
Sesaat setelah wanita itu hilang dari pandangannya, Ronald melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Jarum jam sudah menunjukkan pada saat angka satu siang. Waktu istirahat yang sudah berakhir.
Ronald kembali masuk ke dalam mobilnya dan memacu mobilnya menuju kantor.
Setibanya di kantor, Ronald kembali ke ruang kerjanya, ada sesuatu yang Ronald rasakan setelah mendengar suara itu. Entah kenapa ia merasa hatinya berdebar saat itu.
Ronald kembali melanjutkan pekerjaannya, meskipun terlihat jelas ada kegelisahan di raut wajahnya saat ini.
Setelah beberapa menit ia memeriksa berkas-berkas yang perlu di tanda tangani Zein. Ronald pun bergegas menuju ruang kerja Zein.
Tok tok tok
Ronald mengetuk pintu.
Mendengar ketukan pintu dari luar, Zein mempersilahkan Ronald untuk masuk ke dalam.
"Tuan, ini ada beberapa berkas yang perlu di tanda tangani." Ronald menyerahkan berkas tersebut pada Zein.
Setelah di cek dan di tanda tangani. Zein menyerahkan kembali berkas tersebut pada Ronald.
"Ron... Apa kau baik-baik saja?" tanya Zein dengan wajah heran.
Pasalnya, jarang sekali Ronald memperlihatkan wajah bingung seolah menyimpan sesuatu.
"Tidak apa-apa, Tuan." balas Ronald sambil tersenyum, ia berusaha menyembunyikan perasaannya. Meski Zein bisa melihatnya tanpa ia jujur.
"Jika kau mau, kau boleh cuti Ron. Namun, pastikan tidak ada jadwal yang penting...!" timpal Zein.
"Tidak perlu, Tuan. Maaf, Tuan... Jika sudah tidak ada lagi, saya permisi." jawab Ronald sambil tersenyum.
"Ya, kau boleh pergi, Ron." sahut Zein.
Setelah selesai memberikan laporan, Ronald pun segera kembali ke ruang kerjanya.
Sambil mengerjakan beberapa pekerjaannya, sesekali Ronald termenung dan mencoba menerka siapa wanita itu? Di lihat dati postur tubuhnya meski dari belakang, memang mengarah pada seseorang yang ia kenal.
Tak ingin rasa penasarannya berlanjut, Ronald pun mencoba menghubungi orang-orang yang biasa ia perintahkan dalam mencari data pribadi.
Pasalnya, meski selama enam bulan terakhir ini ia mencari info tentang kegiatan Tania melalui orang-orang suruhannya. Namun Ronald tidak pernah meminta informasi di mana tepatnya Tania kuliah. Hanya satu informasi itulah yang tidak ingin ia ketahui. Sebab ia takut jika ia tahu kampus Tania, maka ia akan sering datang ke kampusnya.
Ronald tak ingin Tania melihatnya, atau bahkan kedatangannya sampai mengganggu pikiran Tania. Entah karena ia terlalu penakut untuk mengakui perasaannya pada Tania, atau memang begitu dangkalnya prinsipnya mengenai cinta.
Setelah ia memikirkan dengan matang, akhirnya Ronald memutuskan untuk tidak mencari tahu di mana Tania kuliah. Ia ingin semuanya terjadi begitu saja bagai air yang mengalir.
__ADS_1
Ya, begitulah memang prinsipnya dalam cinta. Tak setegas dan segagah dalam pekerjaannya.
Waktu sudah semakin sore, namun karena masih banyak pekerjaan dan ada beberapa meeting di kantornya. Zein harus merelakan bahwa dirinya harus pulang malam lagi.
Sudah beberapa hari ini ia memang sering pulang malam karena pekerjaannya di kantor dengan banyaknya jadwal meeting baik di dalam maupun di luar kantor.
Namun ia selalu mengabari Rania saat dirinya harus pulang terlambat, agar Rania tidak cemas memikirkannya saat ia belum pulang.
Sementara itu di kampus Tania.
Tania yang sangat aktif dalam kegiatan kampus, membuatnya harus pulang hingga larut malam. Tepatnya pukul tujuh malam ia baru bisa pulang ke rumahnya.
Di depan gerbang kampus yang masih begitu ramai, tampak para mahasiswa dan mahasiswi berkumpul. Ada yang sekedar duduk bersama, ada yang sedang menikmati suasana malam di sudut-sudut taman.
Namun tidak dengan Tania, ia hanya seorang diri duduk di halte yang tidak jauh dari kerumunan para mahasiswa dan mahasiswi itu.
Teman-teman Tania sudah pulang lebih dulu, hingga membuatnya sendirian dalam menunggu taksi.
Sambil memegang beberapa buku dan di letakan di pangkuannya, Sesekali Tania menatap ke atas langit. Saat itu, langit terlihat begitu terang, ada banyak bintang bertaburan di langit kala itu. Sejenak Tania memejamkan matanya, dan saat itulah ia teringat pada seseorang yang pernah membuat hatinya berdebar saat duduk bersama di atas bukit sambil menatap cahaya-cahaya yang bersinar seperti bintang di langit.
Ya, seseorang itu adalah Ronald. Laki-laki yang pernah membuat jantungnya berdebar saat bersama. Laki-laki yang sampai saat ini masih ada dalam ingatannya dan tak hilang sedikitpun.
Menyadari lamunannya tentang Ronald, seketika Tania membuka matanya dan kembali sadar. Bahwa kenyataannya laki-laki itu sudah melupakannya, selama enam bulan terakhir sejak dirinya masuk kuliah, Ronald tak pernah menampakkan wajahnya di depannya. Bahkan hampir setiap hari ia memandangi layar ponselnya berharap agar Ronald menghubunginya lebih dulu. Namun sayangnya hingga saat ini Ronald tak pernah menghubungi sekali pun.
Namun meski demikian, sejak kejadian Tania melihat Ronald dan Evelin berciuman di kebun strawberry kala itu dan tak ada penjelasan apapun dari Ronald maupun Evelin tentang kebenaran dan arti dari ciuman tersebut. Membuat Tania berpikir hingga saat ini, bahwa mereka mungkin menjalin kasih, karena sebab itulah mungkin Ronald tak pernah menghubunginya atau menemuinya barang satu kali pun. Pikir Tania.
Entah berapa kali Tania harus merasakan sakit di hatinya saat mengingat kenangan tentang Ronald? Setiap kali ia sendirian dalam suatu momen yang membuatnya teringat pada kenangannya bersama Ronald. Tania harus menguatkan hatinya, berusaha untuk mengabaikan perasaannya.
Sesekali ia menangis dalam kamar saat tiba-tiba Ronald hadir dalam pikirannya yang kosong. Menyeka air matanya dan mencoba melupakan Ronald, namun sekeras apapun ia mencoba melupakan Ronald, justru itu semakin membuatnya mengingat semua kenangannya bersama Ronald.
Perasaan cinta yang sampai saat ini belum tersampaikan.
Sesekali Tania melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 19:30. Sudah setengah jam ia menunggu taksi, namun belum ada satupun taksi yang datang.
Aneh... Tidak biasanya selama ini menunggu taksi...? Tania membatin heran.
Lalu tiba-tiba seorang laki-laki datang dari arah belakangnya dan duduk tepat di samping Tania duduk.
"Hay... Siapa namamu? Dari fakultas apa? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu." tanya laki-laki tersebut dengan wajah sombong memperlihatkan dirinya yang menurutnya tampan.
Tania diam dan hanya mendengus kesal karena sudah mengagetkannya.
"Waaah... Sombong sekali, aku suka gayamu." balas laki-laki tersebut dengan tatapan menggoda sambil menjulurkan lidahnya.
"Apa kau menunggu taksi? Jika iya, percuma saja... Karena malam ini tidak akan ada taksi yang lewat sini." ucap laki-laki tersebut dengan omong kosongnya dan ingin menakuti Tania.
__ADS_1
"Aku menunggu taksi atau tidak, bukan urusanmu...!" jawab Tania dengan nada kesal karena laki-laki itu semakin mengganggu dirinya.
"Ayo... Ikut denganku." laki-laki itu menarik tangan Tania dengan paksa.
"Hey... Jangan macam-macam..! Kau mau apa?" Tania bertanya dengan nada tinggi sambil mencoba melepaskan genggaman tangan laki-laki tersebut.
"Tentu saja mengantarmu pulang." jawab laki-laki tersebut dengan entengnya dan memegang tangan Tania semakin kuat.
"Aww... Sakit. Lepaskan...!" Tania berteriak kesakitan, karena genggaman tangan laki-laki itu semakin kuat.
Namun laki-laki tersebut tidak perduli dan tetap berusaha menarik tubuh Tania yang saat itu sedang duduk di kursi.
Meski di sana ada banyak orang, namun semuanya tampak acuh. Karena hal-hal seperti itu sudah sering mereka lihat, baik antara sepasang kekasih maupun antara teman.
Tania mencoba menahan dirinya dari tarikan laki-laki tersebut, namun bagaimana pun ia hanyalah seorang wanita yang tak memiliki tenaga melebihi laki-laki.
Akhirnya Tania tidak bisa menahan dirinya dari tarikan laki-laki tersebut hingga membuatnya bangun dengan terpaksa.
Sambil berjalan dengan kaki yang berat, Tania masih berusaha melepaskan genggaman tangan laki-laki tersebut.
Namun Laki-laki itu tetap memaksanya berjalan memasuki mobilnya. Dan saat itulah Tania merasa semakin kesal hingga akhirnya melemparkan buku-buku tebal yang di pegang tangan kirinya lalu melemparkan dengan kuat pada wajah laki-laki tersebut.
Rupanya lemparannya terlalu kuat di tambah buku-buku miliknya memiliki ketebalan yang lumayan, hingga menyebabkan sedikit luka gores pada bagian wajah laki-laki tersebut karena terkena dari ujung buku yang cukup tajam.
Dengan wajah kesal penuh amarah seolah ingin menerkam, laki-laki tersebut lalu melepaskan genggamannya pada Tania dan mendekat perlahan dengan tatapan mata yang tajam.
"Dasar wanita brengsek kau, beraninya melukai wajahku...! Kau akan terima akibatnya." ucap laki-laki tersebut.
Ada raut ketakutan luar biasa di mata Tania saat itu. Untuk pertama kalinya ia berada dalam situasi seperti ini. Tania pun menghindar dengan berjalan mundur.
Tania langsung membalikan tubuhnya dan bersiap untuk berlari dan menghindar dari amukan laki-laki tersebut, belum sempat ia berlari, laki-laki tersebut dengan cepat menarik lengannya kembali dan mencoba melayangkan tamparan pada wajah Tania dan Tania langsung memalingkan wajahnya ketakutan.
Namun belum sempat laki-laki itu melemparkan tamparan ke wajah Tania, seseorang datang dan menangkis tamparan tersebut.
Bersambung\=\=\=>
Yang mau berlalu-halu dengan wajah para pemain NYT, bisa liat di IG yah. Jangan lupa Like IG author juga yah. ( @senja3295 ).
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Terimakasih. 🙏🏻
__ADS_1