Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Ungkapan terima kasih dari Evelin


__ADS_3

Hari sudah semakin sore kala itu, waktu menunjukkan pukul tiga sore. Meski baru pukul tiga sore, tapi karena di sana memiliki suhu yang lebih dingin. Tentu saja di waktu seperti itu sudah terasa dingin menusuk tulang.


Rania dan Zein akhirnya keluar kamar selepas istirahat di kamar.


"Sayang... Kita jalan-jalan sore yuk?" usul Rania.


Rania melingkarkan tangannya di lengan suaminya sambil tersenyum lebar.


Zein tersenyum dan seraya mengangguk setuju.


Akhirnya keduanya pun berjalan-jalan di area Villa yang cukup luas.


"Tuan... Apa ingin aku temani?" tanya Ronald yang saat itu sedang berada di area taman.


"Tidak perlu, Ron... Kau nikmatilah liburanmu sendiri. Pergilah berjalan-jalan selagi kau memiliki banyak waktu santai di luar kantor." jawab Zein sembari tersenyum.


"Terimakasih, Tuan." Ronald mengangguk setuju diiringi senyum.


Kemudian Zein dan Rania berhenti di sebuah tempat yang memperlihatkan seluruh keindahan alam di sana dari atas. Mereka duduk di kursi.


Tiba-tiba Rania merasa bosan dan ingin sekali keluar dari Area Villa, bahkan Rania ingin memakan jagung bakar.


"Sayang... Bagaimana kalau kita keluar sebentar dari Villa ini? Tiba-tiba aku ingin sekali makan jagung bakar...!" rayunya.


"Hem... Ya sudah, aku akan panggil Ronald." balas Zein.


"Sayang... Tidak perlu memanggil Ronald, kita berdua saja yang pergi. Aku ingin kau yang membawa mobilnya sendiri." pinta Rania.


"Hem... Baiklah, aku akan penuhi semua keinginanmu di sini. Selagi aku sanggup." jawab Zein sembari tersenyum dan mencubit pipi Rania.


Karena lokasi area parkir mobil jauh dari tempat Zein dan Rania saat ini. Zein meminta salah satu pengawalnya untuk mengantarkan mobilnya untuknya. Dengan cepat pengawalnya langsung menuju area parkir dan membawakan mobil tersebut pada Zein.


Tidak lama pengawal itu pun datang dengan membawa mobil milik Zein dan memberikan kunci mobil pada Zein.


Setelah itu Zein dan Rania langsung masuk ke dalam mobil dan mulai melaju keluar dari dalam Villa mencari pedagang jagung bakar di tepi jalan, di ikuti dengan beberapa pengawalnya di mobil belakang. Sebagian pengawalnya tetap berada di dalam area Villa untuk menjaga keamanan di sana karena ada Evelin dan Tania.


Sementara itu, Ronald yang sedang duduk di kursi tepatnya di area taman merasa cukup bosan berada di dalam Villa. Sejujurnya ia ingin sekali menikmati waktu bersama Tania, meski hanya sekedar berjalan-jalan di taman atau bahkan keluar mencari udara yang lebih segar. Sayangnya ada Evelin yang selalu mengikutinya hingga membuat Ronald tidak nyaman.


Untuk sejenak Ronald duduk di kursi sambil menikmati udara segar dan di sampingnya di temani secangkir kopi yang ia buat sendiri. Sebenarnya di sana, ada beberapa pelayanan wanita untuk menyiapkan beberapa hal menyangkut makanan dan minuman jika perlu. Namun Ronald memilih untuk membuatnya sendiri.


Semoga Evelin tidak melihatku di sini dan menggangguku...! Batin Ronald merapal doa di sela-sela waktu santainya.


Saat ia menyesap kembali kopinya yang sudah mulai adem, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Tiba-tiba Evelin menepuk bahunya hingga membuatnya tersentak dan kopi itu menyembur dari gelas. Untung saja Evelin datang datang tidak saat dirinya sedang menyesap kopi. Jika tidak, kopi itu bisa mengotori bajunya.


Ronald segera meletakkan gelas berisi kopi tersebut di atas meja, menoleh wajah ke samping dan menatap tajam ke arah Evelin.

__ADS_1


"Eh... Maaf, aku tidak tahu kau sedang memegang gelas kopi." ucap Evelin dengan wajah menyesal.


Melihat wajah menyesal dan permintaan maaf dari Evelin, Ronald akhirnya tidak jadi meluapkan kekesalannya. Ya, setidaknya Evelin sudah meminta maaf untuk perbuatannya, Pikir Ronald. Tapi jika hanya untuk hal sekecil ini saja Evelin mampu mengucapkan maaf, kenapa untuk perbuatannya tadi pagi mencium dirinya secara tiba-tiba, belum juga meminta maaf padanya?


Evelin lalu duduk di sebelah Ronald.


"Di mana kak, Zein?" tanya Evelin sembari menatap wajah Ronald.


"mungkin sedang keluar mencari udara segar." jawab Ronald datar.


"Ron..." Evelin memanggil dengan suara lembut.


Untuk pertama kalinya ia bicara dengan nada lembut.


"Ya... Kenapa?" tanya Ronald.


"Apa kau pernah di khianati oleh seseorang?" tanya Evelin dengan tatapan sendu memandang pepohonan yang bergerak karena angin.


Apa maksud pertanyaan? Dia membuatku bingung menjawabnya. Batin Ronald bingung.


Ronald diam dan tak. Menjawab apapun atas pertanyaan Evelin, ia tidak bisa menjawab karena ia tidak tahu rasanya di khianati, berpacaran saja belum pernah, bagaimana mungkin ia di khianati? Pikir Ronald.


Huuuh... Evelin menghela napas.


"Apa kau baru saja di khianati?" tanya Ronald penasaran. "Eh... Maaf, maksudku Nona." Ronald salah menyebut Evelin.


"Hahah... Tidak apa-apa, kau tidak harus memanggilku dengan sebutan itu...! Jangan terlalu resmi padaku, jangan samakan aku dengan Kak, Zein." balas Evelin sembari tertawa geli.


"Tetap saja... Itu tidak sopan." bantah Ronald.


"Ya... Terserah kau saja." sahut Evelin.


"Kau pasti tidak menyangka, bukan... Wanita sepertiku bisa di khianati?" kata Evelin dengan percaya dirinya menyebut dirinya cantik.


Cih... Dia cukup percaya diri. Batin Ronald menerka.


"Cantik atau tidaknya seorang wanita, bukan dari fisik. Melainkan dari sikap dan hatinya, itu standar penilaianku terhadap wanita." balas Ronald.


"Cih... Aku tidak butuh penilaian-mu juga...! Jangan terlalu yakin." balas Evelin.


Mendengar balasan dari Evelin, Ronald hanya tersenyum getir.


"Terkadang pengkhianatan terjadi karena diri kita sendiri, atau sebaliknya, pengkhianatan adalah petunjuk untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik." ucap Ronald.


Meski ia belum pernah merasakan pengkhianatan, tapi Ronald bisa menebak suatu kejadian terjadi atas dasar sebab dan akibat. Meski tidak melulu karena sebab dan akibat.

__ADS_1


Ya... Kau benar, Tuhan memperlihatkan orang yang salah dan menunjukkan orang yang tepat padaku hari ini...! Kau... Mungkinkah kau orang yang tepat untukku? Batin Evelin mencoba menerka atas kejadian yang menimpanya hari itu.


Hari yang sama, di mana ia mendapatkan pengkhianatan dari kekasihnya, dan juga bertemu dengan Ronald secara tiba-tiba di waktu yang tepat. Dia sendiri tidak pernah berniat untuk mencium Ronald, hanya saja. Keadaan yang memaksanya berbuat demikian.


"Terimakasih, Ron..." ucap Evelin sambil menatap wajah Ronald dengan tatapan sendu.


Terimakasih untuk apa? Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Batin Ronald bingung.


"Terimakasih?" jawab Ronald dengan tatapan heran.


Alih-alih meminta maaf atas ciuman paksa yang dilakukannya pada Ronald, Evelin justru berterima kasih. Membuat Ronald semakin bingung.


"Terima kasih untuk ciuman itu, karena itu telah membantuku." Evelin meneruskan kalimatnya.


Apa...? Yang benar saja...? Apa dia waras...? Batin Ronald seolah tidak percaya dengan pengakuan Evelin.


"Aku rasa Nona perlu istirahat." balas Ronald singkat.


Ronald merasa muak atas pembicaraannya dengan Evelin yang sangat tidak enak untuk di bahas.


Saat Ronald bangkit dari duduknya dan meninggalkan Evelin. Evelin justru menarik tangannya dan memegangnya seraya berkata.


"Aku serius, Ron... Meski aku terkesan murahan di depanmu karena ciuman tadi siang. Tapi sejujurnya aku tidak pernah bermaksud mencium-mu begitu saja, aku hanya ingin menunjukkan pada laki-laki yang sudah mengkhianatiku, bahwa aku bisa melakukan perlakuan yang sama seperti dirinya." jelas Evelin.


"Tapi... Tetap saja caramu itu salah...! Dan kau sudah merampas sesuatu dari orang lain dengan paksa." balas Ronald dengan penuh penekanan.


Ronald pun meninggalkan Evelin begitu saja, berjalan dengan cepat dan keluar dari dalam Villa.


Evelin masih duduk di kursi sambil mencerna kalimat terakhir yang di ucapkan Ronald. Seolah mengusik dirinya untuk tahu arti dari kata merampas yang Ronald tujukan untuknya.


Dia bilang merampas...!! Apa yang aku rampas darinya...? Evelin masih mencari tahu artinya.


Seharusnya Ronald beruntung karena mendapatkan ciuman darinya. Pikir Evelin.


Bersambung\=\=\=>


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


Terimakasih. 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2