Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Terjebak di tengah jalan


__ADS_3

Mendengar ucapan suaminya. Rania hanya diam saja dan melanjutkan langkahnya menuju lift untuk naik ke lantai dua menuju kamar tidurnya.


Sementara itu, Zein tampak menggelengkan kepalanya sembari mengikuti istrinya dari belakang sampai akhirnya keduanya sampai di kamar mereka.


Begitu sampai di dalam kamar, Rania yang masih menggenggam beberapa buah belimbing di lengan tangannya, meletakkan buah belimbing tersebut di atas meja dan mencuci buah belimbing tersebut sebelum akhirnya ia makan.


Sementara itu, Zein hanya memperhatikan istrinya dari belakang sembari duduk menyilangkan kaki kanannya menumpuk di atas kaki kirinya.


"Sayang... Apa kau akan menghabiskan semua buah belimbing itu?" tanya Zein sembari melipat kedua tangannya pada bagian dadanya.


"Tentu saja." jawab Rania tegas sembari mencuci enam buah belimbing tersebut.


Ckckckc...


Mendengar ucapan istrinya, Zein hanya berdecak dan menggelengkan kepalanya sambil memperhatikan istrinya.


Setelah selesai di cuci, seolah tidak sabar ingin segera melahap buah belimbing tersebut. Rania pun mendekati tempat tidur, duduk di samping suaminya dan mencoba melahap buah belimbing tersebut.


Zein tampak menelan ludah saat melihat istrinya melahap buah tersebut dengan semangat.


Pada gigitan pertama dan setelah mengunyah lalu menelannya. Rania tampak menghentikan gerakan mengunyah di dalam mulutnya untuk beberapa detik.


"Ada apa sayang?" tanya Zein penasaran melihat istrinya tiba-tiba menghentikan gerakan mengunyah.


Karena yang ia tahu, istrinya begitu antusias menginginkan buah belimbing tersebut hingga Ronald harus turun tangan membawakannya.


"Sayang... Kenapa rasanya aneh?" Jawab Rania sembari memiringkan kepalanya dan menatap ke wajah suaminya. "Meskipun aku jarang sekali makan buah belimbing, tapi kenapa rasa buah belimbing kali ini begitu aneh?" lanjutnya sembari meletakkan buah belimbing tersebut di atas telapak tangan suaminya.


"Masa sih?" tanya Zein penasaran.


Rania mengangguk.


"Mungkin buahnya belum matang sempurna kali, sayang...!" jelas Zein.


"Hem... Kau coba saja sendiri...!" balas Rania sembari berlalu bangkit daro duduknya, berjalan menuju tepi kasur dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Seolah penasaran, Zein pun mencoba menggigit buah belimbing bekas istrinya dan mengubahnya.


Sama halnya dengan Rania, Zein tidak begitu sering mengkonsumsi buah belimbing. Namun ia cukup tahu rasa dari buah belimbing karena pernah memakannya beberapa kali.


"Sayang... Tidak ada yang aneh dengan rasa buah belimbing ini, ini enak kok." ucap Zein sembari mengunyah buah tersebut dan menikmati buah belimbing yang manis karena matang dengan sempurna.


" Ya sudah... Kalau enak, kau habiskan saja!" jawab Rania santai.


Mendengar ucapan istrinya, Zein pun menggelengkan kepalanya.


Zein tidak habis pikir, apa yang salah dari istrinya. Karena Sebelumnya Rania begitu antusias ingin memakan buah belimbing dan memetik langsung dari pohonnya. Sampai Ronald membawakan pohon belimbing ke rumahnya.


Apa begini kelakuan wanita saat sedang hamil yah? Batin Zein menerka.


Rania memang tampak berbeda saat dirinya sedang hamil anak pertamanya.


Namun Zein tidak memikirkan soal itu dengan pusing. Ia hanya tampak heran melihat perubahan istrinya yang berbeda dari biasanya. Dalam hatinya ia hanya memikirkan kebahagiaan istrinya, selagi ia bisa melihat senyum di wajah istrinya, apapun akan dilakukannya demi membuat Rania bahagia di sampingnya.


Setelah menghabiskan satu buah belimbing, Zein pun beranjak dari duduknya, berjalan mendekati istrinya yang ternyata sudah tertidur pulas.

__ADS_1


Hem... Dia sudah tidur ternyata. Batin Zein.


Sayang... Kau selalu cantik dan mempesona sekalipun dalam tidurmu. Apapun keinginanmu, aku akan penuhi selagi itu membuatmu bahagia. Batinnya lagi.


Zein mengecup kening Rania dan beralih menggeser kepalanya menuju bagian perut istrinya lalu melakukan hal yang sama, yaitu mengecup perut istrinya yang tengah mengandung anak dari benihnya.


Dan tak lupa, Zein menyelimuti istrinya dengan selimut sebelum ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Hari itu di rasa begitu panjang baginya sekaligus hari yang bersejarah baginya, mengetahui istrinya tengah mengandung jelas membuatnya bahagia.


Ia tidak pernah menyangka pernikahannya dengan Rania yang di awal di penuhi dengan banyak peristiwa yang terjadi mampu melewatinya hingga perjuangannya mendapatkan hati Rania kembali berbuah hasil dengan kabar kehamilan Rania hari itu.


Berapa banyak waktu dan kesabaran Zein meluluhkan hati Rania yang tidak mencintainya dan terpaksa menikah dengannya.


Berapa banyak juga kesabarannya di uji dengan kehadiran mantan kekasih Rania, yaitu Rey. Dengan sengaja mengusik rumah tangga mereka dan terang-terangan ingin merebut istrinya dari tangannya hingga beberapa kejadian yang tak di inginkan pun terjadi.


Termasuk sahabatnya, yaitu Yina. yang juga ingin menghancurkan rumah tangganya dengan Rania karena ternyata menyimpan rasa padanya. Dan pada akhirnya karena perbuatan jahat dan curang yang di lakukan Yina, membuatnya harus mendekam di penjara karena perbuatannya.


Zein tak pernah menyangka kehidupan pernikahannya di awal bersama Rania begitu banyak hal yang terjadi.


Namun kini Zein merasa sedikit lega karena sudah tak ada lagi yang akan mengganggu pernikahannya dengan Rania.


Rey pun tidak pernah lagi mengganggu Zein, baik dalam hubungannya bersama Rania maupun dalam dunia bisnisnya.


Kehidupan rumah tangganya dengan Rania kini berjalan semestinya dan tentunya dengan rasa cinta keduanya yang menambah kesempurnaan mereka.


Bisnisnya pun berjalan lancar tanpa kendala dan masalah sedikit pun sejak pertemuan terakhir mereka di Singapura.


Sementara itu, Ronald yang sedang melawan rasa gugupnya berduaan di dalam mobil bersama Tania hendak mengantarkan Tania pulang ke rumahnya.


"Kak..." ucap Tania.


Ucapan Tania cukup mengagetkan Ronald kala itu yang sedang serius dan menahan rasa groginya.


"Ya..." sahut Ronald tanpa menoleh wajahnya ke arah Tania yang memanggilnya dengan sebutan kakak.


Duuuh... Kok aku jadi gugup gini sih? Batin Tania.


Tania diam untuk beberapa saat setelah memanggil Ronald.


"Sepertinya... Tadi kau memanggilku?" tanya Ronald sembari menoleh wajahnya ke arah Tania yang sedang menatap kosong ke arah depan kaca mobil.


Cukup lama Ronald memandangi wajah Tania yang terlihat dari samping. Hatinya sesekali berdebar hingga membuatnya heran dengan debaran yang bergerak spontan di dadanya.


Ia tidak bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi pada dirinya, tiap kali bertemu dengan Tania bahkan duduk berdampingan. Itu selalu membuat dirinya merasa gugup dan tak jarang menimbulkan debaran di dalam dadanya.


Yah, Ronald memang belum pernah jatuh cinta pada wanita manapun apa lagi sampai berpacaran meski usianya sudah terbilang pantas untuk menikah.


Pasalnya, hampir seluruh masa remaja hingga masa dewasanya di habiskan untuk belajar sembari membantu finansial ayahnya yang hanya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Zein dan menjadi orang kepercayaan Zein.


Keadaan ekonomi keluarganya pun mulai membaik bahkan lebih dari cukup setelah dirinya ikut bersama Zein hingga menjadi orang kepercayaan Zein.


Berkat kecerdasan, kejujuran dan keuletannya. Kini Ronald bisa dikatakan sudah sukses. Ia bisa menghidupi keluarganya, memberikan tempat yang layak bagi keluarganya dan ia pun sudah memiliki rumah sendiri beserta beberapa kendaraan mewah yang dimilikinya.


Sebenarnya banyak sekali wanita yang berusaha mendekatinya, baik di kantor, tempat dirinya bekerja maupun di luar kantor.

__ADS_1


Namun karena kesibukan Ronald hingga tak memiliki waktu untuk sekedar berkenalan dan berkencan. Ia tak memilik pacar satupun.


Dan kali ini, ia merasakan pengalaman berbeda ketika berdekatan dengan seorang wanita. Suara merdu Tania saat itu mampu membuatnya mengingat wajah Tania hingga membuatnya tidak bisa bersikap santai saat bersama dengan Tania.


"Apa kakak sering datang ke rumah kak Zein?" Jawa Tania dengan spontan.


Tania bingung harus bicara apa untuk mencairkan susana hening mereka. Sampai ia melontarkan kalimat yang menurutnya tidak penting dan terkesan ingin tahu.


Astaga... Ngomong apa sih aku? Kenapa harus tanya hal itu? Kesannya kepo banget sih aku. Batin Tania menyesal.


"Kadang-kadang." jawab Ronald dengan ekspresi datar.


Hem... Good, jawaban yang singkat dan menyebalkan. Batin Tania.


Duuuh... Masa iya sih diem-dieman gini selama di jalan? Kenapa kak Ronald kaku banget yah? Beda banget sama si onoh yang kepo dan nanya terus. Batin Tania sembari mengingat kebersamaan saat dirinya bersama David.


"Kakak sudah lama bekerja bareng kak Zein?" tanya Tania lagi sembari mencairkan suasana berharap Ronald bisa open pada dirinya dan bertanya lebih dulu.


"Lumayan." jawab Ronald singkat sembari fokus melihat arah jalan.


Udah... Gitu doang jawabnya? Gak balik nanya gitu? Atau seenggaknya senyum kek. Batin Tania yang mulai kesal.


Pasalnya, hampir semua pembicaraan singkat mereka berawal pertanyaan Tania namun hanya mendapatkan jawaban singkat dan membuat Tania bingung harus bertanya apa lagi? Bertanya terus, sudah cukup membuatnya tampak seperti wanita agresif.


Akhirnya Tania pun diam dan memilih menyandarkan kepalanya pada punggung kursi dan membuang wajahnya membelakangi Ronald.


Di tatapnya pepohonan hijau dari dalam kaca mobil sembari menyenangkan kedua tangannya pada bawah dadanya.


Melihat Tania membelakanginya dan tampak sedang memandangi kaca mobil yang hanya menampakkan pepohonan hijau yang rindang.


Sesekali Ronald menatap Tania sembari tersenyum. Meski ia hanya melihat rambut hitam kecoklatan panjang dan terurai.


Meski demikian, Ronald harus tetap fokus pada kendaraan yang sedang di kendarainya saat itu.


Tiba-tiba saja mobilnya mendadak mulai pelan sampai akhirnya berhenti di tepi jalan.


Astaga... Bodoh banget sih kamu? Batin Ronald saat melihat kenyataan bahwa kendaraannya kehabisan bahan bakar.


Biasanya ia selalu stok bahan bakar cadangan di dalam mobilnya. Namun sialnya, selain ia lupa mengisi bahan bakar karena terburu-buru pergi mencari pohon belimbing. bahan bakar yang biasanya di stok olehnya pun ternyata habis.


Setelah mobilnya berhenti di tepi jalan. Tania mendadak bangun dari tidurnya yang masih hitungan menit. Ia mulai duduk dengan posisi yang benar sembari menatap ke arah sekeliling dengan wajah heran dan mata sedikit remang.


Beberapa kali ia mengucek matanya dengan tangan kanannya sembari menyapu pandangan ke sekelilingnya.


Masih dengan penglihatan samar, Tania menatap wajah Ronald yang saat itu sedang sibuk menelepon seseorang di balik ponsel yang menempel di telinganya.


"Kak... kenapa kita berhenti di sini? Bukankah Rumahku masih jauh dari sini?" tanya Tania dengan wajah bingung dan sedikit rasa takut.


Sesekali ia melirik mata ke arah Ronald dengan tatapan penuh selidik.


Bersambung.


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.

__ADS_1


TERIMAKASIH. 🙏🏻❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2