
Pesta pernikahan Rania dan Zein berakhir, begitupun dengan keramaian yang mulai menyepi. Birunya langit mulai menggelap, lampu-lampu di setiap sudut jalan mulai menyala, pertanda malam mulai menyapa.
Setelah pesta pernikahan Rania dan Zein berakhir. Zein segera membawa Rania ikut bersamanya, jauh sebelum pernikahan ini terjadi. Zein memang sudah mempersiapkan hunian baru untuknya dan Rania tinggal. Suasana yang begitu asri dengan hamparan pohon yang hijau nan rimbun. Komplek perumahan elit di sudut ibukota, salah satu lokasi paling elit di ibukota karena lokasinya terbilang asri dan jauh dari keramaian.
Di dalam mobil mewah, yang di dalamnya hanya ada 3 orang, seorang supir pribadi dan 2 orang pengantin yang seharusnya saling berbahagia dan bermesraan layaknya pengantin baru. Namun tidak untuk Rania dan Zein. Sepanjang jalan Rania hanya diam dan menatap langit-langit malam yang hanya nampak pepohonan dan di hiasi lampu-lampu pinggir jalan nampak seperti bintang.
Zein sengaja tidak berbicara apapun selama perjalanan. Demi menghindari suasana hati yang buruk bagi Rania, Zein begitu paham bahwa Rania tidak menyukainya dan pernikahannya.
Tidak kurang dari 1 jam saja mereka sampai di sebuah rumah mewah dan megah berlantai empat, yang luas areanya setara dengan 10 bangunan rumah mewah berukuran besar. Seluruh bangunannya di dominasi warna putih, sebelum memasuki rumahnya, terbentang gerbang berukuran besar dengan lebar yang mencapai 10 meter dan ketinggian yang mencapai 4 meter. Sementara itu terdapat juga tembok besar berwarna abu-abu melingkari rumahnya dengan ketinggian 3 meter. Rania cukup tercengang melihat bangunan besar yang tidak sebesar rumah orang tuanya.
Mobilnya memasuki gerbang dan melewati taman yang luas, yang di sampingnya terdapat lampu-lampu penerangan berukuran mungil berwarna kekuningan menuju rumahnya. Jarak dari gerbang untuk sampai kerumahnya mencapai 50 meter.
Sebesar dan seluas ini rumahnya? Dengan wajah yang tidak buruk dan kekayaan yang dimilikinya, seharusnya ia tak perlu menikah denganku hanya karena alasan dijodohkan! Dia bisa saja menikahi artis atau wanita yang lebih segalanya dariku, hmmm,, entah apa alasannya menerima perjodohan ini? Gumam Rania seolah tidak percaya dengan kenyataan yang dimiliki Zein.
"Apa kamu menyukai rumahmu?" Sontak pertanyaan Zein membuyarkan keterkejutannya di dalam hati.
"Sejak kapan aku membeli rumah ini?" Jawab Rania ketus.
"Sejak saat ini dan seterusnya rumah ini menjadi milikmu!" Timpal Zein dan tak lupa menyematkan senyum terbaiknya.
Kenapa dia selalu membuatku kesal? Gerutu Rania menahan kesal oleh setiap perkataan Zein yang mencoba meluluhkan hatinya.
Mobil Zein berhenti tidak jauh dari pintu depan rumah, mereka disambut oleh 20 orang pelayan laki-laki dan wanita yang memegang tugas berbeda satu sama lainnya. Mereka sengaja berbaris untuk menyambut kedatangan tuan dan nyonya barunya di rumah itu. Karena mereka baru saja menempati rumah itu sebulan yang lalu untuk menjaga dan membersihkan rumah baru milik Zein yang di desain khusus untuknya dan Rania sejak 1 tahun terakhir.
"Tuan, nyonya, mari masuk! Biar kami bawa barang-barangnya nanti." 2 orang pelayan itu mempersilahkan mereka masuk dengan menundukkan kepala seraya menjulurkan tangan mereka ke samping.
"Terimakasih." Jawab Zein sopan dengan senyum terbaiknya. Meski Zein bergelimang harta, tapi Zein di kenal sebagai tuan muda yang sangat bersahaja dan baik hati bagi yang mengenalnya. Bahkan terhadap karyawan di rumah dan di kantornya saja ia tak pernah lupa mengucapkan terimakasih ketika sudah dibantu.
Meski dia berprilaku baik dan sopan, rasanya tetap saja aku tidak bisa menerimanya! Setidaknya untuk saat ini. Gumam Rania yang mulai melihat sisi baik Zein dimata orang-orang terdekatnya.
Sejujurnya Zein ingin sekali meraih tangan Rania dan memegangnya erat selama memasuki rumahnya, bagaimanapun nalurinya sebagai seorang suami tetap bergejolak. namun Zein lebih memilih menunggu sampai Rania benar-benar bisa menerimanya, dan bisa bersikap layaknya istri yang manja.
__ADS_1
"Ayo Rania, kita masuk!" Perintah Zein.
"Iya." Jawab Rania singkat.
Meski saat ini Rania diselimuti rasa ketidaksukaannya terhadap Zein, Rania tetap tahu etika dan tahu bagaimana harus bersikap, dengan tetap menjawab sopan pertanyaan Zein yang juga sopan terhadapnya.
Hanya mendengar jawaban "iya" dari Rania tanpa membantah ataupun mencela saja sudah membuat Zein senang.
Dari mulai memasuki pintu rumah hingga menaiki tangga menuju lantai dua dan terakhir langkahnya berakhir pada satu pintu kamar di lantai dua, ada beberapa benda yang tampak tidak asing dimata Rania. Terutama satu benda yang terbungkus oleh kotak kaca berukuran mungil, yang berada di dalam lemari kaca berukuran besar di dalam kamar tidur mereka.
Matanya tertuju pada benda berukuran kecil yang nampak tidak asing baginya. Ia menatap dalam dan mencoba mendekatinya. Namun belum sempat ia mendekat, Zein memanggilnya untuk segera membersihkan tubuhnya lalu istirahat.
"Rania, kamu boleh membersihkan tubuhmu terlebih dahulu baru melihat lihat seisi ruangan ini!" Perintah Zein sambil tersenyum.
"Ah, iya aku juga ingin segera mandi. Rasanya sudah tidak enak sekali badanku setelah seharian ini." Rania menjawab dengan santai dan mulai memasuki kamar mandi.
Sementara Rania berada di kamar mandi, Zein merebahkan tubuhnya yang juga lelah setelah seharian meladeni para tamu yang datang mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan Rania.
Namun melihat sikap Rania yang masih ketus terhadapnya. pikiran itu segera ditepis, ia tahu itu tidak mungkin. Setidaknya untuk saat ini, Rania pasti tidak akan begitu saja menyerahkan tubuhnya dengan suka rela padanya.
Sementara itu di kamar mandi, Rania yang masih menikmati air membasahi dan menyegarkan tubuhnya yang lelah, Mulai mengatur siasat.
Jangan berharap malam ini bisa menyentuhku ya! Ia bergumam sambil tersenyum licik karena hari ini kebetulan sedang menstruasi.
Aku ingin tahu apa dia masih bisa bersikap santai, ketika harus menahan kecewa karena penolakan dariku atas menstruasi ku ini? Seringai licik disertai tawa di dalam hati, cukup membuat Rania senang karena bisa mengerjai Zein untuk hari pertamanya menjadi istrinya.
Setelah selesai mandi, Rania keluar dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi bagian dada sepanjang atas lutut kakinya. Mendapati Zein yang tengah memperhatikannya dari kepala hingga ujung kakinya, ia tampak tersipu malu dan kesal.
Rania bergegas membuka lemari pakaian yang sudah tersedia berbagai macam pakaian wanita sesuai gaya pakaian Rania sehari-hari. Itu karena Zein sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna untuk Rania, Tangannya meraih baju tidur yang cukup terbuka, Karena dari sekian baju tidur yang hampir semuanya terbuka dan menampakan lekuk tubuh. hanya yang ada ditangannya saja yang tidak terlalu terbuka.
Ah... Sial, aku lupa membawa beberapa baju tidurku ke sini. Gerutu Rania kesal. Dengan terpaksa ia memakai salah satu baju tidur yang sudah di siapkan oleh Zein untuknya.
__ADS_1
Ketika Rania mulai berbalik dan menghadap tepat di depan Zein beberapa meter saja dari tempatnya berdiri. Rania tampak bingung harus mengganti pakaian dimana? Sementara Zein yang berada di depannya tak berkedip melihat tubuhnya setengah telanjang.
Untuk ukuran laki-laki normal, jelas tidak akan berpaling melihat pemandangan demikian. Ada hasrat ingin memeluk dan bercumbu, mencium dan memadu kasih di malam pertamanya menikah. Tapi sayang, semua itu tidak bisa dilakukannya sekarang. Karena Zein tidak ingin menyakiti Rania dengan keterpaksaan. Ia ingin segalanya dilakukan atas dasar saling suka.
"Zein, Apa tidak sebaiknya kau keluar dulu sementara aku berganti baju!" Perintah Rania malu-malu.
"Aku terlalu lelah untuk melangkahkan kakiku, bagaimana jika aku menutup mataku saja?" Jawab Zein sambil menggoda.
"Ah,, tidak bisa. Kau keluar saja dulu. Aku tidak percaya kau benar-benar menutup matamu." Timpal Rania dengan wajah sedikit kesal.
Bagaimana mungkin ia berkata kekanak-kanakan seperti itu? Dia pikir aku anak kecil yang bisa ditipu. Jelas-jelas dia ingin melihat tubuhku. Gerutu Rania kesal.
Benar saja dugaanku, dia belum bisa menganggapku sebagai suaminya. Batin Zein pasrah.
"Ah,, sudahlah, sebaiknya aku menggantinya di kamar mandi saja." Ucap Rania kesal.
"Tidak perlu! Biar aku saja yang keluar sebentar dan menunggumu dibalik pintu kamar." Zein berusaha mengalah dan keluar dari kamar.
Seharusnya dari tadi saja kau bilang begitu! Batin Rania kesal.
Tidak lama kemudian Rania membuka pintu kamar dan mempersilahkan Zein masuk.
Belum hilang dari ingatan Zein beberapa menit lalu melihat Rania setengah telanjang dengan handuk yang menempel di tubuh dan memperlihatkan lekuk tubuh Rania yang menggoda dengan tubuh langsing dan tinggi yg dimiliki Rania.
Kini matanya dikagetkan kembali dengan melihat Rania yang mengenakan baju tidur cukup terbuka, baju tidur berwarna peach dengan tali bagian dada yang begitu tipis dan bagian dada depan membentuk segitiga hingga menampakkan bagian tubuh Rania yang menonjol, membuatnya semakin bergejolak ingin menyentuh tubuh Rania. Dan sekali lagi ia hanya bisa menelan ludah dan bersabar.
"Jangan melihatku sepeti itu! Kau membuatku tidak nyaman." Tegas Rania.
"Kau yang membuatku tidak nyaman dan bergairah dengan pakaianmu itu, bagaimana mungkin aku bisa tahan?" Jawab Zein disertai senyum meledek.
Bersambung.
__ADS_1