Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Kebiasaan Zein


__ADS_3

Setelah menentukan pilihan, Rania bergegas untuk menemui Zein. Ia melangkahkan kakinya dengan santai, membuka pintu kamar dan menuruni beberapa anak tangga. Begitu sampai di bawah, ia tidak melihat Zein di manapun. Mengitari ruang demi ruang di Rumah Zein membuat Rania lelah hingga akhirnya menyerah dan memilih bertanya pada Bibi Rossi atau biasa dipanggil Bibi Ros.


"Bi...!" Suaranya terhenti ketika Rania bingung harus memanggil apa, karena sejak masuk di Rumah Zein. Zein tidak pernah memperkenalkan satu per satu dari sekian banyaknya pelayan perempuan maupun laki-laki di rumahnya.


Rania melirik Name Tag yang terlihat menempel di dada sebelah kiri Bibi Rossi. Terpampang jelas sebuah nama yang bertuliskan (Rossi). Zein memang sengaja memberikan Name Tag untuk selalu dipakai oleh para pelayannya demi memudahkan Rania ketika memanggil mereka. Kemudian tanpa ragu, Rania mulai melanjutkan pertanyaannya.


"Bibi Ros, apa Bibi melihat di mana Zein saat ini? Aku tidak melihatnya sepanjang mataku melihat di ruangan ini." Tanya Rania dengan wajah bingungnya.


"Oh, Tuan Zein sedang ada di perkebunan belakang Nyonya." Jawab Bibi Rossi sambil menundukkan kepala.


"Hmm begitu, baiklah. Terimakasih Bi." ucap Rania disertai senyum lebar.


Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari Rumah, seketika matanya terbelalak berdecak kagum melihat area luar rumah Zein yang dipenuhi bunga yang begitu indah, terutama kedua sisi jalan beraspal menuju pintu gerbang yang dipenuhi dengan bunga bugenvil berwarna ungu dan pink, tak ketinggalan ada bunga matahari dan bunga mawar yang berada berdampingan. Sementara itu terdapat juga pohon bonsai korea dari ukuran kecil hingga besar berjejer memutari Rumah yang luas itu.


Matanya berdecak kagum melihat bunga-bunga nan cantik berjejer dengan sangat teratur. Sepanjang jalan beraspal menuju pintu gerbang yang panjangnya hingga 50 meter. Zein sengaja mendesain Rumahnya sesuai dengan apa yang di sukai Rania, Zein tahu bahwa Rania sangat suka dengan bunga-bunga yang berwarna cantik, terutama bunga Mawar. Untuk itulah setahun terakhir sebelum menikahi Rania, ia sengaja menanami area rumahnya dengan bunga-bunga cantik layaknya taman bunga.


Sementara sisi-sisi jalan beraspal itu nampak rerumputan berwarna hijau segar sepanjang mengitari area Rumah milik Zein hingga berakhir di sudut tembok yang mengitari seluruh area Rumah Zein. Seketika setelah memandangi bunga-bunga dengan decak kagum.


Ia melangkahkan kakinya menuju jalan beraspal lalu mendekati sisi kiri yang dipenuhi dengan bunga dan sesekali tangannya menyentuh bunga bugenvil berjalan pelan membelainya dengan lembut. Sampai tangannya terhenti ketika mendengar suara tapak yang terasa semakin kencang mendekatinya. Ia mengangkat kepalanya dari posisi menunduk, dilihatnya dari jauh seseorang sedang menunggangi kuda berusaha mendekatinya.


Apa aku sedang berada di negeri dongeng? Kuda putih itu... Apa itu sungguh pangeran berkuda putih ...? Batin Rania heran.


Ia mengedipkan matanya berkali-kali demi memastikan bahwa ia tidak salah lihat, lalu kedua telapak tangannya menepuk pelan kedua pipinya demi memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.


Saat ia menggelengkan kepalanya tiba-tiba terdengar suara.


"Naiklah...!!"


Seketika berhenti menggelengkan kepala dan menatap penunggang kuda yang dikiranya sebagai pangeran berkuda putih, ternyata tidak lain pria itu adalah suaminya, Zein Arka.


Sontak ia memalingkan wajahnya sambil menggigit tipis bibir bawahnya. Ada sedikit rasa malu bercampur kesal di raut wajah Rania.

__ADS_1


"Untuk apa aku harus naik?" Bantah Rania kesal. Bagaimanpun Zein telah mematahkan lamunannya tentang pangeran berkuda putih dalam dongengnya sewaktu kecil.


"Hahahaha..." Seketika Zein tertawa melihat wajah kesal Rania.


"Jika kau berpikir di dunia ini masih ada pangeran berkuda putih, seperti di dalam dongeng kecilmu, maka akulah pangeran berkuda putihmu..! Bukankah sebelum aku mendekat, kau tampak tersenyum melihatku?" Zein berusaha meledek.


Sial, kenapa dia semakin menyebalkan saja. Bodoh sekali kamu Rania, kenapa kamu masih percaya dengan dongeng konyol itu? Batin Rania kesal karena ekspresi wajahnya berhasil membuat Zein menertawakannya.


"Jangan terlalu pede menyimpulkan ekspresi wajahku lalu tertawa!! Suara kudamu itu sangat menggangguku, bagaimana mungkin aku tidak terkejut...?" ucap Rania kesal.


Mendengar perkataan Rania seolah mengusik si Ponny, hingga memalingkan wajahnya menatap wajah Rania, seolah mengerti akan yang di ucapkan Rania.


Oh tidak.. Kau tidak sungguh-sungguh menggangguku. Orang yang menunggangimu-lah yang menggangguku. Batin Rania takut.


Zein tersenyum senang karena berhasil membuat Rania malu dihadapannya. Lalu ia turun dari kuda sambil mengelus rambut kuda kesayangannya itu.


"Terimakasih sudah bermain sebentar denganku, Ponny, kau istirahatlah dengan baik dan makan yang banyak!! Persiapkan dirimu, sebab nanti kau akan terbiasa membawa dua beban tubuh." Ucap Zein pada si Ponny, sambil melirik mata ke wajah Rania.


Kemudian si Ponny menatap kembali wajah Rania, seolah mendengar gerutu Rania di dalam hati.


Ah tidak, maksudku, mungkin lain kali aku akan ikut denganmu. Tapi tanpa Tuan-mu itu! Ah... Dia dan kudanya sama-sama menyebalkan. Gumamnya kesal.


Sementara itu Zein menyerahkan tali kuda yang tengah dipegangnya pada pelayan khusus yang biasa mengurus Ponny. Di tengah-tengah kesibukannya bekerja, Zein kerap menghabiskan waktunya untuk menyempatkan hobinya berkuda.


Ia mulai mendekati Rania dengan senyum menawannya, sambil merapikan rambutnya yang berantakan akibat menunggang kuda.


Tanpa sadar, Rania memandangi wajah Zein yang mulai mendekatinya. Dalam benaknya Zein kala itu seperti pangeran berkuda putih yang sedang mendekatinya. Wajar saja jika Rania terpesona. Tidak bisa dipungkiri, wajah Zein memang tampan. Badannya tinggi kekar, ditambah hobi berkuda-nya yang menjadikannya semakin terlihat berkarisma.


"Jadi kau sudah menentukan mau pergi kemana? Atau kau ingin berkeliling dunia bersamaku?" Tanya Zein diiringi senyum tipis.


"Ini...!" Rania menyodorkan stiker dengan gambar menara besar nan menjulang tinggi pada Zein.

__ADS_1


"Oh jadi hanya ini? Apa kau tidak ingin pergi ke korea setelahnya? Kudengar saat ini sedang musim salju. Itu baik untuk kita yang baru menikah..!" Zein mencoba merayu Rania dengan sedikit meledek.


Bicara apa dia? Awas saja jika dia berpikir mesum? Gumam Rania sambil memperingatkan.


"Jangan bicara yang membuatku ingin membatalkan untuk pergi..!" Ucap Rania kesal dengan nada memperingatkan.


Zein hanya membalas senyum ucapan terakhir Rania yang kemudian meninggalkannya pergi memasuki rumah. Meski segala upayanya untuk menaklukan hati Rania tampak sia-sia dan selalu berujung membuat Rania kesal. Ia tak pernah menyerah atau bahkan marah atas sikap ketus Rania terhadapnya. Sebenarnya bisa saja ia bersikap kasar dan memaksa Rania untuk bisa mengikuti kemauannya. Tapi dia bukanlah orang seperti itu. Dia tidak ingin membuat Rania semakin membencinya dengan cara memaksa.


Sesampainya di kamar, Rania merebahkan tubuhnya dengan posisi melebarkan kedua tangannya.


"Pffffft... Rasanya bosan sekali disini" Rania mendesah, lalu memiringkan kepalanya kemudian melihat benda kecil yang berada di dalam kotak kaca berukuran kecil. Rasa ingin tahunya kembali menyeruak. Segera ia bangun dari tidurnya dan mendekati lemari kaca berukuran besar yang menyimpan banyak benda-benda antik termasuk benda kecil yang pernah dilihatnya waktu pertama kali masuk ke kamar Zein.


Saat tangannya berusaha untuk membuka pintu kaca dan mulai meraih kotak kaca, tiba-tiba suara pintu terbuka mengagetkan Rania hingga membuatnya tidak jadi meraih kotak kaca berukuran kecil itu.


Bersambung.


Halo pembaca setia NYT 🤗


Terus dukung aku yah, dengan cara:


➡️klik suka (like)


➡️klik favorit


➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)


➡️beri tanda bintang lima


➡️beri aku vote dan tip nya ya biar makin semangat nulisnya.


Terimakasih semuanya. 🤗😊

__ADS_1


__ADS_2