Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Obrolan sebelum tidur


__ADS_3

Hari sudah semakin gelap, tubuhnya yang masih lemas itu berjalan ringkih menuju sofa, dan berusaha merebahkan tubuhnya yang lemas.


Sementara itu, Rania sedang berada di kamar mandi membersihkan tubuhnya. Begitu selesai dan mendapati Zein tengah tertidur di sofa, sontak Rania terkejut.


Kenapa dia tidur di sofa? Sudah tahu badannya masih lemas? Hmmm... Rania membatin.


Rania mendekati Zein, duduk, Berjongkok dan menjulurkan tangan kanannya, memegang bahu Zein, berusaha membangunkan Zein. "Zein... Jangan tidur di sofa, tidurlah di kasur!!" pinta Rania lembut. Zein terbangun membuka matanya seraya berkata. "Tidak apa-apa, aku tidur di sofa saja. Kau tidurlah di kasur!!" Ujar Zein setengah sadar.


"Ki... Kita akan tidur di kasur, Zein." ucap Rania terbata.


"Apa aku tidak salah dengar?" Tubuh Zein reflek bangun dengan cepat, seperti baru mendapat undian. Matanya langsung berbinar, tubuhnya seolah bertenaga seratus kali lipat dari biasanya.


"Tidak, Zein. Kau tentu tidak berpikir yang macam-macam bukan? Kita hanya tidur satu kasur saja ya. Akan ku letakkan bantal guling sebagai pembatas kita." Ucap Rania sambil. Menggigit bibir bawahnya dan memutar bola matanya seolah malu.


"Ah... Tentu saja, setidaknya dengan begitu, kita sudah seperti pasangan suami istri sungguhan." Ucap Zein menggoda.


Mendengar kalimat itu, membuat Rania tertawa geli.


Zein mulai beranjak dari sofa menuju kasur. Sementara itu, Rania terlihat gugup dan mengikuti Zein dari belakang.


Kuharap dia tidak macam-macam, setidaknya untuk malam ini. Rania membatin cemas.


Satu kasur bersama membuat Rania gugup, tangannya terus memegang selimut dan mendekapnya dengan erat, melihat langit-langit kamar. Sementara itu, Zein justru merasa sangat tenang berada dalam satu kasur bersama Rania.


Hening, suasana begitu sunyi dan tam ada suara. Meski keduanya masih terjaga dari tidur, dan hanya menatap langit-langit kamar. Dan akhirnya Zein memulai pembicaraan agar suasana tidak kaku.


"Rania.. Apa yang kau ingat dari masa kecilmu?" Tanya Zein sambil melamun.


Eh... Kenapa tiba-tiba dia bertanya tentang masa kecilku? Batin Rania heran, sambil menengok dan melihat wajah Zein. Lalu Zein menatap Rania dan tersenyum tipis. Rania berbalik kembali melihat langit-langit.


"Aku tidak punya masa kecil, Karena masa kecilku hilang begitu saja, aku tidak tahu seperti apa masa kecilku dulu." ucap Rania dengan tatapan kosong, berusaha mengingat masa kecilnya yang hilang.


Jadi ternyata benar, dia tidak ingat sama sekali masa kecilnya dulu. Zein membatin.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin seseorang melupakan atau tidak mengingat masa kecilnya? Bukankan itu masa yang paling bahagia bagi sebagian orang?" Seru Zein, berlagak pura-pura tidak tahu tentang ingatan Rania yang setengah hilang akibat kecelakaan.


"Beberapa tahun lalu ketika aku mengalami kecelakaan, sebagian ingatanku hilang. Tapi hanya ingatan masa kecilku saja." ucap Rania datar.


"Dan, apa kau tak ingin mengingatnya?" Tanya Zein penasaran.


"Entahlah, aku hanya mengingat beberapa ingatan saja. Ah... untuk apa aku mengingatnya? Lagi pula hanya masa kecil yang tak berarti apapun." Rania mengucapkan sambil menatap langit-langit kamar, meski di dalam hatinya sangat ingin tahu seperti apa masa kecilnya.


Jadi aku tak berarti apa-apa bagimu ya? Zein diam dan hanya membatin.


"Apa yang kau ingat, Rania?" Tanya Zein penasaran.


"Aku tidak begitu mengingatnya dengan jelas, hanya sepintas saja, Seseorang memakaikan jepit rambut di rambutku." ucap Rania sambil mengingat.


"Jadi, hanya itu yang kau ingat?" Kata Zein lemas. Setidaknya masih ada sedikit ingatan yang tersisa untuknya.


"Ya hanya itu, Kamu sendiri? Bagaimana dengan masa kecilmu?" Tanya Rania penasaran, sambil memalingkan wajahnya melihat ke arah Zein.


Seketika Rania terdiam. Berusaha mencerna pernyataan Zein barusan.


"Tapi aku menyesal karena tidak bisa bersamanya lebih lama." ucapan Zein mengagetkan Rania yang sempat terdiam.


"Kenapa?" Tanya Rania penasaran.


"Sejak usia 12 tahun, aku pergi jauh bersama orang tuaku dan adikku, dan kembali lagi baru sekitar beberapa tahun ini." ucap Zein menyesal.


"Hmmm... Begitu rupanya. Lalu, apa sekarang kau belum bertemu dengannya? Dan... Kenapa kau tidak menikah dengannya saja? Malah menikah denganku." kata Rania sambil mengernyitkan alisnya.


"Aku sudah menemuinya bahkan memilikinya walau belum sepenuhnya, karena hatinya sudah di curi oleh laki-laki lain. Dan aku akan mencurinya kembali" ucap Zein sambil tersenyum dan menatap wajah Rania.


"Apa maksudmu, memilikinya? Dan mencuri hatinya kembali?" Rania bingung bercampur kesal. Jika masih mencintainya, kenapa menikahi-ku? Seketika wajahnya terlihat masam.


Rania, andai kau mengingat sedikit saja kenangan itu? Batin Zein penuh harap.

__ADS_1


"Tidurlah... Sudah larut malam!" Seru Zein.


"Aku penasaran, siapa cinta pertamamu, Zein?" Tanya Rania kesal. Bagaimanapun, pernyataan Zein soal ingin mencuri lagi hati cinta pertamanya. Membuat Rania kesal.


"Kau curang Rania, dari tadi aku saja yang bercerita tentang masa kecilku. Sementara kau tidak mau cerita sama sekali." ucap Zein meledek.


"Kalau aku ingat, pasti aku cerita. Tapi kan... Aku tidak ingat. Jadi kau saja yang cerita!!" balas Rania sambil melempar bantal guling ke arah Zein.


"Jika kamu sudah mengingat masa kecilmu, aku akan cerita." Ucap Zein, sambil meletakkan kembali bantal guling yang dilempar Rania ketengah-tengah sebagai pembatas jarak tidur mereka.


"Apa hubungannya dengan masa kecilku?" jawab Rania kesal.


Zein memejamkan matanya dan bersedekap tanpa menghiraukan perkataan Rania.


Haisss... Dia benar-benar menyebalkan. Gerutu Rania.


*Bersambung.


Halo pembaca setia NYT 🤗


Terus dukung aku yah, dengan cara:


➡️klik suka (like)


➡️klik favorit


➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)


➡️beri tanda bintang lima


➡️beri aku vote sebanyak-banyaknya ya biar makin semangat nulisnya. Karena dukungan kalian sangat berarti buatku.


Terimakasih. 🤗😊

__ADS_1


__ADS_2