
Kemudian Tania turun ke bawah dan melihat sebuah cermin besar. Ah... Ada cermin besar. Batinnya.
Ia pun berlagak di depan cermin mengibaskan rambutnya dan memandangi wajahnya yang cantik dan imut penuh kebanggaan.
Kau memang cantik, Tania, pantas saja semua laki-laki di sekolah tergila-gila padamu. Gumamnya sembari berkaca.
Hemm... Hemm... Tes... Tes... Tania mengetes suaranya lalu mencoba bernyanyi sembari menatap wajahnya di depan cermin.
Ya, Tania memang akan mempersembahkan sebuah lagu saat malam perpisahan nanti, sesekali ia melatih suaranya. Begitu melihat cermin, ia pun tanpa ragu bernyanyi di depan cermin, suaranya yang terdengar indah membuatnya percaya diri dan di pilih untuk membawakan lagu.
Hem... Not bad lah ya. Gumamnya setelah selesai bernyanyi.
Begitu ia selesai bernyanyi dan menoleh ke samping betapa terkejutnya ia ketika mendapati dua laki-laki sedang memperhatikannya penuh kekaguman sampai terhipnotis oleh suara merdunya.
Ya, dua laki-laki tersebut adalah Ronald dan David yang saat itu sedang berada di bawah dan duduk di atas sofa untuk beristirahat sejenak dari lelahnya sebelum pulang.
Sial... Apa mereka memperhatikanku dari sebelum aku bernyanyi? Aaarghh... Batin Tania kesal bercampur malu.
Tania terkejut bukan main, sampai membuatnya tertegun untuk beberapa detik.
"Suaramu sangat indah." David memuji sembari melemparkan senyum termanisnya pada Tania.
"Heheh... Terimakasih." jawab Tanah singkat sembari tersenyum menahan malu karena tertangkap saat bernyanyi.
Namun Ronald tampak memalingkan wajahnya begitu Tania melirik ke arahnya. Ronald yang pemalu di depan wanita itu tidak mampu untuk menatap bahkan bertatapan dengan wanita, entah kenapa jantungnya saat itu terasa berdebar setelah memandangi wajah Tania, Ia pun meraih secangkir kopi yang ada di atas meja dan menyesapnya demi meredam jantungnya yang mulai berdebar.
Begitupun dengan David, Jiwanya yang playboy dan suka berganti wanita tidak bisa di tutupinya, ia lebih terang-terangan memuji Tania di depan Tania.
Tania masih berdiri tidak jauh dari tempat Ronald dan David duduk. Kemudian David mendekati Tania dan mencoba berkenalan dengan Tania.
"Hay... Namaku David." David memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangannya di depan Tania.
Tania masih bingung menerka siapa kedua laki-laki ini? Kenapa ada di rumah kakak iparnya?
Cih... Dasar tidak tahu malu. Ronald berdecak kesal melihat David berlagak di depan Tania. Siapa wanita itu? Apa mungkin adiknya...? Batinnya menerka.
"Aku..." belum sempat Tania memperkenalkan dirinya dan meraih tangan David. Tiba-tiba Rania datang dan memanggilnya.
"Apa kau sudah siap Tania?" tanya Rania sembari berjalan mendekati adiknya yang saat itu sedang berdiri berhadapan dengan David.
"Ah... Tentu saja kak." balas Tania tersenyum.
Oh namanya Tania... Eh... Barusan dia memanggilnya dengan sebutan kakak? Berarti dia adalah adiknya. Batin David.
Hem... Benar saja dugaanku. Batin Ronald.
Melihat Rania mendekati Tania dan mengetahui bahwa Tania adalah adiknya, sontak membuat David menyembunyikan tangannya yang tadinya hendak berjabat tangan dengan Tania. Begitupun dengan Tania, ia mendekati kakaknya lalu menggandengnya.
Lalu keduanya pergi bersama, sementara itu Ronald dan David tampak memperhatikan Tania dari belakang dengan mata tidak berkedip sedikitpun.
Saat Rania dan Tania sudah pergi.
__ADS_1
David mendekati Ronald kembali dan duduk di atas sofa bersama Ronald.
"Hem..." David menghela napas setelah terlihat cukup tegang di depan Tania. "Wajah cantik dan suara merdunya membuatku tertarik, sepertinya aku jatuh cinta padanya." lanjutnya sembari membayangkan wajah Tania yang baru saja meninggalkannya.
Sementara itu, Ronald tampak diam dan melamun, seperti masih terhipnotis dengan wajah cantik dan suara merdu Tania.
Untuk pertama kalinya ia merasakan jantungnya berdebar hanya karena memandangi dan mendengar suara merdu seorang gadis ceria dan cantik.
Apa dia ke sini setiap hari yah? David bergumam.
"Memangnya kenapa kalau setiap hari dia ke sini?" tanya Ronald dengan nada kesal, melirik tajam ke wajah David.
"Tentu saja aku akan mendekatinya." balas David.
"Cih... Kau pikir dia mudah di dekati? Apa lagi laki-laki sepertimu." timpal Ronald dengan senyum getirnya.
"Selama ini tidak ada satupun gadis yang mampu menolakku, terlebih dengan ketampanan wajahku dan pesonaku." balas David dengan percaya dirinya.
"Sedang membicarakan siapa kalian?" tanya Zein.
Suara Zein dari belakang mereka mengagetkan dan menghentikan mereka dalam membicarakan adik Tania.
"Ah... Bukan apa-apa." sangkal David.
Ronald diam karena David sudah menjawab pertanyaan Zein.
"Sepertinya tadi aku mendengar kalian membicarakan seorang gadis." ucap Zein sembari melirik wajah David dan Ronald.
Sementara itu, David menjawabnya dengan santai. "Ya, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa jika yang kau bicarakan adalah gadis lain dan bukan adik iparku." ucap Zein sembari menatap tajam wajah David seolah sebuah ultimatum.
"Cih..." David hanya berdecak dan tak menimpali perkataan Zein yang sedang memperingatkannya.
Kemudian Zein bergabung dengan Ronald dan David dengan duduk dia atas sofa.
"Maaf, tuan, jika sudah tidak ada urusan, sebaiknya aku pulang.' tanya Ronald dengan sopan.
"Tentu saja, kau boleh pulang Ron, terimakasih." balas Zein tersenyum.
"Baik, tuan." timpal Ronald sembari tersenyum pada Zein. "Hey... Apa kau tidak ingin pulang?" Ronald melirik ke arah David.
"Aku masih ada urusan, kau pulang saja duluan." sahut David.
Cih... Urusan apa? Dasar playboy, pasti dia ingin menunggu Tania pulang. Batin Ronald penuh selidik.
Kemudian Ronald pun pergi meninggalkan mereka dan kembali ke rumahnya dengan di antar oleh Surya, supir pribadi Zein.
Sementara itu Rania dan Tania sedang asik berjalan-jalan di mall terdekat, sudah berbulan-bulan setelah menikah, Rania memang tidak pernah menginjakkan kakinya ke dalam mall meski untuk sekedar bersantai. Kehidupan pernikahannya yang sudah di penuhi dengan ujian membuatnya tidak sempat untuk memikirkan dirinya sendiri. Ia berharap setelah semua yang di laluinya bersama suaminya berakhir indah dan tak ada lagi yang mengganggu mereka.
"Kak, yang ini bagus tidak?" tanya Tania sembari mencoba dress dan menunjukkannya pada Rania yang saat itu sedang duduk menunggunya berganti baju dan mencoba beberapa pakaian yang sudah dipilihnya.
__ADS_1
"Hem... Kurang cocok untuk gadis remaja sepertimu." balas Rania sembari menggelengkan kepalanya.
Tania pun masuk ke dalam ruang ganti untuk mencoba dress lain.
Kemudian Rania bangun dari duduknya dan mencoba melihat-lihat beberapa model baju.
Tidak lama, Tania kembali meminta bantuan Rania untuk memberikan penilaian.
"Kak, kalau yang ini bagaimana?" tanya Tania sembari memutar tubuhnya dengan anggun.
"Hem... Lumayan, tapi sepertinya itu terlalu terbuka." balas Rania sembari menggelengkan kepalanya.
"Hem... Ini tidak terlalu terbuka kok, model ini lagi ngetren tahu kak." protes Tania dan berharap Rania mengiyakannya.
Namun sayangnya Rania tetap menggelengkan kepalanya dan tidak suka dengan dress yang di coba adiknya. Akhirnya Tania pun kembali ke ruang ganti dan mencoba dress terakhirnya.
Sementara itu, beberapa pengawal tampak berdiri di depan toko dan sebagian lagi berada di dalam toko menjaga Rania.
"Ini yang terakhir, bagaimana menurut kakak?" tanya Tania yang sudah mulai putus asa, takut di tolak lagi oleh kakaknya.
"Nah... Ini baru pas dan cocok sekali untukmu, warnanya soft dan tidak terlalu dewasa modelnya." Rania mengangguk setuju.
Tania pun sepertinya menyukainya, ia pun akhirnya memilih dress pilihan kakaknya. Ia mempercayakan pilihan pada kakaknya, karena kakaknya adalah seorang desainer yang modis sebelum akhirnya menutup butiknya.
Setelah selesai memilih dan membeli beberapa dress, Tania dan Rania pun kembali mengelilingi mall dan tiba-tiba Rania berhenti di depan toko yang menjual berbagai kebutuhan bayi.
"Cantik-cantik ya kak, sebentar lagi juga kakak pasti akan ke toko ini dan membeli perlengkapan bayi." ucap Tania menghibur Rania yang tampak menyukai perlengkapan bayi itu.
"Ya, semoga saja." jawab Rania
tersenyum kemudian melanjutkan kembali langkahnya menyusuri mall yang cukup besar itu.
"Kak, apa kakak tidak mau nonton film?" usul Tania.
"Malas ah..." Rania tidak tertarik.
"Hem... Lalu kita akan ke mana lagi setelah ini?" tanya Tania sembari berjalan dan menggandeng tangan kakaknya.
"Jika kau sudah selesai, kita pulang saja." balas Rania.
"Oke, kita pulang saja. Lagi pula aku sudah lelah." sahut Tania.
Akhirnya keduanya pun bergegas kembali ke rumah setelah beberapa jam menghabiskan waktu di mall.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukung author
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
Terimakasih.
__ADS_1