Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Mulai terbongkar


__ADS_3

David menyetujui usulan dari Zein untuk menemui Yina. Keduanya akhirnya memutuskan untuk pergi ke Resort malam itu juga.


Zein sengaja tidak memberitahukan pada Rania yang saat itu tengah tertidur pulas. Sebelum pergi Zein hanya mengecup kening istrinya lalu bergegas pergi.


Ronald beserta yang lainnya sudah datang dan menunggunya di depan gerbang.


Sementara itu, Zein berada satu mobil bersama David dengan menggunakan mobil David dan dikendarai oleh David.


Akhirnya mereka pergi menelusuri jalan yang begitu sepi saat malam hari menuju Resort milik Yina.


"Zein... Apa yang akan kau lakukan begitu kita sampai di sana?" tanya David sembari fokus menatap jalan yang cukup gelap.


"Entahlah, menurutmu?" Zein balik bertanya.


Zein tidak tahu kali ini harus berbuat apa, jika saja dugaannya bukan Yina, tapi orang lain. Ia tidak akan serepot itu malam-malam pergi untuk menemui Yina dan meninggalkan istrinya. Namun kali ini situasinya memang berbeda.


"Sebaiknya kita bicara baik-baik terlebih dahulu dan menanyakan tentang kebenarannya." usul David.


"Tentu saja." balas Zein tidak bersemangat.


Sepanjang jalan, Zein hanya diam dalam lamunannya. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas, malam itu terasa sangat membuatnya gelisah.


"Vid, kau saja yang berbicara dengan Yina dan mengatakan semuanya." ucap Zein tanpa ekspresi apapun sembari menyandarkan kepalanya di punggung kursi mobil.


Melihat wajah lesu yang ditunjukkan temannya itu, David pun mengiyakannya. "Baiklah."


Akhirnya mereka sampai di Resort milik Yina.


Begitu sampai di sana, dengan segera David dan Zein beserta yang lainnya menuju kediaman Yina. Rombongan itu berjalan menuju kamar Yina, tampak para pelayan dan petugas resepsionis di sekitarnya melihat penuh heran dan saling melempar tanya satu sama lain. "Ada apa yah?" ucap salah seorang pelayan. "Tidak tahu." balas pelayan lainnya.


Begitu sampai di depan kamar Yina, David mengetuk pelan pintu kamarnya seraya berkata. "Yina, buka pintunya..! Ini aku, David." serunya dari luar pintu sembari menyapu pandangan ke area itu.


Setelah David mengetuk pintu sebanyak dua kali, namun masih tak ada jawaban dari Yina. Ketiga kalinya David mengetuk, tetap saja tidak ada jawaban.


David menatap wajah Zein yang berada di sampingnya saat itu seolah memberikan isyarat apa yang harus dilakukannya?


Zein pun menganggukkan kepalanya. David mengerti maksudnya begitupun dengan Ronald di samping David.


David dan Ronald sudah berancang-ancang kaki untuk mendobrak pintu itu dengan paksa. Namun begitu mereka ingin mendobrak, tiba-tiba seorang pelayan datang hingga menghentikan mereka.


"Tuan, maaf... Apa tuan mencari Nona Yina?" tanya pelayan itu sembari menunduk sopan dan ketakutan.


"Ya." jawab David singkat sembari menyibak rambutnya ke belakang.


"Maaf tuan... Nona baru saja pergi sekitar satu jam yang lalu bersama para lelaki berpakaian rapi dan bersenjata." jelas pelayan itu.


"Berpakaian rapi dan bersenjata? Pergi... Kemana?" tanya David terkejut begitupun dengan Zein yang tampak heran sembari mendengarkan percakapan mereka.


"Kami tidak tahu pastinya ke mana, tuan." jawab pelayan itu.


"Maksudmu... Mereka menculik Yina?" tanya David memastikan.


"Se... Sepertinya begitu, tuan." jawab pelayan itu dengan tubuh yang mulai gemetar.


"Hey... Jangan mencoba membohongiku yah? Atau kau akan menyesal." ucap David menggertak.


"Sa... Saya benar-benar tidak tahu mereka pergi ke mana, tuan." balas pelayan itu dengan suara gugup dan tubuh gemetar.

__ADS_1


"Aku tidak percaya, jangan-jangan mereka bersekongkol untuk membodohi kita...! Yina pasti berada di dalam dan sengaja tidak ingin menemui kita, Zein." ucap David sembari melirik wajah Zein.


"Kalau begitu, lakukan saja tugasmu." balas Zein santai.


Mengerti dengan ucapan Zein barusan, David dan Ronald akhirnya mendobrak puntu kamar Yina. Dengan kekuatan yang dimiliki Ronald dan David. Akhirnya pintu itupun terpental.


Begitu pintu itu terpental dan tidak mendapati Yina di dalam, benar saja ucapan pelayan itu. Yina memang tidak ada di dalam. Ronald dan David kembali keluar.


Ronald menggelengkan kepala sembari melirik Zein. Zein memejamkan matanya sembari menghela napas.


Kini dugaannya semakin kuat terhadap Yina, entah ia harus senang atau sedih dengan kenyataan nanti setelah menemukan Yina. Perasaannya sangat berkecamuk saat itu, jika terbukti Yina adalah otak dari semuanya, Zein tidak akan bisa memaafkan Yina. Begitupun dengan David, setelah mendobrak pintu dan tidak menemukan Yina di dalam, tentu membuat kecurigaannya terhadap Yina semakin kuat. David pun tidak akan sanggup jika kenyataannya Yina adalah otak dari semuanya.


Kedatangannya ke Resort, karena penasaran ingin mengetahui apakah benar Yina terlibat? namun dengan hilangnya Yina dari Resort, seolah menguatkan dugaannya.


Di tengah-tengah kekecewaan Zein dan david. Ronald mendekati pelayan yang masih berdiri di sana. "Tolong ceritakan bagaimana kejadiannya, sebelum Yina pergi?" tanya Ronald pelan pada pelayan wanita tersebut.


"Awalnya beberapa laki-laki itu datang dan memaksa Nona untuk ikut dengannya sambil menodongkan pistol di kepala Nona." jelas pelayan itu gemetar membayangkan kejadian sebelumnya.


🍀Flash back on🍀


"Apa kau yang bernama Yina?" tanya laki-laki bertubuh kekar dan tinggi besar dengan suara tegas.


"Ya, ada apa?" tanya Yina santai.


Sementara itu beberapa pengawal Yina di belakang tampak sudah bersiap menjaganya.


Namun begitu mendengar jawaban (Ya) dari Yina, tanpa menunggu lama. Laki-laki bertubuh kekar itu langsung menarik tangan Yina dan menodongkan pistol ke kepala Yina.


Pengawal Yina kalah cepat, hingga Yina sudah berada di tangan laki-laki kekar itu sembari menodongkan pistol di kepala Yina.


Yina pun mulai ketakutan. "Letakkan senjata kalian...!" ucap Yina dengan tubuh gemetar.


Aku tahu... Pasti orang-orang ini adalah suruhannya. Yina membatin penuh selidik.


Mendengar perintah dari Yina, mereka pun meletakkan senjata api mereka di lantai. Kemudian mengangkat tangan mereka.


Dengan tergesa laki-laki bertubuh kekar itu membawa Yina pergi dari Resort, masih dengan tangan menodongkan pistol di kepala Yina. Begitupun dengan yang lainnya, masih mengarahkan pistol ke arah para pengawal Yina yang jumlahnya tidak sebanyak mereka.


Yina pun berjalan mengikuti perintah laki-laki yang menodongkan pistol di kepalanya.


Sementara itu, para pegawai di sana hanya terdiam dan ketakutan melihat segerombolan laki-laki bertubuh tinggi dan besar lengkap dengan senjata api di tangan mereka masing-masing yang jumlahnya lebih banyak dari mereka.


"Lepaskan aku...! Aku bisa berjalan sendiri tanpa kau menyentuhku dengan kasar." ucap Yina dengan nada kesal.


"Kau pikir, aku akan percaya?" sahut laki-laki bertubuh kekar itu sembari menatap penuh selidik.


Brengsek... Beraninya dia mengatakan itu padaku. Batin Yina kesal.


"Lepaskan aku...! Atau aku..." belum sempat Yina meneruskan kalimatnya yang mencoba mengancam.


Laki-laki bertubuh kekar itu menekan lengan Yina dengan kuat hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Aw... Brengsek kau... Beraninya menyakiti seorang wanita?" Yina berteriak memaki.


"Kalau kau tidak ingin semakin buruk, diam dan ikuti saja kami." laki-laki kekar itu mencoba memperingatkan.


Akhirnya Yina diam dan tidak bicara sepatah katapun dan mengikuti mereka masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Kemudian gerombolan mobil tersebut pergi meninggalkan Resort dengan membawa Yina secara paksa.


🍀Flash back off🍀


Setelah menceritakan kejadian sebenarnya pada Ronald, akhirnya pelayan tersebut pergi meninggalkan mereka dengan segera.


"Jadi Yina diculik?" ucap David sembari berpikir.


"Kemungkinan seperti itu, namun siapa yang berusaha menculiknya?" ucap Ronald penuh curiga.


Dalam situasi seperti membuat Zein semakin percaya bahwa Yina lah otak dari semua ini.


"Sebaiknya kita pergi dan mencari keberadaan Yina saat ini. Kita harus temukan dia secepatnya...! Dia adalah kunci dari semua ini." ucap Zein dengan nada tegas.


"Baik, tuan." balas Ronald.


Mereka pun bergegas pergi meninggalkan Resort dan mencari keberadaan Yina.


Dalam perjalanan pulang dengan membawa amarah di hatinya, Zein tampak diam tanpa sepatah katapun.


Kemudian Zein meraih ponselnya untuk menghubungi Ronald yang tidak satu mobil dengannya. Ronald berada di barisan depan mobilnya. Sementara beberapa mobil lainnya yang berisi para pengawalnya berada di belakang mobilnya.


Begitu sambungan teleponnya terhubung pada Ronald.


Ronald : halo, tuan?


Zein : Cari Yina sekarang juga dan selidiki kasus ini dengan benar dan teliti, aku tidak mau menemukan kesalahpahaman lagi...!


Zein memerintah Ronald dengan nada mengancam. Ia sudah mulai kesal dengan kerumitan kasus itu dan ingin segera mengetahui siapa otak di baliknya.


Ronald : Baik, tuan. (jawab Ronald tegas)


Zein mengakhiri panggilannya.


"Vid, aku akan pulang ke rumah, aku tidak tenang meninggalkan istriku di rumah malam-malam seperti ini, meski di rumah sudah dalam penjagaan yang ketat. Pasti dia akan terkejut dan cemas jika mengetahuiku tidak ada di sana malam-malam, dia terlalu berani dan penasaran, aku takut dia akan pergi dan mencariku ke luar." jelas Zein pada David.


"Baiklah." balas David seraya mengangguk.


"Aku akan menyerahkan tugas ini pada Ronald. Seharusnya dia berhasil kali ini. Karena sebelumnya, dia sangat kompeten dalam pekerjaannya." jelas Zein lagi pada David yang saat itu sedang fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. "Oh ya... Kau boleh istirahat di rumah jika kau mau?" lanjutnya.


"Tidak perlu... Aku akan ikut bersama Ronald malam ini." balas David.


Walau bagaimana pun, Yina adalah teman baiknya, tentu David sangat cemas dan penasaran dengan semua kejadian saat itu. Hingga membuatnya ingin ikut dalam pencarian bersama Ronald.


"Baiklah, jika itu maumu." balas Zein singkat, kemudian menyandarkan kepalanya di punggung kursi mobil.


Hari itu, dari terbitnya matahari hingga tenggelam berganti dengan gelapnya malam. Zein memang disibukkan dengan kasus istrinya yang tak kunjung selesai dan terbongkar.


Mulai dari menghajar Rey tanpa ampun hingga harus mendatangi Yina di Resort malam-malam. Tentu saja hari itu cukup membuatnya lelah, namun rasa penasarannya ingin segera tahu otak dibaliknya, jauh lebih besar dari pada rasa lelahnya.


Bersambung\=\=\=\=\=>


Jangan lupa selalu dukung author ya.


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


Terimakasih sudah setia membaca novel NYT.🤗

__ADS_1


__ADS_2