Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Pulang


__ADS_3

Astaga apa ini rumah mafia? Batin David menerka. Melihat orang-orang bertubuh tinggi besar lengkap dengan kecamatan hitam dan senjata api menempel di tangan.


Melihat Jeremi beserta yang lainnya tampak mendekati mereka. Ronald beserta yang lainnya tetap diam berdiri menunggu Rey datang.


Kemudian Rey muncul dengan wajah santai.


"Apa yang membuatmu berani datang ke sini? Apa masih belum cukup atas kejadian sebelumnya?" tanya Rey pada Ronald dengan nada lantang.


"Tuan, maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk mengganggu waktu tuan dengan mendatangi tuan malam-malam seperti ini." jawab Ronald sembari menunduk sopan.


"Katakan saja intinya..! Aku tidak suka berbelit." ucap Rey sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Maaf, tuan. Ini hanya dugaanku saja, apa benar Nona Yina ada di sini?" tanya Ronald sopan.


"Atas dasar apa kau mengatakan itu?" Rey balik bertanya.


Sementara itu, David hanya diam mematung di samping Ronald mendengar percakapan antara Rey dan Ronald yang penuh ketegangan.


"Tuan, jika memang Nona Yina ada di sini, bisakah tuan menyerahkannya pada kami? Biar kami yang mengurusnya? Karena ini adalah kasus yang berhubungan dengan tuan Zein." jelas Ronald.


"Hahaha... Orang-orangku yang bekerja keras menyelidiki kasus ini sampai akhirnya mendapatkannya hidup-hidup? Bagaimana mungkin dengan entengnya kau mengatakan ingin membawanya? Jangan lancang di rumahku...! Atau kau akan menyesal...!" jelas Rey dengan tegas.


Begitu Rey mengatakan itu, tiba-tiba beberapa pengawal Rey tampak menodongkan pistol ke arah Ronald dan yang lainnya. Begitupun sebaliknya, seolah tidak mau kalah, para pengawal Ronald pun ikut menodongkan pistol ke arah mereka. Akhirnya dua kubu itu saling menodongkan pistol.


David tampak tegang melihat apa yang ada di hadapannya, namun ia tidak berani berkata sedikit pun. Itu adalah pesan dari Ronald saat di dalam mobil. David memilih diam saat itu dan menyaksikan pertunjukan saling menodongkan senjata api.


"Maaf, tuan... Saya tidak bermaksud lancang di sini." ucap Ronald seraya menundukkan kepala dengan sopan.


"Sebaiknya kau pergi saja...! Aku akan urus Yina dengan tanganku sendiri." pinta Rey pada Ronald dengan gerakan mengibaskan tangan.


Berarti benar dugaanku... Yina memang ada di sini? Tapi bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia aman di sini? Aku tahu betul karakter Rey seperti apa? Bagaimana jika Rey berusaha menghabisi Yina karena sudah mencoba melukai Nyonya Rania? Ronald membatin penuh selidik.


"Tuan, sekali lagi saya minta maaf, bukannya saya lancang? Bolehkah saya melihat keadaan Nona Yina saat ini? Hanya untuk memastikannya." Ronald memohon sekali lagi.


"Wah... Wah... Beraninya kau bicara seperti itu di hadapanku? Apa kau meragukanku? Sebaiknya cepat pergi dari sini jika kau tidak ingin mati sia-sia di sini...!" tegas Rey dengan tatapan wajah memperingatkan.


Berada di tengah-tengah orang-orang bersenjata dengan kalimat mengancam ingin menghabisi nyawa, cukup membuat David bergidik ngeri hingga seluruh bagian wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat yang menetes dan membasahi tubuhnya.


"Sebaiknya kita pergi saja...! Apa kau bodoh? Saat ini kita sedang berada di kandang macan yang sewaktu-waktu akan di lepas oleh mereka dan melahap tubuh kita hingga tak tersisa?" David berbisik memperingatkan pada Ronald agar segera pergi.


Ucapannya tentu saja bukan tanpa alasan, ia melihat beberapa macan terkurung di dalam kandang besar mengelilingi area rumah milik Rey yang begitu luas di tengah-tengah perkebunan.


Ronald mempertimbangkan ucapan David dan kembali melayangkan kalimat pada Rey.


"Baiklah, tuan... Kalau begitu saya akan pergi." ucap Ronald dengan sopan.


Ia tidak ingin ada pertemuan darah di sana, terlebih, Ronald yakin bahwa sekejam kejamnya Rey, dia tidak akan sanggup melenyapkan seorang wanita. Dari sekian penyelidikan yang di lakukannya dulu tentang Rey. Memang korbannya selalu laki-laki yang bergelut di dunia hitam dan belum pernah di temukan seorang wanita.

__ADS_1


"Tuan, mohon maaf jika aku lancang? Sekali lagi, saya ingin memastikan, apakah Nona Yina adalah pelakunya?" tanya Ronald dengan wajah serius.


"Aku tidak akan membuang waktuku sia-sia untuk menyelidiki sesuatu yang tidak penting bagiku, pun sebaliknya, semua yang berkaitan dengan Rania, terlebih jika sampai menyakiti Rania hingga membuatnya terluka sedikit saja di bagian tubuhnya. Jangan harap bisa lepas dariku...! Mereka akan menanggung akibatnya." ucap Rey dengan tegas sembari menggertakkan gigi gerahamnya.


Mendengar ucapan dari Rey, cukup menjawab pertanyaan Ronald, akhirnya Ronald memutuskan untuk kembali pulang dan memberitahukan hal ini pada Zein.


David tampak sedang mencerna kalimat yang barusan di ucapkan oleh Rey. Dalam benaknya, apa mungkin laki-laki itu adalah mantan kekasih istri dari Zein?


"Baiklah, tuan, saya permisi... Maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya." Ronald pamit sembari menundukkan kepala dengan sopan.


Rey diam dan kembali masuk ke dalam untuk melanjutkan istirahatnya. Begitupun dengan Jeremi dan yang lainnya, semuanya berhambur kembali ke tempat masing-masing setelah Ronald beserta yang lainnya pergi meninggalkan kediaman Rey.


Setelah itu, Ronald dan David berada di dalam mobil dan dalam perjalanan pulang.


"Ron, sebenarnya laki-laki tadi itu siapa? Apa hubungannya dengan istri dari Zein?" tanya David dengan wajah penasaran menatap ke arah Ronald.


Pffft... Ronald menghela napas. "Dia adalah mantan kekasih Nyonya Rania." jawabnya singkat.


Astaga... Benar saja dugaanku. Cih... Ternyata di balik keromantisan mereka tersimpan kisah penuh ketegangan dan rumit. David membatin.


"Sepertinya dia laki-laki yang kejam." David menduga.


"Ya, dia memang kejam... Tapi itu dulu kelihatannya kini dia sudah berubah." ucap Ronald sembari memperhatikan jalan yang mulai terlihat terang.


"Memangnya, apa yang di lakukannya dulu?" David kembali bertanya seolah rasa penasarannya terhadap laki-laki bernama Rey semakin besar.


Mendengar penjelasan dari Ronald cukup membuat David terkejut. Mungkin ini yang dimaksud temannya saat berada di Resort beberapa hari lalu. Zein hendak menceritakan kisah pernikahannya yang diliputi dengan banyak peristiwa. Namun Zein memilih menceritakan pada David nanti ketika keadaan sudah kondusif.


Kini David sudah tahu sedikit banyaknya dari penjelasan Ronald barusan tanpa perlu mendengar curhatan dari Zein lagi.


Dan satu hal yang membuatnya sangat terpukul adalah, kenyataan bahwa Yina adalah otak dari semua peristiwa yang menimpa Zein. David sangat menyayangkan sikap Yina, sebab ketiganya bersahabat dengan sangat baik dan cukup lama semenjak ketiganya kuliah di kampus yang sama.


David tidak habis pikir Yina bisa berbuat nekat seperti itu hanya karena perasaan cintanya pada Zein yang tak terbalas. David juga sangat menyayangkan sikap Zein yang tidak bisa menyadari bahwa Yina menyimpan rasa padanya hingga berujung pada peristiwa yang saat ini terjadi pada mereka.


"Kau sendiri. Kenapa kau begitu peduli pada tuan, Zein?" tanya Ronald penasaran.


Pertanyaan Ronald memecah lamunan David tentang Yina dan Zein.


"Yah... Kenapa?" tanya David yang tidak fokus dengan pertanyaan Ronald.


David memikirkan apa yang terjadi pada hubungan persahabatan mereka setelah Zein tahu kenyataan bahwa Yina adalah otak dari kejadian yang hampir melukai istrinya dan juga menguras waktunya selama berhari-hari.


"Kenapa kau begitu perduli pada tuan, Zein? Sampai kau ikut mencari tahu." Ronald mengulang pertanyaannya pada David.


"Hem... Aku, Yina dan Zein bersahabat sangat dekat. Bagaimana mungkin aku tidak perduli pada temanku?" jelas David.


"Lalu, setelah kejadian ini dan kenyataan bahwa Nona Yina adalah otak dari semua ini? Apa yang kau pikirkan?" tanya Ronald pada David.

__ADS_1


"Entahlah... Mereka adalah sahabatku. Namun aku tidak pernah menyangka persahabatan kami berakhir seperti ini hanya karena Yina menyimpan rasa pada Zein dan cemburu hingga menghilangkan akal sehatnya, pfttt...." jawab David sembari menghela napas. "Sebenarnya aku sudah menduga sejak lama tentang perasaan Yina terhadap Zein, tapi Zein terlalu kaku dan tidak peka hingga tidak menyadarinya." sambungnya lagi.


Ronald tampak begitu serius mendengarkan cerita David tentang tuannya.


"Itulah kelemahan tuan, Zein. Dia tidak begitu peka terhadap perasaan. Namun jauh dari sifatnya yang tidak peka dan kaku. Sebenarnya tuan Zein sangat penyayang, apa lagi pada Nyonya Rania." jelas Ronald.


"Yah... Kau benar Ron, kekurangan Zein memang tidak peka. Namun bagiku dia adalah teman yang sangat baik." balas David. "Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" David melanjutkan perkataannya.


"Untuk saat ini, kita akan menemui tuan Zein dan memberitahukan semuanya pada tuan. Kebetulan ini hari minggu. Hari santai bagi tuan Zein." sahut Ronald.


"Benar juga, tapi kita tidak mungkin mengatakannya di depan Rania, kan?" tanya David.


"Tentu saja, kita cari waktu yang tepat." balas Ronald.


"Hah... Baiklah, aku sangat ngantuk Ron. Apa kau tidak mengantuk? Kita semalaman ini tidak tidur loh." tanya David pada Ronald sembari menyandarkan kepalanya pada punggung kursi.


"Tidak... Aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini." timpal Ronald.


"Maksudmu? Kau sering tidak tidur seperti ini? Apa kau manusia?" tanya David berjingkak mendekati Ronald.


Seketika rasa kantuk yang menggelayut di tubuh David sirna begitu mendengar ucapan Ronald.


"Yah... Begitulah, karena ini adalah pekerjaanku. Apa lagi ketika aku menyelidiki suatu kasus maupun seseorang, itu sangat menyita waktuku." jelas Ronald.


"Apa kau nyaman bekerja bersama Zein?" tanya David penasaran.


Dalam benaknya, bagaimana mungkin Zein busa mendapatkan orang kepercayaan seperti Ronald yang bekerja begitu loyalitas tanpa batas.


"Tentu saja aku nyaman, tuan Zein sudah baik terhadapku, ia mengangkatku dari kalangan rendah hingga menjadi seperti ini. Aku dan seluruh keluargaku hidup dengan berkecukupan semenjak tuan Zein mempekerjakanku dengannya. Tuan Zein sangat ramah dan baik, aku dan keluargaku tidak kekurangan apapun. Bahkan tuan selalu memberiku waktu libur yang tidak sebentar dalam setahun. Hingga aku dan keluargaku bisa berkumpul dan berlibur untuk beberapa waktu. Jadi... Sudah seharusnya aku membalas kebaikannya dengan loyalitasku padanya." jelas Ronald sembari melempar senyum pada David yang begitu serius mendengarnya bercerita.


Ronald menceritakan asal usulnya pada David sampai bisa seperti saat ini.


Begitupun dengan David, ia tampak begitu serius mendengarkan cerita Ronald yang begitu mengharukan.


Dalam perjalanan pulang menuju rumah Zein, keduanya saling bertukar cerita hingga membuat keduanya tampak akrab kala itu.


Langit yang tadinya gelap, kini sudah mulai menampakkan semburat cahaya dari atas langit yang mulai menunjukkan waktu pagi.


Bersambung\=\=\=\=\=>


Jangan lupa untuk terus dukung author yah.


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


Jangan bosan dengan membaca novel NYT.


Terimakasih untuk para readersku. 🤗

__ADS_1


__ADS_2