zein sambil mengelus dadanya seolah ikut senang mendengarnya.
Melihat Raut wajah Zein yang dari tadi begitu cemas, membuat Rania tersentuh.
Apa kecemasan yang tampak di wajahmu itu sungguhan, Zein? Rania membatin seolah tidak percaya.
"Ini ada beberapa obat untuk meredakan rasa sakit! Diminum sesuai aturan ya Tuan." Jelas Viona, sambil menyerahkan obat.
"Baiklah, terimakasih Viona." Ucap Zein.
"Kalau begitu saya pamit, kalau ada apa-apa hubungi saja, Tuan." Ucap Viona seraya menundukkan kepalanya.
"Tentu Viona." Tegas Zein.
"Nyonya Rania, semoga lekas sembuh, saya pamit sekarang." Viona berusaha memberi semangat pada Rania yang tengah merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
"Iya, terimakasih dokter."
Bersambung.
Halo pembaca setia NYT 🤗
Terus dukung aku yah, dengan cara:
➡️klik suka (like)
➡️klik favorit
➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)
➡️beri tanda bintang lima
➡️beri aku vote sebanyak-banyaknya ya biar makin semangat nulisnya.
Terimakasih semuanya. 🤗😊
__ADS_1