
Sebelum membaca, mohon dukungannya yah readersku tericnta. 🤗
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL BARUKU BERJUDUL
➡️TERJEBAK CINTA DALAM PENCARIAN.
💕Keesokan harinya💕
Selesai menyantap sarapan pagi, mereka segera pergi menuju resort milik Yina. Ya, Yina pemilik resort sekaligus teman dekat Zein sewaktu mereka kuliah di london.
Tidak perlu membawa banyak barang untuk pergi ke sana. Karena jarak yang begitu dekat, hanya butuh waktu satu jam untuk bisa sampai ke pantai itu. Mereka juga hanya akan bermalam satu malam saja, tidak untuk berlama-lama. Kepergian mereka tidak bisa di katakan bulan madu, hanya untuk sekedar melepas kejenuhan Rania dan menemui kawan lama Zein di sana. Mereka sebenarnya merencanakan bulan madu, hanya saja kondisi Rania belum sepenuhnya pulih, jadi mereka memutuskan untuk pergi berlibur ke tempat terdekat saja.
Begitu keduanya sudah memasuki mobil.
Zein terus memegang tangan istrinya selama berada di dalam mobil. Dan sesekali ia melirik istrinya yang tampak cantik kala itu dengan gaun putih selutut kaki dan bagian dada dengan aksen renda. Selama beberapa menit mereka diam dalam perjalanan. Hingga Zein memulai percakapan.
"Kenapa wajahmu tidak bersemangat?" tanya Zein sambil menatap wajah istrinya yang tak pernah bosan untuk dipandang.
Sementara itu, Rania tampak biasa saja dan terkesan tidak bersemangat untuk berlibur ke pantai.
"Tidak ada temanku di sana, jadi untuk apa aku bersemangat." jawab Rania datar, tanpa menoreh ke arah Zein sama sekali. Matanya hanya fokus pada pemandangan di samping jendela kaca mobilnya, sambil menyandarkan kepalanya.
"Bukankah ada aku? Kau tidak perlu merasa kesepian, sayang. Aku tidak akan mengabaikanmu di sana." balas Zein meyakinkan.
Mendengar itu, Rania langsung memalingkan wajahnya dan menatap wajah suaminya yang sedari tadi memandangi wajahnya dengan senyum.
"Kau tidak boleh mengabaikanku sedikitpun di sana..! Janji?" ucap Rania sambil manyun.
"Hahaha... Tentu saja. Aku tidak akan mengabaikan istriku yang cantik ini." Kata Zein sembari menyipitkan mata kanannya, lalu tersenyum.
"Nah... Kau mulai membual lagi." sembari menunjuk dengan telunjuk ke arah suaminya lalu tersenyum meledek.
Keduanya larut dalam percakapan penuh canda dan tawa. Sampai akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka.
"Selamat datang Tuan, Zein." sapa pelayan di depan pintu masuk Resort. Zein membalasnya dengan tersenyum begitupun Rania.
Keduanya masuk ke dalam di antar oleh pelayan yang sudah di siapkan oleh Yina dan mengantar Zein dan Rania ke kamar untuk mereka bermalam.
Zein juga sudah memberitahukan dirinya akan liburan di pantai untuk satu malam pada Ronald, sekertaris pribadinya. Sehingga Ronald tidak akan mengganggunya dengan menghubunginya ketika sedang liburan di pantai.
Begitu sudah masuk ke dalam kamar, Rania tampak sedang berdiri memandangi jendela kaca yang langsung mengarah pada pantai. Ia tampak begitu menikmati keindahan pantai.
__ADS_1
Sayang sekali cuacanya terik... Kalau tidak, aku pasti sudah bermain air. Batin Rania.
Sementara itu Zein sedang menaruh beberapa barang yang di bawanya di atas meja.
Baru saja mereka sampai di kamar, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
"Siapa?" tanya Zein.
"Ini aku, Zein... Yina." jawab Yina dari luar pintu.
Cih... Dasar wanita centil. Baru sampai sudah mendatangi laki-laki. Rania membatin antara kesal dan cemburu.
"Oh... Kau rupanya, masuklah!" ucap Zein dari dalam kamar.
"Baiklah aku masuk." Balas Yina sambil membuka pintu lalu masuk ke dalam.
"Selamat datang, Zein. Bagaimana kabarmu?" tanya Yina sembari tersenyum manja.
"Hahaha... Tentu saja baik... Kalau tidak, aku tidak akan ada di sini." jawab Zein tertawa.
Rania tampak tidak bergeming dari pandangannya ke arah laut di depan jendela kaca. Ia hanya mendengarkan tanpa melihat atau menatap wajah Yina. Sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.
"Sayang... Kemarilah." pinta Zein pada Rania.
"Halo, Rania... Bagaimana kabarmu?" sapa Yina dengan nada riang sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Huh... Manis sekali bicaranya. Batin Rania.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja." balas Rania datar.
Yina hanya tersenyum getir menanggapi jawaban Rania.
Sombong sekali dia...? Batin Yina.
"Oh... Acara kumpulnya nanti malam. Tapi jika kau ingin menemui David. Kau bisa ke kamarnya. Dia ada di kamar no sepuluh. Dan yang lainnya aku tidak tahu." jelas Yina tersenyum manis. Seolah ingin menunjukkan kecantikannya pada sahabat sekaligus orang yang dicintainya diam-diam.
"Oh ok... Nanti aku akan menemui David setelah ini." jawab Zein.
"Baiklah, aku pergi, silahkan kalian nikmati waktu romantis kalian." ucap Yina meledek.
"Hahaha... Bisa saja kau Yin." sahut Zein.
Akan lebih romantis tanpa kau di sini. Dasar wanita centil. Gerutu Rania di dalam hati.
__ADS_1
Akhirnya Yina pun pergi.
"Sayang istirahatlah... Kau pasti lelah dalam perjalanan." bujuk Zein, sembari memegang bahu Rania.
"Aku tidak lelah, Zein... Untuk apa kita ke sini kalau hanya untuk tidur." jawab Rania kesal sambil manyun.
"Ah... Iya kau benar sayang. Lalu... Apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Zein menggoda. Tertawa manis mengarahkan wajahnya di depan wajah Rania.
"Ma... Maksudku bukan itu, Zein. Paling tidak kita berkeliling di area ini. Kita kan belum sempat berkeliling." balas Rania.
"Ah... Ide bagus. Kalau gitu mari kita berkeliling, tapi cuaca sangat terik sayang." sambil membelai pipi Rania. "Aku hanya takut kau kelelahan karena cuaca yang begitu terik. Kau kan baru sembuh dari sakit." Zein menjelaskan alasannya meminta Rania istirahat.
Rania diam tanpa jawaban dengan wajah cemberutnya. Tiba-tiba Zein menggendong tubuhnya dan meletakkannya di atas ranjang.
"Zein... Kau mau apa?" ucap Rania tersenyum malu berada dalam gendongan suaminya.
Zein bergegas mendekati pintu lalu menguncinya.
Ia kembali mendekati istrinya yang tengah berbaring di atas ranjang. Duduk di tepi ranjang dekat dengan istrinya.
"Sayang..." Zein memanggil Rania sambil mengedipkan mata kanannya.
"Matamu kenapa, Zein?" tanya Rania menepis rasa takutnya kala melihat wajah suaminya. Aura wajah yang pernah dilihatnya beberapa waktu lalu di rumah nya.
Lalu Zein membuka kaosnya hingga menampakkan otot-otot di dadanya yang begitu terlihat sempurna.
Eh... Dia mau apa? Ini masih terlalu pagi... Bukankah dia yang menyuruhku untuk istirahat. Inikah maksud dari kata istirahatnya? Batin Rania ketakutan.
Pasalnya ia saat ini sedang berada di Resort milik Yina. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman jika harus melakukannya di sana.
Setelah kaosnya terbuka, kini Zein membuka celana pendeknya. Baru saja tangannya meraih rel sleting celana pendeknya. Tiba-tiba Rania menghentikannya dengan memegang tangan Zein seraya berkata.
"Sa... Sayang... Ini bukan di rumah. Apa kau tidak takut ada kamera tersembunyi?" Rania mencoba mengulur waktu.
"Sayang... Bukankah kau bilang ingin ke pantai? Jadi... Ku pikir kau ingin melakukannya di pantai?" jawab Zein menggoda dengan tatapan penuh hasrat.
Rania tidak bisa berkutik dan beralasan lagi.
"Ummm... Tapi bagaimana jika ada kamera yang mengawasi kita, sayang?" tanya Rania lagi sambil menyapu pandangannya ke sekeliling kamar.
"Tidak ada sayang... Aku sudah memastikannya sebelum kita kemari. Lagi pula, beberapa kamar khusus di sini, tidak akan terpasang kamera." jelas Zein. Masih dengan tatapan memangsa.
Ah... Baiklah aku pasrah. Lagi pula mama mertua sudah ingin segera memiliki cucu. Batin Rania sambil mengingat ucapan Evelin tempo hari ketika mendatanginya.
__ADS_1
💞Bersambung💞