Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Meyakinkan hati Zein.


__ADS_3

Zein tahu, suara di balik pintu itu adalah Rey yang mencoba mengetuk pintu.


"Sayang, aku lihat dulu siapa yang datang. Kamu Istirahatlah!" pinta Zein, lalu bergegas pergi untuk membuka pintu.


Zein membuka pintunya lalu segera keluar untuk bicara dengan Rey.


"Tolong izinkan aku melihat keadaan Rania! Setelah itu, aku akan pergi." ucap Rey memelas.


Bagaimanapun, dia telah berjasa memberikan sebagian darahnya untuk istriku. Batin Zein yang masih memiliki belas kasih. Sangat jauh dengan Rey.


"Baiklah, tapi jangan buat keributan!" ucap Zein mengancam.


"Ya, tentu saja." balas Rey singkat.


Lalu keduanya masuk ke dalam.


"Kau, sedang apa kau di sini? Pergi dari sini...! Aku tidak ingin melihat wajahmu...!!" begitu Zein dan Rey masuk bersama ke dalam. Rania meneriakinya hingga membuat bagian perut bekas jahatannya terasa sakit. "aw..." ia meringis.


"Kau sudah lihat kan? Jadi sebaiknya kau pergi dari sini...!" kata Zein tegas.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pergi. Maafkan aku, Rania." Rey beranjak pergi dan meninggalkan kata maaf pada Rania sebelum ia keluar dan meninggalkan rumah sakit.


Tampaknya dia sangat membenciku. Sebaiknya aku pergi saja, aku akan gunakan cara yang lebih halus agar dia tidak semakin membenciku. Rey membatin dengan rasa menyesal sambil menyusun rencananya merebut kembali Rania dari tangan Zein.


Setelah Rey meninggalkan rumah sakit. Zein kembali mendekati Rania dan duduk di sampingnya. Mengelus tangan Rania dan tersenyum tipis.


"Zein... Kita laporkan saja dia ke polisi, aku lebih tenang jika ia mendekam di penjara." kata-kata Rania barusan membuat Zein diam sejenak.


"Sayang... Kita tidak bisa memenjarakannya begitu saja." balas Zein sambil tersenyum.


"Loh... Kenapa? Bukankah dia sudah mengurungku dan menyakitiku. Bahkan ia hampir menyentuhku, Zein. Jika kau tidak datang tepat waktu." Rania mengucapkannya dengan tergesa dan marah. Matanya mulai menampakkan genangan air yang segera jatuh membasahi pipinya.


"Kau tidak perlu takut lagi, sayang... Mulai saat ini, dia tidak akan mengganggumu lagi..!" ucap Zein seraya mengelus rambut pendek Rania.


"Benarkah? Apa kau yakin, Zein?" tanya Rania penasaran.


"Tentu saja, aku sudah mengancamnya. Jadi, dia tidak akan berani mengganggumu lagi mulai sekarang." balas Zein mencoba meyakinkan Rania.


"Syukurlah, sekarang aku sedikit lebih tenang." Rania tersenyum senang. Seolah beban di pundaknya hilang. "Tapi... Bukankah dia pernah mengancam-mu dan ingin menghancurkan kita?" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Hahaha... Siapa yang bisa menghancurkan-ku? Sayang... Apa kau meragukan kemampuanku? Aku bahkan bisa masuk dan melewati orang-orang yang berada dalam kekuasaannya, hingga bisa menemui di sana!" ucap Zein dengan bangga.


"Ah... Iya, kau benar." Rania tertawa.


"Sayang... Boleh aku bertanya?" ucap Zein sambil menatap wajah Rania.


"Ya... Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan?" balas Rania sambil mengernyitkan alis matanya.


"Apa kau masih mencintainya?" seketika pertanyaan Zein membuat Rania diam, lalu menghela napas panjang.


"Zein... Apa kau meragukanku? Naif memang jika aku bilang bahwa aku tidak mencintainya, dulu sekali yah... Dulu... Dia memang orang yang aku cintai. Tapi kini setelah aku mengenalmu dan dengan sikap kasarnya padaku sekarang. Bagaimana mungkin aku bisa mencintainya? Kau tahu, Zein... Kini aku bahkan sangat membencinya." Rania mengatakannya dengan tegas.


Mendengar jawaban dari Rania seperti itu, rasanya sudah cukup menjawab keraguan di hati Zein. Ia hanya membalas perkataan Rania dengan sebuah senyuman. Keduanya saling menatap dan tersenyum. Senyuman yang tidak bisa diartikan maknanya, hanya mereka yang mampu menjawabnya.


***Bersambung.


JANGAN LUPA


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE VOTE VOTE yang banyak yah readersku tercintah...

__ADS_1


Terimakasih**. 🤗


__ADS_2