Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Pertemuan tak di sangka


__ADS_3

Seorang laki-laki datang dan menangkis tangan laki-laki yang hendak menampar wajah Tania lalu melintir tangannya dan menjatuhkan laki-laki tersebut hingga tersungkur di aspal.


Tania menoleh wajahnya dan begitu terkejutnya ketika ia melihat laki-laki yang datang menolongnya barusan adalah Ronald. Laki-laki yang memenuhi pikirannya di sela-sela waktu menunggu taksi selama setengah jam duduk di halte.


Rupanya Ronald terlalu penasaran pada suara perempuan yang di dengarnya saat siang hari, suara wanita yang begitu familiar di telinganya, suara yang sudah lama sekali ia rindukan.


Ada perasaan mengganggunya sejak siang tadi, hingga membuatnya harus datang kembali ke kampus tersebut setelah pekerjaannya selesai.


Dan benar saja, suara yang amat di kenalnya itu adalah tidak lain suara Tania. Keyakinan Ronald semakin kuat begitu ia melihat Tania saat ini. Di depan matanya, sedang berusaha di lukai oleh laki-laki tidak berguna.


Mendengar suara keributan, beberapa mahasiswa dan mahasiswi pun mulai menghampiri arah keributan itu berasal.


Ronald berjalan mendekati laki-laki yang saat itu masih tersungkur menahan rasa sakit pada tulangnya, kemudian menarik kerah baju laki-laki tersebut sambil mengatakan kalimat peringatan.


"Jangan pernah menyentuh gadis kecilku...!! Atau kau akan menyesal karena harus merasakan kelumpuhan di masa muda...!" ucap Ronald dengan nada penegasan lalu menghentakkan kembali tubuh laki-laki yang sudah tidak berdaya itu ke aspal.


Brengsek. Laki-laki itu memaki Ronald dalam hati.


Lalu Ronald bangkit dari jongkoknya dan memegang lengan Tania membawanya berjalan menuju mobilnya yang berada tepat di belakang mobil laki-laki yang saat ini masih tersungkur di atas aspal.


Beberapa saat setelah keduanya berada di dalam mobil. Keduanya tampak membisu satu sama lainnya.


Kejadian tadi cukup membuat Tania syok, di tambah dengan kedatangan Ronald secara tiba-tiba. Jelas itu membuatnya semakin bingung dan tidak tahu apakah harus bersedih atau bahagia. Yang jelas, Tania merasa bersyukur atas kedatangan Ronald malam itu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi padanya.


Sama halnya dengan Tania, Ronald pun merasakan keterkejutannya malam itu, ia tidak menyangka bahwa perasaannya yang gelisah sejak siang tadi telah membawanya pada pertemuannya kembali dengan Tania setelah beberapa bulan keduanya tidak bertemu maupun bertegur sapa melalui ponsel.


"Terima kasih..." suara Tania memecah keheningan malam itu antara keduanya.


"Lain kali jangan sendirian malam-malam...!" balas Ronald sambil fokus menatap jalan di depan.


Mendengar peringatan dari Ronald, Tania hanya mengangguk.

__ADS_1


"Apa tadi kali pertama laki-laki itu mengganggumu?" tanya Ronald, namun kali ini ia melirik ke arah Tania dengan tatapan tajam seolah masih menunjukkan kemarahan pada laki-laki tadi.


"Ya..." jawab Tania singkat sambil menahan tangis yang ingin sekali ia keluarkan setiap kali mengingat kejadian tadi.


"Lalu... Bagaimana bisa laki-laki itu menggodamu?" Ronald bertanya kembali.


"Aku tidak tahu, yang aku tahu ia ingin mengantarku pulang, tapi karena aku menolak. Ia jadi marah dan ingin memukulku." jelas Tania dengan mata yang mulai terlihat ada genangan air mata.


"Brengsek...!" Ronald memaki laki-laki tersebut begitu mendengar penjelasan dari Tania.


"Tania... Jika kau harus pulang malam dan sendirian, setidaknya kau bisa menghubungiku ataupun orang rumah. Apa tidak bisa seperti itu?" ucap Ronald dengan nada sedikit tinggi.


Mendengar ucapan Ronald dengan nada marah. Tiba-tiba air mata yang tadinya menggenang di menyelimuti bola matanya jatuh hingga membasahi kedua pipinya. Dan tidak lama setelah menahannya, akhirnya Tania tidak bisa menahan tangisnya yang mulai pecah.


Mendengar isak tangis Tania, Ronald pun menepi dan memarkir mobilnya di tepi jalan perkotaan yang cukup ramai kala itu, sebuah taman kecil di pinggir jalan.


"ambil dan usaplah air matamu...!" Ronald mengulurkan sapu tangan pada Tania.


Ronald keluar dari mobil, berjalan membukakan pintu untuk Tania keluar.


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Tania dengan wajah semakin bingung sambil menyapu pandangannya ke sekeliling.


Cukup banyak orang di sana. Ada sepasang kekasih yang sedang duduk berdua di kursi taman, dan ada juga segerombolan muda mudi yang duduk menggelar alas di atas rumput.


Dengan lampu sedikit gelap dan suasana yang cukup ramai.


"Keluar saja...! Kau harus tenangkan pikiranmu dulu sebelum kita melanjutkan perjalanan, aku tidak suka mendengar suara tangisan perempuan di dalam mobil." Ronald mengucapkan sesuatu yang berlawanan dengan hatinya.


Padahal jauh dalam hatinya, Ronald ingin sekali memeluk Tania saat menangis tadi di dalam mobil. Namun ia lebih memilih berhenti di suatu tempat dan menenangkan pikiran Tania terlebih dulu.


Mendengar kalimat yang tidak ada manis-manisnya, Tania langsung keluar dari dalam mobil lalu berjalan mendekati sebuah kursi kosong dan duduk di sana.

__ADS_1


Ronald mengikutinya dari belakang lalu berjalan melewati tempat Tania duduk, menuju warung kecil yang berada di taman tersebut untuk membeli air mineral. Biasanya ia selalu sedia air mineral di dalam mobilnya, namun hari itu ia kehabisan air mineral di dalam mobilnya.


Mau kemana dia? Batin Tania bingung begitu melihat Ronald berjalan melewatinya.


Saat ia tahu Ronald menuju arah warung kecil, Tania pun mengerti.


Huuuh... Sampai detik ini, dia masih sangat kaku dan tidak berperasaan? Sebenarnya bagaimana sih perasaan dia sesungguhnya padaku? Aaaargh... Haruskah aku mengatakannya lebih dulu? Batin Tania menggerutu.


Tidak lama, Ronald datang dengan membawa air mineral dan memberikannya pada Tania lalu duduk di sampingnya.


"Minumlah... Kau pasti haus." ucap Ronald, sambil meneguk air mineral yang di dalam botol berukuran sedang.


Setelah menerima air mineral tersebut, Tania pun langsung meneguknya.


"Bagaimana kabar Evelin?" tanya Tania dengan wajah santai, padahal hatinya tidak santai saat mengatakan kalimat itu.


"Kabarnya baik..." jawab Ronald singkat, lalu meneguk kembali air mineral yang ada di tangannya.


Tuh... Kaaaan... Dengan santai dia menjawabnya, itu menandakan bahwa dirinya memang masih berhubungan dekat sampai saat ini. Batin Tania mencoba menerka.


Bersambung\=\=\=>


Yang mau berlalu-halu dengan wajah para pemain NYT, bisa liat di IG yah. Jangan lupa Like IG author juga yah. ( @senja3295 ).


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Terimakasih. 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2