
Begitu sampai di pusat perbelanjaan yaitu mall. Tania dan David langsung menuju teater untuk menyaksikan film yang akan mereka tonton.
Mereka datang tepat sekali, sepuluh menit sebelum film di mulai.
Sementara Tania sedang duduk menunggu David.
David pun pergi ke depan untuk membeli beberapa pop corn dan lemon ice.
Sambil menunggu David, Tania tampak asik dengan ponsel miliknya, sesekali ia melirik beberapa orang yang berlalu lalang di sana. Tiba-tiba seorang laki-laki dengan menggunakan masker dan topi duduk tepat di sebelah Tania duduk.
Menyadari ada seorang laki-laki duduk di sampingnya, Tania sempat melirik beberapa detik dan laki-laki tersebut menundukkan kepalanya lalu tersenyum. Terlihat dari masker yang bergerak seperti tertarik. Namun Tania tampak diam dan sedikit takut, perlahan ia menggeser duduknya dan sedikit menjauh.
Jelas saja Tania merasa takut, di sampingnya seorang laki-laki bertubuh tinggi dan besar, berkacamat, memakai topi dan juga masker. Tidak lupa jaket berwarna hitam. Tampak seperti seorang kriminal atau seorang Intel.
Melihat gelagat Tania yang risih dan seolah tidak nyaman, di tambah David sedang berjalan mendekati Tania dengan membawa cemilan untuk di nikmati saat menonton film, akhirnya laki-laki tersebut pergi menjauh dari Tania.
Setelah laki-laki tersebut pergi, Tania mulai sedikit lega. Lalu David datang dengan membawa cemilan untuk mereka makan di dalam bioskop.
"Tania... Siapa laki-laki yang barusan duduk di sampingmu lalu pergi begitu aku datang?" tanya David penuh selidik.
David memang sempat melihat laki-laki tersebut, namun ia tidak melihat jelas wajahnya, ia hanya melihat bagian belakang dari tubuhnya saja. Yang David lihat adalah postur tubuh tinggi dan besar.
"Oh... Entahlah." Tania menaikkan kedua bahunya ke atas dan mengerutkan kedua alisnya, "aku juga tidak mengenalnya, tiba-tiba dia duduk di sampung-ku untuk beberapa menit, lalu pergi." jawab Tania singkat.
"Hem..." David mencoba menerka, "Ya sudah... Sebaiknya kita segera masuk, film nya sudah di mulai." ajak David.
Tania mengangguk setuju, lalu keduanya masuk ke dalam studio.
Akhirnya keduanya pun duduk bersampingan di sebuah bangku, film pun sudah di mulai.
Di sela menikmati film, David dan Tania tampak meraih pop corn mereka masing-masing.
Berbeda dengan Tania yang begitu terlihat serius menyaksikan film action tersebut, David justru sebaliknya, sepanjang menyaksikan film, mata dan pikiran David lebih fokus pada Tania. Ia tidak berkedip memandangi setiap ekspresi dan gerak wajah yang keluar dari wajah Tania. Seolah tak ingin melewatkan kesempatan menikmati waktu bersama dengan wanita yang telah memikat hatinya.
Dalam keseriusan wajah Tania ketika menyaksikan film tersebut, David sempat berpikir untuk menyentuh dan menggenggam tangan Tania. Namun ia harus bisa menahannya, ia tahu bahwa Tania bukankah wanita seperti kebanyakan yang pernah di dekati dan di pacarinya yang mudah di sentuh atau di peluk.
Jika ia mencoba menyentuh bahkan sampai memegang tangan Tania, ia tahu bahwa itu akan menghancurkan segala usahanya. David tahu betul karakter wanita seperti Tania tidak akan suka di paksa ataupun di sentuh sembarangan.
Akhirnya David memilih untuk menahan diri dan mendekati Tania secara halus. Tanpa memaksa atau bahkan menyakiti. Walau sebenarnya ia sangat ingin menyentuh bagian tubuh Tania sekalipun itu telapak tangannya, namun ia tidak akan bisa melakukannya karena ia sangat ingin mendapatkan hati Tania dengan tulus.
"Tania..." David memanggil dengan suara sangat pelan.
Di dalam studio yang hanya terdengar suara film dan tak ada satupun suara dari para penonton itu, David tidak berani berbicara keras.
Namun sayangnya ia harus mendapat perlakuan menyebalkan dari Tania.
"Sttttt..." Tania menempelkan jari telunjuk di bibirnya seolah isyarat agar David tidak bicara, "Bicaranya nanti saja kak...!! Aku sedang serius menonton film." ucapnya tanpa menoleh wajah sedetik pun ke arah David karena terlalu serius menyaksikan film tersebut dan tak ingin melewatkan sedetik pun setiap adegan dalam film tersebut.
Alih-alih menjawab panggilan dari David, Tania justru meminta David untuk diam dan tak mengganggunya.
Cih... Ternyata seserius ini wajahnya saat menyaksikan film favoritnya. Batin David berdecak.
Meskipun aku tidak bisa berbincang dengannya di sini, biarlah... Yang penting aku bisa menikmati wajah manisnya dengan puas tanpa ketahuan olehnya, hahaha. Batin David seolah tertawa senang.
Di sela-sela acara menonton tiba-tiba Tania ingin sekali ke toilet.
"Kak... Aku ke toilet dulu ya!" ucap Tania lalu berdiri.
"Oh... Ya, apa perlu aku antar?" David menawarkan diri untuk mengantar Tania kalau-kalau ia takut pergi sendirian.
"Ih... Apaan sih kakak? Memangnya aku anak kecil yang harus di temani saat pergi ke toilet?" balas Tania sembari menggelengkan kepalanya.
"Hehehe... Bukan begitu, aku hanya takut nanti kamu gak balik lagi dan mampir ke hati laki-laki lain." ledek David.
"Ih... Tuh kan, mulai deh gombalnya." balas Tania dengan wajah manyun.
"Hahaha... Ya sudah pergi sana." balas David.
"Ya..." balas Tania sembari berjalan menuju toilet.
Sambil menunggu Tania kembali dari toilet, David pun menghabiskan waktunya dengan memakan sisa pop corn nya. Dengan sengaja ia melempar satu butir pop corn ke arah belakangnya hingga mengenai penonton yang ada di belakang.
"Aaah... Sorry, Niatnya mau atraksi masukin ke mulut, malah terlempar ke belakang." celetuk David sembari melirik ke belakang.
Seolah tidak perduli, seseorang di belakangnya diam tak berkata apapun selain memendam rasa kesalnya.
"Apa kau tidak lelah membuntuti kami?" ucap David sembari melirik ke belakang.
Rupanya David sudah menyadari bahwa Ronald tengah membuntuti dirinya dan Tania. Namun dengan sengaja, ia pura-pura tidak tahu. Sampai ia membuka penyamaran Ronald ketika Tania sedang tidak bersamanya.
__ADS_1
Sial... Bagaimana mungkin playboy tengik ini bisa tahu penyamaranku? Batin Ronald terkejut mengetahui David sudah tahu penyamarannya.
Ternyata dia benar-benar melakukan ini...? Astaga... Aku tidak menyangka, dia benar-benar ingin mendapatkan Tania. Batin David penuh selidik.
Sialan... Dia tidak bisa di remehkan, aku harus berhati-hati padanya. Batin Ronald penuh kecemasan.
Keahliannya dalam membuntuti seseorang memang tidak bisa di ragukan, aku harus lebih hati-hati dan bergerak lebih cepat darinya. Batin David mengatur siasat berikutnya.
Keduanya hanya diam dan saling mengancam di dalam hati mereka, tak ada saling serang mulut. Menyadari bahwa mereka kini sedang berada di dalam studio film yang akan mengganggu kenyamanan orang-orang yang menonton jika mereka saling bicara dengan suara keras.
Tidak begitu lama, Tania pun datang dan kembali duduk di kursi semula yang di dudukinya.
"Yah... Ketinggalan deh." celetuk Tania begitu dirinya sudah duduk di atas kursi, dengan spontan Tania menggeser wajahnya mendekati wajah David sembari bertanya "Bagaimana ceritanya saat aku pergi ke toilet?" tanyanya dengan wajah penasaran.
Astaga... Ku pikir dia ingin menciumku, ternyata hanya untuk bertanya cerita yang ia lewatkan saat pergi ke toilet. Cih... Batin David terkejut.
Melihat gerakan tiba-tiba yang di lakukan Tania barusan, mendekatkan wajahnya dengan jarak yang cukup dekat pada wajahnya, tentu saja membuat David terkejut. Bahkan sampai berpikir jika Tania akan menciumnya.
Sementara itu Ronald yang menyaksikan mereka di belakang mereka ikut terkejut dan hampir saja melayangkan tangannya untuk menghalangi kedekatan David dan Tania barusan.
Namun mendengar ucapan Tania, akhirnya Ronald pun menahan kembali tangannya dan duduk dengan posisi semula.
"A.. Aku tidak memperhatikannya, lagi pula hanya tertinggal beberapa menit, kau hanya perlu melihat sisanya saja, bukan?" jawab David sedikit gugup.
Sial... Pasti dia mengira aku tidak serius nonton. Duuuh... Jadi kelihatan bodoh kan. Batin David menyesal karena tidak bisa menceritakan beberapa adegan yang terlewat untuk Tania.
Seharusnya itu menjadi momen kedekatannya dengan Tania agar lebih dekat dan melihat kesungguhannya. Namun karena sikap ketidakseriusannya, ia justru melewatkan momen untuk mengambil hati Tania.
"Hem... Ku pikir, aku bisa mendengar cerita yang terlewat tadi dari kaka saat sudah selesai nonton nanti." balas Tania dengan bibir manyun, lalu menggeser kembali tubuhnya dan duduk dengan posisi semula.
"Heheh... Maaf ya Tania, lain kali kita bisa nonton lagi kok." balas David sembari tertawa kecil.
"Hem... Ya sudah, tapi aku gak yakin kakak bakal serius nonton lagi." timpal Tania dengan ragu.
Ah... Sial, gara-gara Ronald nih, coba tadi gak mikirin dia. Batin David kesal.
Seolah yang terjadi adalah kesalahan Ronald karena telah mengganggu waktu bersamanya dengan Tania hingga membuat Tania tampak kecewa padanya, David pun memaki Ronald dalam hatinya.
Sementara itu, Ronald tampak tersenyum dalam hatinya melihat Tania kecewa pada David.
Namun karena tak ingin terlambat lebih jauh, akhirnya Tania melihat kembali film yang saat ini sedang di tontonnya dengan serius.
Setelah kurang lebih satu jam setengah mereka duduk menyaksikan film tersebut, akhirnya film tersebut berakhir hingga para penonton mulai berhamburan keluar, termasuk David, Tania dan Ronald yang tampak berhati-hati agar Tania tidak mengetahui keberadaannya, karena David sudah mengetahui penyamarannya.
"Tania..." David memanggil.
"Ya... Kenapa kak?" Tania bertanya.
"Apa kau lapar?" tanya David lagi.
"Emmm... Tidak terlalu sih." jawab Tania sembari menggelengkan kepalanya.
"Ah... Tapi aku lapar, temani aku makan ya!" bujuk David.
Lagi-lagi David menggunakan kalimat yang pada akhirnya memaksa Tania untuk ikut menemaninya karena tidak enak menolak.
"Emm... Baiklah, tapi jangan terlalu malam ya kak pulangnya." jawab Tania sembari memberi syarat.
"Oke..." balas David tersenyum.
Lalu keduanya pun mulai memasuki mobil, beralih menuju sebuah cafe terdekat.
Sementara itu, Ronald yang tengah memperhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh, sudah bersiap untuk mengikuti mereka kembali sampai Tania benar-benar pulang ke rumahnya dan tak tersentuh sedikit pun oleh tangan David.
Mengetahui David adalah seorang playboy, jelas mengundang pikiran negatif bagi Ronald, ia takut jika David sampai menyentuh Tania selama mereka berduaan.
Namun karena kali ini David tahu bahwa Tania adalah adik dari sahabatnya sendiri, terlebih ia juga memiliki rasa yang berbeda pada Tania, David bisa berlaku sopan dan tak menyentuh Tania sama sekali dalam pertemuan yang di anggapnya kencan pertamanya dengan Tania. Meski Tania hanya menganggap bahwa yang di lakukannya hanya pertemuan biasa antara teman dalam menyaksikan film favoritnya.
Lalu David segera memacu kendaraannya, namun kali ini ia lebih berhati-hati dan mencoba menjauh dari Ronald. Karena ia tahu pasti Ronald akan mengikutinya kembali dan memata-matainya saat sedang bersama dengan Tania.
David tampak membelokan mobilnya ke kiri dan ke kanan bak seorang pembalap yang sedang menghindar dari kejaran musuhnya. Hingga membuat Tania merasa ketakutan saat berada di dalam mobilnya.
"Kak... Kenapa seperti ini membawa mobilnya? Kau tidak sedang di kejar polisi kan?" tanya Tania dengan raut wajah ketakutan dan tangan yang begitu kencang memegang kendali tangan.
"Bukan polisi Tania, lebih tepatnya kita sedang di kejar anjiing." jelas David sembari fokus memegang setir mobilnya.
"Apa...? Yang benar saja, mana ada anjiing di jalan raya seperti ini...!!" sahut Tania dengan wajah heran.
"Tentu saja ada, anjiing ini lebih berbahaya dari anjiing biasanya." timpal David dengan wajah meyakinkan.
__ADS_1
"Ah... Masa iya sih." balas Tania seolah tidak percaya dengan omong kosong David.
Dengan berbagai cara, akhirnya David bisa menghindar dari mobil Ronald yang tengah mengikutinya.
Ah... Sial. Ronald memukul setir mobilnya, aku kehilangan jejak mereka, kemana perginya mereka? Batin Ronald kesal.
Setelah terlepas dari intaian Ronald, akhirnya David bisa bernapas lega dan mengendarai mobilnya dengan normal.
"Pyuuuh..." David menghela napas, "Akhirnya kita bisa lepas dari kejaran anjiing itu, Tania." ucap David dengan wajah lega.
Mendengar ucapan David, Tania hanya menggelengkan kepalanya, menatap penuh keanehan ke arah wajah David yang menurutnya tengah beromong kosong.
Logikanya, tidak mungkin ada seekor anjiing di jalan raya? Kalau pun ada, mungkin sudah ada yang memungutnya atau bahkan terlindas kendaraan, dalam sejarah pun, tidak ada seekor anjiing dengan jenis apapun yang bisa mengejar sebuah mobil, apa lagi dengan kecepatan di atas rata-rata, Pikir Tania.
Setelah keduanya menikmati makan malam di sebuah cafe, dan waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Akhirnya David segera mengantar Tania pulang rumahnya.
Begitu sudah sampai di depan gerbang rumah Tania, David menghentikan mobilnya.
Saat dirinya akan keluar dari mobil dan mencoba membukakan pintu mobil untuk Tania, ia terkejut ketika melihat Tania sudah tertidur dengan pulas dengan posisi kepala miring.
Cih... Dasar gadis kecil, bisa-bisanya ia tertidur pulas di dalam mobil seorang laki-laki? Batin David berdecak heran.
Di pandangi wajah mungil yang begitu terlihat manis itu sembari tersenyum.
David merasa tidak tega jika harus membangunkannya yang sedang tertidur pulas, akhirnya ia memilih menunggu sampai Tania bangun.
Setelah menunggu selama sepuluh menit dan Tania masih belum bangun juga. Sesekali David melihat jarum jam yang menempel di pergelangan tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22:30.
Sudah terlalu malam bagi seorang gadis remaja yang baru saja akan lulus sekolah menengah.
Akhirnya David mencoba membangunkan Tania dengan menggoyangkan tangannya, namun tetap tidak berhasil, David mencari cara lain, yaitu dengan menyentuh bahu Tania dan menggoyangkannya beberapa kali. Namun Tania tetap belum bisa bangun.
David ingin menyentuh wajahnya, namun takut jika Tania terbangun dan melihat dirinya sedang memegang wajah Tania, Tania akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Dan tidak ada cara lain selain menyentuh bagian wajah Tania. Pikir David.
Baru saja David ingin memencet hidung Tania, tiba-tiba Tania terbangun dan terkejut ketika melihat tangan David sedang memegang hidungnya begitupun dengan David, ia terkejut ketika Tania sudah bangun.
Setelah keduanya terkejut, untuk beberapa detik keduanya diam seolah masih terkejut dan menatap satu sama lain. Sampai akhirnya Tania sadar, lalu menangkis tangan David.
"Kakak... Apa yang sedang kakak lakukan dengan wajahku?" tanya Tania dengan wajah kesal.
"Bu... Bukan seperti yang kau bayangkan, Tania." jawab David gugup, "Aku hanya berusaha membangunkanmu dengan cara menekan hidungmu." jelasnya lagi.
Mendengar penjelasan David, Tania pun percaya, ia tahu bahwa David tidak akan mungkin berbuat hal buruk padanya.
"Kau susah sekali di bangunkan saat tertidur." jelas David.
Seperti seekor kerbau. Celetuk David dengan suara pelan.
"Ya... Aku memang seperti seekor kerbau saat tidur." Tania mempertegas dirinya dan menyebut dirinya kerbau saat mendengar David mengatakan dirinya seperti kerbau meski dengan suara yang sangat pelan.
Astaga... Dia mendengarnya, pendengarannya cukup tajam juga. Batin David merasa malu.
"Bu... Bukan begitu, Tania. Maksudku..." dengan terbata David ingin menjelaskan perihal dirinya yang mengatakan kerbau pada Tania saat tertidur.
Seolah merasa kesal, Tania pun langsung membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar.
Yah... Dia marah. Batin David.
Lalu David membuka jendela kaca mobilnya sembari memanggil Tania.
"Hey... Gadis kecilku, jangan marah ya, aku hanya bercanda." ucap David setengah teriak.
Tania menghentikan langkahnya begitu mendengar David memanggilnya dengan sebutan gadis kecil.
Apa? Gadis kecil? Yang benar saja...!! Batin Tania semakin kesal mendengar ucapan David barusan yang memanggilnya dengan sebutan gadis kecil.
Tania menoleh ke belakang dan di tatapnya wajah David dengan tatapan kesal, lalu berbalik badan dan melanjutkan langkahnya memasuki pintu gerbang dan menutupnya.
Melihat wajah kesal Tania, justru membuat David semakin menyukai Tania. Dengan wajah tersenyum, David pun mulai memacu mobilnya dan meninggalkan rumah Tania dengan perasaan berbunga, layaknya seseorang yang sedang di landa cinta.
Bersambung\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
__ADS_1
TERIMAKASIH. 🙏🏻