Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Sama-sama cemburu


__ADS_3

Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Rey, membuat Zein berpikir kalau pelakunya bukanlah Rey. Tapi kenapa semua bukti nyata itu menunjukkan kalau pelakunya adalah Rey.


Untuk sejenak Zein diam dan tubuhnya lemas setelah melayangkan dua kali pukulan ke wajah Rey yang ternyata tidak bersalah.


"Jadi... Bukan kau pelakunya? Lalu siapa pelakunya?" ucap Zein sembari memegang lengan sofa sebagai tumpuan tubuhnya yang mulai lemas.


"Jika aku tahu... Aku pasti sudah menangkapnya dan melemparnya ke kandang macan." jawab Rey dengan suara emosi seraya menendang meja yang terletak di depan sofa hingga terpental.


Begitu emosi keduanya sudah meredam, Ronald dan Jeremi pun menurunkan senjata api mereka dan memasukannya ke dalam jas mereka masing-masing.


Kemudian Rey berjalan mendekati Zein yang saat itu sedang berdiri tidak jauh dari hadapannya dan meremas baju Zein dengan tangan kanannya sembari mengucapkan kalimat yang cukup menohok. "Inikah kemampuanmu sebagai seorang suami yang bisa melindungi istrimu?" Rey menatap dalam wajah Zein.


Dengan segera Zein menangkis remasan tangan Rey hingga membuatnya tersentak. "Lepaskan tanganmu...!" Zein berteriak dengan lantang, wajahnya kini kembali memperlihatkan warna merah padam.


"Hahaha... Apa kata-kataku barusan cukup merendahkanmu?" ucap Rey sembari tertawa terbahak.


"Kau tidak pantas mengucapkan kalimat apapun mengenai istriku. Karena kau hanyalah orang asing yang tak berarti apapun dimatanya saat ini." Zein mempertegas kepemilikan mutlak atas istrinya.


"Cih... Kejadian ini membuatku berpikir bahwa kau terlalu lemah untuk Rania, Zein...! Untuk melindunginya saja kau tidak bisa, bagaimana mungkin aku bisa dengan tenang melepaskannya untukmu." ucap Rey sembari menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir seolah melecehkan.


Mendengar ucapan Rey barusan cukup membuat Zein kesal. Zein mendekati Rey dan meremas bajunya seraya berkata. "Berhenti bicara omong kosong dan membuang waktuku...!" lalu melepaskannya dengan kasar hingga membuat tubuh Rey tersentak ke belakang, kemudian bergegas meninggalkan Rey.


Baru saja Zein melangkahkan kakinya beberapa langkah, di ikuti dengan Ronald yang berjalan mengikutinya di belakang. Tiba-tiba Rey memancing kembali amarah di hati Zein yang mulai padam dan berlalu pergi.


"Hahaha... Kau pikir selama ini bisnismu berjalan lancar karena apa? Kau tidak berpikir aku kasihan padamu kan? Atau kau berpikir aku sudah melupakan ancamanku saat itu? Kau salah Zein, aku berhenti mengganggumu karena aku tak ingin menyakiti Rania lagi dan membuatnya tertekan atas apa yang ku lakukan sebelumnya terhadapnya. Dan sekarang kau membuatku ingin merebutnya kembali darimu, jangan salahkan aku jika aku merebutnya kembali darimu, Zein." Rey mengutarakan semuanya hingga membuat Zein kembali emosi dan terpancing oleh kata-katanya lagi.

__ADS_1


Zein akhirnya mendekati Rey dan melayangkan kembali pukulannya pada wajah Rey hingga membuat sudut bibirnya kembali mengeluarkan darah segar.


Melihat Rey sudah babak belur mendapatkan tiga kali pukulan dari Zein antara perkelahian dua laki-laki yang merebutkan satu wanita itu, membuat Jeremi berusaha mendekati mereka dan mencoba melerainya.


Namun sayangnya Ronald menghalangi langkahnya dan menepuk dada Jeremi dengan lengannya seraya berkata. "Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri...! Ini perkelahian tentang hati."


"Brengsek... Jangan pernah mengucapkan kalimat itu lagi atau aku akan mematahkan kedua kakimu hingga kau menjadi manusia lumpuh seumur hidupmu." Zein memperingatkan Rey dengan nada sorotan mata menyala seperti ingin mencabik-cabik mangsanya. Kemudian mendorong tubuh Rey ke belakang hingga terpentok tembok.


Zein selalu tidak bisa mengendalikan segala sesuatu yang berhubungan dengan Rania. Apa lagi jika itu menyangkut hati.


"Cih... Kau terus memukulku seperti ini karena bentuk kegagalanmu menjaga Rania, bukan? Akui saja bahwa kau memang sudah gagal menjaganya...!!" Teriak Rey dengan lantang sembari menjilat darah segar di sudut bibirnya yang mengalir lalu melemparkan senyum melecehkan ke wajah Zein yang saat itu masih berada di depannya.


Kali ini Zein tidak menimpali kata-kata Rey yang selalu saja memancing emosinya. Zein lebih memilih meninggalkannya dan berlalu dari tempat itu sesegera mungkin.


Melihat foto yang masih terpampang di atas meja dan terbungkus rapih di dalam bingkai, sontak membuat hati Zein terbakar cemburu kala itu.


Belum padam api cemburunya, Zein harus di kejutkan lagi ketika matanya mulai menyapu seluruh ruangan rumah Rey yang berisi foto-foto istrinya terpampang di setiap sudut ruangan di atas tembok. Baik sedang berjalan, duduk sendirian maupun foto mereka saat berdua di sekolah.


Foto-foto Rania di ambil secara sadar maupun diam-diam oleh Rey yang saat itu keduanya masih sekolah di satu sekolah yang sama.


Rupanya Zein baru menyadari foto istrinya bertebaran di setiap sudut rumah Rey.


Melihat pemandangan di rumah Rey yang memperlihatkan banyak bingkai foto terpampang di atas tembok, membuat Zein berpikir bahwa Rey benar-benar mencintai istrinya dan masih terobsesi dengan istrinya.


Sementara itu Rey tampak bangga dan puas karena bisa melihat ekspresi wajah Zein terbakar cemburu saat melihat foto istrinya terpampang di setiap sudut rumahnya.

__ADS_1


"Kau pasti berpikir sebahagia apa aku dan istrimu dulu...? Dan yang perlu kau tahu, aku tidak pernah membuatnya terluka sedikitpun ketika bersamaku...! kecuali saat kau merebutnya dariku hingga membuatku hilang kendali dan melayangkan peluru ke tubuh Rania karena kebodohan Jeremi." ucap Rey dengan nada kasar.


Mendengar namanya disebut, membuat Jeremi terkejut lalu menundukkan kepalanya seolah merasa bersalah. Karena dirinya, Rania terluka.


"Cih... Apa yang perlu kau banggakan dari foto-foto ini?" ucap Zein sembari menyapu pandangannya melihat foto-foto itu dengan pandangan sinis. "Kau hanyalah bagian dari masa lalunya yang tak berarti apapun di masa sekarang setelah aku memiliki seluruh yang ada padanya termasuk hatinya." Zein meneruskan ucapannya dengan nada bangga.


Membuat Rey yang saat itu geram mendengarnya hingga mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kencang. Kini raut wajahnya mulai terlihat merah padam, belum reda amarahnya dilanda cemburu oleh perkataan Zein yang begitu menohok dan mencabik-cabik hatinya. Tiba-tiba Zein melayangkan kembali sebuah kalimat yang lebih menohok dari sebelumnya.


"Cih... Kau terlihat sangat mengenaskan saat ini, Rey. Kau hanya bisa menatap foto-foto istriku dari dalam bingkai namun tidak bisa memeluknya dan menikmati seluruh tubuhnya seperti sebebas diriku mencumbunya. Kau hanya membuang waktumu untuk perasaan yang akan sia-sia, sadarlah dari dunia hayalmu selama ini." dengan lantang Zein mengungkapkan seluruh kekesalannya dan bergegas pergi meninggalkan rumah itu bersama Ronald yang mengikuti dari belakang.


Setelah keduanya keluar dari pintu rumah Rey, beberapa pengawal Zein yang menunggunya di luar pun mengikuti langkah Zein di belakang.


Meski hatinya tercabik-cabik mendengar kalimat menohok dari mulut Zein, dengan kekuasaannya terlebih Zein berada dalam wilayahnya, bisa saja Rey melenyapkan Zein saat itu juga. Namun kali ini Rey membiarkan Zein pulang hidup-hidup, dia tidak ingin tindakannya melukai hati wanita yang dicintainya untuk kesekian kalinya. Rey tahu, saat ini Zein adalah laki-laki yang menempati hati Rania sepenuhnya.


Bagaimanapun Rey membenci Zein dan sangat ingin melenyapkan saingannya itu demi bisa memiliki wanita yang dicintainya dengan seutuhnya, namun Rey tahu bahwa ia telah kehilangan cinta dari Rania semenjak dirinya pergi meninggalkan rania terlebih saat dirinya secara tidak sengaja melukai tubuh Rania karena keegoisannya saat itu.


Rey sadar bahwa cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri untuk datang maupun kembali.


Jika Rania adalah cinta sejatinya, ia akan kembali pada dirinya meski entah kapan dan dengan cara apa. Pun, sebaliknya jika Rania bukan cinta sejatinya, maka ia tidak akan bisa memilikinya meski dengan cara memaksa. Justru akan menyakitinya dan membuat kebencian Rania semakin mengakar untuk dirinya hingga ia mendapat tempat terdalam di ruang kebencian wanita yang dicintainya.


Baginya, dibenci oleh wanita yang dicintainya lebih menyakitkan dari pada dihujam ribuan anak panah ke tubuhnya.


Bersambung\=\=\=\=\=>


Please jangan pelit buat vote author ya, biar author makin semangat up nya, terus dukung author ya. Terimakasih sudah setia membaca novel NYT.🤗

__ADS_1


__ADS_2