
"Sedang apa kalian?" tanya Zein dengan wajah datar.
"Hehehe... Tidak ada." jawab David sembari tersenyum kaget. Begitupun dengan Ronald, ia hanya tersenyum menyapa Zein saat itu.
Zein mendekati mereka dan duduk di sofa.
"Bagaimana hasilnya?" Zein langsung tutup poin saja menanyakan apakah Pencarian semalam membuahkan hasil.
Kali ini David diam, dalam masalah ini, Ronald-lah yang paling memahaminya.
"Tuan... " belum sempat Ronald memberikan penjelasan pada Zein, David menyela ucapannya. "Tunggu... Apa kita tidak sebaiknya mengisi perut kita dulu? Aku lapar." ucap David melirik ke arah Ronald memberikan tanda.
Menyadari saat itu Rania sedang berjalan mendekati mereka, David pun langsung menyela ucapan Ronald. Saat itu posisi duduk Zein dan Ronald menghadap dirinya dan membelakangi Rania yang sedang berjalan mendekati mereka.
Begitu David mengedipkan mata pada Ronald, Ronald mengerti maksudnya.
"Benar tuan, sebaiknya tuan sarapan saja dulu. Aku takut setelah mendengar berita dariku, selera makan tuan jadi hilang." ucap Ronald.
"Benar sayang... Sebaiknya kalian sarapan pagi dulu." ucap Rania dari belakang Zein dan sempat mengejutkan suaminya.
"Sayang... Sejak kapan kau di belakang ku?" tanya Zein sembari tersenyum.
"Baru saja." balas Rania tersenyum.
Akhirnya mereka berempat makan pagi bersama.
Selama menikmati makan pagi bersama, David dan Ronald sesekali melihat leher Rania yang dipenuhi tanda merah bekas kecupan.
Sepertinya yang di ucapkan David benar... Mereka habis bercumbu. Batin Ronald.
Cih... Dasar kau, Zein, apa semalaman tidak cukup? Sampai melakukannya hingga pagi. Batin David berdecak.
Setelah selesai menikmati sarapan pagi, Rania segera bergegas untuk ke kamarnya. Berkumpul dengan para lelaki dengan leher penuh kecupan tentu saja membuatnya terlihat malu dan tidak nyaman, meski hubungan mereka sudah sah dimata hukum.
"Sayang... Aku kembali ke kamar yah." ucap Rania sembari meletakkan sendok dan garpu di atas piring makanya.
"Tentu, istirahatlah." balas Zein tersenyum dan menyentuh lembut telapak tangan Rania.
Rania mengangguk, lalu meninggalkan ruang makan dan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Lanjutkan." ucap Zein tegas sembari melirik ke arah Ronald.
Zein terlalu penasaran ingin mengetahui hasil dari pencarian semalam dalam mencari Yina.
"Tuan, semalam kami berhasil menemukan Nona Yina, namun sayangnya aku tidak bisa membawanya pada tuan." jelas Ronald.
"Tidak bisa? Bagaimana mungkin? Di mana kau menemukannya?" tanya Zein penasaran.
"Hem... Mungkin tuan akan kecewa ketika saya mengatakan ini." balas Ronald.
"Katakan saja...! Jangan berbelit." seru Zein dengan nada mulai tinggi.
Melihat Ronald tampak gugup untuk menyampaikan berita itu, di tambah ekspresi Zein yang mulai menunjukkan kemarahan, membuat David turun tangan dan mengatakannya.
"Zein... Tenanglah, kau pasti tidak akan menyangka jika tahu pelakunya adalah orang terdekat kita." ucap David dengan wajah kecewa.
__ADS_1
Mendengar ucapan David membuat Zein diam untuk sesaat. Ia takut dugaannya adalah benar, bahwa Yina adalah pelakunya.
"Pelakunya tidak lain adalah teman kita sendiri, yaitu... Yina." David mengucapkannya dengan sangat berat.
Apa? Yina? Batin Zein terkejut.
"Kau bilang Yina?" Zein bertanya lagi untuk memastikan.
"Ya, pelakunya adalah Yina. Sudah lama dia memendam perasaan padamu, Zein, namun kau tak menyadarinya hingga ia berbuat nekat seperti ini." Jelas David dengan raut wajah kecewa, Ia sudah cukup menahan kecewa semalaman. Tidak ada alasan baginya, untuk larut dalam kekecewaan yang tidak pantas.
Bagaimana pun kedekatan suatu hubungan, jika sudah ada kejahatan di dalamnya. Maka nilai kebaikan di dalamnya akan hilang.
Zein masih tertegun diam, seolah tidak percaya dengan yang di ucapkan David barusan. Perasaannya sangat tidak karuan saat itu, kekecewaan, penyesalan, dan kemarahan yang tidak bisa termaafkan. Dalam benaknya, bagaimana mungkin Yina sanggup melakukan tindakan sekeji itu dengan meminta orang lain untuk menyakiti istri yang sangat dicintainya.
Pantas saja istrinya begitu tidak menyukai Yina yang di anggapnya sahabat. Untuk sesaat Zein merasa kecewa terhadap dirinya sendiri yang tidak mampu membedakan sikap seorang wanita.
David dan Ronald pun diam. Suasana yang untuk sesaat begitu hening.
"Bawa dia padaku sekarang juga...!" suara Zein memecah keheningan saat itu dan mengejutkan mereka.
"Tapi, tuan, saat ini Nona Yina sedang berada di tempat Rey. Dia bilang akan menyelesaikannya." jelas Ronald.
Braaaaak
"Apa maksudnya?" Teriak Zein sembari menggebrak meja makan.
"Iya, tuan, dia bilang akan mengurusnya. Aku tidak bisa memaksanya, karena jika aku memaksa, akan ada perkelahian yang tidak bisa terhindarkan melihat sifat tempramental Rey.
"Kau benar, kalau begitu antar aku sekarang juga menemuinya." Zein meminta Ronald mengantarkannya ke tempat Rey.
"Ada yang perlu aku tanyakan pada Yina." jelas Zein dengan sorot mata penuh tanya.
Tanpa menolak permintaan dari Zein, Ronald menyetujuinya. Dengan segera mereka bertiga pun kembali lagi ke tempat Rey.
"Kau pasti belum tidur semalaman, kau tak perlu mengendarai mobilnya, biar ku suruh yang lain." ucap Zein dengan tegas.
Ronald mengangguk setuju. Daripada membahayakan orang lain karena belum istirahat, pikirnya.
Akhirnya mereka pergi ke rumah Rey untuk menemui Yina. Namun sayangnya begitu sampai di rumah milik Rey. Ternyata Rey sudah pergi membawa Yina dan laki-laki itu ke kantor polisi untuk di adili atas tindak kejahatan mereka. Sehingga Zein memutuskan untuk menyusul mereka ke kantor polisi.
Begitu sudah sampai di kantor polisi. Zein berpapasan dengan Rey yang saat itu Rey hendak kembali begitu memastikan Yina berada di penjara.
Keduanya saling bertatapan dengan sinis, Rey yang merasa puas karena bisa menangkap pelaku dan lebih unggul daripada Zein tampak tersenyum getir dan memperlihatkan wajah bangganya. Namun Zein yang merasa kecewa karena justru Rey yang menangkap pelaku merasa kesal dan membuatnya hanya diam dan tak menunjukkan sikap apapun.
Menyadari mereka sedang berada di kantor polisi tentunya menjadi alasan mereka untuk tidak bertengkar di sana.
Kemudian Rey dan yang lainnya meninggalkan kantor polisi. Zein yang saat itu baru sampai, duduk di kursi dan menunggu Yina datang.
Begitu Yina datang, betapa terkejutnya ia melihat Zein yang saat itu sedang duduk di atas kursi dengan wajah kecewa dan marah.
Yina mulai mendekati Zein dan duduk di kursi. Kini mereka sudah berhadapan dengan jarak satu meter yang terhalang meja.
Meski hati Yina begitu hancur dan hina saat itu, dengan wajah tanpa riasan berbalut baju tahanan yang seadanya, kedua tangan di borgol. Yina tidak sanggup menatap wajah laki-laki yang dicintainya yang kini tengah duduk di depan dan melihat keadaannya yang tampak menyedihkan. Yina terus menundukkan kepalanya.
"Jadi... Apa alasanmu melakukan itu?" tanya Zein dengan wajah kecewa.
__ADS_1
Yina diam tanpa bicara dengan wajah yang masih tertunduk menahan malu.
"Aku tidak perduli bagaimana keadaanmu kini?" Deg... Kalimat yang terlontar dari mulut Zein saat itu begitu menusuk hati Yina yang bahkan sedang rapuh karena harus mendekam di jeruji besi atas cintanya pada Zein.
"Aku datang bukan untuk melihat wanita yang sudah berusaha menyakiti istriku tanpa nurani. Satu-satunya yang membuatku datang adalah ingin tahu apa alasanmu?" jelas Zein dengan nada sinis.
Ronald menunggu di luar. Sementara David duduk di samping Zein dan hanya mendengarkan tanpa bicara.
Yina tetap membisu dan tak menjawab pertanyaan Zein, hingga membuat Zein kesal dan malas berada di dekat wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu.
"Baiklah, apapun alasanmu, kini aku tidak perduli dan jangan pernah menganggapku teman lagi...! Karena aku tak butuh teman sepertimu dan aku menyesal pernah mengenalmu." jelas Zein dengan nada kesal.
Kemudian Zein berdiri dan menggeser kursinya lalu berjalan meninggalkan Yina yang masih diam membisu.
"Aku kecewa padamu, Yina." ucap David dan berlalu menyusul Zein.
"Kaulah penyebab semua ini...!" ucap Yina lirih menahan kesedihannya, air matanya pun kini jatuh membasahi pipinya.
Mendengar ucapan Yina membuat Zein dan David menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap wajah Yina yang terisak tangis.
"Kau yang tidak pernah menyadari perasaanku, hingga aku tersiksa atas perasaanku sendiri, aku marah dan cemburu setiap kali melihat istrimu dekat denganmu, aku sangat membencinya karena bisa memilikimu, karena itulah aku melakukan semua ini." Yina mengungkapkan semua isi hatinya pada Zein sebelum Zein benar-benar meninggalkannya yang mungkin tidak akan pernah mau menemuinya lagi.
Mendengar pernyataan dari Yina membuat Zein terpukul, ia kecewa karena sebab dirinya yang tidak peka menyadari perasaan Yina hingga tanpa sadar bisa mencelakai istrinya. Zein tidak sanggup meski untuk menatap wajah Yina.
"Seharusnya kau mengatakannya dari awal atas perasaanmu meski aku tetap tidak akan pernah bisa menerimamu." ucap Zein membelakangi Yina.
"Jika aku mengatakan dari awal, kau pasti akan menjauhiku." balas Yina sambil meneteskan air mata.
"Setidaknya itu lebih baik, dari pada kau harus mendekam di penjara seperti saat ini." timpal Zein.
"Kau tidak akan pernah mengerti, Zein" balas Yina.
"Aku mengerti Yina, aku sangat mengerti, aku pernah mencintai dan tak berbalas, namun aku tidak pernah berbuat kasar ataupun keji seperti dirimu." balas Zein.
Mendengar pernyataan Zein, Yina diam dan tak menimpalinya.
"Semoga kau menyesali atas perbuatanmu di sini." Zein mengucapkan kata terakhirnya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Yina.
"Ronald, kita pulang sekarang...!" perintah Zein pada Ronald.
"Baik, tuan." Ronald menunduk sopan.
Lalu ketiganya pergi meninggalkan tempat itu.
Saat itu, hati Yina benar-benar hancur karena harus berakhir di penjara akibat perasaannya yang tak berbalas.
Namun nasi sudah menjadi bubur. Kini Yina harus menerima hukuman atas perbuatannya dan menyesalinya.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukung author dengan cara
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE
Terimakasih. 🤗
__ADS_1