
"Istirahatlah..!" Bisik Zein ditelinga Rania sembari menutup tubuh Rania dengan selimut hingga menutupi bagian dadanya.
Dia... berani sekali bicara sedekat itu membisiki telingaku. Ada raut kesal di wajah Rania mendengar bisikan yang terlalu dekat di kupingnya hingga membuat telinganya serasa bergidik. Kemudian Zein duduk di bangku sebelah kasur yang di tiduri Rania dan menumpuk kedua lengan tangannya di kasur menunggu Rania terlelap.
"Zein, kau tidak perlu duduk di bangku seperti ini..! Istirahatlah di sofa, Aku tidak apa-apa." Rania menyentuh pelan tangan Zein. "Tidak apa-apa, aku akan tetap di sini hingga kau tidur. Cepatlah tidur! Dengan begitu aku-pun akan lebih cepat istirahat." Ucap Zein tegas.
Bagaimana aku bisa tidur jika kau terus berada sedekat ini denganku? Dan berani sekali dia mengaturku! Batin Rania kesal bercampur malu. Sambil menggeser pelan tubuhnya berusaha menjauh dari Zein. "Awww..." ia lupa bahwa tubuhnya masih terlalu ringkih untuk digerakkan.
"Oh, rupanya kau memberiku tempat untukku bisa tidur di sampingmu hingga membuatmu menggeser tubuhmu?" Ucap Zein diiringi senyum meledek.
"Aku tidak suka terlalu dekat denganmu." ucapnya kesal.
"Oke, Baiklah Rania, lebih baik sekarang cepatlah tidur! Kau harus istirahat cukup." Seru Zein sembari melempar senyum tipis.
Tidak lama setelah Rania tertidur pulas, Zein bergegas tidur di sofa. Bisa saja ia tidur dikamar lain. Tapi Zein lebih suka tidur satu kamar dengan Rania meski harus terpisah jarak antara kasur dan sofa.
Hujan malam itu membuat mereka larut dalam tidur yang nyenyak.
*Keesokan harinya.
Rania hari ini aku akan ke kantor. Ada urusan yang harus ku selesaikan. Kau diam di rumah dan jangan banyak bergerak!! Bibi Ros, akan membantumu dan dokter Viona juga mulai hari ini stand bye di rumah sampai kau benar-benar pulih, jadi Kau tak perlu cemas! Tunggu aku pulang ya sayang!! Disertai emoticon senyum. Begitulah isi memo yang tertera di sebelah bantal Rania. Dan tak lupa sedikit rayuan di akhir kalimat, hingga membuat Rania kesal dan bergidik seolah jijik saat membacanya.
Cih... Sayang. Seenaknya saja memanggilku sayang. Awas saja jika dy berani memanggilku sayang di depanku!!. Batin Rania kesal sembari mengepal kedua bibir tipisnya.
*Di kantor.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan terdengar dibalik pintu. "Masuklah!!" Perintah Zein. Seseorang masuk dengan setelan tiga potong. Nampak rapih dan berjalan cepat dan berusaha menyapa Zein. "Tuan.."
Zein kenal betul dengan suara dan intonasi yang barusan memanggilnya. Ia pun menoleh mengangkat kepalanya menatap ke ke depan arah suara itu berasal."Hahahahah... Kau sudah kembali rupanya." tawa Zein pecah ketika melihat asisten sekaligus pengawal pribadinya yang sudah seperti saudaranya sendiri. "Iya Tuan" jawab Ronald sembari senyum.
Ronald baru saja kembali dari singapura selama satu minggu untuk mengurus beberapa bisnis Zein yang sedikit bermasalah di sana. Namun semuanya sudah teratasi berkat kecerdasan dan kecepatan Ronald dalam bekerja. Bisa dibilang, Ronald adalah tangan kanan Zein.
"Jadi bagaimana situasi di sana?" Tanya Zein tidak sabar untuk mendengar kabar baik dari Ronald yang dipercaya bisa mengatasi dan membantu. Menyelesaikannya.
"Awalnya ada beberapa kendala Tuan, namun semuanya sudah saya atasi dan kembali membaik. Hanya saja, saya pikir ada yang sedang berusaha ingin mengacau Tuan." Ucap Ronald tegas.
"Waaah... Kau memang bisa diandalkan Ron, tapi siapa orang yang berusaha ingin mengacaukan-ku, Ron?" Tanya Zein penasaran.
"Entahlah Tuan, sejauh ini masih terkendali dan aman. Saya sedang berusaha menyelidiki siapa orang dibalik kekacauan ini." Jawab Ronald tegas.
"Terus pantau dan selidiki, Ron!! Ku serahkan tugas ini padamu!" Perintah Zein tegas.
__ADS_1
"Tentu saja Tuan, aku akan berusaha semaksimal mungkin." Ucap Ronald penuh semangat.
"Kau memang bisa di andalkan Ron." Sambil memegang bahu Ronald.
"Terimakasih, Tuan." Seru Ronald sembari menundukkan kepala.
"Tuan, bagaimana pernikahan anda? Saya dengar sudah satu minggu Tuan menikah?" Tanya Ronald. Ronald memang tidak tahu dan tidak hadir dalam pernikahan Zein seminggu lalu.
"Berjalan lancar, hanya saja perlu waktu untuk bisa menaklukkan hatinya." Jawab Zein sambil tertawa. Dan Ron hanya bisa tersenyum mendengarnya.
"Aku yakin Tuan mampu menaklukkannya. Wanita mana yang tidak takluk pada Tuan, sementara di luar sana banyak yang ingin menjadi istri Tuan." ucap Ronald sembari mengepalkan tangan kanannya setinggi bahu seolah memberi semangat pada Tuannya.
"Hahaha... Kau ini bisa saja Ron." seru Zein sembari tertawa pelan.
Keduanya-pun sibuk di kantor.
*Di rumah.
Sementara itu di Rumah, Rania hanya bisa terdiam di kasur sambil memandangi jendela kaca besar dan memegang handphone.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan terdengar dibalik pintu kamarnya. Ah... Itu pasti ibu dan Tania. Rania membatin. Rania sempat mengirim chat pada Tania perihal keadaanya. Dan sesegar itu juga Tania dan ibunya mendatangi Rumah Zein untuk menengok Rania.
"Ka Raniaaa..." Tania membuka pintu sembari berteriak memanggil kakaknya yang sedang terbujur di tempat tidur kemudian memeluk Rania dengan hangat.
Melihat adiknya begitu gembira melihat dirinya yang sudah satu minggu terpisah, kemudian Rania memeluknya. Rania pun tersenyum dan mengelus rambut Tania. "Bagaimana sekolahmu?" Tanya rania. "Ya biasa saja kak" Ucap Tania datar.
Sementara itu, ibunya Rania tersenyum melihat kedekatan kedua anak gadisnya yang sudah tak pernah dilihatnya di rumah seminggu terakhir. "Rania, apa yang terjadi sampai kau jatuh dari tangga seperti ini?". Tanya Ibunya. "Aku hanya ingin ke dapur bu, tapi kakiku terpeleset dan jatuh." Rania menjelaskan.
"Lain kali hati-hati, jaga kesehatanmu. Kau sekarang sudah jauh dari ibu. Harus bisa menjaga dirimu sendiri..!!" Ucap ibunya mengiba melihat kondisi anaknya yang hanya bisa terbujur di kasur.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan terdengar lagi dibalik pintu. Siapa? Apa mungkin Zein sudah pulang? Batin Rania penasaran.
"Masuklah...!"
"Nyonya, maaf, saya perlu memeriksa keadaan nyonya siang ini." Ucap Viona, Dokter pribadi keluarga Zein.
"Oh silahkan dok" Rania membalas.
Setelah semuanya tampak aman dan baik-baik saja. Viona bergegas pergi meninggalkan kamar.
__ADS_1
"Waaaah...kakak, ada dokter pribadi di Rumah kak Zein. Senangnya." Ucap Tania meledek.
"Huuuush... Kamu pikir, siapa juga yang ingin sakit?" Seru Rania sembari men-jitak kepala Adiknya.
"Awww... Sakit tau kak." Tania kenal. "Makanya jangan sembarangan kalo ngomong!" Ucap rania sembari mengelus rambut Tania.
Tidak lama ibu dan adik Rania kembali pulang. Rania mulai sendiri lagi di kamar.
Aku ingin turun tapi bagaimana? Apa aku panggil Bibi Ros saja ya? Ahhh... Tapi bagaimana Bibi Ros mengangkat-ku? Rania membatin.
"Bi Ros...." Teriakan Rania memanggil Bibi Ros. "Iya Nyonya" Sahut Bibi Ros dan dengan segera memasuki kamar. "Bi, aku ingin keluar sebentar, tapi bagaimana caranya?" Tanya Rania bingung.
"Nyonya tunggu di sini sebentar ya, aku akan ambilkan kuris roda di Ruang khusus penyimpanan alat Rumah sakit." Jawab Bibi Ros sembari berjalan cepat mengambil kursi roda.
Ternyata di sini ada kursi roda? Hmmm... Apa memang disediakan karena sebelumnya sudah ada yang pernah terjatuh juga ya? Batin Rania bingung sembari meletakkan jarinya di pipi.
"Mari nyonya aku bantu!" Bibi Ros dan Viona berusaha membantu Rania naik ke atas kursi roda. "Ah, terimakasih Bi Ros dan dokter Viona." Ucap Rania tersenyum.
Viona membawa Rania ke arah lift di seberang kamar menuruni lantai dua.
Zein memang sengaja mendesain Rumahnya dengan akses lift untuk mempermudah dirinya dan keluarganya untuk bisa mengakses hingga ke lantai empat tanpa harus menggunakan tangga.
Aku baru tahu ternyata di Rumah Zein ada lift nya. Kenapa dia tidak pernah menggunakan lift? Hmmm... Batin Rania bingung.
Rania dan Dokter Viona berjalan mengelilingi jalan panjang beraspal menuju garasi sepanjang 50 meter, yang kedua sisi kiri dan kanannya dikelilingi aneka bungan yang cantik. Viona terus mendorong kursi roda yang ditaiki Rania. "Dokter, apa kau sudah lama bekerja di Rumah ini?" Tanya Rania penasaran." Kurang lebih lima tahun, nyonya." Jawab Viona. "Hmmmm begitu..." timpal Rania.
Belum sempat mereka berjalan hingga sampai di depan gerbang. Tiba-tiba sebuah mobil datang dan memasuki gerbang. Apa itu Zein? Batin Rania sembari melirik kaca mobil.
*Bersambung.
Halo pembaca setia NYT 🤗
Terus dukung aku yah, dengan cara:
➡️klik suka (like)
➡️klik favorit
➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)
➡️beri tanda bintang lima
➡️beri aku vote sebanyak-banyaknya ya biar makin semangat nulisnya.
__ADS_1
Terimakasih semuanya. 🤗😊