Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Mendatangi rumah Rey


__ADS_3

Siapkan kendaraan? Ada apa tiba-tiba tuan, Zein ingin menemui Rey? Batin Ronald penuh selidik.


"Tapi, tuan... Hari ini kita ada meeting yang cukup penting." jelas Ronald.


"Batalkan saja." jawab Zein tegas.


Dengan segera Zein berjalan menyusuri kantornya hingga langkahnya berhenti tepat di depan mobilnya yang sudah berada di depan teras kantor. Begitupun dengan Ronald, ia mengikuti Zein berjalan di belakangnya.


Kini keduanya sudah berada di dalam satu mobil yang sama. Sementara Ronald berada di kursi depan bersama seorang supir. Zein berada di belakang sendirian.


Sepanjang perjalanan menuju kantor Rey, Zein membicarakan perihal laki-laki yang sudah menyakiti istrinya di Resort kemarin dengan Ronald.


"Ron, apa cukup sulit untuk menyelidiki seorang kriminal biasa seperti laki-laki itu?" tanya Zein penuh selidik.


"Tuan, sebenernya jika dia hanya laki-laki biasa, mungkin aku sudah menemukan keberadaannya. Namun, sepertinya dia memiliki koneksi yang cukup baik hingga kami kesulitan menemukannya? Tapi, tuan jangan khawatir, saat ini mereka masih tetap mencari pelaku. Kita tunggu kabar dari mereka." jelas Ronald penuh keyakinan.


"Maksudmu otak di balik kejadian itu bukanlah orang sembarangan?" tanya Zein.


"Dengan kata lain seperti itu tuan, sejauh ini kami masih melakukan penyelidikan dan pencarian." jelas Ronald.


"Menurutmu, apa Rey bisa dicurigai?" tanya Zein penuh selidik.


"Sejujurnya aku tidak pernah mencurigai Rey, tuan. Secara logika... Dia tidak akan melakukan perbuatan yang bisa menyakiti Nyonya. Terlebih dia..." belum sempat Ronald meneruskan Kalimatnya, tiba-tiba Zein memotong. "Maksudmu dia masih mencintai istriku?" ucap Zein dengan wajah merah padam.


Ronald diam dan tak menjawab apapun mendengar pertanyaan dari tuannya yang dilandasi rasa cemburu.


"Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Zein yang sudah merasa bosan dalam perjalanan menuju kantor Rey.


"Kurang lebih sepuluh menit lagi kita akan sampai, tuan." Ronald menjelaskan.


Akhirnya Zein sampai di kantor milik Rey. Bangunan kantor yang tidak kalah megahnya dengan miliknya.


"Jadi, ini kantornya?" tanya Zein pada Ronald.


"Iya, tuan." balas Ronald sembari menundukkan kepala dengan sopan.


"Apa dia ada di dalam?" tanya Zein lagi.


"Aku tidak tahu, tuan. Karena sebelumnya kita tidak membuat janji pertemuan dengannya." jawab Ronald.


Dengan segera Zein dan Ronald masuk ke dalam untuk bertemu dengan Rey. Namun sayangnya Zein datang disaat yang tidak tepat. Saat itu Rey sedang berada di rumahnya dan tidak berada di kantor.


"Bagaimana, tuan? Apa sebaiknya kita mendatangi rumahnya?" tanya Ronald.


Setelah ku pikir-pikir, memang tidak mungkin jika Rey terlibat dengan kejadian di Resort. Batin Zein menerka.

__ADS_1


"Tidak perlu, kita kembali saja ke kantor. Oh ya... Apa waktu meetingnya masih bisa di lakukan?" tanya Zein.


"Masih, tuan. Masih ada waktu satu jam lagi." jelas Ronald.


"Baiklah, kita akan meeting sebentar." ucap Zein.


Lalu keduanya bergegas untuk kembali ke kantor.


Begitu sampai di kantor, Zein dan Ronald segera masuk ke ruang meeting yang sudah dihadiri orang-orang yang terkait meeting saat itu.


Setelah meeting selesai, Zein kembali ke ruangannya.


Zein duduk bersandar di punggung kursi dan memutar kursinya ke kiri dan kanan, otaknya tidak bisa berpikir selain memikirkan kejadian yang menimpa Rania di Resort. Ia terus menduga siapa pelakunya. Dalam benaknya, kejadian semacam itu bisa terjadi atas dasar cemburu dari pihak lain.


Apa mungkin Yina pelakunya? Batin Zein menerka.


Namun lagi-lagi ia menepis dugaannya yang sangat tidak masuk akal. Dalam benaknya, tidak mungkin Yina sampai hati melakukan itu terhadap Rania, terlebih Zein tidak berpikir jika Yina benar-benar mencintainya.


Untuk beberapa jam, Zein hanya duduk menyandar di kursi, masih terdiam memikirkan kejadian di Resort yang menimpa istrinya. Di dalam ruangan yang hanya ada dirinya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di balik pintu.


Tok tok tok


"Masuk." jawab Zein dengan suara lemas dari dalam ruangan.


"Tuan, mohon tenangkan diri tuan sebelum tuan membaca dan melihat isi dari berkas ini." pinta Ronald sembari menyerahkan berkas yang dipegangnya dan meletakkannya di atas meja.


"Apa maksudmu? Apa ini berkas perihal pelaku itu?" tanya Zein dengan tatapan penuh selidik. "Iya, tuan." jawab Ronald mengangguk.


Dengan segera Zein meraih berkas yang ada di depan meja kerjanya dan membukanya perlahan.


Braaak


Tiba-tiba Zein menggebrak mejanya dengan kuat.


Brengsek, benar saja dugaanku. Ternyata dialah pelakunya. Bagaimana mungkin dia melakukan ini semua terhadap mantan kekasihnya sendiri? Dasar laki-laki pengecut. Batin Zein murka, setelah mengetahui bahwa otak dari kejadian di Resort tidak lain adalah Rey mantan kekasih istrinya sendiri.


Ronald hanya diam menundukkan wajahnya melihat Zein yang sedang diliputi amarah yang mendalam, terlihat dari sorot matanya saat itu.


"Cepat siapkan mobil, kita akan segera ke tempat laki-laki brengsek itu." pinta Zein dengan wajah merah padam sembari menggertakkan giginya.


"Baik, tuan." ucap Ronald sembari mengangguk.


Mereka akhirnya pergi untuk menemui Rey dikediamannya yang tidak begitu jauh. Hanya butuh waktu satu jam setengah untuk sampai.

__ADS_1


Kali ini, Zein pergi tidak hanya berdua dengan Ronald, Zein membawa serta beberapa pengawal handalnya.


🍀Di rumah🍀


Rania tengah asik di dapur, membuat cemilan untuk suaminya ketika pulang kerja nanti.


Sementara tangan kanannya mengaduk adonan, tangan kirinya berusaha meraih gelas berisi air putih. Namun, matanya terlalu fokus pada adonan di depannya hingga membuatnya menyenggol gelas itu dan terjatuh.


Praaang


suara gelas jatuh hingga serpihan kacanya berceceran dilantai.


Sontak Rania terkejut dan menghentikan mixer di tangannya yang saat itu sedang mengaduk adonan. Dan mencoba merapikan serpihan kaca gelas dengan tangannya.


Begitu ia menyentuh serpihan gelas dan hendak membuang ke tempat sampah, tiba-tiba jari telunjuknya terkena serpihan kaca hingga mengeluarkan darah.


Melihat darah di telunjuknya, seketika Rania tertegun lemas dengan pikiran yang aneh-aneh.


Ya Tuhan... Semoga tidak terjadi apa-apa dengan suamiku di luar sana. Batin Rania sembari merapal doa.


Mendengar suara gelas jatuh membuat beberapa pelayan berhamburan mencari dari mana asal suara itu. Kemudian Bibi Ros pergi ke dapur, ia tahu di sana Nyonya sedang membuat kue untuk tuan.


Begitu sampai di dapur.


"Astaga... Nyonya, jangan sentuh serpihan gelasnya. Biar Bibi yang bersihkan." ucap Bibi Ros sembari memegang kedua bahu Rania dan membantu Rania berdiri dari jongkoknya. Lalu mengarahkan Rania untuk duduk di sofa yang terletak di ruang tengah dan tidak jauh dari dapur.


Sementara Bibi Ros membersihkan lantai drai serpihan kaca gelas. Rania duduk di atas sofa dengan termenung.


Lalu pelayan lainnya datang dengan membawa kotak P3K di tangannya, membersihkan luka di jari Rania dan memakaikan plester di telunjuk Rania. Selama pelayan memakaikan plester di telunjuknya, Rania masih diam tak bersuara dengan tatapan mata kosong memikirkan suaminya.


"Nyonya, lain kali hati-hati." ucap pelayan itu sembari merapikan kotak P3K di atas meja.


"Ponselku... Tolong ambilkan ponselku." perintah Rania panik.


"Baik Nyonya, di mana nyonya menaruh ponsel Nyonya?" tanya pelayan itu ketika sudah berdiri.


"Di dapur, tadi aku meletakkannya di dapur, cari saja di dapur...!" jawab Rania tergesa.


Kemudian pelayanan itu segera pergi ke dapur dan mencari ponsel milik Rania, begitu melihatnya, ia segera mengambilnya kemudian memberikannya pada Rania yang saat itu masih duduk termenung di atas sofa.


Rania meraih ponsel miliknya dengan segera lalu menghubungi suaminya.


Bersambung\=\=\=\=>


Jangan lupa dukungannya ya readersku

__ADS_1


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


Terimakasih atas dukungan dari kalian. 🤗


__ADS_2