
Begitu melihat Merry, Rania terkejut dan merasa senang karena bisa bertemu dengan Merry lagi.
"Sedang apa di sini Mer?" tanya Rania bingung.
"Oh... Aku hanya kebetulan sedang ada di sini, kebetulan ini adalah butik tanteku, sesekali aku datang ke sini untuk berkunjung." balas Merry sembari tersenyum.
"Hem... Begitu rupanya." balas Rania datar.
"Kau sendiri, sedang apa di sini? Apa kau akan melangsungkan pernikahan?" tanya Merry penasaran.
Melihat Rania sedang memilih gaun, tentu saja membuat Merry berpikir kalau Rania akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki yang semalam di lihatnya datang menjemput Rania. Malam itu Rania memang belum mengenalkan suaminya pada Merry karena pergi terburu-buru.
"Hahah... Bukan begitu Mer, sebenarnya laki-laki yang kau lihat semalam itu adalah suamiku." jelas Rania.
"Hahah... Aku pikir kau baru akan menikah." balas Merry tertawa. "Lalu, untuk apa kau mencari gaun?" imbuhnya dengan wajah penasaran.
"Sebenarnya hari ini aku ingin melakukan foto ulang pernikahanku dan suamiku Mer." balas Rania dengan wajah malu-malu.
"Oh begitu." balas Merry sembari tersenyum.
Hem... Kenapa harus foto ulang? Memangnya kenapa dengan foto pernikahan lama mereka? Aneh... Batin Merry menerka.
"Kalau begitu silahkan kau coba gaun ini, Rania." usul Merry sembari menunjuk gaun yang ada di depan Rania.
"Baiklah, sepertinya aku juga tertarik dengan desainnya." balas Rania tersenyum.
Kemudian Rania pun bergegas ke ruang ganti untuk mencoba gaun tersebut, gaun yang berwarna putih dengan aksen permata di beberapa bagian.
Setelah beberapa menit berada di ruang ganti, Rania pun keluar dengan gaun yang sudah menempel di tubuhnya.
Dengan di bantu oleh Merry mengangkat gaun tersebut, Rania berjalan mendekati Zein yang saat itu sedang fokus melihat layar ponsel miliknya.
"Sayang... Bagaimana menurutmu?" tanya Rania sembari tersenyum.
Begitu mendengar suara Rania, Zein pun langsung memalingkan wajahnya dari menatap layar ponsel lalu menatap wajah Rania yang berdiri di depannya.
Melihat Rania memakai gaun berwarna putih dengan raut wajah merah merona, membuat Zein terpukau untuk kedua kalinya sama seperti saat mereka melangsungkan pernikahan beberapa bulan lalu. Namun, kali ini sedikit berbeda karena Rania tampak jauh lebih cantik dan mempesona dengan wajah berseri, dibandingkan saat mereka menikah. Tidak ada sedikit pun senyuman yang terpancar di wajah Rania saat itu, meski baginya, Rania tetap cantik pada saat itu.
Tanpa bisa berkata-kata, Zein hanya tersenyum memandangi istrinya yang begitu cantik dan mempesona.
"Sayang... Kenapa diam? Ucapkan sesuatu? Kalau tidak, aku akan menggantinya." kata Rania sembari menunggu jawaban dari suaminya.
"Jangan sayang... Gaun ini sangat cocok untuk foto pernikahan kita, aku suka." balas Zein memuji.
Kalimat pujian yang baru saja di lontarkan suaminya cukup membuat Rania berbunga. Ia pun akhirnya memilih untuk mengenakan gaun tersebut untuk foto pernikahan mereka.
"Baiklah." jawab Rania setuju.
Kemudian Zein bergegas mengganti pakaiannya dengan jas berwarna hitam.
Setelah selesai mengganti pakaian, keduanya pun kini mulai melakukan pemotretan untuk foto pernikahan mereka. Masih di tempat yang sama, karena di tempat itu menyediakan jasa pemotretan juga.
Setelah keduanya masuk ke ruang pemotretan, lalu Merry datang dengan membawa kamera.
Rupanya Merry adalah fotografer yang akan memotret mereka.
"Oh rupanya kamu Mer, yang akan memotret kita." ucap Rania sedikit terkejut.
"Heheh... Iya nih." jawab Merry sembari tertawa kecil. "Oke siap yah." imbuhnya.
Merry mulai mengarahkan kameranya tepat di depan wajahnya dan siap membidik untuk mengambil gambar yang pas.
"bisa tolong maju sedikit Ran?" pinta Merry sembari memegang kameranya.
Merry berusaha mengarahkan gaya keduanya agar tampak serasi ketika di foto.
Rania pun mengikuti instruksi Merry dengan baik.
"Oke siap yah? Senyum..." pinta Merry sebelum akhirnya mengambil gambar mereka.
Dan seterusnya begitu saja selama beberapa kali untuk mengambil gambar terbaik foto pernikahan mereka.
Setelah selesai, akhirnya Rania dan Zein kembali mengganti pakaian mereka dan bersiap untuk pulang, foto-foto tersebut akan dikirim nanti malam ke alamat hotel milik Zein.
Sebelum pulang, Rania mengenalkan suaminya pada Merry.
"Oh ya Mer... Kenalkan ini suamiku, namanya Zein Arka." ucap Rania tersenyum sembari menggandeng lengan suaminya.
Meski tampak canggung, namun demi menghargai pertemanan istrinya, Zein pun mengulurkan tangannya pada Merry.
Lalu dengan senang hati, Merry menyambut uluran tangan Zein.
"Namaku Merry." ucap Merry memperkenalkan diri sembari tersenyum.
Tanpa menimpalinya, Zein pun hanya tersenyum membalas ucapan Merry.
__ADS_1
"Oh ya, ini kartu namaku Mer, kalau ke jakarta, jangan lupa mampir yah." ucap Rania sebelum akhirnya pergi dengan meninggalkan kartu namanya pada Merry.
Merry menerimanya dengan senang hati.
Lalu Rania dan Zein akhirnya pergi meninggalkan butik tersebut setelah selesai melakukan foto pernikahan ulang.
"Sayang, apa kau lapar?" tanya Zein, begitu sudah ada di dalam mobil.
"Hem... Sedikit sih." jawab Rania ragu-ragu karena belum terlalu lapar.
"Ya sudah makannya nanti saja." balas Zein sembari menyandarkan tubuhnya di punggung kursi mobil.
Melakukan foto pernikahan cukup melelahkan baginya.
"Sayang... Lalu kita mau ke mana lagi setelah ini?" tanya Rania sembari bergelayut manja di bahu suaminya.
"Terserah saja... Ke mana pun kau ingin pergi, aku akan mengantarmu." balas Zein sembari membelai rambut Rania.
Hem... Ke mana yah? Jalan-jalan seperti kemarin hanya akan membuat kakiku sakit, sekarang saja masih terasa sakit. Gumam rania.
"Ya sudah kalau begitu kita istirahat saja di hotel, lagi pula aku juga lelah sayang." balas Zein dengan suara yang sudah lelah.
"Ah baiklah..." balas Rania. "Hem... Aku tidak sabar melihat hasil foto kita nanti malam." lanjutnya.
"Sayang..." ucap Zein.
"Yah... Ada apa sayang?" jawab Rania.
"Bagaimana jika besok kita kembali ke Jakarta?" usul Zein.
"Apa kau sibuk, sayang?" tanya Rania penasaran.
"Ya... Ronald bilang besok ada banyak berkas yang perlu di lihat dan di tandatangani." balas Zein.
"Oh... Baiklah, lagi pula aku juga ingin cepat pulang." balas Rania.
"Memangnya kenapa sayang?" tanya Zein terkejut.
"Hem... Sebenarnya aku berencana membuka kembali butik yang sudah lama aku tutup. Boleh yah?" jelas Rania sembari membujuk suaminya agar menyetujui permintaannya.
Mendengar pernyataan dari Rania, Zein sedikit cemas pada Rey, namun ia juga tidak ingin mengekang istrinya dalam keegoisannya melarangnya dalam berkarya. Dengan keamanan yang sudah cukup ketat, Zein pikir sudah cukup membuat Rania aman meski berada di luar, lagi pula Zein yakin jika Rey tidak akan mengganggu hubungan mereka lagi.
"Hem... Boleh, tapi ada syaratnya..!" ucap Zein sembari melayangkan syarat.
"Apa?" balas Rania tergesa dan menatap wajah suaminya penuh selidik.
"Oke... Siap Bos." timpal Rania dengan gerakan memberi hormat pada suaminya.
"Hahah... Jangan memancingku di sini, sayang!" ancam Zein begitu melihat tingkah istrinya.
"Siapa yang memancing?" sahut Rania dengan wajah bingung.
"Hahaha..." Zein tertawa melihat wajah bingung istrinya.
Saat Rania sedang bingung, Zein mendaratkan kecupan singkatnya di bibir Rania. Cup
"Sayang... Malu ih dilihat orang." kata Rania sembari melirik ke arah supir yang sedang fokus mengendarai mobilnya.
"Biarlah... Kita kan suami istri." Ledek Zein.
Akhirnya mereka pun sampai di hotel dan bergegas menuju kamar mereka.
Saat keduanya sedang berjalan menuju kamarnya, tiba-tiba seseorang datang dengan pakaian rapih mendekati Zein.
"Maaf, tuan, ini ada beberapa berkas, bisa tolong di lihat dan di tandatangani." ucap laki-laki tersebut.
"Baiklah." ucap Zein sembari meraih berkas tersebut lalu di bawanya ke kamar untuk di periksa.
Rania hanya bingung melihat suaminya yang tampak sibuk.
Aku heran... Kenapa dia selalu sibuk, bahkan di sini pun masih di kejar orang untuk urusan bisnis. Batin Rania menerka.
"Pffft... Akhirnya sampai juga." ucap Rania sembari berbaring di atas kasur.
Sementara Rania merebahkan tubuhnya di atas kasur, Zein langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Begitu Zein sudah selesai mandi, Rania sudah tertidur pulas karena kelelahan.
Nah... Kalau seperti ini, kau seperti anak kecil yang imut. Batin Zein tersenyum melihat Rania dalam kondisi tidur.
Zein pun mendekati Rania dan duduk di tepi kasur lalu menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut sembari mendaratkan kecupan hangatnya di kening Rania.
Setelah itu ia beranjak dari duduknya, berjalan menuju kursi, duduk di atasnya lalu memeriksa berkas yang tadi di serahkan oleh manajernya sebelum pergi ke kamar.
Setelah selesai mengecek dan menandatangi, Zein langsung menghubungi Ronald.
__ADS_1
"Ya, tuan, ada apa?" tanya Ronald dari seberang telepon.
"Bagaimana di sana? Apa berjalan dengan baik?" tanya Zein.
"Semuanya aman terkendali tuan, tuan tidak perlu khawatir." balas Ronald dari seberang telepon memastikan bahwa semua pekerjaannya di kantor berjalan dengan baik.
"Baiklah, besok aku akan kembali, mungkin lusa, aku baru akan ke kantor." jelas Zein.
"Baik, tuan." balas Ronald.
Zein pun mengakhiri panggilannya dengan Ronald. Lalu kembali menggeser layar ponselnya dan menghubungi orang hotel untuk menyiapkan tiket keberangkatan besok pulang ke jakarta.
Setelah selesai, Zein yang merasa sudah lelah, akhirnya merebahkan tubuhnya di atas kasur bersama istrinya yang sudah lebih dulu tidur.
Setelah keduanya ketiduran, tepat pukul tujuh malam seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
Mendengar suara ketukan di balik pintu, Rania terbangun dan bergegas membuka pintu tersebut.
Seorang pelayan datang dengan membawakan bingkisan berukuran cukup besar.
"Selamat malam Nyonya, ini ada bingkisan atas nama tuan." ucap pelayan tersebut.
"Ah... Iya terimakasih." balas Rania tersenyum
Pasti ini hasil fotonya. Batin Rania menerka sembari tersenyum sendiri.
"Maaf, Nyonya, silahkan tanda tangan di sini." ucap pelayan tersebut dengan sopan.
"Baiklah." jawab Rania singkat dan segera menandatangani memo tersebut.
Setelah itu, Rania masuk ke dalam kamar dan tidak sabar membuka bingkisan tersebut.
Begitu di buka dan ternyata hasil cetakan foto tersebut hasilnya memuaskan, Rania pun mulai menampakkan senyum sumringahnya, lalu di letakkannya di atas meja.
🍀Keesokan harinya🍀
Pagi itu Zein dan Rania siap untuk kembali ke Jakarta, tanpa banyak membawa barang bawaan.
"Sayang... Apa kau tidak ingin melihat fotonya?" tanya Rania yang saat itu sedang sibuk berdandan di depan cermin.
"Aku sudah melihatnya, sayang... Sudah ku pasang di dinding kamar." balas Zein yang saat itu sedang menikmati secangkir kopi hangatnya.
"Loh... Bukannya kita akan membawanya pulang?" kata Rania dengan wajah terkejut menghentikan tangannya yang saat itu sedang menyisir rambutnya.
"Tidak perlu sayang, kita akan meminta mereka untuk mengirim kembali beberapa foto kita untuk di pasang di rumah kita nanti, yang semalam biar di pajang di kamar ini saja." balas Zein tersenyum.
"Hem..." Rania diam dan menatap ke arah dinding.
Begitu ia melihat ke arah dinding, foto pernikahan baru mereka sudah terpasang di sana.
"Inikan bukan kamar pribadi kita, sayang, untuk apa memasang foto pernikahan kita di kamar ini?" tanya Rania bingung.
Mendengar ucapan Rania, Zein pun bangun dari duduknya menikmati secangkir kopi, lalu mendekati istrinya yang sedang duduk di atas kursi meja rias, dan melingkarkan tangannya di leher istrinya, keduanya kini menatap cermin yang ada di depannya.
"Sayang... Ini kamar pribadi kita di hotel milik suamimu, jadi kau tidak perlu khawatir." ucap Zein meyakinkan.
"Hem... Kenapa tidak bilang dari awal? Pantas saja aku merasa mereka berlebihan dalam menyambut kita." balas Rania.
Zein tersenyum dan mengecup rambut bagian atas kepala Rania.
"Sayang, aku akan turun ke bawah sebentar, jika sudah selesai kau boleh menyusul dan kita akan pulang pagi ini." ucap Zein sembari meninggalkannya di dalam kamar.
"Ya." balas Rania singkat.
Rania kembali menata rambutnya di depan cermin, memoles sedikit make up di wajahnya lalu bergegas menyusul suaminya di bawah dan menghampiri Zein yang saat itu sedang duduk di sofa ruang tengah hotel.
Menyadari istrinya sedang berjalan mendekatinya, Zein bangun dari duduknya lalu merangkul pinggang istrinya dan keduanya pun bergegas menuju mobil untuk segera ke air port.
Begitu sudah berada di dalam mobil.
"Sayang... Kapan-kapan kalau aku ingin berlibur, apa boleh datang ke sini lagi?" tanya Rania sembari menatap wajah suaminya.
Mendengar ucapan istrinya, Zein pun melirik wajahnya ke arah Rania.
"Tentu saja, sayang... Tapi harus denganku dan tidak boleh pergi sendirian." balas Zein sembari tersenyum.
Rania diam dan tak menimpali ucapan suaminya dan beralih menatap jendela kaca mobil di sampingnya.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukung author ya
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
__ADS_1
Terimakasih.