
Pagi itu perbincangan antara Rania dan Tania cukup lama. Mulai dari tentang cinta, membahas masa lalu hingga hal-hal yang bersifat sederhana.
"oh ya... Kak bajuku di taruh di mana?" Tania bertanya sembari memegang tas ransel miliknya yang berisi beberapa pakaian selama menginap di rumah Rania.
"Hem..." Rania mencoba berpikir.
"Ah... Taruh saja di sini." Tania berjalan menuju lemari kecil dan meletakkan tasnya yang tidak terlalu besar itu di atas lemari tersebut.
"Ok... Sementara, taruh saja di sana." balas Rania tersenyum.
Tidak berapa lama, seperti biasa, Rania mulai merasakan mual kembali.
Ueeek... Ueeeek...
Dengan tergesa ia berlari kecil menuju toilet.
Kasihan kakak. Batin Tania sembari menggelengkan kepalanya.
Melihat kondisi yang di rasakan kakaknya, tentu saja Tania merasa kasihan.
Setelah meletakkan tas nya di atas meja, Tania pun bergegas mendekati Rania yang masih berada di dalam toilet.
Tania menyentuh bahu kakaknya seraya berkata.
"Apa kakak baik-baik saja?" tanya Tania dengan wajah sedikit cemas.
"Tidak apa-apa Tania, kakak baik-baik saja, kakak sudah terbiasa dengan keadaan ini." jawab Rania sembari mengusap wajahnya yang basah dengan handuk kecil.
Mendengar ucapan kakaknya, Tania pun sedikit lebih tenang.
"Baiklah... Setelah ini, ayo kita turun kak, setidaknya kau perlu berjemur di bawa terik matahari walau sebentar, aku yakin... Kau jarang terkena sinar matahari selama masa kehamilan ini...!" ajak Tania.
"Baiklah... Tunggu sebentar." jawab Rania singkat.
Tidak lama keduanya pun keluar dari kamar menuju tangga untuk menuruni anak tangga.
Begitu mereka sudah sampai di depan tangga, betapa terkejut dan herannya mereka ketika melihat adegan beberapa orang sedang membuat pagar pada bagian depan tangga, kayaknya sedang membatasi seorang anak kecil agar tidak jatuh dari tangga.
"Ini... Maksudnya untuk apa kak? Kenapa harus di beri sekat seperti ini? Kalian tidak sedang memiliki anak kecil kan? Dan juga... Kita akan turun lewat mana jika tangga ini di tutup?" Tania memberondong pertanyaan dengan ekspresi wajah bingung.
"Entahlah... Beginilah kelakuan kakak ipar-mu, Tania... " jawab Rania dengan wajah geram.
Mendengar jawaban dari Rania, Tania justru semakin bingung.
Rania sudah menduga bahwa mereka melakukan ini atas dasar perintah dari suaminya. Ya, suaminya memang kerap kali kesal dan khawatir setiap kali melihat Rania berjalan cepat saat naik dan turun melewati tangga.
"Tania... Ayo ikut kakak." Rania mengajak Tania untuk mengikuti langkahnya.
Tanpa membantah ataupun bertanya, Tania menuruti ajakan kakaknya. Keduanya berjalan menuju lift yang letaknya tidak jauh dari kamarnya Rania.
Begitu sudah sampai di depan lift.
__ADS_1
"Oh iya... Aku lupa kalau rumah kak Zein itu memiliki fasilitas lift. Heheheh... " Tania tertawa saat dirinya sudah mengingat bahwa tangga bukanlah satu-satunya akses naik dan turun di rumah kakak iparnya.
Rania hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat ekspresi adiknya.
Lalu keduanya pun segera masuk ke dalam lift dan beberapa saat kemudian keduanya sampai di lantai dasar, tepatnya ruang tengah.
Saat melihat Bibi Ros, Rania pun mencoba bertanya pada bibi Ros perihal di tutupnya akses naik dan turun melalui tangga. Karena ingin memastikan.
Bibi Ros adalah orang kepercayaan Zein selain Ronald, karena ia sudah mengikuti keluarga Zein lama sekali bahkan saat Zein masih kecil hingga membuat Bibi Ros tahu semua kegiatan apapun di rumah tersebut.
"Bi... Apa tuan yang memerintah mereka untuk melakukan itu?" Rania melirik ke atas, tepatnya para pekerja yang sedang mengerjakan pemagaran pada bagian depan tangga.
"Benar, Nyonya..." Bibi Ros menjawab dengan tegas.
Hem... Sudah ku duga. Batin Rania kesal.
Saat di rumah maupun di luar rumah... Dia selalu menyebalkan. Gerutu Rania dengan wajah kesal.
Tania merasa penasaran dengan pembicaraan keduanya dan alasan di pagarnya bagian tangga depan.
"Memangnya kenapa harus di pagar, Bi?" dengan entengnya Tania bertanya.
Mendengar pertanyaan Tania barusan, Bibi Ros bingung harus mengatakannya. Seketika Bibi Ros terdiam sembari melirik ke arah Rania.
Mengetahui maksud dari lirikan mata Bibi Ros, Rania pun paham. Ia menarik lengan tangan Tania dan berjalan cepat meninggalkan Bibi Ros.
"Eh... Kenapa buru-buru sekali sih kak jalannya? Aku kan belum mendengar jawaban dari Bibi Ros." ucap Tania, masih dengan wajah penasaran.
Lalu keduanya pun menghabiskan waktu berbincang di taman setelah selesai berjemur beberapa menit di bawah terik mentari.
Sementara itu, Zein mulai berjalan menuju pesawat karena pesawat akan berangkat.
Dengan hati yang berat, Zein harus tetap melakukan perjalanan ke Singapura demi urusan pekerjaannya dengan di temani Ronald tentunya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam di dalam pesawat. Akhirnya Zein dan Ronald sampai di changi air port.
Begitu sudah sampai di bandara, keduanya pun di sambut oleh orang yang sudah biasa menjemput Zein ketika Zein berkunjung ke Singapura.
Lalu keduanya pun masuk ke dalam mobil, bergegas menuju hotel milik Zein di sana.
Saat berada di Singapura, Zein memang selalu bermalam di hotel miliknya, karena di sana ada kamar khusus untuk dirinya beristirahat.
Saat dalam perjalanan menuju hotel, Zein langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya. Seolah sudah tidak sabar ingin segera mendengar suara istrinya meski dari balik ponsel.
Drrrt... Drttt...
Di sela-sela obrolan Rania dengan Tania. Tiba-tiba ponselnya Rania berbunyi.
Rania merogoh kantung bajunya dan dilihatnya sebuah panggilan dari Zein.
Ada apa dia menghubungiku...? Apa dia sudah sampai di Singapura...? Batin Rania terkejut.
__ADS_1
Dengan segera, Rania pun menggeser tombol berwarna hijau yang ada di layar ponselnya.
"Halo..." jawab Rania dengan nada ketus, begitu ponselnya telah tersambung dengan suaminya.
"Jutek amat jawabnya..." kata Zein dari seberang telepon.
"Kenapa?" Rania bertanya masih dengan nada yang sama.
"Sayang... apa kau sudah makan?" tanya Zein dengan nada lembut.
"Sudah." balas Rania singkat.
"Lalu.. Sedang apa sekarang?" tanya Zein lagi, masih dengan nada lembut.
"Duduk." balas Rania datar.
Astaga... Kenapa dia? Apa dia sedang sakit gigi? Batin Zein heran mendengar jawaban singkat dan ketus dari istrinya.
"Sayang... Aku baru saja sampai di Singapura, jangan buat aku khawatir...! Sebenarnya kau kenapa? Dari tadi di tanya jawabnya jutek banget..." tanya Zein penasaran.
"Pikir saja sendiri... Itu... kenapa ada orang-orang aneh di rumah dan memagar tangga bagian depan?" jawab Rania dengan nada jengkel.
Mendengar ucapan Rania, akhirnya Zein mengerti sebab istrinya jadi jutek seperti itu.
"Hahaha... Jadi karena itu kau marah?" Zein tertawa.
Mendengar Zein malah tertawa, Rania jadi semakin kesal.
"Kenapa tertawa? Memangnya ada yang lucu?" tanya Rania kesal.
"Sayang... Kau pasti tahu alasan aku melakukan itu tanpa aku memberitahumu." Zein menjelaskan.
"Ah tau ah..." balas Rania dengan nada yang masih jengkel.
"Sayang... Itu tidak akan merugikanmu juga kan?" balas Zein.
"Iya memang... Tapi, sayang... Apa kau tahu, aku jadi terlihat malu di depan Tania karena itu." balas Rania.
"Hem... Sudah jangan di pikirkan, oh ya... Apa dokter Gea sudah datang?" tanya Zein penasaran.
Pasalnya, sampai dirinya sudah berada di Singapura, Bibi Ros masih belum mengabarkan tentang kedatangan dokter Gea di rumahnya.
Dokter Gea...? Siapa lagi dia...? Kejutan macam apa lagi yang akan dia berikan hari ini...? Batin Rania bingung.
Bersambung\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
TERIMAKASIH. 🙏🏻
__ADS_1