
Setelah Zein meninggalkan kediamannya, dengan segera Rey mencari tahu siapa orang yang berani mengkambinghitamkan dirinya terlebih menyakiti wanita yang dicintainya.
"Cari dan temukan laki-laki itu secepatnya, temukan siapa otak dibalik semua ini? Kerahkan seluruh orang-orang kita yang biasa terlibat dengan dunia hitam..! Telusuri semua orang-orang yang pernah terlibat dengan dunia hitam."
Dengan amarah yang memuncak Rey memerintahkan Jeremi untuk menyelediki kasus itu dan menemukan laki-laki yang kabur dengan memalsukan bukti transfer yang melibatkan namanya serta meninggalkan tulisan tangan bahwa dirinya diperintahkan oleh Rey atas tindakannya terhadap Rania di Resort kemarin.
"Baik, tuan." Jeremi mengangguk.
Dengan segera Jeremi pergi untuk mencari keberadaan laki-laki yang kini tengah bersembunyi dan melarikan diri. Namun dengan riwayat Rey yang juga pernah terlibat dalam dunia hitam untuk beberapa bisnisnya cukup mudah baginya untuk menemukan laki-laki itu dengan koneksi dunia hitam yang pernah digelutinya.
Hanya perlu memerintahkan orang-orang mencari dan menanyakan setiap gengster atau pimpinan dari orang-orang yang terlibat dunia hitam, dengan begitu akan memudahkan dirinya dalam melacak keberadaan laki-laki itu.
Sementara itu Zein sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Tuan, apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya David.
Melihat wajah Zein yang memar dan berdarah di bagian bibirnya akibat baku hantam tadi, membuat Ronald khawatir.
"Tidak perlu." ucap Zein yang saat itu sedang membersihkan darah di sudut bibirnya dengan tisu.
"Baiklah, tuan." balas Ronald.
Sialan Si Rey... Pukulannya cukup keras juga. Zein menggerutu kesal.
Masih teringat jelas memorinya mengingat wajah istrinya yang terpampang di setiap sudut rumah Rey.
Cih... Untuk apa dia masih memajang foto wanita yang sudah menjadi milik laki-laki lain? Batin Zein kesal.
"Ron, apa ada yang berubah dengan wajahku?" tanya Zein pada Ronald yang saat itu duduk di bagian depan mobil bersama supir pribadi.
Mendengar pertanyaan dari Zein, Ronald pun menoleh wajahnya ke belakang untuk melihat wajah Zein.
"Wajah tuan sedikit memar di bagian pipi dan terlihat bekas luka di bagian sudut bibir tuan." Ronald menjelaskannya dengan jelas.
Arghh... Apa yang terjadi jika Rania melihat wajahku seperti ini? Batin Zein ketakutan.
Zein takut Rania akan cemas melihat wajahnya yang memar dan menghujaninya dengan berbagi macam pertanyaan. Sedangkan dia tidak mungkin menceritakan pertemuannya dengan Rey hingga berujung baku hantam.
🍀Di rumah Rania🍀
__ADS_1
Sementara itu di rumah Rania tepatnya pada sore hari, ia masih menunggu suaminya pulang dengan berjalan kaki menyusuri jalan beraspal. Sedikit lagi langkahnya mulai sampai di depan gerbang. Sepanjang menunggu kedatangan suaminya yang tak kunjung datang, Rania mondar-mandir di depan pintu gerbang layaknya gosokan.
Hmmm... Sudah sore masih belum datang juga? Sebenarnya dia ke mana sih? Batin Rania tidak sabar menunggu suaminya datang.
Para penjaga dan pengawal tetap memperhatikan Rania, kali ini Zein memang memperketat keamanan di dalam maupun di luar rumahnya. Kebijakannya itu bukan tanpa alasan dan terkesan berlebihan untuk penjagaan terhadap seorang istri. Namun semata-mata karena saat ini Zein merasa dikelilingi orang-orang yang mencoba mencelakai dirinya maupun istrinya.
Hampir setengah jam Rania menunggu Zein sembari berjalan kaki dan menggerakkan sendi-sendi nya seperti gerakan olah raga di sela-sela waktu menunggunya. Namun sayangnya ia belum juga melihat tanda-tanda kedatangan suaminya.
"Nyonya... Sudah terlalu lama Nyonya berdiri di sini menunggu tuan, lagi pula hari sudah mulai gelap, bagaimana jika kita kembali ke rumah?" ucap Bibi Ros memberi saran dan meminta Rania kembali ke rumah sembari menunduk sopan.
"Tidak Bi... Aku ingin menunggunya pulang." ucap Rania sambil tersenyum.
Rania tetap berdiri sembari berjalan-jalan kecil di depan gerbang.
Beberapa menit kemudian tampak sebuah mobil datang menuju pintu gerbang. Dengan raut wajah senang Rania berlari kecil mendekati mobil itu, namun begitu mobil itu semakin dekat dan setelah diperhatikan dengan seksama. Ternyata itu bukan mobil yang biasa digunakan oleh suaminya. Rania mulai menatap penuh selidik ke arah mobil itu.
Dan begitu seseorang keluar dari dalam mobil, Rania bengong tanpa ekspresi apapun melihat laki-laki yang tidak dikenalnya. Namun sekilas ia seperti mengenali wajah laki-laki yang ada di depannya.
Tertegun dalam kebingungannya, Rania masih berpikir dan berusaha mengingat, di mana ia melihat wajah laki-laki yang tampak familiar itu.
Siapa laki-laki ini? Apa Zein punya adik laki-laki? Atau sepupuhnya? Tapi, setahuku.. Zein satu-satunya anak laki-laki di keluarganya. Hmmm, tapi sepertinya aku pernah melihat dia... Tapi di mana ya? Batin Rania mencoba mengingat.
Ya, laki-laki itu adalah David. Teman dekat suaminya yang juga pernah menolong Rania di Resort kemarin.
"Baiklah, tuan... Silahkan masuk." ujar penjaga gerbang tersebut setelah mengkonfirmasi pada Zein lewat sambungan telepon.
"Terimakasih." sahut David tersenyum.
David masuk kembali ke dalam mobilnya untuk memarkir mobilnya di dalam, pintu gerbang pun terbuka, Rania hanya diam dan memperhatikan dari luar begitu mobil David masuk ke dalam dan berhenti tepat di depannya. Lalu David membuka jendela kaca mobil bagian depan dan mendongakkan kepalanya dekat dengan jendela kaca mobilnya.
"Mau ikut denganku sampai depan rumah?" sapa David sembari tersenyum menawarkan tumpangan pada Rania menuju rumah Zein. Jarak gerbang dengan rumah Zein memang cukup jauh, yaitu berjarak 50 meter.
Tanpa menjawab, Rania menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa dia tidak ingin ikut dengan David.
Pribadi Rania memang cuek terhadap laki-laki semenjak sekolah sampai sekarang. Terlebih ketika dirinya ditinggalkan oleh Rey begitu saja selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya ia dijodohkan dan menikah dengan laki-laki yang bernama Zein yang tidak lain adalah teman kecilnya sendiri.
Dalam hidup Rania, ia hanya pernah dekat dengan dua laki-laki, yaitu Rey dan Zein. Selain itu ia selalu acuh terhadap laki-laki dan terkesan jutek. Baik teman maupun pelanggannya dulu saat masih mengurus butik miliknya yang saat ini sudah tidak di kelolanya lagi.
Begitu melihat Rania hanya menggelengkan kepalanya, membuat David tersenyum lalu memajukan mobilnya dan memarkirnya di sisi jalan di area taman.
__ADS_1
Lalu David keluar dari dalam mobil, berjalan mendekati Rania dan mencoba menyapa. "Halo, kenalkan namaku David?" David mengulurkan tangannya.
Dalam kebingungan Rania pun bertanya. "Maaf, anda siapanya suamiku?"
"Aku teman dari suamimu." balas David tersenyum simpul.
Akhirnya Rania menyambut salamnya dan keduanya bersalaman.
"Oh... Aku..." belum sempat Rania menyelesaikan kalimatnya memperkenalkan dirinya. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil hingga mengagetkannya dan refleks melepaskan jabatan tangan David.
Begitu melihat ke arah gerbang, ternyata mobil Zein sudah berada di depan gerbang menunggu gerbang terbuka secara otomatis.
Ah... Suamiku sudah pulang. Batin Rania senang.
Ia berlari manja mendekati mobil suaminya. Mobil Zein pun berhenti tepat di samping Rania kemudian Zein membuka pintu mobilnya.
Zein akhirnya keluar dari dalam mobil, baru saja Zein keluar dari dalam mobil dan mengucapkan. "Sayang kenapa di..." belum sempat Zein meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Rania memeluk tubuh Zein dengan sangat kuat hingga membuat Zein terkejut. Tidak biasanya Rania bersikap seperti itu, pikirnya.
Lalu Zein mengalihkan pandangan matanya pada David yang berdiri tidak jauh dari dirinya sedang memandanginya dengan ekspresi jomblo yang menyedihkan.
Rupanya dia datang juga? Kenapa tidak menemuiku di kantor? Batin Zein.
Lalu Zein memusatkan kembali pandangannya pada Rania sembari membelai rambut Rania.
"Sayang... Kenapa di luar? Ini sudah hampir gelap." tanya Zein lembut.
Rania pun melonggarkan pelukannya dan mendongakkan wajahnya menatap suaminya dalam-dalam.
"Aku menunggumu di luar, karena seharian ini aku khawatir padamu." ucap Rania sembari menatap wajah suaminya ke atas.
Selain memiliki tubuh yang mungil, Rania juga memiliki tinggi badan yang tidak terlalu tinggi, hingga membuatnya selalu mendongakkan kepalanya ketika bicara dengan suaminya.
Mendengar ucapan dari Rania terasa sangat menyentuh hati Zein hingga membuatnya memeluk tubuh Rania lagi.
Apa kau sudah benar-benar mencintaiku, Rania? Hingga kau begitu mengkhawatirkanku. Batin Zein tersentuh.
Bersambung\=\=\=\=>
Jangan lupa dukungannya yah.
__ADS_1
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
TERIMAKASIH. 🤗