Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Kejujuran Zein


__ADS_3

"Tuan, mereka sudah kembali ke rumah dengan aman." ucap seorang laki-laki bertubuh besar lewat ponselnya.


"Baiklah, terus awasi dan jangan sampai dia terluka." sahut Rey dari seberang telepon.


"Baik, tuan." laki-laki itu mengangguk.


Rupanya dari tadi selama berada di luar rumah di dalam mall bersama adiknya, Rania di ikuti oleh laki-laki yang sengaja di perintahkan oleh Rey untuk menjaganya.


Rey melakukan semua itu, karena tidak ingin kejadian buruk menimpa Rania lagi, Rey melakukan itu secara diam-diam tanpa di ketahui Zein. Jika Zein sampai tahu, Rey yakin usahanya untuk melindungi Rania akan sia-sia. Untuk itu ia meminta seorang yang sudah ahli dalam bela diri dan membuntuti.


Rey memang sudah tidak lagi mengganggu hubungan antara Rania dan Zein, ia hanya berusaha melindungi Rania dari jauh, baginya tidak bisa memiliki Rania dan bisa memberikan perlindungan sudah membuatnya bahagia. Meski sebenarnya tanpa perlindungan darinya pun, Zein selaku suaminya sudah memberikan perlindungan yang ketat semenjak kejadian itu.


Begitu sampai di rumah, Rania langsung ke atas dan masuk ke dalam kamar untuk menemui Zein.


"Kakak ke atas dulu ya dek, kamu istirahat saja dulu. Nanti biar di antar Pak Surya pulangnya." ucap Rania pada Tania.


"Iya Kak." jawab Tania singkat. Sembari berjalan mendekati sofa.


Rania pun pergi ke kamarnya untuk menemui suaminya yang mungkin ada di kamar.


Sementara itu Tania duduk bersantai di atas sofa menyandarkan tubuhnya. Belanjaannya di letakkan di atas meja.


Tiba-tiba David datang dan duduk di sofa dekat Tania hingga mengagetkannya.


"Wah... Belanjaanmu banyak sekali." ucap David sembari tersenyum.


"Eh... Kakak, belum pulang?" tanya Tania malu.


"Ini sebentar lagi juga mau pulang." sahut David.


"Oh." Tania diam.


"Pulang di antar siapa nanti?" tanya David.


"Entahlah... Mungkin Pak Surya."jawab Tania ragu.


"Boleh aku antar? Dari pada aku pulang sendirian." usul David.


"Hem..." Tania bingung.


"Kau benar Vid, kau saja yang mengantar Tania. Kebetulan aku dan Rania akan pergi di antar oleh Pak Surya." ucap Zein dari belakang hingga mengagetkannya.


"Sayang... Memangnya kita mau ke mana?" tanya Rania bingung.


Karena sebelumnya Zein tidak mengatakan apapun padanya.


"Kita akan pergi ke suatu tempat." jawab Zein tersenyum sembari melingkarkan tangannya di pinggang Rania.


Rania diam dan tak menimpali ucapan suaminya.


"Oh kakak mau pergi, ya sudah aku pulang bareng sama kak David saja deh." ucap Tania dengan nada canggung.

__ADS_1


David tersenyum senang, kemudian Tania dan David bergegas pulang.


"Salam untuk ayah dan ibu ya dek." ucap Rania pada Tania.


"Ya kak." balas Tania sembari berjalan menuju mobil milik David.


Setelah Tania dan David meninggalkan rumahnya.


"Sayang cepat bersiap...!" pinta Zein pada Rania.


"Memangnya kita mau ke mana sayang?" tanya Rania penasaran.


"Nanti juga kau akan tahu." balas Zein tersenyum.


"Hem... Sayang, kau bilang ingin menceritakan semuanya begitu aku sampai di rumah." ucap Rania sembari cemberut.


"Nanti akan aku ceritakan di mobil ya, sayang." bujuk Zein.


Rania mengangguk.


"Ya sudah ayo kita pergi." bujuk Zein, Rania pun mengangguk.


Keduanya pergi memasuki mobil.


"Sayang sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Rania penasaran, setelah sudah berada di dalam mobil.


"Hem... Sebenernya kita akan pergi menemui orang tuaku." jawab Zein tersenyum.


"Sehat kok." jawab Zein meyakinkan.


"Jadi... Apa yang terjadi semalam, sayang?" tanya Rania lagi.


Rania masih sangat penasaran dan ingin tahu siapa orang yang sudah berusaha mencelakainya.


Untuk sesaat Zein terdiam, mempersiapkan kalimat apa yang akan di ucapkannya agar istrinya tidak terkejut begitu tahu kenyataannya. Namun tetap saja berita itu akan membuatnya terkejut.


Rania menatap dalam wajah Zein yang sedang bingung. "Sayang, sebenernya apa yang membuatmu berat mengungkapkannya? Bukankah seharusnya kau senang jika memang pelakunya sudah tertangkap?" ucap Rania sembari memegang telapak tangan suaminya.


Zein menatap dalam wajah istrinya.


"Sayang, maafkan aku, sebenarnya pelaku itu adalah Yina." Zein mengatakannya dengan berat.


Rania terkejut bukan main, ia tidak menyangka jika Yina benar-benar melakukan tindakan seperti itu pada dirinya.


"Sayang, apa kau yakin?" Rania memastikan apa benar Yina adalah pelakunya.


Zein hanya menganggguk.


"Tapi, bagaimana mungkin dia melakukan itu padaku, sayang?" tanya Rania heran.


"Dia melakukannya karena cemburu padamu." jawab Zein.

__ADS_1


Hem... Sudah ku duga, selama ini dia menyimpan rasa padamu. Rania bergumam.


"Lalu, sekarang apa yang terjadi padanya?" tanya Rania penasaran.


"Tentu saja dia harus menanggung akibat dari perbuatannya." balas Zein dengan nada marah.


"Maksudmu... Dia di penjara saat ini?" tanya Rania penuh selidik.


"Ya." jawab Zein singkat.


"Pfffft.... Kasihan sekali dia." Rania menghela napas.


Meski ia sudah di sakiti oleh Yina, namun mendengar Yina berada di penjara, cukup membuat dirinya terketuk dan menyayangkan atas perbuatan Yina.


"Bukan aku yang menangkap dan mengungkap kejahatan ini." ucap Zein dengan lemas.


"Lalu, siapa?" tanya Rania penasaran.


"Rey... Yang telah menangkap dan mengungkap kejadian ini." jawab Zein dengan jujur.


Mendengar ucapan Zein barusan, Rania cukup terkejut. Meskipun Rey adalah orang yang mengungkapkan kejadian ini, namun Rania tahu sekali bagaimana usaha suaminya dalam mencari pelakunya meski pada akhirnya Rey lah yang menemukan pelakunya. Baginya, suaminya sudah melakukan yang terbaik dalam melindungi dirinya.


"Sayang... " Rania memeluk tubuh suaminya. "Yang terpenting adalah pelakunya sudah tertangkap, tidak penting siapa yang menemukan." lanjutnya.


Mendengar ucapan dari istrinya yang terdengar menenangkan, membuat Zein tersentuh. Di balik sifat manja dan pemarah istrinya, Rania memiliki sedikit sifat dewasa.


Keduanya pun saling berpegang tangan selama dalam perjalanan menuju rumah orang tua Zein.


"Sayang... Apa boleh aku bertemu dengan Yina?" ucap Rania.


Pertanyaan Rania membuat Zein terkejut, bagaimana mungkin ia ingin menemui orang yang sudah menyakitinya? Zein tidak habis pikir dengan istrinya, seharusnya Rania marah bukan ingin menemuinya.


"Sayang... Apa kau yakin ingin menemuinya? Apa yang akan kau lakukan padanya? Apa kau ingin memukulnya?" tanya Zein penasaran.


"Hahaha... Tentu saja tidak, aku ingin melihat kondisinya saat ini, berada di balik penjara tentu tidak mudah baginya." balas Rania.


Ya Tuhan... Hatimu terbuat dari apa? Kau bahkan masih bisa memikirkan orang yang sudah menyakitimu. Batin Zein tersentuh oleh kelembutan hati istrinya.


"Baiklah... Jika itu maumu." jawab Zein tersenyum.


"Pak Surya, kita ke kantor polisi sebentar ya." ucap Zein pada supir pribadinya.


"Baik, tuan." jawab Surya sembari mengangguk. Kemudian memutar arah mobilnya untuk pergi ke kantor polisi.


Bersambung\=\=\=\=\=>


Jangan lupa dukungannya


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2