Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Perebutan lahan.


__ADS_3

*Di kantor.


Sesampainya di kantor, Ronald yang sudah lama menunggu kedatangannya di depan pintu ruangannya. "Selamat pagi, tuan, Zein?" sapa Ronald. "Pagi." balas Zein sambil berjalan memasuki ruang kerjanya yang sudah beberapa hari tidak di dilihatnya, karena sibuk menemani istrinya di rumah sakit. Ronald mengikutinya dari belakang dengan membawa berkas di tangannya.


Begitu Zein duduk di kursi, lalu menyandarkan punggungnya pada bahu kursi dan memutar tubuhnya seolah merindukan bangku yang sudah lama tidak didudukinya.


"Tuan, ini ada beberapa berkas yang perlu di tinjau perihal pembangunan perumahan yang akan kita bangun di kota A. Sepertinya ada sedikit masalah." ucap Ronald sambil menyodorkan berkas di atas meja.


"Masalah?" Mendengar kata masalah, membuatnya terkejut dan dengan segera membuka isi berkas yang ada di atas meja.


Pasalnya hampir di setiap pembangunan perumahan yang pernah di jalaninya, tidak pernah di temukan masalah apapun. Segalanya selalu berjalan sesuai dengan perencanaannya.


Sial, kenapa dia menolak berkas yang sudah ku ajukan?


Batin Zein kesal, stelah membaca, bahwa pemilik lahan telah membatalkan proposal pengajuannya untuk pembangunan perumahan di kota A yang akan dibangun olehnya beberapa bulan mendatang.


"Ron, aku tidak percaya pemilik lahan itu berani menolak pengajuanku...! Aku bahkan sudah menawarkan harga tertinggi dari yang lainnya dan dia menyetujuinya, lalu kenapa tiba-tiba membatalkannya? Meski belun terikat kontrak, tetap saja ini aneh. Aku merasa ada yang janggal di sini." Zein menekuk kedua tangannya dan menyandarkan dagunya di atas tangannya lalu bertumpu.


"Aku juga merasa ada kejanggalan di sini, tuan. Namun aku menunggu perintah dari tuan selanjutnya." Ronald mengemukakan pendapatnya yang juga sama dengan Zein.


"Yah, ini memang aneh. Jika memang dia menolak tawaranku? Hanya ada dua kemungkinan di sini, yang pertama adalah, mungkin saja ia ingin menggunakan lahannya untuk pembangunan pribadinya yang entah akan ia buat apa? Dan yang ke dua, ada orang lain yang menawarkan harga lebih tinggi dariku dan berhasil mengambil alih lahan itu." jelas Zein, sambil mencoba menerka.


"Aku sepemikiran, tuan. Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Ronald antusias.


"Sementara ini, segera kamu selidiki adakah orang lain yang mencoba mengambil alih proyek ini dengan memberikan penawaran di atas penawaranku!! Jika benar, selidiki orang di baliknya...!" perintah Zein dengan tegas.


"Baik, tuan." Mendengar perintah tuannya, Ronald pun segera pergi dan mencari tahu siapa orang di balik tersendatnya proyek pembangunan perumahan yang akan di bangun tuannya di kota A.


Entah kenapa... Dugaan-ku mengarah padanya! Batin Zein mencoba menerka siapa orang dibalik ini semua.


Sementara itu, Zein beralih dari pikirannya yang masih belum jelas kebenarannya. Ia meraih beberapa berkas di samping meja kanannya untuk di periksa.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.


Zein segera membuka ponselnya dan di lihatnya sebuah pesan singkat dari kontak bertuliskan ( Sayangku ). Yah, pesan itu dari Rania, istrinya.


Rania: Sayang... Hari ini, pulang siang atau malam?


Zein: Sepertinya aku akan pulang malam. Apa kau merindukanku? Godanya.

__ADS_1


Rania: Umm... Yah, sedikit. Balasnya singkat.


Zein: Oh... Sedikit yah? Eh... Sayang, sepertinya aku tidak jadi pulang deh malam ini.


Zein berusaha membohongi istrinya demi mengharapkan perhatian dari istrinya.


Apa dia sedang mengujiku? Ucapannya plin-plan sekali, tadi bilangnya akan pulang malam, lalu berubah lagi, tidak akan pulang. Batin Rania kesal.


Rania: hanya mengirim emoticon kesal.


Zein: Kenapa cemberut, sayang?


Lagi-lagi Zein menggodanya.


Rania: Tidak, siapa yang cemberut. Ya sudah... Pulang saja besok atau kapanpun terserah kau mau. Atau tidak pulang juga tidak masalah.


Balas Rania yang mulai kesal.


Hmmm... Bilang kangen aja susah banget sih? Batin Zein.


Zein: Baiklah kalau tidak ada yang ingin dikatakan lagi, aku akan mengerjakan beberapa tugas. Hari ini banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan. Sampai jumpa besok ya, sayang. Muach... Di akhiri dengan emoticon mencium.


Aishhh, Apa-apaan dia...? Kenapa pesannya terlihat menyebalkan...?


Rania melempar ponselnya di atas kasur setelah membaca pesan terakhir suaminya yang tampak menyebalkan baginya. Lalu ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Pffft...


Akhirnya ia pun tertidur.


*Di kantor.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan di balik pintu.


"Masuk." jawab Zein dari dalam pintu.


Ronald pun membuka pintu dan segera masuk ke dalam, ia menyerahkan berkas dan meletakkannya di atas meja kerja Zein.

__ADS_1


"Tuan, anda mungkin akan terkejut ketika tahu siapa orang dibalik tertundanya proyek ini." kata Ronald.


Mendengar pernyataan dari Ronald, tentu membuatnya semakin penasaran, tanpa menunggu lama, Zein segera membuka berkas itu dan membacanya.


Benar saja perkataan Ronald, tidak lama setelah membaca berkas itu, raut wajah Zein berubah drastis. Ia tampak marah, terlihat dari gerakan menggertakkan giginya dan tatapan matanya terlihat tajam, sambil mengepal kedua tangannya di atas meja.


Jadi, kau benar-benar membuktikan perkataan. Lakukan saja sampai kau akan merasa lelah dan menyerah! Batin Zein.


Zein menyerahkan kembali berkas itu pada Ronald, seraya berkata. "Biarkan saja, dan lihat apa yang akan di lakukaknya? Biarkan dia mengambil alih lahan yang tidak seberapa dan tidak penting bagiku itu."


"Jadi, dengan kata lain. Tuan akan menyerahkan lahan itu dan membiarkan dia merebutnya dari tuan?" tanya Ronald heran.


Tidak biasanya Zein menyerah begitu saja pada proyek yang akan dikerjakannya.


"Ya, biarkan saja! Kita tidak perlu memgambil alih lahan itu dengan menawarkan penawaran yang lebih tinggi darinya. Jika dia berpikir aku akan marah karen kekacauannya, dia salah besar. Aku bisa mencari dan mendapatkan lagi lahan untuk pembangunan proyekku di lain waktu. Tapi, dia tidak akan pernah mendapatkan kembali hati Rania, bahkan merebutnya dariku. Jika aku melayaninya, dia kan semakin senang. Namun, jika aku mengabaikannya. Itu akan memicu amarahnya. Dan akan membuatnya menyerah secara perlahan." jelas Zein dengan yakin.


"Baik, tuan." balas Ronald sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Ron, bagaimana dengan jadwalku besok?" tanya Zein.


"Besok tuan ada meeting dengan Grup Prime Food." jawab Ronald.


"Baiklah, atur semua jadwalnya. Dan, tolong beritahu aku beberapa jadwal untuk satu minggu mendatang? Jika tidak ada yang penting, aku akan membatalkannya." perintah Zein.


"Baiklah, tuan." jawab Ronald.


Ronald pun pergi meninggalkan ruangan itu, dan menyiapkan data meeting untuk seminggu mendatang yang diminta oleh Zein barusan.


Begitu Ronald meninggalkan ruangan, Zein merah ponselnya. Berharap mendapat pesan dari istrinya lagi. Begitu dilihat, tidak ada pesan apapun dari istrinya, ia pun meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


Sedang apa yah dia sekarang? Batin Zein penasaran sambil memutar ponselnya di atas meja.


*Bersambung.


Maaf ya readersku setiaku kalau akhir-akhir ini aku jarang up tepat waktu. Di karenakan sedang membuat Novel baru. Jangan lupa mampir di novel baruku ya readersku tercinta.


Judulnya ( TERJEBAK CINTA DALAM PENCARIAN). Tinggalkan like, komen, favorit, dan kasih bintang lima ya di novel baruku. Atau kalian bisa klik profilku. Di sebelah kanan ada tulisan karya, nanti akan terlihat beberapa novel karyaku.


Ceritanya di jamin seru. Semoga kalian suka. 🤗

__ADS_1


__ADS_2