
Malam mulai menunjukkan pesonanya yang gelap gulita, di rumah sakit, tepatnya di sebuah kamar khusus. Kesetiaan suami sedang di uji dalam sakitnya seorang istri.
Ya, Zein rela membatalkan beberapa rapat penting hanya untuk terus menemani istrinya yang sangat membutuhkannya di saat jiwanya sedang terguncang karena sebuah peristiwa.
Malam itu adalah malam kedua Rania menginap di rumah sakit. Ia tertidur pulas di atas kasur besar yang nyaman. Begitupun dengan Zein, suaminya berada di sampingnya. Zein begitu setia menemani Rania, sampai ia tidur di sampingnya. Keduanya tidur satu ranjang di bawah selimut yang sama. Zein menyilangkan tangannya memeluk tubuh istrinya yang tengah tertidur pulas.
***Keesokan harinya.
Ada yang berbeda dari bangun paginya kali ini, saat Rania membuka matanya, yang pertama dilihatnya adalah suami dengan wajah sendu yang masih tertidur pulas.
Saat tertidur... Kau begitu tampan, Zein. Rania tampak terpesona melihat ketampanan suaminya ketika tidur.
Tangannya bergerak menyentuh hidungnya yang mancung, lalu beralih mengelus pipinya yang halus dan terakhir ia menyentuh bibir suaminya. Tiba-tiba tangan Zein menggenggam tangannya hingga membuat Rania terkejut dan berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya. Rupanya Zein sudah bangun dan merasakan setiap sentuhan halus tangan Rania, ia hanya pura-pura tetap memejamkan matanya demi menikmati setiap sentuhan lembut istrinya.
Setelah beberapa kali mencoba melepaskan genggaman tangan suaminya. Akhirnya Rania pasrah dan melemaskan tangannya.
Zein mulai membuka kedua matanya. Menyematkan senyum pertamanya di minggu pagi kepada istrinya. Begitupun dengan Rania, ia membalas senyuman itu dengan senyuman pertamanya di minggu pagi. Dua orang itu tidak berhenti saling menatap dan tersenyum satu sama lainnya di atas kasur dengan satu selimut yang sama, lalu Zein melingkarkan tangannya di samping pinggul Rania, begitupun dengan Rania, ia melingkarkan tangannya di samping pinggul suaminya.
"Sayang... Aku merasa sudah lebih baik dari kemarin. Aku ingin pulang hari ini... Yah...!" suara manja Rania membuat Zein tidak mampu menolak permintaannya.
"Hmmm... Apa kau yakin?" tanya Zein dengan nada menggoda.
"Tentu saja, aku bosan di sini." balas Rania dengan bibir manyun.
"Sayang... Bagaimana jika kita melakukannya di sini?" ucap Zein dengan semangat.
"Melakukan apa, sayang...?" Rania tampak bingung dengan ucapan suaminya.
"Tentu saja membuat anak...! Siapa tahu, jika kita melakukannya di sini. Suatu saat anak kita akan menjadi dokter." Zein terlihat antusias dan percaya diri ketika mengatakan kalimat itu, matanya melihat ke atas langit-langit kamar seolah sedang membayangkan apa yang menjadi bayangannya.
"Hahaha..." Spontan Rania tertawa mendengar perkataan suaminya yang tidak masuk akal dan mengada-ngada.
"Sayang... Kenapa kamu tertawa?" tanya Zein sambil mengerutkan dahinya.
"Kata-katamu barusan sangat tidak masuk di akal sayang... Kamu dapat teori seperti itu dari mana sih?" tanya Rania penasaran.
"Dari pemikiranku sendirilah..." dengan percaya diri Zein menjawabnya.
"Aku ada ide, sayang... Bagaimana jika kita melakukannya di dalam pesawat? Siapa tahu anak kita akan menjadi seorang pilot?" ucap Rania sambil menempelkan jari telunjuknya di dagunya seolah sedang membayangkannya.
"Hahaha... Ide bagus sayang, apa kau pernah bercita-cita menjadi seorang pilot?" tanya Zein.
__ADS_1
"Tidak... Aku sangat takut ketinggian, mana berani aku jadi pilot? Aku hanya pernah bermimpi ingin menjadi istri dari seorang pilot." jelas Rania sambil melirik matanya ke wajah suaminya.
"Jadi... Kau tidak suka dengan seorang pengusaha sepertiku, yah...?" Zein menciut ketika menyebut profesi dirinya.
"Ah... Bukan begitu, sayang. Itukan dulu, sebelum aku mengenalmu. Sekarang... Tentu saja aku bangga menjadi istri seorang pengusaha sepertimu...!" ucap Rania merayu.
Zein membalasnya dengan tersenyum, memeluknya lebih erat, lalu berkata. "Sayang... Apa kau tidak ingin pergi bulan madu?"
"Tentu saja aku ingin... Tapi." Rania menghentikan ucapannya
"Tapi apa sayang...?" Zein penasaran di buatnya.
"Aku ingin pergi ke tempat yang jauh... Jauh sekali dari sini Zein, atau kalau perlu kita pergi ke tempat di mana seseorang tidak akan mengganggu kita lagi." ucap Rania menggebu.
"Sayang... Apa kau masih takut padanya?" tanya Zein.
Rania hanya menganggukkan kepalanya dan mengerutkan bibirnya.
"Percayalah padaku... Dia tidak akan mengganggumu lagi. Dia cukup menyesali perbuatannya kemarin." Zein mencoba menenangkan ketakutan dalam diri Rania, meski sebenernya Rey masih terobsesi pada Rania.
Mendengar ucapan suaminya, Rania hanya tersenyum tenang dan memeluk erat suaminya, seolah ketenangan begitu terasa saat dirinya memeluk tubuh hangat suaminya dan melupakan segala kegelisahan hatinya.
Di bawah kekuasaannya yang hampir seimbang dengan kekuasaan Rey. Zein yakin bisa melindungi Rania. Cara terbaiknya saat ini adalah memberikan perlindungan yang jauh lebih ketat lagi untuk Rania. Baik di rumah maupun saat di luar rumah, sambil memikirkan cara untuk membuat Rey jera dan berhenti mengganggu mereka.
"Tentu saja, jika kau mau... Aku akan memberikan banyak hal untukmu." jawab Rania menyeringai seperti sebuah gombalan.
Zein tidak bisa menahan rasa bahagianya akibat ucapan Rania yang kadang selalu menjadi warna tersendiri bagi hidupnya yang selama ini datar-datar saja dan hanya mengurus bisnisnya.
"Jika aku memintamu untuk tetap tinggal di rumah dan menutup butikmu, apa kau tidak keberatan?" Zein meneruskan ucapannya.
Untuk sesaat, Rania diam tanpa suara. Ia berpikir sejenak. Pasalnya usaha butiknya, tidak hanya sekedar pencariannya. Melainkan bagian dari kegemarannya. Ia sangat suka mendesain gaun dan berbagai macam pakaian yang bisa di gunakan oleh orang lain atau untuk sekedar di pakainya sendiri. Ada rasa bangga tersendiri ketika gaun atau pakaian yang di desainnya sendiri bisa di kenakan oleh orang lain.
"Apa alasan mendasar atas pertanyaanmu barusan, Zein?" Rania ingin tahu alasan Zein memintanya untuk menutup butiknya.
"Tidak apa-apa, jika kau keberatan, kau boleh tetap bekerja!" Zein tak ingin memaksakan kehendaknya.
Sebenarnya tetap bekerja memang tidak begitu bermasalah, hanya saja... Dengan kegiatan mu pergi ke butik setiap hari, aku khawatir itu akan menjadi akses baginya memperlancar aksinya dalam upaya merebutmu dariku. Batin Zein penuh khawatir.
"Mungkin kau benar... Setidaknya dengan diam di rumah untuk beberapa waktu. Dia tidak akan menggangguku." Rania pasrah.
"Apa itu artinya kau menyetujui permintaanku?" tanya Zein terkejut dan Rania mengangguk setuju.
__ADS_1
"Sebenarnya tidak harus menutup butik, jika kau bosan di rumah, kau bisa tetap membuat desain di rumah dan tidak perlu menutup butikmu. Kau juga bisa menyuruh orang lain dan mengirimkan desain-desain mu di kantormu. Bagaimana?" usul Zein.
"Sepertinya itu lebih baik." Rania setuju.
Ting... Tong...
Bunyi suara bel menghentikan obrolan mereka di minggu pagi.
Pukul sepuluh pagi. Di minggu pagi yang seharusnya menjadi hari santai untuk Dokter Frans, ia justru harus tetap datang demi memeriksa keadaan Rania.
Selamat pagi, tuan Zein. Ini aku Dokter Frans, ingin memeriksa kondisi Nyonya Rania!!
Begitu suara Doktor Frans terdengar, Zein langsung menekan tombol merah. Lalu pintu itu pun terbuka dan bergerak ke samping.
Dengan segera Dokter Frans masuk dan memeriksa kondisi Rania.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya!" ucapan salam terdengar dari mulut dokter Frans, dan tidak lupa ia juga tersenyum.
"Pagi juga Dok." jawab Rania dengan wajah sumringah. Kedatangan dokter Frans seperti membawa semangat bagi dirinya. Ia ingin segera keluar dari tempat itu, meski ruangan yang serba nyaman dan semua kebutuhan terpenuhi. Tetap saja, ia lebih senang berada di luar dengan segala rutinitasnya.
"Kondisinya sudah semakin membaik. Jika ingin pulang, hari ini sudah bisa pulang, tuan." jelas dokter Frans.
Mendengar pernyataan dokter Frans, membuat Rania senang dan ingin segera pulang ke rumah. Begitupun dengan Zein.
"Kalau begitu aku pamit pulang, tuan!" kata dokter Frans menatap wajah Zein. Zein mengangguk. "Silahkan Dok, terima kasih sudah membantuku." ucap Zein berterima kasih.
Setelah selesai memeriksa, dokter Frans segera keluar dan kembali ke rumahnya. Hari minggu menjadi hari libur tugas baginya, hanya ketika keluarga Zein memerlukan pemeriksaan saja ia akan menyempatkan untuk datang dan memeriksanya.
Begitu dokter Frans sudah keluar dari ruangan itu, ponsel Zein berbunyi. Dengan segera ia menggeser tombol hijau di depan layar ponselnya.
Zein: Halo, ada apa Ron?
Ronald: Selamat pagi, tuan, bagaimana dengan launching apartemen di Singapura yang akan di lakukan sore hari ini?
Zein: Oh... Iya aku hampir lupa, kau saja. Yang menggantikanku! Aku tidak bisa meninggalkan istriku sementara ini. Kau atur segalanya dengan baik.
Ronald: Baik, tuan.
Zein menutup sambungannya dengan Ronald dan bergegas untuk segera kembali ke rumah bersama Rania.
*Bersambung.
__ADS_1
LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
Terimakasih. 🤗❤️