Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Kembali pergi ke butik


__ADS_3

Setelah menyalurkan hasratnya, Zein dan Rania beristirahat sejenak di atas kasur berselisih tebal.


Di bawah selimut, keduanya masih sama-sama tak berbalut sehelai benang pun di tubuh mereka kecuali selimut tebal yang menutup mereka dan melindungi mereka dari dinginnya AC.


Sambil mengatur napas karena terlalu bersemangat saat melakukan tadi, Zein memalingkan tubuhnya ke arah Rania lalu memeluk tubuh istrinya. Begitupun dengan Rania, saat ia Zein melingkarkan tangannya di pinggang Rania, secara otomatis ia pun memalingkan tubuhnya ke arah Zein. Kini keduanya saling berpelukan dan bertatap wajah.


"Sayang... Aku mencintaimu." ucap Zein dengan tatapan penuh cinta sambil tersenyum.


"Aku juga, sayang..." jawab Rania tersenyum.


Seolah belum puas hanya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Rania, Zein mengangkat kaki kanannya dan melingkarkan ke paha Rania.


Meski terasa berat, namun Rania menikmati kemesraan mereka di atas ranjang setelah beberapa menit bercengkrama.


Setelah menumpangkan kakinya di paha Rania, rupanya bagian sensitifnya kembali bangun dan mulai menyentuh area sensitif yang juga milik Rania.


"Sayang... Sepertinya dia ingin melakukannya sekali lagi." ucap Zein menggoda sambil melirik area sensitifnya.


Rania tersenyum geli mendengar ucapan suaminya. Hingga membuatnya tertawa kecil.


Seolah menginginkan hal yang sama, tanpa mengiyakan permintaan suaminya, Rania justru langsung mendaratkan bibirnya pada bibir suaminya dan melumattnya sampai puas hingga membuat hasrat Zein semakin memuncak dan menimpali ciumann tersebut, namun Zein melumattnya dengan sangat bergairah hingga membuat napas Rania terengah dan sesekali melepaskan ciumann tersebut untuk sekedar mengambil napas. Setelah itu mereka kembali melakukannya hingga berulang kali.


Dan terjadilah pertarungan hangat yang penuh gairah antara keduanya selama satu jam di atas ranjang. Setelah keduanya puas menyalurkan hasrat keduanya, masih berada di atas ranjang di bawah selimut tebal. Akhirnya keduanya tertidur sampai pagi.


Keesokan harinya.


Karena hari ini Rania sudah mulai aktif kembali bekerja di butik miliknya setelah mendapatkan izin dari Zein.


Pagi itu, ia bangun lebih cepat dari biasanya, setelah selesai mandi dan berpakaian rapih layaknya seorang wanita yang hendak eprgi ke kantor.


Ya, pagi itu karena terlalu bersemangat dan sudah lama tidak memakai pakaian yang modis seperti kebiasaannya dulu sebelum menikah. Rania tampil beda dari biasanya, ia sangat antusias hingga membuatnya ingin tampil cantik dan modis pada pagi itu.


Menjadi seorang desainer memang membuatnya terbiasa berpenampilan modis. Selain karena ia sangat menyukai pakaian modis, tentu hal itu juga demi mendukung dunia kerjanya sebagai seorang desainer. Berpenampilan anggun dan modis hingga membuat para pelanggannya tertarik dengan desain-desainnya yang ia jual di butiknya maupun lewat online Shop.


Seperti jiwa yang baru kembali setelah mengalami banyaknya kejadian dalam pernikahannya sebelumnya. Rania tampil menawan dengan busana yang di kenakannya, meski demikian, Rania tetap mengenakan busana yang terlihat sopan tapi modis. Karena Zein tidak menyukai tubuhnya yang mungil itu terlihat oleh laki-laki lain.


Setelah ia selesai mempercantik dirinya, Rania duduk di tepi kasur untuk membangunkan suaminya yang masih pulas di atas kasur, seraya berisik mesra. "Sayang... Ini sudah pagi, bangunlah...!" Bisik Rania di telinga Zein sembari mengelus dada suaminya.

__ADS_1


"Heeeeemmm..." suara Zein saat mendengar bisikan istrinya.


"Cium dulu...!! Maka aku akan bangun." dengan mata setengah terpejam, Zein merayu Rania agar mau menciumnya.


"Hem... Apa semalam kurang?" Rania berbisik kembali di telinga Zein, namun kali ini terdengar lebih mesra.


Zein hanya tersenyum lebar saat mendengar jawaban istrinya yang terdengar menggemaskan, ia lalu mencoba membuka lebar-lebar matanya dan menatap wajah istrinya.


"Waaah... Istriku sudah cantik sekali... Mau ke mana sih?" dengan wajah terkejut, Zein berusaha menggoda Rania.


"Hahaha... Apaan sih." Rania hanya tertawa kecil sambil memukul pelan dadanya.


"Hahaha... Serius, sayang... Kau benar-benar cantik hari ini." Zein memuji Rania.


"Oh... Berarti selama ini aku tidak cantik yah?" sahut Rania sambil mengernyitkan kedua alisnya dan tak lupa memanyunkan bibirnya.


Ciri khas Rania saat kesal karena godaan suaminya.


"Hahaha... Setiap hari kau selalu cantik di mataku, bahkan saat tertidur pun kau selalu cantik." goda Zein sambil mencubit pipi Rania.


"Huh... Ya sudah cepat bangun, ini sudah siang." balas Rania sambil melemparkan kecupan singkat di bibir suaminya.


Rania meninggalkan Zein dari kasur, berjalan menuju lift lalu pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi untuk Zein. Namun setelah ia sampai di meja makan, semua makanan yang di butuhkan-nya sudah tersedia di atas meja. Sehingga ia tak perlu membuatkan lagi untuk suaminya.


Sambil menunggu suaminya turun untuk sarapan pagi bersamanya. Rania memilih duduk di sofa sambil Melihat-lihat beberapa majalah fashion. Hitung-hitung untuk mengasah bakatnya dalam mendesain baju. Karena sudah lama tidak menyentuh pensil lalu menggoreskannya di atas kertas hingga menghasilkan sebuah desain.


Setelah beberapa menit menunggu suaminya, akhirnya Zein datang dan berhenti tepat di samping sofa tempat Rania duduk.


"Sayang... Mari kita makan, kau pasti sudah lapar karena menungguku." ajak Zein sambil memegang bahu Rania untuk segera bangkit dari duduknya.


"Ah... Iya." jawab Rania tersenyum.


Lalu keduanya pun menikmati sarapan pagi yang sudah tersedia di atas meja makan.


"Sayang..." panggil Rania.


"Iya... Kenapa sayang?" Zein menjawab dengan hangat.

__ADS_1


"Nanti siang aku ingin makan siang bersamamu di luar atau di butik, apa bisa?" tanya Rania dengan nada manja.


Zein tersenyum lebar. " Tentu saja bisa..." jawabnya dengan percaya diri.


Rania tersenyum senang mendengar jawaban dari suaminya.


Setelah selesai sarapan pagi, keduanya pun berjalan bersama memasuki mobil.


Zein dan Rania selalu pergi bersama saat bekerja, karena tidak ada batasan jam kerja bagi keduanya. Namun Rania mengikuti jadwal berangkat suaminya, karena meski sebagai pemilik perusahaan, Zein tentunya memberikan contoh yang baik dengan datang tepat waktu agar pekerjanya disiplin.


Zein akan mengantar Rania terlebih dahulu ke butiknya. Baru setelah itu ia akan melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.


Sesampainya di butik, Rania di sambut hangat oleh para pekerjanya, termasuk Melly.


"Selamat pagi Bu." sapa Melly sambil tersenyum.


"Pagi juga, Mel." jawab Rania tersenyum lalu melempar senyum pada karyawan lainnya yang tengah berdiri menyambut kedatangannya kembali ke butik.


Kemudian Rania berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk di kursi. Semua benda di sana tempak bersih dan rapih, karena meski Rania tidak datang ke butik selama beberapa minggu. Melly tetap membersihkannya.


"Bagaimana perkembangan butik saat ini Mel?" tanya Rania sambil membuka beberapa berkas pemasukan.


"Perkembangannya masih baik, Bu... Hanya saja. Beberapa hari terakhir ada pelanggan perempuan yang datang ke sini, lalu menanyakan Ibu karena melihat foto pernikahan ibu yang menggantung di dinding." jelas Melly.


Ya, Rania memang menggantung foto pernikahannya dengan Zein di dinding.


Siapa ya...? Batin Rania mencoba menerka, siapa wanita yang menanyakan dirinya.


Yang mau berlalu-halu dengan wajah para pemain NYT, bisa liat di IG yah. Jangan lupa Like IG author juga yah. ( @senja3295 ).


Bersambung\=\=\=>


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗

__ADS_1


Terimakasih. 🙏🏻


__ADS_2