Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Pergi ke kantor polisi


__ADS_3

Sementara Zein dan Rania sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi untuk menemui Yina.


David masih berada dalam perjalanan menuju rumah orang tua Rania dan mengantarkan Tania pulang.


"Ngomong-ngomong... Suaramu tadi pagi terdengar sangat merdu. Apa kau suka bernyanyi?" tanya David di sela-sela perjalanan mereka.


"Heheh... Aku memang suka bernyanyi kak." jawab Tania sembari tertawa.


"Pantas saja suaramu mampu menyihir hatiku." David mencoba melayu Tania.


"Hem... Maksudnya?" tanya Tania bingung mendengar ucapan David barusan.


"Oh enggak apa-apa kok..." David mengelak.


Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba ponsel milik Tania berbunyi.


"Ya... Halo, bu?" jawab Tania.


"Tania... Apa kamu masih di rumah kakakmu?" tanya ibunya dari seberang telepon.


"Enggak bu... Aku lagi di jalan arah pulang." jawab Tania.


"Baiklah, hati-hati di jalan." sahut ibunya, lalu mengakhiri panggilannya.


Tania meletakkan kembali ponselnya di dalam tas berukuran kecil.


"Apa yang barusan menghubungimu adalah ibumu?" tanya David.


"Oh... Iya kak." jawab Tania singkat.


"Ngomong-ngomong... Boleh aku tahu nomor ponselmu?" tanya David sembari mengendarai mobil.


"Hem.... Untuk apa kak?" tanya Tania dengan polosnya.


"Tentu saja untuk menghubungimu..." balas David dengan santai.


Menghubungi? Untuk keperluan apa? Batin Tania heran.


"Kalau enggak boleh juga gak apa-apa kok." balas David tersenyum, pura-pura jual mahal.


"Heheh... Boleh kok, ini nomorku." Tania menyebutkan nomor ponselnya.


"Sebentar." ucap David sembari mengeluarkan ponselnya dan mencoba mencatat nomor telepon yang barusan di sebutkan oleh Tania.


Tidak lama setelah Tania memberikan nomor ponselnya pada David, akhir ia sampai di depan rumahnya.


"Stop kak... Di sini saja." ucap Tania meminta David berhenti di depan gerbang depan rumahnya.


"Oke." balas David.


David segera keluar dan berusaha membuka pintu mobil, namun Tania sudah keluar lebih dulu.

__ADS_1


"Terimakasih kak, oh ya... Kaka mau langsung pulang atau mampir?" tanya Tania.


"Terimakasih... Tapi sepertinya aku akan langsung pulang." balas David sembari tersenyum.


"Oh gitu... Sekali Terimakasih ya kak." ucap Tania sembari tersenyum.


"Sama-sama." jawab David sembari berjalan masuk ke dalam mobilnya.


Setelah mobil David pergi, Tania pun segera masuk ke dalam rumahnya. Namun sayangnya ia lupa membawa paper bag berisi belanjaan miliknya.


Yah... Bagaimana ini? Aku tidak tahu nomor ponselnya. Batin Tania bingung.


Sudahlah... Nanti juga pasti di antar sama kak David. Pikirnya.


Sementara itu, Rania dan Zein sudah sampai di kantor polisi.


Dengan perasaan gugup dan takut, Rania berjalan menuju kantor polisi. Ini untuk kali pertamanya mengunjungi seseorang di kantor polisi.


"Sayang..." Rania memegang tangan suaminya dengan erat.


Menyadari rasa takut yang menghinggapi istrinya, Zein pun mencoba menenangkan Rania.


"Tidak apa-apa sayang... Tempat ini tidak terlalu menyeramkan di banding tempat pemakaman." ucap Zein menghibur istrinya yang tampak tegang.


Begitu sampai di dalam kantor polisi.


Zein menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke kantor polisi, kemudian petugas polisi pun bergegas untuk memanggil Yina.


Zein heran melihat petugas polisi datang tanpa Yina.


"Tuan, dia bilang tidak mau menemui anda." jelas petugas polisi tersebut.


"Tapi, kenapa Pak?" tanya Zein bingung.


"Saya tidak tahu apa alasannya, tuan. Dia hanya bilang tidak ingin menemui anda." balasnya.


"Sayang... Mungkin dia tidak mau bertemu denganku. Sudahlah biar aku yang akan menemuinya." usul Rania.


"Jangan sayang..." Zein melarang.


"Kita sudah jauh-jauh datang ke tempat ini dan pergi begitu saja tanpa melihatnya." ucap Rania.


"Hem... Baiklah, biar aky temani." balas Zein.


Dengan di antar oleh petugas polisi, akhirnya Zein dan Rania berjalan menuju tempat di mana Yina di penjara.


Saat itu Yina tampak duduk menekuk kedua kakinya, menyandarkan punggungnya pada tembok dengan posisi miring.


Melihat Yina dalam kondisi seperti itu, membuat hati Rania terenyuh. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya yang berbeda di tempat sempit seperti itu, tanpa kebebasan dan hanya ada keterbatasan. Rasanya sulit untuk bisa diterima oleh Rania.


Menyadari Rania dan Zein berdiri di depan dirinya yang terhalang oleh jeruji besi, membuat Yina merasa semakin kesal.

__ADS_1


"Untuk apa kau datang? Untuk melihat bagaimana diriku saat ini? Pasti ini membuatmu sangat puas, bukan?" ucap Yina dari balik penjara.


"Jaga bicaramu Yina." ucap Zein dengan nada mengancam.


Rania memegang tangan Zein dan meminta Zein untuk berkata apapun.


"Jika kau berpikir aku datang untuk menertawakanmu, kau salah Yina. Sejujurnya aku tidak ingin melihatmu seperti ini."jelas Rania.


"Cih... Munafik, kau hanya pura-pura terlihat baik di depanku, padahal hatimu sangat senang, bukan? " Yina berdecak dan tidak menghargai kedatangan Rania yang benar-benar tulus padanya.


"Seseorang yang di penuhi rasa benci akan menganggap semua kebaikan orang lain sebagai kejahatan atau keburukan. Aku mengerti perasaanmu saat ini, Yina. Terserah kau mau menganggapku apa? Yang perlu kau tahu, aku sudah memaafkanmu atas perbuatanmu padaku, semoga kau menyesalinya setelah ini." ucap Rania sembari berbalik dan berjalan meninggalkan Yina.


Bicara sebanyak apapun dan sebaik apapun, menurutnya itu tidak akan bisa di terima oleh Yina yang saat itu sedang kesal dan terpukul. Rania memilih pergi dan meninggalkan tempat itu.


Baru beberapa langkah dia melangkah bersama Zein.


"Aku pastikan hidupmu tidak akan pernah bahagia setelah membuatku seperti ini." Ucap Yina.


Ucapan Yina membuat Rania dan Zein menghentikan langkahnya, entah kenapa ucapan Yina terdengar seperti sebuah ancaman bagi Rania. Meski ada perasaan takut di dalam hati Rania begitu mendengar ucapan Yina. Rania mencoba tetap tenang dan menunjukkan sikap baiknya.


"Stop Yina... Apa dengan kejadian ini kau masih belum sadar?" Teriak Zein pada Yina. "Aku tidak habis pikir bisa berteman dengan wanita yang hatinya penuh dengan ambisi dan dendam sepertimu." imbuhnya.


Kalimat yang terlontar dari mulut Zein semakin membuat Yina kesal dan geram di buatnya. Membuat hatinya semakin diliputi rasa dendam.


"Cih... Pergi kalian dari sini. Aku muak melihat kalian berdua di sini." Teriak Yina dengan nada mengusir.


"Baiklah, kami akan pergi jika kau begitu membenci kami." balas Rania sembari berjalan menggandeng suaminya di depan Yina. "Sayang... Mari tinggalkan tempat ini, kita tidak pantas berlama-lama di tempat ini." lanjutnya.


Mendengar ucapan Rania membuat Yina semakin kesal dan di penuhi rasa cemburu yang mendalam.


Brengsek... Lihat saja kau wanita sialan, aku akan membuat hidupmu semakin menderita setelah membuatku seperti ini. Batin Yina mengancam.


Tanpa menunggu lama, Rania dan Zein akhirnya meninggalkan tempat di mana para penjahat di kumpulkan.


"Seharusnya aku tidak datang ke tempat ini." ucap Rania setelah berada di dalam mobil bersama suaminya.


"Sudahlah, sayang... Kau tidak perlu takut dengan ancamannya. Dia akan mendekam di penjara seumur hidupnya." ucap Zein meyakinkan.


Mendengar ucapan Zein, cukup membuat hati Rania sedikit tenang.


"Sayang... Sepertinya aku ingin pulang ke rumah, kepalaku sedikit pusing." usul Rania.


"Baiklah... Kita ke rumah mamah lain kali saja." Zein menyetujui permintaan istrinya, melihat wajah Rania yang tampak sedikit pucat. "Sayang... Apa sepertinya kau tampak tidak baik-baik saja, kita ke dokter yah." Zein melanjutkan ucapannya.


"Tidak perlu sayang... Aku hanya perlu istirahat di rumah." jawab Rania sembari menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Baiklah..." jawab Zein singkat.


Zein tahu benar sifat istrinya, Rania tidak bisa di paksa. Jika terjadi sesuatu, ia akan memanggil Dokter Viona datang ke rumah. Pikirnya.


Bersambung\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2