
Sesampainya Rania di rumahnya, ia berjalan lunglai tak berdaya dengan tatapan mata hampa tak berjiwa. Tak ada raut bahagia selain perasaan kalut yang berkecamuk menyelimuti jiwanya dalam kepasrahannya menerima takdir atas pernikahannya besok dengan Zein. Meski Zein memberi kesempatan untuknya menyerah, namun ia tak kuasa memutuskan segalanya hanya dalam waktu yang tersisa beberapa jam saja menjelang besok pagi.
Menyerah bukan pilihan terbaik saat ini. Dalam benak Rania ia hanya perlu menguatkan hatinya menghadapi hari esok, bersiap dengan persembahan senyum terbaiknya untuk orang tuanya dan para tamu yang datang. Ia lebih memilih menyakiti dan membohongi dirinya sendiri daripada harus melihat derai air mata mengalir di kedua mata orang tuanya.
Sesampainya di rumah, ia di sambut dengan suasana rumah yang menampilkan kesibukan orang-orang yang berada di dalamnya terutama ibunya yang sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna untuk pernikahan anak sulungnya besok.
"Rania, kenapa bajumu basah kuyup seperti ini?" Tanya ibunya dengan nada cemas.
Rania terus berjalan melewati ibunya, tidak menyadari bahwa ibunya menyapa dan menanyakan perihal kedatangannya dalam keadaan baju yang sudah basah kuyup. Kemudian ibunya bertanya lagi sambil menepuk pundaknya. Seketika ia tersadar dari lamunannya ketika berjalan seperti orang yang kehilangan jiwanya.
"Ah, iya bu ada apa?" Rania bersuara dan menanyakan lagi apa yang dikatakan ibunya barusan.
"Bajumu basah Kuyup, sebaiknya kamu bergegas pergi mengganti bajumu, jaga kesehatanmu. Besok adalah hari pernikahanmu!" Perintah ibunya, yang menyadari bahwa mungkin Rania cukup terpukul menjelang detik-detik pernikahannya yang hanya tersisa beberapa jam saja.
Rania mengangguk dan berlalu meninggalkan keramaian melangkahkan kakinya menaiki beberapa anak tangga. Sesampainya di kamar, ia langsung melemparkan tasnya dan merebahkan badannya di kasur yang terasa cukup memberikan kenyamanan baginya setelah seharian pikirannya terkuras memikirkan pernikahannya dengan Zein besok pagi.
__ADS_1
Malam berlalu seolah ingin segera menunjukkan cahaya mentari yang begitu cerah esok pagi. Rania terlelap masih dengan baju setengah basahnya karena hujan. Ia tak sempat berganti baju karena ketiduran hingga mengering dengan sendirinya.
*keesokan harinya
Tok,, tok,, tok,, suara ketukan pintu membangunkannya dari mimpi indahnya bersama seseorang dimasa lalu. Seseorang yang sudah lama tidak hadir di dalam mimpinya tiba-tiba semalam memimpikannya kembali. Setidaknya mimpinya semalam sedikit memberi kebahagiaan ditengah kemelut hatinya beberapa hari terakhir, sekaligus menyadarkannya untuk menerima takdirnya saat ini.
Rania melirik jam yang berada dimeja, tepatnya di samping tempat tidurnya. Waktu menunjukan pukul empat subuh. Dengan gontai ia berjalan membuka pintu kamarnya dan mendapati ibunya yang masih menunggunya setelah mengetukkan pintu beberapa detik lalu. Dan tak lupa ia memberikan senyum termanisnya pada ibunya seraya berkata "Apa sepagi ini bu?"
"Tentu saja, segeralah bersiap karena acara akan di lakukan di pagi hari!" Tegas ibunya.
Semuanya berjalan dengan sangat sempurna hingga saatnya tiba.
Dengan balutan gaun berwarna gading dan aksen payet bertabur permata memberikan kilau cahaya. Gaun yang sangat cantik layaknya gaun pernikahan pada umumnya, Rania tampak mempesona dan terlihat sempurna. Bak ratu di dalam dongeng. Semua mata tertuju padanya seolah terpukau dengan kecantikan parasnya tak terkecuali Zein yang juga melihatnya tanpa berkedip sekalipun. Dalam benak Zein, Rania adalah wanita sempurna. Wanita yang saat ini bersanding dengannya dan akan segera menjadi miliknya.
Di sisi lain, Rania hanya tampak datar dengan senyum keterpaksaannya di dalam hati. Namun terlihat nyata di depan umum dan mempesona.
__ADS_1
Langkah kakinya terus berjalan, sedikit lagi Rania sampai pada posisi di mana dirinya akan berada sejajar dan sangat dekat dengan Zein.
"Jadi kau benar-benar datang dengan memakai gaun secantik ini?" Tanya Zein berbisik dan melirik sambil melempar senyum terbaiknya pada Rania.
"Tentu saja, aku tak punya cukup keberanian menyakiti orang tuaku!" Tegas Rania dengan nada datar tanpa ekspresi, hanya melirik mata ke arah Zein.
"Apa itu artinya, kau cukup memiliki keberanian menyakitiku?" Timpal Zein menggoda, dan tak lupa menyematkan senyum.
Ada raut kesal di wajah Rania, ia tak menimpali perkataan Zein dan hanya melirik penuh kekesalan ke arah Zein.
Kau pikir siapa dirimu? Jangan berfikir kau adalah korban? Lihat saja nanti! Apa kau masih bisa tersenyum seperti itu padaku? Batin Rania seolah mengancam.
Akan ku pastikan hidupmu bahagia berada di sampingku, untuk segala keberanian dan pengorbanan mu, Rania. Batin Zein dengan penuh keyakinan.
Bersambung.
__ADS_1