Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Malam pertama yang.....?


__ADS_3

Peffft... Aku tidak bisa berhenti memikirkan perkataan ibu mertua tadi. Menghela napas, diam dalam lamunan.


Sambil menunggu suaminya pulang, setelah selesai membersihkan tubuhnya lalu Rania merebahkan tubuhnya di tempat tidur berlapis busa dan berbalut sprei. Pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan perkataan ibu mertuanya sejak pertemuan mereka tadi siang.


*Di tempat Rey.


Braaaaak...


Terdengar suara gebrakan meja, diremasnya foto Rania yang berada di tangan kanannya. Rey begitu marah ketika melihat sebuah foto yang dibawakan oleh salah seorang yang ditugaskan memata-matai Rania dan berpura-pura melihat-lihat gaun di butik Rania lalu mengambil gambarnya.


Ya, sebuah foto yang menunjukkan wajah Rania yang dilehernya dipenuhi tanda merah yang disebabkan oleh kecupan Zein semalam.


Brengsek kau... Beraninya mencumbu kekasihku...! Lihat saja apa yang akan aku lakukan...? Batin Rey kesal.


Seperti seorang yang tidak tahu diri dan lupa akan posisinya, Rey bertingkah mencemburui istri orang lain seolah itu adalah istrinya. Rey tampak begitu marah, kecemburuannya benar-benar menghilangkan akal sehatnya. Ia bahkan lupa bahwa Rania sudah menjadi istri dari laki-laki lain sehingga ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Rania bukanlah miliknya lagi seperti dulu.


Diraihnya ponsel miliknya yang ada di atas meja. Lalu diteleponnya si Jeremi. Kebetulan Jeremi sedang memegang ponselnya, begitu melihat panggilan dari Tuannya, dengan segera ia mengangkat telepon itu. "Halo, Tuan, ada apa?" tanya Jeremi dari seberang telepon.


"Jer, cepat atur semuanya!!" ucap Rey tergesa.


"Apa ini tentang Nona Rania, tuan?" jawab Jeremi cepat.


"Tentu saja, apa lagi jika bukan soal Rania?" balas Rey sedikit emosi.


"Tapi, bukankah saat ini kita sudah menjalankan rencana pertama, tuan?" sedikit bingung Jeremi menjawab perkataan Rey, sebab, yang ia tahu, rencana pertama Rey mengusik bisnis Zein sudah dijalankan. Lalu kenapa masih meminta menjalankan rencana?


"Kita tidak perlu menjalankan rencana pertama, kedua dan seterusnya. Aku putuskan, besok langsung saja kita jalankan rencana terakhir kita." Rey mempertegas.


Hmmm... Aku tidak percaya Rey bisa senekat ini? Benar-benar dibutakan oleh cintanya. Meski aku menolak melakukan ini, tetap saja dia akan melakukannya, baik denganku ataupun dengan orang lain. Batin Jeremi bingung.

__ADS_1


"Maaf, tuan, apa tuan yakin? Ini terlalu beresiko. Bagaimana pun Nona Rania adalah istri dari laki-laki yang juga memiliki kekuasaan cukup besar, kita tidak bisa dengan mudah melawan mereka langsung dengan cara itu. Kalau boleh saya berpendapat, apa tuan tidak takut jika kita menjalankan rencana itu sekarang justru akan membuat Nona Rania semakin membenci tuan. Bukankah tuan ingin mendapatkan hatinya kembali?" Jeremi mencoba mengingatkan dan memberikan solusi lain pada Rey.


"Apa yang kau katakan barusan Jeremi? Apa kau sudah bosan bekerja denganku? Apa kau lupa? Dan apa kau sudah tidak perduli lagi dengan nasib keluargamu?" Ancaman Rey tidak pernah main-main.


Yah, aku tahu kau memang telah menolongku dan keluargaku. Tapi bisakah kau berpikir lebih sehat lagi? Aku bisa melakukan apapun yang kau perintahkan terkait bisnis, tapi rasanya kali ini aku tidak sanggup melakukan ini. Tapi jika aku tidak mematuhinya, bagaimana dengan nasib keluargaku? Batin Jeremi gelisah.


Ya, Jeremi memang hutang nyawa dan hutang budi pada Rey yang pernah menolongnya ketika kecelakaan beberapa tahun silam. jika bukan karena Rey yang menolongnya hingga mendanai seluruh biaya rumah sakit, Jeremi mungkin tidak akan hidup dengan luka serius di tubuhnya dan menjalani beberapa kali operasi. Lalu ayahnya yang mengalami kebangkrutan bisnis, membuat keluarganya tidak bisa hidup dengan layak. Rumah beserta isinya disita bank. Beruntunglah Jeremi memiliki teman seperti Rey, sampai suatu ketika Rey membiayai kuliahnya sampai selesai, tidak hanya itu, Rey juga memberikan tempat tinggal dan modal usaha untuk orang tuanya, sehingga mereka bisa menjalani kembali kehidupan mereka dengan layak.


"Te... Tentu saja aku ingat, Tuan." jawab Jeremi gugup, perkataan Rey seolah membuka kembali luka lamanya tentang pahitnya kehidupan yang di jalaninya setelah kecelakaan menimpa dirinya beberapa tahun silam.


"Kalau begitu, cepat lakukan dan jangan pernah membantahku...!!" tegas Rey. Lalu mematikan sambungan telepon itu dengan kasar.


Aku tidak perduli jika Rania semakin membenciku... Sejak aku kembali saja, dia memang sudah membenciku dan menghianatiku. Jangan salahkan aku jika cara ini akan menyakitinya terlalu dalam. Batin Rey kesal, sambil sesekali dalam duduknya, Rey mencoba mencerna ucapan Jeremi tadi. Namun ucapan Jeremi seolah angin lalu yang tak berarti apapun baginya, dan tetap kekeh dengan rencananya yang terbilang nekat.


Sementara itu, dikediaman Zein, tampak Rania sedang berdiri di depan cermin dan memilih-milih beberapa baju tidur yang hampir semuanya terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuh.


Emm... Yang ini warnanya lebih soft, eh... Tunggu... tapi ini terlalu seksi... Ah, tapi memang semuanya seksi. Bagaimana mungkin dia bisa menyiapkan baju tidur seseksi ini untukku? Apa yang dia pikirkan sebelum membeli baju ini yah? Cih... Pasti dia suka melihat wanita berpakaian seksi? Ah... Tapi, sejauh aku mengenalnya, dia bukanlah laki-laki mata keranjang. Pefff... Aku bingung memilih yang mana? Rania menggerutu kebingungan.


Mmm... Di lihat dari sisi manapun, aku tetap risih melihat tubuhku sendiri memakai baju tidur yang aneh ini. Memandangi cermin penuh heran.


Belum sempat ia melepaskan baju tidur itu dan berniat menggantinya, baru saja tangannya meraih ujung baju setinggi atas lutut itu dan menyingkapnya sampai menutupi bagian kepalanya. tiba-tiba Zein membuka pintu kamar. Aww.... Siapa itu? Teriak Rania terkejut dan menutup kembali tubuhnya yang tersingkap. Beraninya membuka pintu tanpa menge... Kalimatnya terpotong, betapa terkejutnya ketika ia melihat yang membuka pintu itu adalah Zein, suaminya sendiri. Seketika tubuhnya membeku, wajahnya merah merona karena malu yang tak tak tertahan.


Sementara itu, Zein tampak diam dan terpesona melihat lekuk tubuh Rania berbalut baju tidur yang seksi dan menggoda Gleek.. Sesekali ia menelan ludah.


"Ze... Zein, kau sudah pulang? seharusnya kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya!!" ucap Rania terbata sambil menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya yang menyilang karena malu.


"Kau kan istriku, dan ini kamarku, aku tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk! Bukankah biasanya selalu seperti itu?" enteng saja Zein membalas ucapan Rania sembari tersenyum meledek.


Kemudian Zein mendekati Rania dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang, memeluk tubuhnya dan mendekapnya penuh kehangatan, membungkukkan tubuhnya yang jauh lebih tinggi daripada tubuh Rania yang tidak setinggi tubuhnya dan menyandarkan dagunya di bahu Rania.

__ADS_1


Diam tak berkutik, tubuhnya berdesir seolah sedang merasakan debaran yang begitu hebat di dalam hatinya tanpa tahu apa artinya, detak di jantungnya pun semakin kencang. Rania mencoba menerka perasaan apakah yang sedang dirasakannya sekarang? Pelukan ini... Begitu terasa hangat... Eh... Apa yang barusan aku pikirkan? Batinnya bergejolak. Namun, meski demikian, ia tetap tidak melepaskan pelukan itu seolah terhipnotis. Seperti merasakan getaran berbeda yang membuatnya bergejolak ingin balik memeluk tubuh Zein yang terasa hangat.


Tiba-tiba Rania melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zein, perlahan mulai mendekapnya dengan erat.


Menyadari bahwa Rania seolah menikmati pelukannya, Zein mendekap tubuh Rania lebih erat lagi, menelusuri bagian punggung halus Rania dengan kedua tangannya sampai ke bagian leher, lalu mendaratkan kecupannya di bibir tipis Rania, melumatnya tanpa ampun, sesekali menggigit halus bibir tipis Rania, kemudian melepas kecupannya, untuk kemudian mengambil napas dalam-dalam, begitupun dengan Rania.


Dengan napas yang masih tersengal, Zein kembali melanjutkan ciumannya, namun kali ini berlangsung lebih lama dari sebelumnya. Rania yang begitu hanyut dalam cumbuan Zein terhadapnya, tangannya mulai menelusuri bagian punggung Zein hingga ke pangkal leher dan meremas rambutnya.


Sentuhan tangan Rania yang begitu lembut sambil sesekali meremas rambutnya, membuat Zein semakin bergejolak. Dengan tergesa ia mengangkat tubuh Rania dan meletakkannya di atas ranjang berlapis kasur dan berbalut sprei putih yang lembut dengan perlahan.


Setelah meletakkan tubuh Rania di atas ranjang, tangannya mulai beralih membuka jas dan kemeja yang masih menempel di tubuhnya, menampakkan tubuh kekarnya tanpa busana, hanya menyisakan bagian celana pendek di tubuhnya. Perlahan kakinya mulai menaiki ranjang besar itu dan menindih tubuh kecil Rania.


Zein yang memiliki raut wajah teduh dan manis itu seolah berubah seperti seekor serigala yang ingin memangsa lawannya dan mencabiknya tanpa ampun hingga membuat Rania tampak terkejut dan ketakutan. memejamkan mata dan pasrah adalah solusi terbaiknya saat itu.


Tanpa menunggu waktu yang lama, Zein kembali melanjutkan aksinya, perlahan ia mulai melepas tali baju tipis yang menyangkut di bahu Rania hingga menampakkan setengah bagian dada Rania yang begitu berisi dan terlihat sangat menggoda hingga membuat hasratnya semakin memuncak. Belum sempat ia melepas seluruh baju tipis yang Rania kenakan, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan menghentikan aksinya sejenak. Ah, sial... Siapa yang menghubungiku malam-malam begini? Mengganggu saja... Tidak tahu apa? Sudah lama aku menunggu waktu ini...!! Gerutunya kesal, lalu ponselnya berhenti.


Begitu ponselnya berhenti berdering, Zein kembali melanjutkan aksinya. Namun, baru beberapa detik ponsel itu berhenti berdering, tiba-tiba ponselnya kembali berdering hingga membuatnya terusik.


Cih... Awas saja kau, besok!! Batinnya mengancam.


Namun seolah tidak perduli dan berpura-pura tidak mendengar, Zein kembali melanjutkan hasratnya yang penasaran ingin menyentuh area sensitif itu hingga mencapai titik puncak kenikmatan terdalam dan berusaha mengabaikan panggilan itu. Belum sempat ia menyentuhnya, tiba tiba.


"Zein... Jawab sebentar panggilannya!! Ponselmu berdering berkali-kali, barang kali itu penting?" suara Rania memecah hasratnya yang sedang bergejolak. Membuatnya kesal bukan main.


Siapakah suara dibalik panggilan itu?


Ikuti terus kelanjutan kisah mereka...!


*Bersambung.

__ADS_1


Terus dukung author dengan cara klik like, tinggalkan komen, klik favorit, kasih bintang lima dan vote yang banyak yah! 🤗 biar author makin semangat nulisnya, Terima kasih. 🤗


__ADS_2