Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Kecemasan Rania.


__ADS_3

Begitu mengetahui Ronald sedang berada di luar pintu, Zein segera membuka pintu dengan menempelkan telapak tangannya tepat di depan layar kecil. kemudian pintu itu terbuka dan bergerak ke samping. Ronald segera masuk, lalu Zein menutup kembali pintu itu.


"Selamat pagi, tuan." Ronald menyapa sambil tersenyum.


"Ya." jawab Zein singkat.


Mereka berdua masuk ke dalam dan duduk di sebuah sofa.


"Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Zein.


"Sejauh ini masih aman, tuan." balas Ronald, lalu menyodorkan yang perlu di tandatangani di atas meja.


Zein meraihnya dan memeriksanya.


Sementara itu, Ronald diam dan menunggu instruksi dari Zein.


Lalu Rania dan perawat itu keluar dari toilet. Di depan matanya sudah ada Ronald dan suaminya yang sedang duduk di atas sofa. Namun Zein fokus pada lembaran-lembaran kertas yang ada di tangannya.


"Selamat pagi, Nyonya?" sapa Ronald dan memberi salam serta senyum.


"Pagi juga." jawab Rania tersenyum, berjalan di tuntun perawat menuju tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya.


Selesai sudah Zein menandatangani semua berkas kantor. Ia melirik ke arah Rania yang sudah meluruskan tubuhnya di atas kasur.


"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya perawat itu dengan wajah tertunduk.


"Tidak ada. Kau boleh keluar!" jawab Zein singkat.


"Baik, tuan." balas perawat itu dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Lalu Zein mengunci kembali pintu itu dengan menekan tombol merah pada remot di tangannya.


"Maaf, tuan jika boleh saya ingin menyampaikan. Proyek pembuatan apartemen di Singapura akan segera launching besok. Apakah tuan bisa hadir?" tanya Ronald untuk memastikan.


Zein diam dan tak menjawabnya. Berat baginya meninggalkan istrinya sendirian di rumah sakit. Meski tidak butuh waktu lama untuk pulang pergi antara jarak Indonesia dan Singapura. Namun tetap saja ia merasa cemas.


"Aku tidak bisa meninggalkan istriku sendirian di sini. Nanti akan aku kabari lagi, Ron." ucapnya bimbang.


"Baik, tuan." jawab Ronald.


"Kau boleh kembali ke kantor sekarang!" Zein meminta Ronald untuk kembali ke kantornya.


"Baik, tuan. Saya permisi." ucap Ronald sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya." balas Zein singkat.


Ronald pun pergi dari ruangan itu dengan membawa berkas yang sudah ditandatangani oleh Zein.


Lalu Zein bangun dari duduknya dan bersiap untuk membersihkan diri. Di ruangan yang cukup luas itu memang terdapat beberapa lemari pakaian yang di dalamnya berisi pakaian ganti keluarganya. Namun pakaian ibunya lah yang mendominasi. Dulu, sebelum di rumah orang tuanya terdapat ruang perawatan. Ibunya hampir setiap hari di rawat di kamar rawat yang saat ini sedang di tempati oleh Rania.


Selesai membersihkan tubuhnya, lalu Zein mendekati Rania dan duduk di tepi kasur. Rania diam tanpa sepatah katapun. Seolah sedang memikirkan apakah suaminya akan pergi ke Singapura dan meninggalkannya sendirian di ruangan yang cukup besar namun terasa membosankan.


"Zein... Bisakah kau membantuku mengangkat tubuhku?" pinta Rania.


"Tentu." Zein meraih kedua bahunya dan mengangkatnya dengan sangat hati-hati.


Kini Rania sudah dalam posisi duduk diatas kasur, begitupun dengan Zein yang duduk di tepi kasur dekat dengannya.


"Aku haus..." Kata Rania dengan suara pelan.


"Sebentar... Biar ku ambilkan air." Zein beranjak dari kasur untuk mengambil segelas air putih, lalu diberikan pada Rania. Dan memegangi gelas itu ketika Rania sedang meminumnya.


"Jangan Banyak-banyak, sayang... Dokter bilang hanya sedikit dan bertahap." Zein mengingatkannya dan menarik kembali gelas itu.


"Rasanya aku masih haus, Zein..." Kata Rania sambil menjilat sisa air di bibirnya dengan menjulurkan lidahnya.


"Sabar ya sayang... Setelah kau benar-benar sembuh. Kau boleh makan apapun dan aku akan mengantarkanmu pergi kemanapun kau mau...!" Zein mencoba menghiburnya, sambil tangannya membelai rambutnya.


Rania tersenyum lalu mengangguk, seperti anak kecil yang dijanjikan akan dibelikan es krim.


"Sayang... Apa kau mendengar ucapan Ronald tadi?" tanya Zein dengan suara pelan.


"Ya..." Rania hanya mengatakan Ya lalu menganggukkan kepalanya dengan bibir cemberut.


"Apa pendapatmu sayang?" tanya Zein sekali lagi.


"Pergilah dan selesaikan urusanmu...!" jawab Rania dengan nada ketus.


Zein memegang tangan Rania dan mengelusnya dengan lembut.


"Apa kau yakin, sayang?" Zein mencoba meyakinkan Rania.


Rania tidak menjawabnya dan hanya menganggukkan kepalanya. Namun genangan air di dalam matanya cukup menjawab kecemasan Zein. Zein bisa menangkap jawaban jujur Rania yang tidak ingin ditinggalkannya sendirian di rumah sakit.


Sejujurnya aku takut di sini sendirian, Zein... Meski kau tampak menyebalkan. Tapi aku merasakan ketenangan ketika bersamamu. Batin Rania sedih.

__ADS_1


Padahal Zein hanya akan meninggalkannya satu hari saja, namun ekspresinya seolah akan ditinggal dalam waktu yang cukup lama. Entah kenapa, ada rasa ketakutan mendalam yang kini mulai menyergap dirinya semenjak kejadian Rey menyekapnya hingga terjadi peristiwa penembakan dan peluru mengenai tubuhnya. Seperti sebuah trauma baru dalam hidupnya.


"Apa kau takut?" Zein mencoba menerka perasaan istrinya saat ini.


Namun Rania tetap diam dan kali ini tak ada gerakan mengangguk darinya. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya kini tumpah dan menetes hingga membasahi kedua pipinya.


Zein terkejut melihatnya menangis, untuk kali pertamanya ia melihat Rania menangis hingga meneteskan air mata di depan wajahnya.


"Ada apa sayang? Apa yang membuatmu sampai menangis?" Zein mengusap lembut air mata Rania.


Tanpa menjawab pertanyaan Zein, Rania justru langsung memeluk tubuh Zein dan mulai terdengar isak tangis dari mulutnya.


"Hiks...hiks... Aku takut, Zein... Sekarang aku benar-benar takut sendirian." ucap Rania terbata menahan tangisnya. Dan merekatkan pelukannya.


Sebelumnya Rania memang tak pernah merasakan ketakutan mendalam seperti ini, meski ibu dan ayahku sering meninggalkannya dan adiknya. Tapi kali ini terasa berbeda baginya, sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditangisi, ia malah dengan mudahnya menangis dan terlihat cengeng di depan suaminya.


"Aku tidak akan pergi, sayang... Aku akan tetap di sini menemanimu...!" Zein mengelus rambutnya dan mengecup bahu Rania.


Tiba-tiba terdengar suara dokter Frans.


"Tuan, Zein... Boleh saya masuk? Saya akan mengecek kondisi Nyonya sekarang." ucap dokter Frans.


Rania melepaskan pelukannya dan menggeser tubuhnya. Pipinya tampak basah karena air matanya yang terus menetes di. Pipinya.


"Tenangkan dirimu sayang...!" Zein mengusap halus air mata di pipinya. Memegang kedua pipinya dan memberikan senyum termanisnya untuk istrinya.


Lalu Zein menekan tombol merah pada remot di tangannya. Tidak lama pintu itu terbuka ke samping, begitu dokter Frans sudah masuk, Zein langsung menutup kembali pintu itu.


"Selamat pagi, tuan dan Nyonya." Dokter Frans menyapa dengan sopan. Rania dan Zein menjawabnya dengan senyuman.


Dokter Frans mulai memeriksa tubuh Rania dengan alat stetoskop yang menggantung di lehernya. Setelah melakukan pengecekan, dokter Frans tersenyum.


"Wah... Kondisinya sudah semakin membaik, tuan." ucap dokter Frans sambil melirik wajah Zein.


"Syukurlah kalau begitu" Zein menjawabnya sambil tersenyum, begitupun dengan Rania. Ia tampak senang mendengarnya.


***Bersambung.


➡️LIKE➡️KOMEN ➡️VOTE.


TERIMAKASIH READERSKU YANG SELALU SETIA MEMBACA KARYAKU**. 🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2