
"Masuk." jawab Zein dari dalam kamar.
Begitu mendengar jawaban dari Zein, seorang pelayan masuk dengan membawa semangkuk bubur di atas nampan yang di bawanya dengan menggunakan kedua tangannya.
"Ini bubur sayurannya, tuan." ucap pelayan itu sambil menundukkan kepala dengan sopan.
"Baiklah letakkan saja di atas meja." perintah Zein sambil menunjuk meja yang berada di samping kasur.
Pelayan itu mengikuti perintah Zein dengan meletakkan bubur di tangannya tepat di atas meja, lalu berjalan mundur beberapa langkah dari hadapan Zein dan berdiri seraya berkata. "Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?"
"Tidak ada, terima kasih." balas Zein singkat.
Lalu pelayan itu pun pergi meninggalkan Zein dan Rania.
Sementara itu, Zein berdiri untuk mengambil bubur dan menyuapi istrinya.
"Sayang... Biar aku suapi ya?" tanya Zein sambil mengarahkan tangan yang sudah berisi bubur di atas sendok tepat di depan mulut istrinya.
"Aku bisa sendiri." ucap Rania sambil mencoba meraih sendok dan mangkuk berisi bubur di tangan suaminya.
"Hmmm... Kali ini kau tidak boleh membantah suamimu, sayang." timpal Zein sambil mengedipkan kedua matanya seraya menjauhkan mangkuk dari hadapan istrinya.
Melihat Zein bersih keras untuk melakukan itu, Rania pun memilih menuruti kemauan suaminya.
"Zein..." tanya Rania sembari mengunyah bubur yang baru saja di suapi oleh suaminya.
"Um... Kenapa sayang?" jawab Zein.
"Apa kau sering melakukan ini pada setiap wanita?" tanya Rania, masih dengan mulut mengunyah pelan.
"Tentu saja." jawab Zein singkat sembari menyuapi lagi.
Kali ini Rania diam dan tak membuka mulutnya, jawaban dari suaminya seolah membuatnya kesal.
"Kenapa kau tidak membuka mulutmu, sayang? Kau baru makan satu sendok." tanya Zein sambil menatap wajah istrinya yang terlihat cemberut.
"Aku tidak mau di suapi lagi, berikan mangkuknya padaku...!" pinta Rania kesal.
"Kau masih lemas sayang. Jangan keras kepala." Zein menjelaskan. Lalu meletakkan mangkuk bubur di atas meja.
"Suapi saja wanita lain, aku bisa makan sendiri." jawab Rania dengan nada ketus.
"Oh... Jadi karena itu kau kesal dan mengunci mulutmu dari suapanku? Sayang... Di dunia ini, hanya ada dua wanita yang beruntung mendapatkan suapan dariku. Pertama mama saat sakit dan ke dua istriku yang cantik ini." jelas Zein sembari mencubit manja hidung istrinya.
Mendengar kalimat barusan cukup membuat hati Rania tersipu. Ia pun tersipu malu, wajahnya yang cemberut berubah menjadi wajah yang menampakkan warna merah merona.
"Makannya di lanjut ya?" pinta Zein sembari tersenyum lepas. Rania pun mengangguk.
"Sayang... Kapan kita akan pulang?" Rania sudah tidak betah kalau harus berlama-lama di tempat itu. Terlebih ada Yina yang membuatnya kesal.
"Setelah kita menangkap pelaku itu, kita akan segera pulang, sayang..." jawab Zein meyakinkan. "Oh... Ya, kenapa tadi pagi kau keluar sendirian? Harusnya diam di kamar dan menghubungiku jika ingin keluar...!" lanjutnya.
Seketika Rania diam dengan tatapan kosong. Ia mencoba mengingat kejadian saat dirinya melihat suaminya berdekatan dengan Yina di kafe sebelum akhirnya kejadian buruk menimpanya.
"Sayang... Apa yang kau pikirkan?" ucapan suaminya membuyarkan lamunannya.
"Untuk apa aku harus menghubungimu. Aku tidak mau menggangu waktu mu bersama wanita itu." jawab Rania dengan wajah kesal sembari mengepal kedua bibirnya.
Berduaan bersama wanita? Apa maksudnya? Apa jangan-jangan... Rania melihatku di kafe bersama Yina dan David? Batin Zein bingung.
"Sayang... Maksudmu tadi pagi aku berduaan dengan Yina?" tanya Zein lagi.
"Jangan sebut nama wanita itu... Aku tidak suka mendengarnya." balas Rania sembari memalingkan wajahnya dari hadapan suaminya yang masih memegang mangkuk berisi bubur.
"Astaga... Sayang, kau salah paham, di sana tidak hanya ada aku dan Yina, tapi ada David juga. Apa kau tidak melihat David? Dan lagi... Jika kau melihatku, kenapa tidak menghampiriku saat itu? Malah pergi sendirian ke tempat yang sepi." bela Zein.
Mendengar ucapan suaminya semakin membuat hati Rania kesal. Zein sangat tidak peka dengan perasaannya yang cemburu kala itu.
__ADS_1
Karena kejadian yang menimpaku tadi pagi... Aku bahkan melupakan rasa cemburuku padamu terhadap wanita sialan itu. Namun hingga kini kau masih tidak menyadarinya? Kau memang laki-laki yang tidak peka, Zein. Rania membatin.
"Jika saat itu aku yang berada di sana duduk berduaan dengan laki-laki lain, apa kau akan marah?" pertanyaan Rania kali ini cukup membuat hati suaminya tersentak.
Sejenak Zein mencerna kalimat yang barusan di layangkan istrinya padanya, berusaha mengingat kejadian pagi tadi, ia menyadari dirinya yang tengah duduk berdua dan bersenda gurau bersama Yina. Namun ia tidak berpikir jika itu menyakiti perasaan istrinya, selama ini ia memang bersahabat baik dengan Yina dan David sewaktu masih kuliah bersama.
"Sayang..." Zein menggenggam tangan Rania seraya berkata. "Apa kau cemburu terhadap Yina?"
Rania diam tanpa jawaban sedikitpun.
"Sayang... Aku dan Yina hanya berteman, tidak lebih dari itu. Seharusnya kau bisa lebih dewasa menanggapi setiap hubungan. Apa kau tidak percaya pada suamimu sendiri?" ucap Zein meyakinkan Rania yang tengah dilanda rasa kesal akibat cemburu.
"Jika aku tidak percaya padamu... Dari awal, aku tidak akan setuju kau mengajakku pergi ke tempat ini." ucap Rania dengan nada kesal. "Dan satu lagi... Kau pikir wanita itu hanya menganggapmu teman? Wanita itu berbeda dengan laki-laki, wanita memiliki perasaan yang sangat lembut dan mudah tergoda dengan perhatian laki-laki walau itu hanya perhatian kecil." sambungnya.
Seketika Zein diam. Mengingat setiap kebersamaannya dengan Yina, hampir di setiap kebersamaannya dengan Yina dan David. Yina memang berbeda sikap dengannya dan David, Yina selalu menampakkan wajah senangnya dihadapannya dan terkesan selalu duduk di dekatnya dan selalu ingin di antar oleh Zein ketika pulang kuliah. Namun ia tak pernah berpikir bahwa jika Yina menyimpan rasa padanya. Dalam benaknya, rasanya itu tidak mungkin.
"Sayang... Maaf jika kedekatanku dengan Yina membuatmu cemburu dan kesal." ucap Zein seolah merasa bersalah pada Rania.
Rania hanya diam mendengar pernyataan bersalah suaminya terhadapnya.
Lalu Zein memeluk hangat tubuh istrinya. Rania pun menerimanya seolah hanyut dalam ketulusan suaminya. Ia tahu, suaminya bukanlah orang yang bisa tergoda ataupun menggoda wanita lain. Zein hanya laki-laki yang terlalu baik dan lembut hingga wanita yang di anggapnya sahabat saja bisa salah mengartikan kedekatannya sebagai seorang sahabat.
Dalam keheningan di tengah pelukan hangat keduanya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di balik pintu dan membuyarkan keduanya hingga melepaskan pelukan itu.
"Sayang... Tunggu di sini ya! Aku keluar dulu dan melihat siapa yang mengetuk pintu." pinta Zein pada Rania sembari menyentuh lembut pipi Rania, Rania pun mengangguk.
Zein beranjak dari duduknya di atas kasur, berjalan mendekati pintu dan membukanya.
Di depan pintu sudah ada Ronald yang sedang berdiri menunggunya membuka pintu kamar.
"Bagaimana?" tanya Zein penasaran ingin mengetahui hasil dari pencarian mereka, sembari menutup pintu kamar dan berjalan mendekati kursi di depan kamarnya lalu duduk di kursi itu.
Sementara itu Ronald masih dalam posisi berdiri dengan sopan di samping Zein.
"Duduklah." perintah Zein pada Ronald.
"Tuan, maafkan aku.. Kali ini aku tidak berhasil menyelesaikan tugasku dengan baik, aku tidak bisa menemukan laki-laki itu meski sudah mencarinya sampai ke seluruh area Resort ini." jelas Ronald dengan perasaan gagalnya.
Untuk pertama kalinya Ronald mengecewakan Zein, selama ini ia selalu bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Zein dengan sempurna dan berhasil.
Mendengar ucapan dari Ronald cukup membuat Zein kecewa.
"Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa keluar dari tempat yang sudah di tutup? Rasanya tidak mungkin." ucap Zein seolah tidak percaya.
"Aku juga berpikir demikian, tuan. Namun kenyataannya dia memang sudah pergi dari Resort ini. Aku curiga dia memiliki koneksi hingga dia bisa lolos dari tempat ini." Ronald menduga.
"Maksudmu dengan kata lain, kejahatannya bukanlah sekedar kejahatan biasa yang hanya untuk menggoda istriku? Melainkan ada otak di balik kejadian ini dan sengaja ingin menyakiti istriku?" tanya Zein dengan wajah terkejut.
"Bisa di katakan seperti itu, tuan. Namun kita masih punya waktu mencari laki-laki itu di luar Resort, aku akan tetap menyelidikinya setelah ini dan mencari laki-laki itu untuk bisa menangkapnya." ucap Ronald dengan raut wajah antusias.
"Baiklah... Terus selidiki kasus ini dan temukan otak dari kasus ini. Aku pastikan dia akan mendekam di jeruji besi seumur hidupnya." Zein mengucapkan kalimat itu dengan nada penuh amarah, terlihat dari sorot matanya yang tajam.
"Baik, tuan." jawab Ronald tegas.
"Sebentar lagi kita akan segera pulang dari tempat ini, istriku sudah tidak nyaman berada di sini lebih lama. Aku tidak ingin ia larut dalam rasa ketidaknyamanannya. Karena itu akan mempengaruhi mentalnya. Jadi... Tolong siapkan segalanya sekarang juga!" perintah Zein pada Ronald.
"Baik, tuan." balas Ronald sembari mengangguk sopan.
Zein pun segera bangkit dari duduknya dan masuk kembali ke dalam kamar dan mendekati Rania lalu duduk di samping Rania dengan menghadap wajah Rania.
"Sayang... Kita akan pulang malam ini juga. Kau tidak perlu merasa kesal dan tidak nyaman lagi berada di tempat ini, aku tidak akan membawamu ke tempat ini lagi jika hanya akan membuatmu merasa tidak nyaman. Apa yang membuatmu tidak nyama, maka aku pun tidak akan merasa nyaman." ucap Zein dengan lembut diiringi senyum.
Rania tersenyum senang mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan suaminya. Setidaknya, suaminya sudah mulai menyadari bahwa Yina menaruh rasa padanya, bisa menjaga jarak dari Yina dan tidak bersikap terlalu lembut lagi pada Yina.
Mereka mulai berkemas, Zein sudah mengantar istrinya masuk ke dalam mobil bagian belakang. Lalu menutup pintu mobil itu dan berjalan memutar untuk segera masuk ke dalam mobil lewat pintu mobil di sebelahnya dan duduk di samping istrinya.
__ADS_1
Begitupun dengan para pengawalnya yang sudah bersiap masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Kali ini Zein membawa rombongan pengawal terlatihnya. Tidak tanggung-tanggung Ronald membawa pengawal yang tidak sedikit jumlahnya hingga memenuhi sepuluh mobil.
Barisan mobil yang berjajar itu, kini siap meluncur mengantar Zein pulang. Lima mobil berada di barisan depan mobil yang di tumpangi oleh Zein dan Rania dan lima mobil lagi berada di barisan belakang mobil Zein. Mobil yang di tumpangi Rania dan Zein berada di tengah-tengah barisan mobil pengawal. Rasanya tidak akan ada yang berani macam-macam pada mereka dengan barisan mobil yang di dalamnya penuh berisi para pengawal.
Barisan mobil itu mulai berjalan menuju pintu keluar Resort. Namun pintu gerbang masih tertutup, petugas gerbang tidak akan membuka pintu gerbang sebelum mendapatkan perintah dari Yina. Dan salah seorang berusaha menghubungi Yina melalui telepon.
Sementara itu, Yina yang saat itu sedang sibuk mempersiapkan pesta ulang tahunnya yang akan di hadiri oleh Zein malam itu tidak menyadari bahwa Zein akan pergi dari Resortnya sebelum menghadiri pesta perayaan ulang tahunnya.
Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri Yina dan memberikan telepon pada Yina. "Maaf Nona, ini ada panggilan dari penjaga pintu gerbang yang ingin bicara dengan Nona." sambil menyerahkan gagang telepon ke arah Yina. Yina pun meraihnya dan meletakkannya di telinganya.
"Ya, halo... Ada apa?" tanya Yina datar.
"Nona... Ada beberapa mobil yang ingin keluar dari Resort. Apakah aku harus membukukan pintu gerbangnya?" tanya penjaga gerbang dari seberang telepon.
Beberapa mobil...? Siapa? Batin Yina penasaran.
"Tolong tanyakan atas nama siapa?" balas Yina.
Penjaga gerbang itupun mendekati mobil di urutan terdepan dan mengetuk jendela kaca.
Kemudian Ronald membuka jendela kaca mobilnya seraya berkata. "Katakan saja ini adalah tuan, Zein."
Mendengar ucapan dari Ronald, penjaga gerbang pun segera menyampaikan pada Yina.
"Nona... Katanya ini adalah tuan, Zein." ucap penjaga gerbang tersebut.
Apah... Zein? Kenapa dia tiba-tiba pulang tanpa memberitahukan padaku sbelumnya? Batin Yina terkejut mendengar perkataan penjaga tersebut.
Namun kali ini Yina tidak akan banyak bertanya dan memilih membiarkannya pulang. "Biarkan dia pergi." ucap Yina dari seberang telepon lalu mengakhiri panggilannya dengan kasar dan melempar telepon itu hingga jatuh di atas pasir.
Ada apa dengannya? Kenapa dia pergi sebelum acaraku di mulai? Bahkan dia tidak menghubungiku sbelumnya... Zein, Kau benar-benar membuatku kecewa. Yina membatin penuh rasa kecewa.
Penjaga pintu pun dengan segera membuka pintu gerbang begitu mendengar jawaban dari Yina.
Kemudian barisan mobil itu pun keluar dari Resort untuk meninggalkan Resort.
Dalam perjalanan, Zein tidak melepaskan pelukannya pada istrinya. Zein melingkarkan tangan kirinya di belakang panggung Rania hingga telapak tangannya menyentuh bahu Rania dan memegangnya erat. Lalu tangan kanannya menggenggam tangan kanan Rania dengan lembut.
Berada dalam pelukan suaminya, Rania seolah merasakan ketenangan jiwa hingga membuatnya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Tampak barisan mobil menembus dinginnya malam dan gelapnya malam di tengah pepohonan di tepi jalan kiri dan kanan.
Pasangan suami istri itu larut dalam kehangatan malam di dalam mobil yang tidak terlalu dingin.
Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari dalam saku baju Zein. Rupanya ponsel milik Zein berbunyi. Panggilan itu pun akhirnya membangunkan Rania dari lelapnya di bahu suaminya dan melonggarkan kepalanya dari bahu suaminya lalu menyandarkan kepalanya di punggung kursi mobil.
Dengan segera Zein menerima panggilan itu, rupanya panggilan itu berasal dari David.
"Ya... Ada apa Vid?" tanya Zein.
"Zein... Aku ingin bicara denganmu sekarang." jawab David dari seberang telepon.
"Aih... Aku lupa memberitahumu, Vid. saat ini aku sedang dalam perjalanan pulang. Jadi tidak bisa bicara langsung, katakan saja lewat telepon." sahut Zein.
Um... Kenapa dia pulang sebelum menghadiri pesta ulang tahun Yina dan terkesan mendadak? Batin David heran.
"Oh... Kalau begitu, aku akan ke tempatmu besok. Aku tidak ingin membicarakan hal ini lewat telepon." jawab David.
Memangnya kenapa? Biasanya juga seperti itu. Batin Zein heran mendengar jawaban temannya. Apa mungkin ia ingin mengatakan hal penting? Ah... Sudahlah, tunggu saja besok. Pikir Zein penasaran.
"Baiklah, kau bisa datang menemuiku di kantor besok." jawab Zein singkat.
"Oke." jawab David sembari mengakhiri panggilannya.
BERSAMBUNG\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukung author ya
__ADS_1
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
Terimakasih sudah setia membaca novel NYT.🤗