Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Suara di balik panggilan


__ADS_3

Pagi itu, di meja makan, tampak kaku antara Zein dan Rania, keduanya sama-sama diam selama menikmati sarapan pagi mereka, Tiba-tiba.


Drtttt...drttt...


Terdengar bunyi dan getaran dari smart phone milik Rania, dilihatnya layar smart phone miliknya, dan terlihat panggilan itu dari melly, asisten pribadinya di butik.


Ada apa dia memanggilku pagi-pagi begini? Batin Rania heran. kemudian dengan cekatan tangannya menggeser tombol berwarna hijau.


"Iya, halo mel, ada apa?" Tanyanya penasaran.


Sambil memegang sendok dan garpu, sesekali Zein melirik dan mengamati wajah Rania. Karena sejak ia menikah dengan Rania, hampir tak pernah melihat Rania menerima panggilan telepon selama sedang di rumah. Namun ketika mendengar Rania menyebut nama mel, batinnya sedikit lega, Pikirnya, ia menerima panggilan dari seorang wanita bukan pria.


Selamat pagi bu, emm... apa hari ini ibu bisa ke butik? Karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan Ibu secara langsung, katanya. Ujar melly dari seberang telepon.


"siapa Mel?" tanya Rania.


"Tidak tahu bu, hanya memberi inisial Mr. R." Jawabnya dari seberang telepon. Seketika Rania diam. Sebelumnya tak pernah ada yang datang dengan menyebutkan inisial.


"Apa orangnya saat ini ada di sana, Mel?" Tanya Rania sekali lagi.


"Iya Bu, katanya ingin menunggu Ibu." sahut Melly.


"Tapi aku tidak suka membuat orang lain menunggu, Mel. Bilang saja siang atau sore kembali lagi, atau tinggalkan pesan saja, bila perlu buat janji bertemu besok. Jadi aku bisa menunggunya di butik, tanpa harus membuatnya menunggu." Ucap Rania.


"Sebentar Bu, biar saya tanyakan padanya."


Sambil menunggu, Rania mendengarkan dari seberang telepon.


"Tuan, maaf, Ibu bilang tinggalkan saja pesan atau Tuan bisa kembali lagi siang atau sore ini. Atau mau saya buatkan janji dulu dengan Ibu? " Dengan sopan Melly menjelaskan.


"Tidak perlu, aku akan tetap menunggunya." Jawabnya singkat.


Suara itu... Rania membatin seolah mengenal suara di seberang sana, namun Ragu.


"Tapi perjalanan dari Rumah ke butik, kurang lebih memakan waktu 1 jam Tuan." Jelas Melly lagi.

__ADS_1


"Saya bilang, saya akan tetap menunggu." Sahutnya tegas, masih dengan kalimat yang sama.


Mungkinkah...? Rania kembali membatin, masih dengan kecemasan yang sama.


Rania yang masih tersambung dari balik telepon, mendengar cukup jelas pembicaraan mereka berdua, Kemudian Rania kembali bicara.


"hmmm... Baiklah, hari ini aku akan ke butik, kebetulan sudah lama gak ke butik." Ujar Rania.


Kemudian Rania mengakhiri panggilan. Wajahnya sedikit berubah dari sebelum menerima panggilan. Zein nampak penasaran ingin mengetahui apa isi dari panggilan tersebut. Kenapa mendadak wajah Rania berubah setelah menerima panggilan tersebut, terlihat raut wajah yang nampak bingung dan bertanya-tanya.


"Ada apa?" Zein bertanya dengan wajah serius.


"Mmm... Gak ada apa-apa, tadi si melly telepon dan minta aku ke butik." jawab Rania datar.


"Oh... Ya sudah, nanti kita berangkat bareng. Aku antar kamu ke butik dulu, baru aku pergi ke kantor." kata Zein tegas, Rania hanya mengangguk.


Setelah selesai sarapan, keduanya berjalan menuju mobil yang sudah diparkir dengan sempurna. Zein membukakan pintu untuk Rania masuk lebih dulu. Sementara itu pelayan di sebelah kiri juga bersiap membukakan pintu untuk Zein seraya menundukkan kepala memberi hormat.


"Jadi apa rencana-mu hari ini di butik?" Tanya Zein penasaran.


Rania menatap jendela kaca, menengadah ke atas langit, menempelkan siku nya pada sisi mobil dan menempelkan punggung telapak tangannya di dagu, sebagai tumpuan kepalanya.


"Sepertinya kau tampak gelisah?" Zein bertanya sambil melirik Rania yang tampak gelisah.


Namun Rania tak menjawabnya, karena ia tak mendengar pertanyaan Zein.


"Apa yang membuatmu gelisah?" Sekali lagi Zein bertanya.


"Ya... Kenapa?" bukannya menjawab, Rania justru bertanya pada Zein, seolah dirinya tidak mendengar.


Dan untuk ketiga kalinya Zein bertanya. "Apa yang membuatmu gelisah, Rania?"


"Ah... Tidak ada Zein, aku hanya berpikir, pasti banyak pekerjaan menanti, karena sudah seminggu lebih aku tidak ke butik." Jawab Rania sambil tersenyum.


"Aku pikir kenapa, santai saja! Jangan terlalu di anggap beban, jika kau mau, kau tak perlu repot-repot mengurus butik lagi, istirahat saja di rumah..!!" sambil tersenyum, Zein mengucapkannya dengan tenang. "Ah... Tidak apa-apa Zein, aku tidak suka berdiam diri tanpa mengerjakan apapun." Sahut Rania sambil tersenyum.

__ADS_1


Setibanya di butik, Rania segera turun. "Zein aku ke butik ya, sampai bertemu di rumah." dengan tergesa Rania keluar dari mobil dan memberi salam pada Zein, hingga membuat Zein tak memiliki kesempatan untuk bicara sedikitpun. Hmmm, baiklah sampai bertemu di rumah. Batin Zein.


Dari dalam mobil, nampak Rania begitu terburu-buru masuk ke dalam butik, melihat ada beberapa mobil sedan berwarna hitam berjejer di depan butik, cukup membuat Zein penasaran. Beberapa mobil mewah itu, sepertinya bukan orang biasa. Batin Zein penasaran. Ia memilih menunggu sampai mobil-mobil mewah itu pergi, baru ia melanjutkan perjalanannya ke kantor.



Trrrd...trrrd...


Terdengar bunyi dan getaran di saku kiri bagian dalam jas, (Ronald memanggil). Dengan segera, Zein menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan smart phone miliknya tepat di bagian telinga kanannya. "Iya, Ron, Ada apa?" Tanyanya singkat. "Selamat pagi Tuan, sebentar lagi rapat segera di mulai. Hari ini ada Rapat penting. Apa Tuan sudah membaca pesan dari saya semalam?" Suara sekertaris Ronald dari seberang telepon. Ah iya, semalam aku lupa membaca pesan darinya. Batin Zein mengingat, karena terlalu asik ngobrol dengan Rania, ia sampai lupa membuka pesan dari Ronald. "Tunggu sebentar, saya masih dalam perjalanan." tegas Zein, sambil memerintahkan supirnya untuk segera berangkat menuju kantor.


Semoga harimu indah, Rania. Batin Zein merapal doa untuk Rania, lalu bergegas pergi.


Sementara itu, di luar butik nampak beberapa orang sedang berjaga bak body guard. Dengan setelan tiga potong lengkap dengan kacamata hitam yang menempel menutupi bagian mata.


Rania tampak heran, matanya melirik satu persatu orang-orang yang bertubuh kekar, tinggi dan juga besar menatap dengan pandangan lurus.


Bangsawan dari mana yang ingin memesan gaun di butik kelas bawah sepertiku. Rania membatin. Kemudian pandangannya beralih ke dalam butik, nampak seseorang sedang berdiri membelakanginya, dengan setelan tiga potong berwarna silver. Menyimpulkan kedua tangannya di bagian belakang. Ada raut cemas di wajah Rania. Ia masih memandangi laki-laki bertubuh kekar itu dari atas kepala sampai ujung kaki. Bersamaan dengan kecemasan di wajahnya, jantungnya ikut berdebar tak beraturan. Sekilas ingatannya seperti kembali ke masa lalu.


*Bersambung.


Halo pembaca setia NYT 🤗


Terus dukung aku yah, dengan cara:


➡️klik suka (like)


➡️klik favorit


➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)


➡️beri tanda bintang lima


➡️beri aku vote sebanyak-banyaknya.


Please jangan pelit-pelit buat vote, karena dari vote kalian lah author merasa terdukung dan lebih semangat lagi buat up sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Terimakasih. 🤗😊


__ADS_2