Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Berlibur


__ADS_3

"Sayang... Besok mau liburan ke mana?" tanya Zein pada Rania yang saat itu berbaring di sampingnya di atas kasur.


"Ke puncak saja, sayang... Aku ingin suasana yang sejuk dan jauh dari keramaian." jawab Rania.


"Baiklah... Karena Ronald ikut, besok, aku akan meminta Ronald mengurus semuanya untuk kita." sahut Zein.


Rania menoleh ke samping dan menatap wajah suaminya sembari tersenyum.


"Sayang... Aku juga sudah menghubungi Tania untuk ikut bersama kita besok." kata Rania sambil tersenyum.


"Oh ya... Baguslah." Zein tersenyum.


Apa kau sedang berusaha menjodohkan Tania dan Ronald...? Batin Zein menerka.


Keesokan harinya.


Pagi itu, seperti biasa Rania dan Zein menikmati sarapan pagi bersama di ruang makan.


Setelah selesai sarapan pagi, Rania pergi ke kamarnya untuk memeriksa kembali barang bawaannya. Ia tidak membawa banyak barang, karena mereka hanya pergi satu hari dan menginap satu malam.


Sementara itu, Zein tampak sedang menghubungi Ronald untuk menyiapkan semuanya. Tidak butuh waktu lama bagi Ronald untuk mempersiapkan liburan yang hanya keluar kota. Terlebih Ronald hanya melakukan persiapan dalam menyewa sebuah Villa.


Begitu Rania sudah selesai, ia pun segera turun dengan membawa koper berukuran sedang.


Zein yang saat itu sedang berada di ruang tengah bersantai dan menunggu Ronald datang menjemput. Terkejut ketika melihat istrinya keluar dari dalam lift dengan membawa koper berukuran sedang.


"Sayang... Kan ada banyak pelayan di rumah ini...! Kenapa kau membawa sendiri koper itu? " ucap Zein dengan wajah sedikit kesal.


"Tidak apa-apa sayang... Aku bisa membawanya." jawab Rania di iringi senyum lebar.


"Jika kau terus bersikap seperti ini... Kita tidak akan pergi liburan...!c Zein mengancam dengan nada tegas.


Rania berjalan mendekati Zein yang sedang duduk di sofa dan duduk di samping Zein.


"Kok gitu sih?" kata Rania dengan wajah kesal.


"Bukankah sudah aku bilang, dokter Gea mengizinkanmu pergi liburan dengan syarat tidak boleh terlalu lelah. Jika kau selalu bersikap seperti itu, membawa barang berat sendiri dan sesuka hatimu, jelas saja itu akan membuatmu lelah. Tentu itu akan membahayakan kandunganmu." ungkap Zein dengan wajah yang masih kesal.


"Iya deh... Maaf, lain kali aku akan diam saja dan meminta siapapun membawakan barangku." Rania berjanji dengan wajah tulus.


Mendengar istrinya berjanji, akhirnya Zein pun merasa lega, ada raut puas di wajahnya karena berhasil mengancam istrinya.


"Sayang... Jam berapa Ronald akan menjemput kita?" tanya Rania.


"Sebentar lagi juga datang." balas Zein sambil memandangi layar ponselnya.


Melihat Zein yang tampak sibuk dengan ponselnya, Rania pun penasaran ingin melihatnya.


"kau sedang apa?" tanya Rania sembari melirik ke layar ponsel.

__ADS_1


"Tidak ada... Hanya mengecek beberapa pekerjaan kantor." jawab Zein datar.


"Oh..." Rania lalu meraih teh hangat yang ada di atas meja dan menyesapnya sedikit.


Setelah menunggu beberapa menit di ruang tengah, akhirnya Ronald datang.


"Selamat pagi, Tuan." sapa Ronald.


"Pagi." jawab Zein singkat.


Ada yang mengganggu pandangannya saat itu ketika melihat Ronald yang tetap mengenakan pakaian kerja berupa kemeja dan jas lengkap dengan celana dan sepatu kerja berwarna hitam.


"Hahah... Ron... Ron... Kau tidak perlu berpakaian resmi seperti ini...!" ucap Zein sembari tertawa kecil.


"Aku terbiasa berpakaian seperti ini saat denganmu, Tuan." balas Ronald tersenyum malu.


"Hahah... Apa kau membawa pakaian lain? Misalnya kaus?" tanya Zein.


"Ada, Tuan... Aku membawa pakaian ganti berupa kaus saat malam hari nanti." jawab Ronald dengan jujurnya.


"Ya sudah... Ganti saja bajumu dengan kaus...!" perintah Zein.


Mendengar perintah Zein, Ronald sedikit heran. Untuk pertama kalinya ia harus berada di tengah-tengah liburan mereka, di tambah harus mengganti pakaian santai. Namun Ronald tidak bisa menolaknya, ia hanya bisa mengikuti perintah Zein. Walaupun itu membuatnya canggung.


Ronald masih terdiam di depan Zein.


"Tunggu apa lagi?" ucap Zein.


"Ya... Tentu saja. Masa tahun depan." balas Zein tersenyum.


Akhirnya Ronald pun segera pergi ke toilet dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai.


Setelah selesai berganti baju, Ronald kembali menemui Zein dan segera berangkat.


Begitu Ronald keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai yaitu kaus dan celana jeans panjang. Zein dan Rania terlihat terkejut melihat penampilan yang berbeda dari Ronald yang biasanya selalu tampil rapi dengan pakaian kantornya.


"Nah... Gitu kan lebih enak di lihat." Zein memuji Ronald dengan pakaian santainya.


Rania hanya tersenyum melihat Ronald sembari memikirkan pantas saja Tania menyukainya.


Lalu ketiganya pun segera masuk ke dalam mobil.


Kali ini Zein meminta Ronald yang membawa mobilnya, sementara itu, Pak Surya dan beberapa pengawalnya berada di mobil belakang mereka.


Ronald segera memacu mobilnya, Zein dan Rania duduk di kursi belakang.


"Ron... Kita ke rumah orang tuaku dulu ya...!" ucap Rania pada Ronald.


Mendengar ucapan itu, sontak Ronald pun bingung.

__ADS_1


Rumah orang tuanya...? Apa mereka akan mengajak orang tuanya juga...? Batin Ronald mencoba menerka.


Namun Ronald tak ingin banyak bertanya dan terkesan tidak sopan. Ia hanya mengangguk setuju sembari fokus pada mobil yang di kendarainya.


"Baik, Nyonya." jawab Ronald setuju.


Tidak lama, akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Rania. Di sana hanya ada Tania dan ibunya. Sementara ayahnya sedang berada di kantor.


Begitu mendengar suara klakson mobil. Akhirnya Tania pun segera keluar di ikuti dengan ibunya Rania yang sudah tahu rencana liburan mereka.


Rania dan Zein beserta Ronald menunggu di depan gerbang.


Tiba-tiba Tania dan ibunya keluar dari gerbang.


Melihat ibunya ikut keluar, Rania membuka pintu mobil untuk berpamitan dengan ibunya begitu juga dengan Zein.


Setelah keduanya bersalalaman, mereka masuk kembali ke dalam mobil.


Sementara itu Ronald dan Tania tampak terkejut, mereka tidak menyangka bahwa mereka bisa ikut bersama. Tania masih berdiri di luar dengan wajah bingungnya. Sementara itu Ronald pun juga sama.


"Tania... Cepat masuk ke dalam mobil." ucap Rania dari dalam mobil.


"Iya kak..." Tania berjalan menuju bangku belakang mobil.


Zein sengaja memilih mobil berukuran besar demi kenyamanan Rania agar bisa tidur di dalam mobil saat lelah dalam perjalanan.


"Eh... Kau mau kemana?" tanya Rania pada Tania yang hendak masuk ke kursi belakang mobil.


"Ya duduk lah kak." jawab Tania dengan polosnya.


"Iya tahu... Tapi bukan di situ, duduklah di kursi depan bersama Ronald." perintah Rania.


Ada apa dengannya? Kenapa dia antusias sekali dengan adiknya dan Ronald. Batin Zein curiga.


"Tapi kak." Tania berusaha menolak.


"Sudah... Duduk saja di depan, kasihan Ronald sendirian di depan, hitung-hitung menghilangkan rasa ngantuk buat Ronald saat di jalan." jelas Rania sembari melirik ke arah Ronald.


Ronald hanya diam tanpa sepatah kata pun begitupun dengan Zein.


Meski merasa canggung, akhirnya Tania mengikuti perintah kakaknya dan duduk di kursi depan bersama Ronald.


Bersambung\=\=\=>


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗

__ADS_1


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


Terimakasih. 🙏🏻


__ADS_2