
Rania menghampiri Zein, Zein pun mempersilahkan Rania masuk ke dalam mobil dengan uluran tangannya sambil menarik kedua sudut bibirnya.
Rania pun membalas senyumannya dan segera masuk ke dalam mobil.
Kini keduanya berada dalam satu mobil, namun Rania tampak diam dan hanya menatap ke samping jendela kaca mobil. Sementara itu, nampaknya Zein melihat sedikit ada perubahan di wajah Rania. Tidak bisa di bohongi, wajah Rania memang terlihat seperti habis menangis, terlihat dari kedua matanya yang sembab.
Zein adalah orang yang sangat berhati-hati dalam berucap. Kepada siapapun terlebih kepada Rania yang masih terlalu sensitif dengannya. Meski sebenarnya ia sangat ingin tau penyebab wajah istrinya yang terlihat seperti habis menangis, tapi ia lebih memilih menahannya dan bertanya dengan lebih halus.
"Rania, bagaiman hari pertamamu bekerja kembali setelah menikah?" Tanya Zein lembut.
"Tidak ada yang berubah, masih sama seperti biasanya, Zein." jawabnya pelan.
Jika kau tahu apa yang terjadi di butik tadi siang. Aku tidak tahu bagaimana reaksimu, Zein? Melihatku hampir di gendong pelayan laki-laki beberapa minggu lalu ketika aku jatuh dari tangga saja, kau sudah menunjukkan kemarahnmu. Bagaimana dengan kejadian siang tadi? Rasanya aku tak mampu membayangkan jika kalian harus bertemu tadi siang. Rania membatin penuh kekhawatiran.
"Syukurlah Rania, aku senang mendengar jika baik-baik saja." sahut Zein sambil tersenyum.
"Zein... Kita mau kemana?"
"kita akan pergi ke suatu tempat dipinggir kota dengan suasana yang lebih sejuk, kau pasti suka." Kata Zein sambil tersenyum senang. Rania hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya yang terlihat sangat tulus padanya.
Mereka masih menikmati perjalanan menuju lokasi pilihan Zein untuk Rania, selama menikah, Zein memang belum sempat mengajak Rania jalan-jalan ke tempat romantis.
"Zein..." ditengah kesunyian mereka, tiba-tiba Rania memanggil Zein dengan suara yang sangat pelan, namun Zein tetap mendengarnya dan merespon panggilan Rania.
"Iya... Ada apa Rania?" tanyanya sembari memalingkan wajahnya ke arah Rania dan menatapnya penuh cinta.
"Aku merasa, aku tidak pantas untukmu." pernyataan Rania sontak membuat Zein terkejut dan bertanya-tanya.
"Di dunia ini, tidak ada kata pantas atau tidak pantas untuk seseorang, yang ada hanyalah saling melengkapi untuk menjadikan satu sama lain menjadi pantas." ucap Zein sembari memegang wajah Rania.
Untuk kesekian kalinya, Rania merasa tersentuh dengan ucapan Zein yang terdengar menenangkan.
"Bukankah kau tahu dari awal aku tidak mencintaimu? Kenapa kau tetap menikahiku Zein?" sahut Rania.
__ADS_1
"Benar, seharusnya aku tidak memaksamu Rania, tapi entah kenapa aku percaya suatu saat kau akan mencintaiku lebih dari aku mencintamu, ini hanya soal waktu saja." ucap Zein sambil tersenyum.
Tentu saja kau akan bisa mencintaiku lebih dari aku mencintaimu, Rania. Yang pasti, ketika kau sudah mengingat semuanya. Batin Zein penuh keyakinan.
Sebenarnya hatimu terbuat dari apa Zein? Aku tidak habis pikir dengan cara pikirmu. Kau bahkan tak pernah menyakitiku sekalipun. Batin Rania menangis penuh penyesalan, terlebih ketika mengingat kejadian siang tadi yang menguras air matanya.
"Tidak apa-apa jika saat ini kau belum bisa mencintaiku, Rania. Aku akan tetap menunggumu membuka hatimu untukku." ucap Zein sambil tersenyum menatap wajah Rania.
Andai kau ingat masa kecil kita? Rania, aku sungguh-sungguh mencintaimu. Batin Zein menangis.
Zein, apa kau ini malaikat? Jika iya, sungguh aku jauh dari kata pantas untukmu. Aku bahkan terlalu hina untukmu. Tuhan tolong izinkan aku mencintainya, setulus ia mencintaiku, agar aku tak menyakitinya. Karena dia sangat tidak pantas untuk disakiti. Batin Rania ikut menangis.
Seketika, keduanya membisu dan saling menangis dalam batin, tampak keduanya menikmati keindahan alam dengan pepohonan yang rindang di sebelah kiri mobil, dan deburan ombak yang terdengar bergema ditelinga mereka.
Sementara itu, di tempat Rey.
"Cari semua informasi tentang laki-laki brengsek yang sudah merebut Rania dari tanganku...!!" perintah Rey sambil menggebrak meja dan mengepal kedua tangannya di atas meja dengan posisi masih berdiri. Wajahnya penuh dengan amarah yang mencekam hingga membuat para pengawalnya nampak ketakutan dan hanya tertunduk lalu mengangguk. Tidak ada satupun yang berani menentangnya.
*Kembali pada Rania dan Zein.
Ngiiiik... Terdengar suara mobil mengerem dengan halus, lalu memarkir di bibir pantai. Ya, rupanya Zein sengaja mengajak Rania makan bersama di sebuah pantai yang sudah dipersiapkannya sebelum mereka sampai. Terlihat ada satu meja bulat lengkap dengan dua kursi yang sudah di hias secantik mungkin dengan hiasan yang seluruhnya di dominasi dengan warna putih. Tidak lupa, Zein menyelipkan pot kaca berukuran kecil yang di dalamnya terdapat beberapa tangkai bunga mawar putih beserta daunnya, menambah keindahan dan keromantisan mereka.
"Kau sungguh menyiapkan semua ini, Zein?" Tanya Rania terkejut dengan mata yang terlihat terpesona dan pipinya yang sedikit merona dibuatnya.
"Tentu saja." jawab Zein tersenyum bangga.
"Zein..." Suaranya lirih, Rania masih tidak percaya pada suaminya, setulus dan seniat itu dalam mendapatkan hatinya.
Zein meraih tangan Rania dan mempersilahkan Rania untuk segera duduk dan disambut baik oleh Rania dengan senyuman manisnya.
Tidak lama setelah mereka duduk, para pelayan datang dengan membawa beberapa menu yang sudah dipesan oleh Zein sebelumnya. Tentu semua menu yang dihidangkan adalah makanan-makanan favoritnya dan juga Rania.
Sementara pelayan memegang nampan ya g berisi piring-piring makanan dan minuman, lalu, lalu meletakkannya di atas meja sambil tersenyum seraya menundukkan kepala dengan sopan.
Deburan ombak kecil yang mendorong dan menarik kembali pasir-pasir kecil itu seolah sedang bermain manja. Menjadi saksi keromantisan mereka, senja kala itu mulai menampakkan dirinya, memperlihatkan pesonanya yang indah di langit. Seolah tak ingin kalah, hujan pun mulai menunjukkan kehebatannya dengan menurunkan rintik hujan yang kemudian membuat Zein dan Rania terperanjat dari duduknya, berlari kecil mencari tempat untuk berteduh.
__ADS_1
Rania yang tampak menggigil kedinginan, mengusap usapkan telapak tangannya lalu bersedekap. Melihat Rania yang kedinginan, Zein berinisiatif dengan melepaskan jas yang menempel di badannya dan memakaikannya di bahu Rania hingga membuat Rania tampak salah tingkah.
"Pak surya, tolong siapkan mobil, kita akan segera pulang." perintah Zein pada supir pribadinya.
"Baik Tuan, tapi jika boleh saya berpendapat. ini sudah terlalu gelap dengan jarak yang tidak sebentar dan juga berkabut saat hujan, terlalu beresiko melakukan perjalanan." Usul Pak Surya sambil menundukkan kepalanya dengan sopan."
"Ah... Bagaimana ini? Seharusnya kita tidak pergi ke sini saat musim hujan, aku bahkan lupa untuk memprediksi cuaca." ucap Zein menyesal.
Rania tampak diam namun telinganya fokus mendengarkan pembicaraan mereka.
"Mungkin... Tidak ada salahnya jika kita bermalam di sini Zein." suara Rania menjawab kebingungan Zein.
"Apa kau tidak keberatan Rania?" Tanya Zein sambil menatap wajah Rania, kemudian Rania hanya mengangguk. Pertanda dirinya setuju.
"Tapi, aku takut membuatmu tidak nyaman bermalam di tempat yang terbatas seperti ini." ucap Zein dengan wajah ragu.
"Jika kau berpikir bahwa ini adalah tempat yang terbatas, maka kau salah Zein. Sebaliknya, ini adalah tempat yang nyaman. Aku sangat menyukai suara deburan ombak di malam hari, rasanya terdengar sangat indah seperti sebuah dongeng." balas Rania meyakinkan keraguan Zein hingga membuat Zein tersenyum senang melihatnya.
Rania tahu, Zein tidak bermaksud membuatnya terjebak di tempat yang sunyi di pesisir pantai dengan beberapa penginapan dan kafe yang terlihat minimalis namun terlihat indah dan menenangkan. Ia berusaha membuat Zein merasa senang atas segala usahanya untuk membuatnya bahagia.
*Bersambung.
Halo pembaca setia NYT 🤗
Terus dukung aku yah, dengan cara:
➡️klik suka (like)
➡️klik favorit
➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)
➡️beri tanda bintang lima
➡️tolong beri aku vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Please jangan pelit-pelit buat vote, karena dari vote kalian lah author merasa terdukung dan lebih semangat lagi buat up sebanyak-banyaknya.
Terimakasih. 🤗😊