
Batalkan semua acara meeting untuk beberapa hari ke depan!! Zein mengirim pesan singkat untuk Ronald.
Hmmmm... Ya sudahlah. Ronald menghela napas, ketika membaca pesan singkat dari Zein. Sudah banyak dokumen yang tertunda di tangannya hanya untuk di tandatangani oleh Zein, pikirnya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk akibat Zein yang menyerahkan semua pekerjaan kepadanya selama beberapa hari.
*Di tempat Rey.
Sial... Dimana sebenarnya Rania berada? Sudah dua hari ini dia tidak terlihat di butik maupun di rumahnya. Batin Rey kesal.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan di balik pintu.
"Masuk!!" kata Rey tegas.
"Tuan, ini kabar terbaru menyangkut Nona Rania." ucap Jeremi sembari menyerahkan dokumen pada Rey yang saat itu sedang duduk di ruang kerjanya.
Jeremi adalah asisten pribadi Rey, yang mengurus segala kebutuhan Rey. Jeremi bekerja pada Rey sudah hampir sepuluh tahun. Keduanya berawal dari teman sekolah dan berteman dengan baik hingga sekarang. Rey memutuskan untuk menjadikan Jeremi sebagai asistennya ketika dirinya sudah sukses mengelola bisnis warisan dari ayahnya yang dijalankannya. Bahkan bisnisnya jauh berkembang semakin pesat ketika berada dalam pengelolaan Rey.
Dengan segera Rey membuka dokumen yang baru saja diserahkan oleh Jeremi untuknya.
Braaaak... Kurang ajar... Jadi sekarang mereka sedang asik berduaan di sana. Batin Rey penuh emosi sembari menggebrak meja.
Sebelumnya dia tidak pernah seemosional ini, hanya karena wanita yang dicintainya sudah menikah, dia menjadi seperti ini. Gumam Jeremi dalam hati, seolah tidak percaya melihat Rey begitu emosi setiap kali menerima kabar perihal Rania. Meski sebelumnya Rey memang memiliki pribadi yang sedikit tempramen. Tapi jauh daripada itu, sebenarnya Rey adalah laki-laki yang baik di mata Jeremi yang sudah mengenalnya selama belasan tahun. Namun kini berubah semenjak mengetahui kenyataan bahwa wanita yang dicintainya sudah menikah.
"Kita berangkat sekarang!!" ucapnya tegas. Sembari berdiri, tangannya meraih jas berwarna biru yang di letakkan di bahu kursi. Lalu memakainya dengan tergesa.
"Baik Tuan." Jeremi hanya mengangguk dengan sopan lalu menyusul langkahnya yang terburu-buru menuju mobil.
*Di Resort.
"Rania, apa kau bisa berselancar?" tanya Zein bersemangat.
"Aku tidak bisa, Zein... Apa kau bisa?" jawab Rania sembari bertanya balik.
"Ya, tentu saja... Aku seorang pelancar yang hebat." kata Zein bangga sembari tersenyum lebar.
"Waaaah... Selain jago berkuda, ternyata suamiku juga jago berselancar." Kata Rania sembari tertawa memuji.
Untuk kali pertama Zein mendengar Rania memanggilnya dengan sebutan suami.
__ADS_1
"Ehem... Apa sekarang kau sudah mengakuiku sebagai suamimu?" kata Zein menggoda.
"Ah... Kau jangan meledekku, Zein!" ujar Rania tersipu malu.
"Hahaha... Sah-sah saja jika aku menggodamu, kau kan istriku." ucap Zein sembari tertawa senang.
"Iya... Iya... Ya sudah ayo kita pergi ke pantai!!" ajak Rania sembari menarik tangan Zein.
Rania, Aku seperti melihatmu dua belas tahun yang lalu, kau sungguh menggemaskan waktu itu. Zein membatin membayangkan Rania waktu masih kecil menarik tangannya.
Rania berjalan dengan tangan menggandeng tangan suaminya, menarik gagang pintu lalu membukanya. Belum lama langkahnya berjalan dari pintu, matanya dikejutkan ketika dirinya dan Zein berpapasan dengan Yina, wajah yang tidak asing, wajah wanita yang kemarin dilihatnya sedang berjalan bersama suaminya ditepi pantai.
"Wah... Lagi-lagi ketemu sama kamu ya?" ucap zein sambil tersenyum pada Yina.
"Ah... Iya, mungkin resort ini terlalu kecil." ujar Yina sembari melempar senyum pada Zein lalu melirik wajah Rania yang tampak masam.
"Hahahah... Kau ini." sahut Zein santai.
"Zein, apa wanita cantik di sebelahmu ini istrimu?" tanya Yina penasaran sembari melirik ke arah Rania.
Jadi dia sudah tau aku ini istrinya Zein, lalu kenapa masih beraninya mengirim makanan berisi surat, lagi? Cih... Dasar. Rania membatin kesal seolah cemburu. Namun sepertinya ia masih belum menyadari bahwa dirinya sudah mulai menyukai Zein.
"Hahahah... Apa kau tidak ingin mengenalkan ku pada istrimu, Zein?" ujar Yina manja.
"Oh... Iya, Rania kenalkan dia adalah Yina Carolin! Teman baikku waktu kami kuliah bersama di london." jelas Zein sembari melirik wajah Rania.
"Ah...iya, kalian pasti sangat dekat ya? Aku bisa melihatnya, Aku Rania Agatha istrinya Zein. senang bertemu denganmu." sahut Rania sembari mengulurkan tangannya pada Yina seolah ingin menegaskan bahwa dirinya adalah istrinya Zein. Yina membalas uluran tangannya sambil tersenyum.
"Bagaimana sarapan pagimu, Zein?" tanya Yina seolah memancing kemarahan Rania.
"Hahaha...tentu saja sarapan pagi kali ini luar biasa, mengingatkanku tentang london. sudah lama aku tak memakan masakanmu, bukan?" Zein tertawa senang, layaknya obrolan biasa antar teman, tidak menyadari Rania yang tampak kesal mendengar obrolan mereka.
"Zein, apa kita akan menghabiskan waktu hanya untuk berdiri di sini?" ucap Rania kesal.
Ada apa dengannya? Apa dia cemburu? Pikir Zein penuh tanya, melihat wajah cemberut Rania selama mereka ngobrol.
Yang benar saja... Mereka malah pamer kebersamaan mereka. Cih... aku bahkan tidak tertarik mendengarnya. Batin Rania kesal.
"Yina, apa kau mau berselancar?" tanya Zein pada Yina.
__ADS_1
"Hmmm... Boleh juga, sudah lama kita tidak berselancar bersama." Yina mengangguk senang.
Zein... Apa kau gila? Aku hanya ingin melihatmu berselancar! Tidak dengan Yina ya...! aku bahkan tidak tertarik melihat kalian berselancar bersama? Memang, apa hebatnya bisa berselancar? Gerutunya semakin kesal.
Akhirnya mereka bertiga berjalan menuju pantai.
Zein dan Yina tampak sudah berganti baju, bersiap untuk menunjukkan kehebatan mereka dalam berselancar.
"Sayang... Kau tunggu di sini saja!! Lihat bagaimana aku menunjukkan kehebatanku berselancar!!" kata Zein dengan pedenya menggoda Rania sambil mengelus rambut Rania.
"Iya." jawab Rania singkat.
Sementara Zein berjalan menuju tepi laut bersama Yina untuk segera menunjukkan kehebatannya berselancar di depan Rania.
Kemudian Rania menyandarkan dirinya, duduk di sebuah kursi berpayung di tepi pantai, lengkap dengan topi pantai melingkar di kepalanya.
"Sayang... Rupanya kau di sini? Apa kau tahu, dua hari ini aku mencarimu? Aku sangat merindukanmu...!"
Deg... Suara laki-laki itu terdengar sangat dekat dengannya, Rania berusaha mencari dari mana sumber suara itu berasal.
*Bersambung.
Halo pembaca setia NYT 🤗
Terus dukung aku yah, dengan cara:
➡️klik suka (like)
➡️klik favorit
➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)
➡️beri tanda bintang lima
➡️tolong beri aku vote sebanyak-banyaknya.
Please jangan pelit-pelit buat vote, karena dari vote kalian lah author merasa terdukung dan lebih semangat lagi buat up sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Terimakasih. 🤗😊