
Zein merasakan ada ketenangan ketika ia bisa merebahkan kepalanya di pangkuan Rania tanpa perlawanan kata maupun tindakan. Dan sepertinya Rania hanya ingin diam sesaat demi menjaga hati Zein, meski ia sedang merasakan jantungnya yang berdebar tidak karuan.
Rania hanya terdiam mematung seolah tak ingin mengganggu kenyamanan yang dirasakan oleh Zein saat ini. Sementara itu Zein masih sangat menikmati dirinya berada di pangkuan Rania sambil memejamkan kedua matanya namun masih dalam kesadaran mendengar.
"Zein, jika kau mau, Sekarang Kau boleh menyentuhku!!" ucap Rania pelan meski dengan hati yang berat, Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya belum sepenuhnya mencintai Zein, karena menerima bukan berarti mencintai.
"Simpan saja kata-kata itu untuk nanti! Ketika kau menginginkannya sendiri, tanpa harus mengucapkan kalimat terpaksa." balas Zein dengan posisi yang sama dan masih memejamkan kedua matanya.
Deg, rasanya seperti sebuah tamparan keras bagi Rania, di saat ia sudah berusaha keras meyakinkan hati dan pikirannya untuk memperbaiki kesalahannya pada Zein dengan memberanikan dirinya untuk bisa mengucapkan kalimat itu pada Zein, nyatanya justru mendapat penolakan halus dari Zein.
Rasanya aku tidak percaya dengan yang barusan aku katakan padanya, kau terlihat sangat memalukan... Rania, untuk pertama kalinya kau mengatakan hal bodoh dan konyol seperti itu. tunggu... apa dia sengaja mempermalukan ku dengan jawabannya yang menyakitkan itu?? Rania membatin penuh kesal dan rasa malu.
"Apa kau membenciku?" Rania bertanya seolah ingin tahu seperti apa kedudukannya di hati Zein setelah perlakuannya pada Zein sebelumnya.
Zein tidak bersuara.
Arggh... Benar kan, dia diam saja tak menjawab pertanyaan ku. Itu artinya dia marah padaku. Apa yang kau harapkan Rania? Sudah jelas perlakuanmu selalu buruk padanya, beraninya berpikir mendapat kebaikan di hatinya. Gerutunya kesal,merasa bersalah dan memaki dirinya sendiri.
"Zein, kenapa kau tidak menjawab?" tanyanya lagi dengan pandangan mata melihat ke depan.
Zein masih diam tanpa suara.
Yang benar saja, aku tahu kau marah padaku! Tapi, jangan buat aku seolah tak memiliki harga diri seperti ini-lah...!! Rania masih menggerutu kesal. Kemudian matanya mulai melirik ke bawah, dilihatnya wajah Zein yang tengah tertidur pulas di pangkuannya.
Ya Tuhan... Pantas saja dia tidak menjawab pertanyaan-ku, rupanya dia malah tidur. Pyuuuuh... Dari tadi aku bicara sendiri seperti orang bodoh. Batinnya kesal.
Dipandangnya wajah laki-laki yang begitu terlihat sendu dan juga tampan, perlahan ia menarik tipis kedua sudut bibirnya ke atas. Seolah terpesona dengan ketampanan dan kebaikan hati Zein, suami yang seharusnya menjadi idaman bagi setiap wanita.
Zein, kau berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku!! Jika kau membuangku, aku akan pergi. Tapi, jika kau masih menginginkanku, maka aku akan tetap di sisimu dan belajar mencintaimu dengan tulus. Aku akan berusaha lebih baik dari sebelumnya. Batinnya menyesal.
Tiba-tiba Zein bergerak menyamping, kepalanya masih berada di pangkuan Rania.
__ADS_1
Rania tersadar dari lamunannya, matanya berkedip lalu pandangannya beralih ke depan. Seolah tidak percaya dengan semua yang di katakan nya barusan dalam hati.
Hoaaaam... Nampakanya Rania begitu lelah dengan semua pikirannya tadi, hingga membuat matanya mengantuk. Tidak lama ia pun tertidur dengan posisi duduk di atas sofa, menyandarkan kepalanya di bahu sofa berukuran kecil dengan kaki yang tertindih oleh kepala Zein.
Keduanya tidur dengan pulas.
*keesokan harinya.
Matahari yang mulai menampakkan cahayanya, deburan ombak yang sedang bermain manja, gemuruh angin laut yang begitu menggema ditelinga, membuat Zein terbangun dari tidurnya.
Ah... Sudah pagi rupanya. Matanya mulai terbuka, dilihatnya wajah Rania tertidur dengan kepala miring ke samping dengan posisi duduk memangku dirinya. Ia terperanjat kaget bukan main, tidak percaya ia bisa tertidur dipangkuan kaki Rania. Membayangkannya cukup membuatnya ngilu.
Ah... Kenapa dia tidak membangunkan-ku semalam? Pasti seluruh tubuhmu akan terasa sakit jika kau sudah bangun. Zein membatin. Lalu segera bangun dan menggotong tubuh Rania memindahkannya di atas kasur dan menyelimutinya dengan gerakan yang sangat pelan.
Rania masih hanya bergerak sedikit lalu tidur kembali. Mungkin semalam tidur dengan posisi duduk dan memangku, cukup membuatnya kelelahan dan jadi kurang istirahat.
Zein bergegas ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya. Sementara Rania masih tertidur.
Selesai membersihkan tubuhnya, matanya tertuju pada ranjang yang masih di tiduri oleh Rania, masih melihat Rania tertidur, ia pun keluar dan menutup pintu.
"Selamat pagi Tuan, Zein?" ucap Pak Surya memberikan salam.
"Pagi." jawab Zein tersenyum.
"Apa kau tidur dengan nyenyak semalam?" tanya Zein pada pak Surya.
"Tentu saja Tuan..." jawab Pak Surya sembari tertawa kecil.
"Wah...baguslah kalo gitu, oya... Nanti agak siangan mungkin kita akan kembali ke kota." Zein tersenyum kecil, sembari memegang bahu Pak Surya.
"Baik, Tuan." Pak Surya mengangguk sopan.
__ADS_1
Tuan, apa hari ini tuan tidak datang ke kantor? Zein membuka ponselnya, dilihatnya sebuah pesan singkat dari Ronald.
Saat ini aku sedang ada urusan! Mungkin hari ini aku ke kantor lebih siang. Balas Zein dari dalam ponselnya.
Zein berjalan kecil menelusuri tepi pantai yang saat itu masih belum terlihat panas, di injaknya pasir-pasir lembut itu dengan tanpa alas kaki. Rambutnya tertiup manja oleh hembusan angin laut yang bercampur percikan air laut.
Sementara itu Rania yang sudah terbangun, berjalan kecil menelusuri keramaian di tepi pantai hanya untuk mencari Zein yang katanya sedang berjalan jalan di sekitar pantai, di injaknya pasir-pasir lembut itu dengan alas kaki yang tampak memendam setiap kali ia menginjaknya, terlihat beberapa pasir-pasir itu memasuki jemari kakinya. Ada banyak orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Di lihatnya orang-orang yang hanya sekedar menikmati sarapan pagi dengan payung besar yang melingkar di tengah-tengah meja beserta beberapa makanan dan minuman di atas meja, ada juga yang sedang membawa papan selancar yang dilipat di ketiaknya, anak-anak berlarian saling mengejar dan beberapa anak di antaranya sedang membangun istana pasir. Rania tersenyum mengembang melihat suasana yang sudah lama tidak dinikmatinya beberapa tahun belakangan. Lalu matanya mulai fokus kembali mencari keberadaan Zein.
Dilihatnya satu persatu orang-orang yang berlalu lalang itu. Kemudian langkahnya terhenti, matanya tertuju pada dua orang yang sedang berdiri membelakanginya tidak jauh dari pandangannya, dua orang yang sedang berdiri di tepi pantai menenggelamkan kaki mereka ke dalam air setinggi betis.
Tampak seorang wanita menepuk bahu laki-laki di sampingnya beberapa kali dan tertawa lepas, sambil bermain air menyipratkannya pada lelaki di depannya, lelaki itu hanya tertawa tanpa membalasnya.
*Bersambung.
Halo pembaca setia NYT 🤗
Terus dukung aku yah, dengan cara:
➡️klik suka (like)
➡️klik favorit
➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)
➡️beri tanda bintang lima
➡️tolong beri aku vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Please jangan pelit-pelit buat vote, karena dari vote kalian lah author merasa terdukung dan lebih semangat lagi buat up sebanyak-banyaknya.
Terimakasih. 🤗😊