Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Bertemu Tania


__ADS_3

Rania akhirnya keluar dari kamarnya berniat untuk menemui Zein di bawah. Begitu sampai di bawah, justru ia tak mendapati suaminya ada di bawah.


Hem... Sepi sekali, ke mana perginya mereka? Batin Rania bingung melihat ruang tengah yang tadinya rame kini sepi.


Rania pun mendekati Bibi Ros yang saat itu sedang berada di dapur.


"Bi Ros, kemana perginya tuan? Dari tadi aku tidak melihatnya." tanya Rania dengan wajah bingung.


"Maaf Nyonya, tadi pagi bibi lihat mereka pergi keluar bersama." jawab Bibi Ros.


Rania menyandarkan tubuhnya di tembok sembari berpikir.


Hem... Pergi kemana mereka sepagi ini? Inikan hari minggu, bukankah kantor libur. Batin Rania.


"Bibi tau ke mana mereka pergi?" tanya Rania lagi.


"Maaf Nyonya, Bibi tidak tahu, tuan tidak berpesan sebelum pergi." jelas Bibi Ros.


Rania pun meninggalkan Bibi Ros dan kembali ke kamarnya. Dan begitu sampai di kamarnya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Drrrrt... Drrrt...


Rania menggeser tombol berwarna hijau kemudian menjawab panggilan yang berasal dari adiknya.


"Iya... Tania ada apa?" tanya Rania dengan nada ceria.


"Kak, apa hari ini kaka bisa temani aku pergi mencari gaun?" jawab Tania dari seberang telepon.


"Gaun? Hem... Untuk apa?" tanya Rania heran.


"Sebentar lagi kan aku lulus sekolah kak, aku mau mempersiapkan untuk malam perpisahan dengan teman-temanku." balas Tania.


"Benarkah...? Wah ternyata adik kakak sekarang sudah dewasa yah." Ledek Rania sembari tertawa kecil.


"Cih... Kaka ke mana saja sih? Baru sadar adiknya sudah dewasa." Tania berdecak.


"Hahaha... Tentu saja bisa, lagi pula kakak juga pengen keluar nih, bosan di rumah terus." balas Rania.


"Oke... Nanti biar aku ke rumah kaka saja yah, kita berangkat dari sana saja." timpal Tania dari seberang telepon.


"Oke." balas Rania.


Tania pun mengakhiri panggilannya, bergegas pergi ke rumah kakaknya.


Selesai menerima panggilan dari Tania, Rania pun mencoba menghubungi suaminya. Ia penasaran dengan keberadaan suaminya saat ini sekaligus ingin meminta izin pergi keluar bersama adiknya.


Dalam perjalanan menuju ke rumah, tiba-tiba ponsel milik Zein berbunyi.


Mengetahui panggilan itu berasa dari istrinya, dengan segera Zein menerimanya.


"Ya sayang... Ada apa?" tanya Zein dari seberang telepon.


"Sayang, kau di mana sekarang? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" tanya Rania cemas.

__ADS_1


"Hahaha... Apa kau cemas, sayang?" Ledek Zein.


"hem... Sedikit." jawab Rania singkat.


"Oh... ya sudah kalau begitu hari ini aku tidak pulang." jawab Zein menggoda istrinya.


"Memangnya kenapa sampai tidak pulang?" tanya Rania heran.


"Soalnya tidak ada yang mencemaskanku sih." jawab Zein menggoda.


"Cih... Pagi-pagi sudah membual." Rania berdecak.


"Hahaha... Sebentar lagi aku sampai kok, diam di rumah yah." Zein berpesan agar Rania tidak pergi tanpa dirinya.


"Em... Tapi, sayang, hari ini aku berencana untuk pergi keluar bersama Tania." jelas Rania.


"Tania? Mau pergi ke mana, sayang?" tanya Zein penasaran.


"Katanya Tania ingin mencari gaun untuk acara perpisahannya. Minta aku temani, lagi pula aku bosan di rumah terus, boleh yah sayang?" bujuk Rania dengan suara manja.


"Tunggu aku pulang sayang, nanti kita bicarakan lagi, sebentar lagi aku sampai." balas Zein.


Rania pun mengakhiri panggilannya.


Cih... Kenapa harus menunggunya pulang sih? Awas saja jika nanti melarang. Batin Rania mengancam.


Tidak lama setelah menunggu, akhirnya Tania datang.


"Kakak..." Teriak Tania dengan lantang yang saat itu berada di bawah memanggil kakaknya sembari menaiki tangga.


Kemudian Rania pun membuka kamarnya dan mendapati Tania sudah berada di depan pintu kamarnya.


Tania langsung memeluk tubuh kakaknya yang begitu di rindukannya. Begitupun dengan Rania, ia membalas pelukan adiknya dengan erat kemudian menggandengnya masuk ke dalam kamarnya.


Kini Tania duduk di atas sofa, sementara itu Rania membuka kulkas yang ada di dalam kamarnya. "Kau mau minum apa Dek?" tanya Rania sembari memilih beberapa jenis minuman yang ada di dalam kulkas.


Zein sengaja tidak menyediakan minuman kaleng di kulkas yang berada di dalam kamarnya, hanya ada beberapa jus buah dan susu segar.


"Apa saja kak? Yang penting segar." balas Tania sembari menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.


"Baiklah, jeruk saja ya?" Kata Rania.


"Boleh." timpal Tania.


Rania meraih jus jeruk dan memberikannya pada Tania yang saat itu sedang duduk menyandar di atas sofa.


Kemudian keduanya, duduk bersama di atas sofa dan berbincang satu sama lain.


"Di mana kak Zein?" tanya Tania penasaran sembari meneguk jus jeruk.


"Dia sedang ke luar, sebentar lagi juga pulang." jawab Rania sembari meneguk jus jeruk.


"Memangnya pergi ke mana kak? Inikan hari minggu? Kenapa kakak tidak ikut?" Tania menatap wajah Rania penuh selidik.


"Mungkin ada urusan mendadak bersama temannya." jawab Rania singkat. "Oh ya... Gimana kabar ayah sama ibu?" lanjutnya.

__ADS_1


"Mereka baik-baik saja kok" jawab Tania. "Hem... Ngomong-ngomong apa kakak sudah berhasil?" lanjutnya sembari melirik bagian perut Rania.


"Maksudmu hamil?" tanya Rania memastikan.


Tania mengangguk sembari tersenyum.


"Hem... Entahlah, kakak belum pernah memeriksanya, lagi pula belum ada tanda-tanda kehamilan." balas Rania.


Tiba-tiba Zein membuka pintu kamarnya dan mendapati istrinya tengah berbincang dengan adiknya.


"Sayang... Apa kau hamil?" tanya Zein terkejut begitu mendengar obrolan mereka dan hanya mendengar kalimat terakhir Rania yang menyebutkan kehamilan.


"Bu... Bukan sayang." Rania menepisnya.


"Yah... Kirain kamu hamil, sayang." ucap Zein dengan wajah lemas.


"Kakak apa kabar?" Tania berdiri dan memberi salam pada Zein yang saat itu sudah berdiri di depan mereka.


"Baik." jawab Zein singkat sembari tersenyum. "Bagaimana kabar ayah dan ibu?" lanjutnya.


"Baik juga kak, oya aku tunggu di bawah ya kak." ucap Tania melirik wajah Rania.


"Ya." jawab Rania singkat.


Begitu Tania keluar, Zein duduk di samping istrinya yang saat itu sedang duduk di atas sofa.


"Dari mana saja? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?" tanya Rania dengan wajah cemberut.


Melihat wajah cemberut di wajah Rania justru membuat Zein gemas dan menunjukkan senyum bahagianya di depan wajah istrinya.


"Sayang... Kalau kau cemberut begini, kau terlihat semakin cantik." Zein menggoda.


"Tuh kan mengalihkan pembicaraan." balas Rania kesal, kemudian menyilangkan kedua tangannya dengan bibir manyunnya.


"Nanti akan aku jelaskan... Sekarang kamu pergi saja bersama Tania, kasian Tania menunggumu di bawah." jelas Zein.


Zein mengizinkan Rania pergi dengan adiknya dengan tetap di dampingi oleh beberapa pengawalnya.


"Hem... Tapi aku penasaran, sayang." bujuk Rania.


"Ya nanti akan aku ceritakan setelah kamu kembali, makanya perginya jangan lama-lama...!" balas Zein, mencoba memberi pengertian pada Rania.


"Baiklah." Rania mengangguk dan bersiap untuk pergi. "Sayang, aku pergi tanpa pengawal kan?" lanjutnya.


"No... Tentu saja kamu pergi bersama pengawal." balas Zein dengan tegas, sembari menggelengkan kepalanya.


"Tapi, aku malu sayang? Masa sih aku pergi ke mall saja sampai di dampingi pengawal? Apa kata orang? Lagi pula di sana ada banyak orang, jadi tidak mungkin ada yang berani menggangguku di sana." bujuk Rania.


"Mau pergi atau tidak?" balas Zein dengan nada mengancam.


"Huh... Baiklah." jawab Rania kesal.


Melihat wajah kesal istrinya, Zein hanya tersenyum senang.


Bersambung\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2