
Rania mencari di mana sumber suara itu berasal, begitu menyadari suara itu berasal dari sampingnya, ia terperanjat. Rasanya sulit dipercaya baginya, Rey bisa senekat itu mencarinya hingga ke tempat yang tak terjangkau sekalipun.
Rey berdiri di sampingnya dengan wajah santai. "Rupanya kau masih tetap menyukai pantai, ya? Apa itu artinya kau masih menyukaiku juga, kan?" Rey selalu mengucapkan kalimat dengan percaya dirinya di depan Rania seolah melihat wajah kesal Rania yang terpancing olehnya adalah suatu kebahagiaan tersendiri baginya.
"Dari mana kau tahu aku ada di sini?" Tanya Rania penuh selidik.
"Tidak penting bagimu untuk tahu dari mana aku tahu keberadaan mu, mudah saja bagiku untuk melacak keberadaan-mu, Rania... Apa kau lupa? Bukankah aku pernah mengatakan padamu? bahwa aku bisa melakukan segalanya dengan mudah? Termasuk merebutmu dari tangan suamimu itu bukan hal yang sulit bagiku." Rey mengatakannya lagi, seolah ingin mengingatkan pada Rania, bahwa perkataannya waktu itu bukan main-main dan dianggap sepele.
"Tutup mulutmu, Rey!! Apa masih belum cukup bagimu menyakitiku dimasa lalu? Hingga kau harus menghancurkanku kembali sekarang? Biarkan aku bahagia menata rumah tanggaku dengan tenang!!" Rania berharap laki-laki yang pernah dicintainya itu mau berbaik hati sedikit saja padanya dengan tidak mengusik rumah tangganya sekarang.
Dari jauh, sesekali mata Zein melirik ke arah Rania, dilihatnya Rania yang tengah berbicara bersama seorang lelaki dan berdiri di samping Rania.
Dengan penuh penasaran ia pun segera menghampiri Rania. "Yina, aku temui Rania dulu, Kau main sendiri dulu!" Zein mengucapkan dengan sangat tergesa lalu meninggalkan Yina sendiri. Yina bingung dan hanya mengangguk.
"Hey... Sayang... siapa dia? Apa dia temanmu? Kenalkan, saya Zein Arka, suaminya Rania." Zein bertanya pada Rania sambil mengulurkan tangannya, mencoba memperkenalkan dirinya dengan ramah pada Rey.
"A... Aku... Tidak ta." Rania berkata dengan sangat terbata, wajahnya mulai memperlihatkan warna merah padam, kedua tangannya meremas gaun berwarna putihnya setinggi lutut kaki, memperlihatkan wajahnya yang teramat panik.
__ADS_1
Belum selesai Rania bicara, dengan cepat Rey langsung memotong perkataan Rania.
"Aku tidak tertarik untuk tahu siapa dirimu...!! Karena aku tidak perduli padamu!! Aku adalah orang yang akan menghancurkanmu...! membuat tidur malam-mu menjadi tidak tenang...! Dan aku... Akan memporak porandakan rumah tanggamu dengan Rania." alih-alih menyambut uluran tangan Zein yang menyambutnya dengan ramah, Rey justru menangkisnya dan mengucapkan kalimat yang sangat menohok pada Zein sambil menunjuk ke arah Zein dengan tatapan mengancam. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Rania dan Zein tanpa penjelasan apapun dan meninggalkan resort.
Kalimat menohok yang di ucapkan Rey pada Zein seolah sedang menabuh genderang perang sekaligus menunjukkan seberapa kuat dirinya akan menghancurkan musuhnya.
"Siapa sebenarnya laki-laki itu, Rania?" tanya Zein penuh selidik, matanya terus menatap wajah Rania.
"Di...dia hanya te.. Temanku, Zein?" Rania masih mengucapkannya dengan terbata.
"Dia hanya te...te...man biasa, Zein." Rania yang tampak ketakutan dan bingung, masih bersikeras tidak mengakui bahwa Rey adalah mantan kekasihnya, ia tidak bisa membayangkan akan semarah apa jika Zein tahu kenyataan bahwa yang barusan mengancam adalah mantan kekasihnya.
"Aku melihat ada kebohongan di matamu, Rania, Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku? Tolong jangan sembunyikan apapun dariku, sekalipun itu pahit!! Aku tidak suka kebohongan, Rania...!!" Zein bertanya untuk terakhir kalinya, dan Rania masih dengan jawabannya yang sama.
"Baiklah Rania, aku harap kau tidak sedang membohongi atau bahkan membodohi-ku hari ini...!" meski banyak sekali pertanyaan di benak Zein pada Rania tentang Rey. Laki-laki yang begitu dengan seenaknya mengancam dirinya, Zein berusaha meredam amarahnya di depan Rania.
"Siapa nama temanmu yang kurang ajar itu?" tanya Zein tegas.
__ADS_1
"Re... Rey Savian." sahutnya terbata.
Begitu mendengar nama itu, Zein memegang tangan Rania yang masih tertegun akibat peristiwa tadi, berjalan dengan cepat menuju kamar dan berkemas untuk segera kembali ke kota. Sementara itu, Rania merasa seperti seluruh tubuhnya bergetar. Masih sulit dipercaya, orang yang dulu dicintainya sanggup mengancam suaminya dengan terang-terangan di depan matanya sendiri. Bahkan untuk sekedar tahu keberadaan nya saja, Rey bisa tahu dengan mudahnya dan mendatanginya tanpa rasa takut sedikitpun.
Begitu Rey pergi meninggalkan Resort, Zein memutuskan untuk kembali ke kota. Ada hal penting yang ingin di dilakukannya.
Selidiki orang yang bernama Rey Savian dengan sedetail-detailnya. Jangan lewatkan sedikitpun tentangnya...!! Sebuah pesan singkat terkirim ke ponsel Ronald.
Hai readers.
Terima kasih sudah setia membaca novel NYT.🤗
Apa yang akan terjadi pada Zein dan Rey selanjutnya...?
Simak dan ikuti terus kelanjutan kisah mereka dan jangan lupa dukung author dengan cara Vote sebanyak-banyaknya ya. Terima kasih. 🤗.
*Bersambung.
__ADS_1