
Pagi itu, Rania pergi bekerja dengan suasana yang berbeda, mulai hari itu dia harus terbiasa dengan adanya beberapa pengawal yang akan mengikutinya demi menjaga keamanannya. Tidak tanggung-tanggung Zein memerintahkan sepuluh pengawal untuk menemaninya selama berada di butik.
"Jaga nyonya Rania dengan baik...! jangan sampai ada seorang pun yang menyentuhnya!!" ucap Zein pada salah satu pengawal dengan tegas sambil melirik Rania. Rania hanya diam mendengarnya tanpa bantahan sedikitpun.
"Baik, tuan." salah seorang pengawalnya membalas dengan tegas sembari menundukkan kepala dengan sopan.
"Aku akan menjaga diriku sendiri, tanpa perlu kau meminta pada mereka, Zein!" seru Rania sembari melirik wajah Zein.
Begitu sampai di butik, para pengawalnya sudah ambil posisi. Empat orang berjaga di dalam dan enam orang berjaga di luar.
Untuk beberapa menit setelah Rania masuk ke dalam butik, Zein tetap berada di dalam. Mobil bersama beberapa pengawal. Matanya memperhatikan sekeliling butik dengan penuh selidik, seolah ingin memastikan Rania tetap aman. Setelah ia merasa sudah aman, ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor karena tidak sabar ingin mengetahui fakta yang sebenarnya tentang Rey Savian.
Begitu sampai di kantor.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan di balik pintu.
"Masuk!" seru Zein dari dalam.
Ronald membuka pintu itu dan menutup. Kembali, berjalan mendekati Zein dengan memegang berkas di tangannya.
"Selamat pagi tuan, Zein... ini berkas yang tuan minta mengenai latar belakang orang yang bernama Rey Savian!" disodorkannya berkas tersebut dan diserahkannya pada Zein yang saat itu sedang duduk di meja kerja. Kemudian Zein menerimanya, dengan tergesa ia mulai membaca satu per satu berkas itu. Ada raut kesal di wajahnya di ikuti tangannya yang mengepal.
Rania... Keterlaluan sekali kamu, menyembunyikan hal besar seperti ini dariku. Tidak bisakah kau jujur tanpa harus aku tahu sendiri dari Ronald? Kali ini kau benar-benar membuatku marah, Rania!! Dan bocah kurang ajar itu, beraninya mencoba mengusik dan mengancam-ku.
__ADS_1
"Ronald, tolong tingkatkan keamanan lebih ketat lagi untuk Rania di butik. Pastikan ia aman dari gangguan bocah tengik itu!!" dengan tegas Zein memerintahkan Ronald.
"Baik, tuan." sahut Ronald sembari menundukkan kepalanya dengan sopan.
Sementara itu, suasana di butik tidak ada yang berubah. Semuanya tampak seperti biasanya. Beberapa orang datang untuk. Sekedar melihat ataupun mencoba gaun pernikahan.
Hahaha... Rupanya dia ingin menjaga jarak antara aku dan Rania. Jika aku mau, aku akan lebih nekat dari hanya mengancam. Bukan itu yang aku mau sekarang, aku akan menghancurkan-mu sampai kau sendiri yang akan menyerahkan Rania untukku. Batin Rey di dalam mobil, matanya mengintai penuh selidik ke seluruh area butik Rania yang dipenuhi para pengawal yang sedang berjaga di depan maupun di dalam butik.
"Jeremi, apa kau sudah menyiapkan?" Rey bertanya pada Jeremi, memastikan rencananya untuk menghancurkan Zein berjalan mulus. "Semuanya sudah saya siapkan dengan sempurna, Tuan." sahut Jeremi sopan.
Mobil itu pun melaju dan meninggalkan area butik. Rey beserta pengawalnya pergi bersiap menjalankan rencana jahatnya untuk menghancurkan Zein.
Sementara itu, di kantor Zein nampak gelisah.
Sementara itu, di tempat Rania, tampak biasa saja. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Sampai waktu menunjukkan pukul empat sore. Rania memutuskan untuk pulang lebih awal.
Setelah selesai dengan meeting nya, Zein segera pulang. "Pak Surya, kita ke tempat nyonya dulu baru kita pulang!" ucapnya tegas. "Baik, Tuan." Surya mengangguk sopan.
Begitu sampai di butik dan mendapati Rania yang sudah pulang, akhirnya Zein segera pulang.
Rania yang sudah berada di kamar, pulang lebih awal dari biasanya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Dengan segera ia merogoh ponsel yang ada di dalam tas nya, dilihatnya sebuah kontak bertuliskan sayangku .
Sayangku, melihat kata sayang di depan layar ponselnya, Rania terkejut, pikirnya selama ini tidak ada kontak dengan nama sayangku. Dengan segera jarinya kembali menggeser layar ponsel. Apa kau sudah berada di rumah? Pesan singkat dari Zein itu membuatnya bingung, ia mulai mencerna kalimatnya.
Apa ini yang di maksud Zein tadi pagi yah? Apa Zein memasukkan kontak nomornya dengan nama Sayangku?Hmmmm... Aku pikir begitu. Batinnya yakin.
__ADS_1
Iya, aku sudah di rumah sekarang, Zein. Rania membalasnya.
Tidak berapa lama, Zein sampai di rumah dan bergegas masuk ke kamar. Dengan segera ia membuka pintu kamar, Rania yang sedang duduk di sofa dan sedang membaca buku tampak terkejut melihat Zein masuk dan membuka pintu dengan kasar.
"Zein, kau sudah pulang? Mau makan apa? Biar ku siapkan makanan untukmu." Rania meletakkan bukunya di sofa dan bergegas bangun untuk menyambut kedatangan suaminya. Zein masih berdiri melihat Rania dengan tatapan penuh amarah.
Ada apa dengannya? Matanya terlihat sangat menakutkan, apa dia bertemu Rey lagi? Batin Rania cemas.
"Rania, aku tanya sekali lagi, siapa Rey sebenarnya?" Zein bertanya sekali lagi seolah ingin mendengar kejujuran dari Rania tentang kebohongan yang di tutupinya.
"Di...dia hanya temanku, Zein. Kenapa kau bertanya lagi?" jawab Rania terbata, langkahnya mulai mendekati Zein yang hanya berdiri dan terus menatap wajahnya.
Mendengar jawaban dari Rania yang masih saja berbohong, membuat Zein merasa sudah hilang kesabaran.
Dipegangnya kedua bahu Rania, ditatapnya dalam-dalam mata Rania. Rania terkejut bukan main melihat Zein tampak marah untuk pertama kalinya. "Sudah cukup aku mendengar kebohongan mu, Rania!! Selama ini aku sudah cukup sabar denganmu, aku bahkan tidak pernah memaksamu, aku tidak perduli meski aku tidak mendapat tempat sedikitpun di hatimu, aku tetap mencintaimu, tapi kenapa kau berbohong? Kenapa kau tidak jujur padaku?" Zein mengatakannya dengan perasaan marah dan kecewa. Sementara itu Rania tampak ketakutan dan bingung.
"Zein, apa yang sebenarnya terjadi?" kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" Rania bertanya penasaran, tangannya memegang kedua lengan tangan Zein yang masih memegang kedua bahunya dengan erat.
"Jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar padamu." di dorongnya tubuh Rania hingga jatuh ke kasur. "Zein, tenanglah...! Kita bisa bicara baik-baik!." Rania melengkingkan tubuhnya, berusaha duduk dan menenangkan Zein yang sedang emosi. Belum sempat Rania duduk, Zein mulai naik ke atas ranjang kakinya mulai mengapit kedua kaki Rania, berada di tengah-tengah, lalu mendorong kedua bahu dan merebahkannya. "Zein, tidak perlu dengan cara memaksa! Jika kau mau? Kau boleh melakukannya. Jangan seperti ini...!" Rania berusaha menenangkan Zein yang mulai melepas kancing bajunya, setelah seluruh kancing bajunya dilepas paksa hingga tersisa dalaman berbentuk tempurung menutupi bagian dadanya. Melihat Zein yang begitu tidak terkendali, membuat Rania pasrah dengan apa yang akan di lakukan Zein padanya meski dengan cara dipaksa sekalipun. Zein mulai mendaratkan bibirnya menyentuh bibir mungil Rania dan melumatnya tanpa ampun. Rania hanya bisa pasrah sembari memejamkan matanya, ada air mata yang perlahan mulai mengalir dari ujung matanya hingga menyentuh telinga kanannya. Setelah Zein merasa puas menggigit bibir Rania, ia mulai beralih menyentuh lembut telinga kiri Rania sembari berbisik. "Apa kau masih mencintai laki-laki kurang ajar itu?" dengan napas tersengal, Zein membisikan telinga Rania dengan kalimat yang mengejutkan. Jadi kau sudah tahu siapa Rey sebenarnya, dan itulah alasanmu melakukan ini padaku? Zein... Maafkan aku!! Batin Rania menangis, matanya masih terpejam, namun air matanya masih saja mengalir dari ujung matanya.
*Bersambung.
Halo readers setia NYT 🤗 maaf ya baru bisa up hari ini.
Terus dukung author dengan cara klik like, tinggalkan komen, klik favorit, beri bintang lima dan vote yang banyak yah. Terima kasih 🤗
__ADS_1