
Setelah beberapa menit menunggu buburnya matang, akhirnya Zein membawakan bubur untuk istrinya.
Zein memilih menggunakan lift, karena takut tumpah saat membawa bubur dengan menaiki tangga.
Begitu sampai di kamarnya, Rania sudah tertidur pulas. Meski kasihan melihat istrinya yang baru saja istirahat, namun Zein lebih kasihan jika anak di dalam perutnya lapar karena ibunya belum makan siang. Terlebih paginya Rania mengeluarkan banyak makanan karena muntah.
"Sayang..." Zein menepuk pelan bahu istrinya yang saat itu sedang tidur dengan posisi miring ke samping membelakanginya.
Namun Rania hanya menggerakkan bahunya dan tak mau bangun dari tidurnya.
"Sayang, bangun sebentar yah... Kau harus makan...! Ini buburnya enak loh." Zein berusaha membujuk istrinya.
"Aku tidak lapar!" balas Rania dengan nada ketus.
"Sayang... Meski kau tidak lapar, kau harus memikirkan anak kita di dalam perutmu saat ini, dia pasti lapar." Zein masih terus membujuk istrinya agar mau makan walau sedikit.
Mendengar ucapan suaminya barusan, Rania akhirnya berbalik badan, perkataan suaminya ada benarnya. Ia pun beranjak dari tidurnya, duduk menyandar di punggung kasur.
Melihat istrinya bangun, Zein tersenyum sembari berkata. "Kau ibu yang tanggung, sayang." ucapnya sembari tersenyum.
Zein mencoba memberi kekuatan pada istrinya yang saat ini sedang dalam masa sulit atas kehamilan anak pertama mereka. Ia sangat mengerti apa yang di rasakan istrinya, melihat ia sendiri pernah lihat bagaimana istrinya muntah di hadapannya kala itu dengan wajah memerah dan napas tersengal. Itu bukanlah keadaan yang mudah.
Zein mulai menyendok bubur yang masih sedikit hangat, menyodorkan ke mulut istrinya sembari berkata. "Aaaa..." dengan tertawa kecil.
Melihat tingkah suaminya, alih-alih kesal, Rania justru merasa lucu melihat tingkah suaminya. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang di suapi ibunya.
"Aaa... Sayang." Zein meminta Rania untuk membuka mulutnya lagi.
"Cih..." Rania berdecak sembari melirik ke arah suaminya dengan senyum terpaksa.
Lalu ia pun membuka mulutnya dan saat itulah suaminya memasukkan bubur ke dalam mulutnya.
"Em... Bubur apa ini?" tanya Rania sembari menelan bubur yang menurutnya saat itu rasanya sangat aneh.
"Ini bubur sayuran, sayang." balas Zein sembari menyodorkan sesendok bubur lagi ke mulut istrinya.
"Aku tidak suka... Rasanya aneh." Rania menolak untuk makan.
"Sayang... Bukankah biasanya kau menyukai bubur sayuran?" tanya Zein.
"Iya... Tapi kali ini rasanya tidak enak." balas Rania dengan wajah menahan mual.
__ADS_1
Uuueeek...
Rania mulai mual kembali, ia pun beranjak dari kasur, berlari dengan cepat menuju toilet dan memuntahkan kembali makanan yang baru saja masuk satu suapan
Melihat istrinya mual lagi, Zein tidak sanggup kalau harus memaksa istrinya untuk makan di tengah-tengah rasa mualnya.
Zein ingat pesan dokter untuk memberikan susu ibu hamil, jadi saat istrinya tidak bisa menelan makanan karena mual, susu khusus ibu hamil bisa sedikit membantu asupan makannya. Meski tetap harus di dampingi dengan makan nasi, bubur maupun makanan apapun yang baik untuk ibu hamil.
Tidak lama, Rania kembali dari toilet dengan berjalan lemas dan wajah sedikit memerah.
Kini Rania sudah duduk di tepi kasur.
"Sayang... Sepertinya aku mau makan buah belimbing segar yang langsung aku petik sendiri dari pohonnya, sepertinya sangat enak." ucap Rania sembari menjilat bibirnya dengan wajah membayangkan.
"Apa kau suka buah belimbing, sayang? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu makan buah belimbing sebelumnya?" tanya Zein dengan ragu.
Karena sebelumnya ia tidak pernah melihat istrinya makan buah belimbing.
"Hem... Aku memang tidak begitu menyukainya sih, tapi entah kenapa saat ini aku ingin sekali makan buat belimbing yang langsung aku petik sendiri." balasnya dengan wajah penuh keyakinan.
"Tapi di mana kita mendapatkan buah belimbing yang langsung dari pohonnya, sayang? Kenapa kita tidak ke supermarket terdekat saja? Di sana banyak buah yang bisa kau pilih." usul Zein.
"Tidak mau... Buah di toko sudah tidak segar lagi. Pokoknya aku mau belimbing segar dari pohonnya langsung, titik." balas Rania dengan wajah penuh penekanan lalu melipat kedua tangannya di dada dengan wajah cemberut.
Mungkin ini yang di sebut ngidam? Apa serumit ini wanita saat ngidam? Batin Zein menerka.
"Ya sudah... Jangan cemberut lagi yah...! Aku akan berusaha untukmu dan bayiku." balas Zein meyakinkan.
Sementara itu, Zein langsung merogoh ponselnya yang ada di dalam saku baju dan dengan cepat menekan tombol memanggil.
"Ya, tuan ada apa?" tanya Ronald dari seberang telepon.
"Bisakah kau cari pohon belimbing? Tiba-tiba istriku sedang ingin memetik buah belimbing dari pohonnya langsung." perintah Zein dari balik ponselnya.
Mencari pohon belimbing...? Memetiknya langsung? Apa istrinya sedang hamil? Batin Ronald menduga.
"Ron... Apa kau mendengarku?" tanya Zein memastikan sambungannya masih terhubung dengan Ronald.
"I... Iya tuan, saya mendengarnya dengan jelas. Tapi, maaf tuan... Jika saya lancang? Tapi apa tidak sebaiknya membelinya di toko buah saja?" usul Ronald dengan nada ragu.
"Itu dia masalahnya... Istriku hanya ingin memetik belimbing langsung dari pohonnya, mungkin dia sedang ngidam?" balas Zein dengan suara berbisik pada Ronald.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Zein, akhirnya Ronald paham dan tahu apa yang harus di lakukannya.
"Apa kau sudah paham?" tanya Zein memastikan.
"Paham, tuan." balas Ronald yakin.
"Jadi... Kau cari itu pohon belimbing, bila perlu tebang saja pohonnya dan berikan padaku, biar ku tanam di halaman rumahku, agar istriku bisa memakannya kapanpun dia mau." balas Zein sembari melirik wajah ke arah istrinya yang saat itu sedang mendengarkan percakapan mereka hingga membuat Rania tampak menahan tawa mendengar ucapan suaminya barusan.
"Baik, tuan." balas Ronald.
Setelah itu, Zein langsung mengakhiri panggilannya dengan Ronald dan beralih mendekati istrinya.
"Sabar ya sayang... Sebentar lagi Ronald datang membawa pohon belimbing." ucap Zein sembari mengusap punggung istrinya.
Rania hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Kalau begitu... Sekarang kau minum susu yah? Biar ku buatkan untukmu." ucap Zein sembari berjalan ke bawah.
Rania mengangguk setuju.
"Bi... Bagaimana cara membuat susu untuk ibu hamil?" tanya Zein pada Bibi Ros di dapur.
"Biar saya yang buatkan tuan." balas Bibi Ros.
"Ah... Tidak usah Bi, aku sengaja ingin membuatnya langsung untuk istriku." balas Zein sembari tersenyum.
"Oh begitu... Baiklah tuan." sahut Bibi Ros.
Kemudian Bibi Ros mengajarkan cara membuat susu ibu hamil dengan sendok takaran yang ada di dalam kaleng susu tersebut.
Zein sengaja memilih rasa coklat, karena ia tahu istrinya menyukai makanan yang berbau coklat.
Sambil mendengar arahan dari Bibi Ros, Zein mulai membuat susu untuk istrinya, lalu ia pun membawanya ke atas untuk di berikan pada istrinya.
Begitu sudah sampai di dalam kamar, Rania yang saat itu sedang duduk di atas kasur dengan posisi menyandar di punggung kasur tersenyum begitu melihat suaminya datang dengan membawakan susu untuknya.
Ia tahu bahwa membuat susu hanyalah perkara mudah, namun melihat senyuman di wajah suaminya, membuat Rania merasakan ketulusan yang luar biasa atas perlakuan suaminya terhadapnya.
Bersambung\=\=\=\=\=>
Jangan lupa dukungannya yah
__ADS_1
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.