Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Rasa takut yang berlebihan.


__ADS_3

"Tuan, besok atau lusa Nyonya sudah bisa di bawa pulang, kalau bisa jangan terlalu banyak bergerak dulu. Agar luka bekas jahitannya tetap baik." Dokter Frans menjelaskan.


"Baik, Dok." Zein menjawab antusias.


"Sebentar lagi perawat akan membawakan bubur untuk Nyonya. Meski dalam porsi sedikit." ucap dokter itu.


"Baik, Dok... Terimakasih." jawab Rania tersenyum.


Lalu dokter Frans bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Seperti biasa, Zein segera menutup kembali pintu itu.


Begitu dokter sudah meninggalkan ruangan.


"Zein... Rasanya aku bosan sekali di sini. Aku ingin keluar dan menghirup udara segar. " ucap Rania dengan wajah memelas.


"Baiklah... Nanti setelah selesai makan. Kita akan keluar yah." jawab Zein tersenyum.


Tidak lama seorang perawat datang dan memberikan bubur untuk Rania dan sarapan untuk Zein.


"Biar... Aku yang suapi kamu, sayang! Tugasmu hanya membuka mulutmu... Lalu menelannya!" ucap Zein menggoda Rania.


"Hmmm... Oke." jawab Rania tertawa kecil.


Cukup bubur sebanyak lima sendok masuk ke dalam perut Rania. Setelah itu baru Zein menghabiskan sarapannya.


Setelah mereka berdua selesai menyelesaikan makan paginya. Zein menekan tombol merah pada sebuah remot dan mengatakan. Aku butuh kursi roda,sekarang!!

__ADS_1


Tidak lama, seorang perawat membawakan kursi roda. Zein membuka pintunya lalu mengangkat dan meletakkan tubuh Rania dengan pelan di ats kursi roda.


Mereka akhirnya keluar, Zein mendorong kursi roda itu dengan sangat pelan. Sementara itu orang-orang suruhannya tetap menjaga mereka di belakang dan mengikuti mereka dan mengawasi mereka dengan mata awas.


"Zein... " ucap Rania pelan.


"Ya, ada apa sayang?" jawab Zein sambil mendorong pelan kursi roda yang di tumpangi Rania.


"Dia tidak akan mungkin berada di sini, kan?" Tanya Rania.


"Maksudmu, Rey?" tanya Zein singkat.


"He'em.. " jawab Rania mengangguk.


Lalu Zein memutar balik tubuhnya, kini tubuhnya sudah berada di depan wajah Rania. Ia duduk jongkok dan memegang kedua tangan Rania dan berkat. "Kau tak perlu takut padanya, aku sudah mengancamnya, jadi dia tidak akan mungkin berani menampakkan wajahnya di depanmu!!" Zein mencoba meyakinkan Rania dan membuang rasa takutnya.


Nampaknya Zein juga menyadari rasa takut yang di derita Rania. Ia bahkan Sempat terpikir untuk meminta bantuan psikolog dan mengembalikan kembali rasa percaya diri Rania agar tidak larut dalam ketakutannya yang berlebihan. Ia takut jiwa Rania terguncang akibat peristiwa kemarin yang menimpanya.


Namun setelah di pikir kembali, Zein tidak sampai hati melakukan itu, ia takut Rania akan berpikir buruk tentangnya.


"Meski kita sedang berada diluar, tetap saja aku merasa bosan dengan tubuhku yang hanya berada di kursi roda. Aku ingin masuk ke dalam lagi, Zein...!" ajak Rania.


"Baiklah, sayang." jawab Zein.


Akhirnya mereka kembali ke kamar, tempat Rania di rawat.

__ADS_1


Zein menghentikan dorongannya tepat di depan pintu kamar, lalu mengangkat dan Menggendong tubuh Rania. Rania menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, dan tangannya melingkar di atas leher suaminya. Begitu Zein akan meletakkan tubuhnya di atas kasur.


"Tunggu sebentar lagi, Zein... Aku ingin seperti untuk beberapa saat." ucap Rania dengan tangan yang memeluk leher suaminya dan begitu terasa erat.


Mendengar Rania mengungkapkan itu, akhirnya Zein berbalik badan lalu ia duduk di atas sofa, masih dengan tangan yang Menggendong tubuh Rania. Kini Rania sudah berada di atas pangkuan suaminya.


"Apa ini yang kau mau, sayang?" tanya Zein sambil tersenyum. Rania hanya mengangguk.


Melihat tubuh mungil istrinya dalam pangkuan, Zein merasa gemas. Rania melepaskan lingkaran tangannya di leher suaminya, dan menyandarkan tubuhnya pada lengan sofa. Dan memandang wajah suaminya yang tampak memandanginya dengan wajah tersenyum.


"Apa kau mencintaiku, Zein?" tanya Rania dengan wajah malu. Ia penasaran apakah sikap Zein yang menunjukkan seolah begitu mencintainya adalah sungguhan.


"Loh... Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu, sayang?" Zein balik bertanya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rania.


"Aku hanya ingin tahu saja." jawab Rania singkat dan menundukkan kepalanya.


Zein mengangkat dagunya dan menatap wajah Rania. "Dengan semua yang sudah aku lakukan padamu, apa belum cukup meyakinkan hatimu?" kata Zein sambil memandangi wajah Rania. Rania hanya diam dan menatap wajah suaminya, ia melihat ketulusan di mata suaminya. Perlahan ia mulai merasakan ketulusan suaminya.


Kini mereka hanya saling menatap wajah satu sama lainnya. Keduanya merasakan jantung yang berdebar semakin kencang, sampai kedua tangan Zein menyentuh pipi Rania dan mendaratkan ciuman mesranya. Ciuman yang sangat lembut dengan gerakan yang begitu pelan.


Seolah tersihir, Rania hanya diam tanpa melakukan perlawanan atau berusaha menghentikannya, ia justru tampak begitu menikmatinya. Keduanya saling menikmati ciuman yang berlangsung dalam hitungan menit.


*Bersambung.


LIKE➡️KOMEN ➡️VOTE.

__ADS_1


TERIMAKASIH. 🤗❤️


__ADS_2