
Tidak lama setelah menerima telepon dari ibunya, Rania bergegas pulang. Menyadari bahwa dirinya mau tidak mau harus siap menerima kenyataan bahwa ini hari terakhirnya melajang. Langkah kakinya lunglai tak bertenaga, kakinya berjalan lurus tanpa irama sepanjang jalan menuju di mana mobilnya di parkir, matanya hanya menatap ke arah depan dengan tatapan kosong tak bernyawa.
Sesekali ia melihat memo dari Zein, yang masih di pegang tangan kanannya selagi berjalan menuju mobil. Ia berhenti sejenak dan kembali mengangkat tangan kanannya yang masih memegang secarik memo itu, ia menggerakkan bola matanya ke kanan, seolah sedang berpikir apa yang akan dia perbuat dengan kesempatan terakhir yang di berikan Zein untuknya. "Apa aku temui Zein saja ya?“ gumamnya dalam hati. Sementara pikiran lainnya kembali merasukinya."Ahh,, tapi bagaimana dengan ayah dan ibu yang sudah terlanjur bahagia atas pernikahanku besok? Haruskan aku mematahkan senyum mereka dan membuat luka yang belum pernah ku torehkan pada mereka? Ya Tuhan, apa yang harus ku perbuat? "Batinnya meronta.
Sementara ia diam mematung dan berfikir keras di depan teras mobilnya, matanya terkejut ketika menoreh ke arah kanan dan mendapati seorang lelaki berjas dan berdasi, berdiri tepat di sampingnya. Ya, laki-laki itu adalah Zein Arka, calon suami pilihan orang tuanya yang pernah ia lihat satu bulan yang lalu di meja makan kala itu. Matanya terbelalak terkejut melihat Zein. Dengan terbata ia mulai bicara, "Ka,, kamu, sedang apa di sini?" Tanya Rania gugup bercampur malu.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Tidak boleh? Entahlah aku pun bingung, kenapa tiba-tiba kakiku menuntunku ke arah sini dan berhenti tepat di sampingmu?" sambil melirik secarik memo yang masih di pegang tangan kanan Rania, Zein menjawabnya dengan santai sambil tersenyum meledek.
Menyadari bahwa Zein mendapati dirinya memegang secarik memo pemberiannya, secara refleks Rania membuangnya dan terjatuh ke tanah. Kemudian Zein membungkuk dan mengambilnya lalu berdiri lagi sambil melempar senyum meremas secarik memo tersebut, kemudian tangan kirinya berusaha meraih tangan kanan Rania dan meletakkan memo kusut yang sudah di remasnya barusan tepat di telapak tangan Rania seraya berkata. "Jika secarik memo ini saja mampu mengusik hatimu, bagaimana mungkin aku bisa berada di sampingmu dengan waktu yang tak terbatas?" Suara Zein terdengar lembut.
Seketika Rania diam dan mematung mendengar perkataan Zein barusan. Batinnya bertanya-tanya sosok seperti apakah Zein yang ada di depannya ini? Kenapa Zein memberikan kesempatan menyerah padanya, sementara jelas terlihat bahwa Zein sebenarnya menginginkan pernikahan ini. Belum sempat ia tersadar dari pikirannya. Tiba-tiba terdengar suara berbisik kemudian berlalu bersama langkah kaki yang juga mulai hilang dari pendengarannya.
__ADS_1
Tik,,tik,,tik,, ada rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi dan juga sekujur tubuhnya, langit yang tadinya cerah mulai menghitam. Namun ia tetap diam tak bergerak kecuali kedua tangannya yang membentang setinggi bahu, memejamkan matanya dan merasakan bulir-bulir hujan yang terasa menyejukkannya hingga ke dasar hati. Ia merasakan kesegaran di tengah kemarau panjang yang melanda hatinya bertahun tahun lalu.
Tiba-tiba air hujan itu berhenti dan membangunkan lamunannya. Ada payung melingkar tepat di atas kepalanya. Ya, itu adalah Ferdian. Ferdian datang dan memayunginya hingga membuyarkan lamunannya, ferdian meraih gagang pintu mobil dan membukakan untuk mempersilahkan Rania segera masuk ke dalam. Rania pun bergegas masuk ke dalam mobilnya, sementara itu masih dengan memegang payung, ferdian berlari kecil menuju pintu sebelah kanan depan mobil lalu masuk dan melipat payungnya seraya menyalakan mesin mobil hingga kemudian melaju di derasnya hujan kala itu.
Di dalam mobil, Rania masih terdiam dan hanya memandangi kaca mobil yang mengalir bulir-bulir hujan. Tak ada ekspresi apapun kecuali kepasrahannya menerima kenyataan bahwa takdirnya adalah menikah dengan Zein. Laki-laki pilihan orang tuanya, Ia hanya berharap hidupnya tetap baik-baik saja meski setelah menikah dengan Zein besok.
__ADS_1
Bersambung.