Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Kedatangan Evelin.


__ADS_3

🌸Di kantor🌸


"Selamat siang, tuan?" sapa Ronald pada Zein yang saat itu baru saja duduk di kursi duduknya. Zein hanya mengangguk.


"Bagaimana meeting hari ini, Ron?" tanya Zein penasaran. Ia masih sibuk dengan beberapa berkas yang ada di atas mejanya.


"Meeting hari ini berjalan lancar, tuan." balas Ronald.


"Ron, akhir-akhir ini aku tidak bisa disiplin, apa kau kerepotan dalam mengurus pekerjaanmu dalam menghandle pekerjaanku? " tanya Zein. Sambil melirik wajah Ronald.


"Tidak, tuan... Sejauh ini masih aman." jawab Ronald sopan.


"Baiklah." balas Zein datar.


"Baik, tuan. Kalau begitu, saya permisi keluar." Ronald meminta izin untuk keluar setelah memberikan berkas.


"Tunggu..." Zein mencoba menahan langkah Ronald yang baru saja akan membuka pintu.


Dengan segera, Ronald memutar tubuhnya dan kembali mendekati Zein.


"Ya, tuan, ada apa?" tanya Ronald sopan.


"Orang itu... apa orang itu berulah lagi?" tanya Zein penasaran.


Zein menanyakan perkembangan Rey, apakah dia masih mencoba untuk mengacaukan bisnisnya.


"Apa maksud tuan adalah, Rey?" tanya Ronald.


"Ya." Jawab Zein singkat.


"Setelah dia berhasil merebut lahan yang akan kita buat untuk pembangunan perumahan, sepertinya tidak ada lagi tuan." jawab Ronald.


Tidak ada lagi? Apa dia sudah menyerah dan berhenti menggangguku? Hmmm... Rasanya aneh. Batin Zein penuh selidik.


"Baiklah kalau semuanya aman, itu lebih baik dari pada harus berurusan dengannya lagi." timpal Zein.


"Iya, tuan. Mungkin dia merasa tidak tertantang, ketika dia berhasil mengambil alih lahan itu dari tuan dan tuan tidak menanggapinya." saut Ronald.


Dia bukan orang yang mudah menyerah jika itu menyangkut soal Rania. Terlebih, ancamannya waktu itu benar-benar terdengar serius... Aku merasa, dia sedang mengatur siasat. Batin Zein menduga.

__ADS_1


"Sudahlah, aku tidak peduli soalnya. Kau boleh keluar." balas Zein seolah tak perduli dengan rencana jahat Rey padanya.


***


Di rumah.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan di balik pintu kamar Rania.


Rania melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul 15:00 sore.


Ia bengong untuk sesaat, pikirnya, siapa yang datang di jam segitu? Suaminya tidak akan pulang secepat itu. Dan, lagi pula Zein tidak akan mengetuk pintu untuk masuk ke dalam kamar.


Rania beranjak dari kasur dan mencoba membuka pintu kamarnya. Begitu ia membukanya, ternyata yang datang adalah Evelin. Adik dari suaminya.


"Hay kak Ran, bagaimana kabarmu?" sapa Evelin sambil memeluk tubuh Rania.


Rania sempat terkejut, ada maksud apa Evelin datang ke rumah?


"Kabarku baik, oh ya... Bagaimana kabar mama sekarang?" Rania menanyakan kabar ibu mertuanya, sambil mempersilahkan Evelin untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Kabar mama baik-baik saja kok. Hanya saja..." jawab Evelin singkat, sambil memotong kalimatnya.


"Hanya saja kenapa Lin?" Rania penasaran, tangannya memegang bahu Evelin.


"Bagaimana ya kak Ran... Aku bingung mengatakannya." timpal Evelin sambil menghela napas.


"Kenapa bingung? Katakan saja, Lin?" desak Rania.


"Sebenarnya kedatanganku ke sini, selain untuk mengetahui kabar kalian berdua. Aku juga ingin menyampaikan sesuatu." ucap Evelin.


"Katakan saja, kau tak perlu sungkan." kata Rania sambil tersenyum.


"Mama... Ingin tahu, apakah kakak sudah berhasil atau belum?" kata Evelin berbisik di telinga Rania.


Deg, tiba-tiba jantung Rania berdebar.


"Berhasil apa, Lin?" tanya Rania berlagak tidak tahu.

__ADS_1


"Ah... Kakak, itu..." jawab Evelin sambil melirik perut Rania.


Benar saja dugaan-ku. Aku juga tidak mungkin mengatakan padanya bahwa saat ini aku sedang sakit. Batin Rania.


"Aku belum memeriksanya lagi, sejauh ini juga belum ada tanda-tanda apapun yang aku rasakan. Tolong sampaikan pada mama untuk bersabar." ucap Rania mencoba meyakinkan.


"Ah... Tidak apa-apa kak, mohon maklumi atas keingintahuan mama ya kak. Soalnya kondisi mama saat ini membuat mama sangat ingin segera memiliki cucu." jelas Evelin.


"Aku mengerti, Lin." jawab Rania tersenyum.


"Kak Zein pulang jam berapa kak?" tanya Evelin.


"Kakakmu tidak pernah pulang tepat waktu. Kadang sore, kadang juga malam." jawab Rania.


"Hmmm... Kakak masih belum berubah saja gila kerjanya. Seharusnya kakak lebih banyak waktu di rumah bersama kak Ran." ucap Evelin.


Rania hanya tersenyum mendengar ucapan Evelin.


"Ah... Ya sudahlah, aku akan segera pulang." Kata Evelin sambil beranjak dari duduknya.


"Kau tidak ingin menunggu kakakmu pulang dulu?" Rania memberikan usul.


"Tidak ah kak, aku mau langsung pulang saja." jawab Evelin sambil memeluk Rania.


"Baiklah, aku akan mengantarmu turun." Kata Rania.


"Tidak perlu kak, aku bisa turun sendiri." balas Evelin tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, sampaikan salamku pada papa dan mama yah." ucap Rania.


"Tentu." jawab Evelin singkat, lalu keluar dari kamar Rania.


Setelah Evelin keluar dari kamarnya, Rania duduk di tepi kasur sambil memikirkan perkataan adik iparnya barusan.


*Bersambung.


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


Jangan lupa mampir di novel baruku

__ADS_1


➡️ TERJEBAK CINTA DALAM PENCARIAN.


TERIMAKASIH. 🤗


__ADS_2