
Aku merindukanmu Rania, setelah beberapa hari menghabiskan waktu bersamamu, meski hanya di rumah sakit. Nyatanya aku jadi semakin merindukanmu dan ingin selalu di dekatmu terus. Arghhh... Bagaimana bisa, pikiranku tidak bisa berhenti memikirkannya barang satu menit pun? Zein membatin.
*Di rumah.
Rania tampak gelisah menunggu suaminya pulang. Ia masih berpikir, apakah suaminya benar-benar tidak akan pulang malam ini? Akhirnya ia mencoba menghubungi Zein lebih dulu.
Ia menekan kontak bertuliskan (Sayangku). Lalu mencoba memanggilnya, Rania menempelkan ponselnya di telinga kanannya.
Sementara itu di kantor.
Begitu melihat Rania menghubunginya lebih dulu, raut wajahnya langsung sumringah, buru-buru ia mengangkat ponselnya.
"Iya, halo, sayang... Ada apa?" tanya Zein dengan nada tenang.
"Um... I... Itu..." kata Rania terbata di seberang telepon.
"I... Itu kenapa, sayang?" jawab Zein lagi, sambil menahan tawa.
"Ah... Tidak jadi, cuma mau bilang selamat malam." ucap Rania di seberang telepon.
Kemudian Rania mengakhiri panggilannya dan membuang ponselnya kembali di atas kasur.
Apa-apaan sih dia? Bisa gak sih peka sedikit aja? Batinnya kesal.
Sementara itu, di kantor. Zein menatap layar ponselnya.
Kenapa dia mematikan sambungan begitu saja? Hmmm... Dasar wanita. Zein bergumam.
Waktu sudah semakin malam. Zein segera bangkit dari duduknya. Ia menggerakkan tubuhnya karena terasa kaku setelah seharian duduk di meja kerjanya.
Tok tok tok
Ronald mengetuk pintu.
"Masuk." jawab Zein dari dalam.
Ronald segera membuka pintu lalu masuk.
"Tuan, ini jadwal meeting besok sampai seminggu yang akan datang." Ronald menyerahkan berkas.
Zein menerimanya, namun ia tidak segera membukanya. "Besok akan aku cek, aku akan segera pulang. Kau juga sebaiknya pulang, Ron. Pekerjaanmu bisa dilanjutkan besok." Kata Zein sambil memegang bahu Ronald.
Ronald memang sangat loyalitas dalam bekerja. Selama Pekerjaannya belum selesai, maka ia tidak akan pulang. Ia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, lalu pulang.
"Iya, tuan, sebentar lagi saya akan pulang." jawab Ronald tersenyum.
"Baiklah, terimakasih sudah selalu membantu pekerjaanku." ucap Zein sambil tersenyum.
"Sama-sama tuan." jawab Ronald tersenyum.
__ADS_1
Zein bergegas pergi menuju mobilnya. Lalu masuk. "Jalan pak." Zein meminta supir pribadinya untuk segera memacu mobilnya.
"Baik, tuan." jawab Pak Surya sambil menundukkan kepala.
Pak Surya, langsung menyalakan mobilnya dan memacu mobilnya. Beberapa pengawalnya di mobil satunya lagi, mengikuti dari belakang.
Sepanjang jalan, Zein terus memikirkan Rania.
*Sedang apa dia sekarang?
Aku sangat merindukannya...
Rasanya aku ingin pergi berbulan madu dengannya.
Tapi, apa dia mau yah?
Lukanya... Apa sudah membaik yah?
Ah... Aku ingin memeluk tubuhnya yang harum dan mencumbunya*.
Batin Zein sepanjang jalan terus memikirkan Rania. Pikirannya terus memikirkan Rania, pikirannya benar-benar tidak berhenti memikirkan istrinya sepanjang jalan. Namun, ketika mobilnya berhenti, secara otomatis pikirannya pun ikut berhenti.
Ah... Rupanya sudah sampai. Zein bergumam.
Tampak seorang penjaga sedang menekan tombol, agar gerbang terbuka.
Begitu gerbang terbuka, mobil yang di tumpangi Zein pun segera masuk menuju rumahnya sejauh 50 meter dari depan pintu gerbang. Akhirnya Zein sampai di depan rumahnya dan di sambut oleh beberapa pelayannya.
Zein hanya mengangguk, dengan terburu-buru ia memasuki rumahnya, dan di dalam tampak Bibi Ros juga sedang menunggunya pulang.
"Selamat malam, tuan." sapa Bi Ros.
"Malam, sedang apa Nyonya sekarang?" tanya Zein pada BiBi Ros.
"Dari sore tidak terlihat keluar, tuan. Mungkin sekarang Nyonya sedang tidur." jawab Bibi Ros
Mendengar jawaban itu, Zein segera menaiki tangga. Ia membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan, agar tidak menimbulkan suara.
Hmmm... Rupanya sudah tidur.
Lalu Zein meletakkan tas nya di atas meja, kemudian berjalan mendekati Rania, duduk di tepi kasur dan menatap wajahnya. Sesekali ia mengelus rambutnya yang halus.
Apa kau percaya begitu saja dengan ucapanku? Rania... Kau benar-benar menggemaskan. Zein membatin.
Lalu ia segera bangkit dari duduknya di tepi kasur. Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Begitu selesai membersihkan badannya, ia menaiki kasurnya dan tidur di samping Rania. Membenamkan dirinya di bawah selimut yang sama dengan Rania.
Ia merangkul tubuh Rania, memandanginya dengan penuh cinta. Rasa rindunya seolah terobati setelah seharian hanya bisa. Merindukannya di kejauhan.
__ADS_1
Matanya masih terjaga, ia belum bisa memejamkan matanya begitu saja. Seolah belum puas memandangi wajah istrinya saat tidur.
Kenapa dia begitu cantik saat tertidur sih? Zein tampak terpesona.
Lalu ia meraba bibir mungil istrinya dengan jari telunjuknya. Ia mulai mendekatkan bibirnya untuk mengecup lembut bibir Rania, begitu hampir mendaratkan kecupan.
Tiba-tiba Rania membuka matanya, sentuhan jari telunjuknya rupanya membuatnya terbangun hingga akhirnya secara spontan Rania mendorong tubuh Zein dari depannya. Rania segera bangun dari tidurnya, kini posisinya sudah duduk di atas kasur.
"Siapa kau?" tanya Rania dengan tergesa.
"Sayang... Kau kenapa?" Zein terkejut dan segera bangkit dari tidurnya, kini keduanya dalam posisi duduk di atas kasur.
"Ze.. Zein. Rupanya itu kau? Aku pikir siapa?" kata Rania terbata, sambil mengucek kedua matanya. Dilihatnya lagi, ternyata memang Zein yang ada di depannya.
"Tentu saja ini aku... Memangnya siapa lagi?" jawab Zein sambil menggelengkan kepalanya.
"Habisnya kamu sendiri yang bilang, kalau malam ini tidak akan pulang!" ucap Rania sambil membuang muka karena kesal dan melipat kedua tangannya di bawah dadanya.
"Hahaha... Apa kau benar-benar percaya, sayang? aku hanya bercanda, sayang." Zein mencoba merajuk. Ia memegang bahu Rania.
Bagaimana mungkin dia membohongiku seperti ini? Kau... Awas saja pembalasanku nanti. Batin Rania kesal.
Tanpa membalas ucapan Zein, Rania merebahkan tubuhnya lagi dan menarik selimut lalu membenamkan tubuhnya di bawah selimut, tidur dengan membelakangi Zein.
Zein menyadari Rania yang tampak marah akibat candaannya. Ia pun ikut membenamkan tubuhnya di bawah selimut.
"Sayang... Jangan marah gitu dong." bisik Zein di dekat telinga Rania yang sedang tidur membelakanginya.
Rania diam, tanpa suara. Hanya terdengar gumamnya saja. Huuuh
Zein memegang bahu Rania, namun Rania tampak menggeser bahunya. Ia masih merasa kesal.
Sikap kesalnya justru mengundang hasrat Zein yang semakin gemas dengannya Ketika marah.
Zein memepet tubuhnya dekat dengan tubuh Rania, sampai tubuhnya sudah semakin memepet tubuh Rania, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Rania.
Tubuh Rania seolah berdesir, ia bergidik, antara geli dan malu.
Rania menggeser tubuhnya perlahan, namun Zein malah semakin merekatkan pelukannya.
"Biarkan aku memelukmu seperti ini, Rania... Rasanya ini begitu tenang dan tubuhmu sangat menghangatkan tubuhku saat ini." pinta Zein.
Mendengar itu, Rania pun diam tak bergerak, jantungnya berdebar semakin kencang. Ia tidak bisa menahannya. Lalu ia pun membalikkan tubuhnya. Kini keduanya sudah beradu tatap dan beradu tubuh dengan saling berpelukan di bawah selimut yang sama.
*****Bersambung.
➡️LIKE➡️KOMEN➡️VOTE SEIKHLASNYA.
TERIMAKASIH SUDAH SETIA MEMBACA. 🤗**
__ADS_1
Mampir di novel baruku juga yah
➡️TERJEBAK CINTA DALAM PENCARIAN**.