Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Mandi bersama


__ADS_3

Akhirnya Zein dan Rania sudah sampai di rumahnya. Seperti biasa, Zein selalu ingin menggendong istrinya ketika di rumah. Rania sudah terbiasa dengan hobi suaminya itu, menolak dan meronta pun tidak akan berhasil melawan tubuhnya yang besar. Untuk itu, Rania memilih diam dalam gendongan suaminya.


Sesampainya di depan pintu rumah, dengan segera Zein menggendong tubuh istrinya yang mungil itu menaiki setiap anak tangga ke lantai dua, kemudian seorang pelayan yang berdiri di depan pintu kamarnya membukakan pintu kamarnya.


Setelah masuk ke dalam kamar, Zein meletakkan tubuh istrinya di atas kasur.


"Sayang kau belum membersihkan tubuhmu kan sore ini?" tanya Zein malu-malu.


"Be... Belum, memangnya kenapa?" jawab Rania gugup.


"Apa kau ingin aku membantu memandikanmu?" tanya Zein dengan wajah menggoda.


Pertanyaan macam apa itu? Aku kan bukan anak kecil. Rania membatin.


"Aku bisa mandi sendiri..." ucap Rania.


"Tapi, tubuhmu masih lemas sayang... Bagaimana jika kita mandi bersama?" Zein merayu dengan tatapan menggoda.


Mandi bersama, yang benar saja? Seumur hidupku, belum pernah mandi bersama dengan sesama jenis, apa lagi lawan jenis. Ya, meskipun dia suamiku. Tetap saja aku malu. Batin Rania gugup.


"Tapi, sayang... Aku sedang kedinginan dan rasanya tak perlu membersihkan tubuhku malam ini." Rania mencari alasan dengan pura-pura kedinginan.


"Kan ada water heater yang bisa menghangatkan tubuh kita dengan air hangat sayang..." bujuk Zein sembari memeluk tubuh istrinya dan kepalanya bergelayut manja di baju istrinya.


Zein tidak menyerah dan terus merayu istrinya. Namun kali ini ia menunjukkan sikap manjanya yang terkesan merengek, seperti bocah yang merengek ingin di belikan permen.


Sikap macam apa itu? Selama menikah dengannya... Belum pernah sekalipun aku melihat sikapnya seperti ini, apa dia sangat ingin mandi bersamaku? Batin Rania heran.


"Um... Tapi... Eh..." Belum sempat Rania meneruskan kalimatnya. Ia harus dikejutkan dengan rasa geli yang menggelitik di bagian punggungnya hingga membuat tubuhnya refleks maju dan menempel dada bidang suaminya.

__ADS_1


Rupanya diam-diam Zein melepaskan pengait bra yang melingkar di dada Rania hingga terlepas. Sepertinya malam itu Zein sangat ingin melakukan mandi bersama dengan istrinya. Hingga membuatnya tidak bisa menahan hasratnya kemudian membuka baju Rania meski Rania belum mengatakan setuju untuk mandi bersama dengannya.


Setelah membuka bajunya istrinya, kini Rania sudah bertelanjang dada, hanya menyisakan bagian bawahnya saja. Rania tampak malu-malu dan menyilangkan kedua tangannya menutupi bagian dadanya yang sudah tak tertutup oleh sehelai benang.


Untuk apa meminta persetujuan jika kenyataannya memaksa? Huuuh... Batin Rania disertai suara mendengus.


Kemudian Zein mulai membuka celana bagian dalam istrinya dan melepaskannya.


Rania bergidik geli hingga membuat kedua kakinya menekuk menutupi hingga bagian dadanya lalu melingkarkan kedua tangannya di atas lutut. Entah kenapa saat itu, Rania merasa dilanda rasa geli yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang sedang di telanjangi sebelum mandi. Namun Rania hanya bisa diam melihat wajah suaminya yang begitu antusias dan mulai berubah, persis saat mereka berada di Resort tadi pagi, wajah garang dengan tatapan memangsa.


Tanpa bicara dan meminta persetujuan, Zein langsung menggendong tubuh Rania lalu memasuki kamar mandi dan meletakkannya dengan pelan ke dalam bak mandi besar yang muat untuk dua orang. Lalu menekan tombol on pada water heater agar air yang keluar menjadi hangat. Rania tampak pasrah dengan tubuh bertelanjang bulat di atas bak mandi yang sedang mengalirkan air hangat secara perlahan.


Seolah tidak sabar ingin merasakan rasanya mandi bersama dengan istrinya, Zein membuka pakaiannya dengan sangat tergesa. Membuat Rania menutup mata saat suaminya membuka pakaiannya. Padahal itu bukan kali pertama ia melihat tubuh suaminya tanpa busana, hanya situasinya saja yang berbeda hingga membuat Rania masih merasa malu-malu.


Setelah semua pakaian di lepas, Zein langsung melangkahkan kedua kakinya memasuki bak mandi lalu merebahkan dirinya bersama dengan Rania yang saat itu sudah berada di dalam bak berisi air hangat.


"Sayang... Meski niat awalku hanya ingin memandikanmu, tapi nyatanya aku tidak tahan lagi ketika melihat tubuhmu seperti ini. Bagaimana jika kita melakukannya?" Bisik Zein di telinga istrinya.


"Hahaha... Iya kau benar." Zein tertawa senang mendengar ucapan istrinya yang tampak pasrah.


Kemudian Rania membasuh wajahnya dengan air hangat dari dalam bak dengan kedua tangannya, memejamkan mata lalu membukanya kembali sembari bersuara ahhh... , air hangat yang beraroma itu cukup membuat wajahnya terasa hangat dan segar.


Zein tampak terpesona dengan wajah istrinya yang semakin cantik dan menggoda saat wajahnya basah hingga memperlihatkan bulir-bulir di wajahnya.


"Sayang... Wajahmu semakin menggoda saat basah seperti ini." ucap Zein sembari menelan ludah.


Rania tertegun mendengar ucapan suaminya yang sudah menunjukkan aura memangsa. Dan benar saja, Zein langsung mendaratkan bibirnya tepat di bibir istrinya, melumatnya tanpa ampun sembari tangannya menyusuri seluruh bagian tubuh istrinya hingga terjadilah sebuah pertempuran di dalam bak. Mandi.


Setelah keduanya merasa lelah bertempur di dalam bak mandi. Akhirnya Zein menggendong tubuh istrinya lagi.

__ADS_1


"Aku bisa berjalan sendiri Zein, sepertinya kau terlihat lelah." usul Rania melihat suaminya yang tampak lelah setelah melakukan aksinya berkali-kali dan juga mencumbu tubuhnya berkali-kali.


"Aku tidak lelah, kau tidak melihat tubuhku sangat kuat?" ucap Zein sembari memperlihatkan otot lengannya yang membentuk benjolan.


"Aku tahu sayang... Kekuatanmu memang sudah tidak bisa di ragukan lagi. Tapi, spertinya kau terlalu bersemangat tadi." balas Rania sembari menggelengkan kepalanya.


Dengan segera Zein mengangkat tubuh Rania dari dalam bak mandi yang masih berisi air hangat. Berjalan menuju kasur, meletakkannya dengan sangat pelan di atas kasur, kemudian Zein membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur seolah terasa lelah. Arghhhh...


Melihat tingkah suaminya, hanya membuat Rania tersenyum geli.


Terlalu bersemangat hingga akhirnya lelah. Batin Rania tertawa.


Setelah Zein merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya. Rania bergegas dari kasur untuk mengeringkan tubuhnya yang masih basah saat suaminya meletakkan tubuhnya di atas kasur.


Belum sempat Rania beranjak dari kasur, tiba-tiba Zein memegang tangannya dan menahannya untuk bangun seraya berkata. "Sayang... Tidak perlu memakai baju, biar saja seperti ini. Aku belum selesai." gumam Zein dengan mata setengah terpejam sambil menepuk kasur pelan dan meminta Rania untuk tidur di sampingnya.


Hmmm... Zein... Zein... Sudah seperti itu, masih belum puas juga... Seperti tidak ada hari esok saja. Batin Rania sembari menggelengkan kepalanya.


Akhirnya Rania pun menggeser tubuhnya mendekati suaminya lalu merebahkan kembali tubuhnya tepat di samping suaminya yang saat itu di rasanya sangat manja.


Kemudian Rania membenamkan tubuhnya di bawah selimut yang sama dengan Zein setelah mandi dan membiarkan tubuhnya tanpa busana begitupun dengan suaminya.


Aku tidak tahu apakah dia masih sanggup melakukannya lagi nanti? Ah... Biarkan sajalah... Lagi pula, tubuh dan hatiku kini miliknya seutuhnya. Batin Rania sembari tersenyum bahagia melihat wajah sendu suaminya yang tampak mulai memejamkan kedua matanya.


Kini keduanya larut dalam istirahat malam mereka setelah seharian melewati peristiwa yang cukup menguras emosi.


Bersambung\=\=\=\=>


Jangan lupa dukung author yah

__ADS_1


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


Terimakasih sudah setia membaca NYT.🤗


__ADS_2